Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 160


__ADS_3

Mawar masuk ke dalam mobilnya! Dia memilih duduk di depan bersama Frans karena di bangku belakang ada Mahendra, Marisa dan Jingga.


"Langsung pulang," ucap Mawar pada Frans.


Frans mengangguk lalu mulai mengemudikan mobilnya setelah memastikan semua orang sudah masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan tak ada sedikitpun perbincangan diantara mereka, hingga setelah hampir setengah jam akhirnya mereka tiba di depan rumah Aby.


Joe segera membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi dan membiarkanmu Frans memasuki area rumah itu.


"Selamat datang, Mbak," ucap Joe setelah Mawar turun dari mobil.


"Pekerjaan mereka sudah selesai?" tanya Mawar pada Joe dan Salman.


"Sudah bahkan mereka sudah menyelesaikan semua pekerjaan mereka," sahut Salman.


Mawar hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Salman padanya.


"Pak Mahendra, mari ikuti saya. Saya akan mengantarkan kalian ke tempat kalian," ucap Mawar.


"Mawar, kamu yakin akan membiarkan kami tinggal di sini?" ucap Mahendra.


"Iya. Buktinya sekarang kalian ada di rumah ini," ucap Mawar.


"Terima kasih, Mawar," ucap Mahendra.


Mawar tak menyahut lagi. Dia mulai berjalan memasuki rumahnya!


Mahendra dan keluarganya berjalan membuntuti Mawar!


"Mawar, kamu gak akan nyuruh kami tidur di kamar pembantu kan?" ucap Jingga karena Mawar berjalan ke arah dapur.


"Tidak," ucap Mawar sembari membuka pintu yang terbuat dari besi.


Pintu yang menghubungkan antara rumahnya dan lahan tempat mereka akan tinggal.


"Masuk," ucap Mawar pada keluarganya.


Marisa dan Jingga mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Mahendra juga nampak memperhatikan sekeliling tempat itu.


"Tempat apa ini? Jangan bilang kalau kamu mau menyuruh kita untuk menempati tempat ini," ucap Marisa.


"Cepat masuk ke sini atau mau saya lempar lagi ke jalanan," ucap Mawar dengan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi apa pun.

__ADS_1


"Ya udah, Ma ayo kita masuk saja daripada harus tinggal di jalanan," ucap Mahendra.


Mereka pun masuk ke sana dan berjalan mengikuti Mawar!


"Ini adalah rumah untuk kalian tinggal. Di dalamnya ada dua kamar, dapur dan ruangan keluarga, peralatan masak sudah lengkap semua dan kamar mandi ada dibelakang rumah," jelas Mawar.


"Yang benar saja kamu nyuruh orang tua kamu tinggal di rumah butut seperti ini," ucap Marisa.


"Bersedia silahkan tempati rumah ini kalau tidak pun tidak apa. Silahkan angkat kaki dari sini," ucap Mawar dengan tatapan tajamnya pada Marisa.


"Terima kasih, Mawar. Papa bersyukur sekali karena kamu masih mau menampung kami," ucap Mahendra.


"Oh ya, Pak Mahendra di sebelah sans sudah ada pesawahan yang kebetulan sudah siap untuk ditanami padi dan disekitar sini juga terdapat banyak lahan kosong yang bisa dipergunakan untuk menanam sayuran atau buah-buahan. Saya sudah menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk bertani dan juga pupuk untuk tanaman–" ucap Mawar


"Maksud lo, kita harus bertani gitu? Heh Mawar kita ini terbiasa hidup mewah mana bisa Papa dan Mama bertani," ucap Jingga memotong perkataan Mawar.


Mawar beralih menatap Jingga, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya!


"Ini buku panduan untuk menanam padi dan sayur-sayuran. Kalian pelajari ini dan praktekan sendiri saya tidak akan membantu kalian, kalian akan tetap bertahan hidup dengan hasil kebun kalian jadi, jika kalian gagal panen maka kalian tidak akan dapat uang," ucap Mawar sembari menempelkan buku tebal itu tepat di dada Jingga.


"Anak sial itu benar-benar ingin menyiksaku. Aku menyesal karena tidak membunuh kamu dari dulu," ucap Marisa didalam hatinya.


"Pak Mahendra, ini uang sebanyak lima juta." Mawar memberikan uang dalam amplop kepada Mahendra.


"Mawar, yang Papa tahu paling cepat padi bisa dipanen dalam waktu tiga bulan sama dengan jagung. Jagung juga baru bisa dipanen setelah tiga bulan," ucap Mahendra.


"Ya saya tahu, lalu apa masalahnya?" ucap Mawar lagi.


"Dasar anak bodoh. Uang segitu mana cukup untuk tiga bulan," ucap Marisa.


"Tolong diingat lagi waktu yang telah berlalu. Seharusnya Anda tahu, Bu Marisa selama ini saya tidak pernah mencicipi atau menikmati uang kalian udah bagus saya masih sudi memberikan uang saya pada kalian coba kalau saya bersikap kejam seperti sikap Anda pada saya. Mungkin sekarang Anda masih berada di jalanan," ucap Mawar.


"Udah-udah. Ma udah ya," ucap Mahendra pada Marisa.


"Mawar, terima kasih ya semua yang kamu berikan ini sangat membantu," ucap Mahendra pada Mawar.


"Oh ya satu lagi. Pintu ini akan selalu saya kunci kalian bisa keluar masuk lewat pintu itu dan itu juga ada sepeda yang sudah saya siapkan untuk dijadikan alat transportasi kalian kalau kalian ada kebutuhan di luar," jelas Mawar.


"Papa mengerti, Papa tahu kamu pasti tidak ingin rumah kamu kotor karena diinjak oleh kami. Papa tidak keberatan jika harus keluar masuk lewat pintu itu tapi Papa minta agar kamu sering-sering datang ke sini karena Papa ingin bersama dengan kamu dan calon cucu Papa meski hanya beberapa menit saja," ucap Mahendra.


Mawar menatap Mahendra, dalam hatinya ada sedikit kebahagian karena Mahendra mengakui anak yang ia kandung sebagai cucunya.


"Akan saya pikirkan itu nanti. Saya pergi," ucap Mawar sembari pergi meninggalkan mereka!

__ADS_1


Frans yang sedari tadi berdiri di samping pintu penghubung itu langsung mengunci pintu itu setelah Mawar masuk ke area rumah Aby lagi.


*******


"Dirga," ucap Roger pada Dirga dengan suara pelan.


Dirga menatap Roger yang saat itu tengah berdiri di ambang pintu.


"Hey, Nak sini masuk. Rupanya kamu sudah kenal dengan calon menantu Mama," ucap Mitha.


Dirga berjalan menghampiri mereka yang sedang berbincang di ruang tamu rumah Mitha.


Setelah dipertemukan dengan Roger, Dirga langsung mengantar Michelle pulang ke rumahnya karena ia harus segera kembali ke kantor.


"Ma, Michelle. Aku mau bicara sebentar dengan Dirga," ucap Roger pada Mitha dan Michelle.


"Dirga, ikuti aku," ucap Roger sembari melangkah ke arah depan rumah!


"Aku tinggal dulu ya. Permisi," ucap Dirga lalu berjalan menyusul Roger ke halaman rumah itu!


Michelle menatap punggung Dirga, dalam hatinya ada sedikit kekhawatiran. Ia takut dua laki-laki itu bertengkar dan akhirnya Mamanya mengetahu keburukan Roger dimasa lalu.


"Ada apa?" tanya Dirga saat tiba di belakang Roger.


Roger membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Dirga.


"Kalau memang kamu serius dengan Michelle, aku tidak bisa menghalangi kalian karena kebahagiaan Michelle sangat berarti bagiku tapi aku takut dengan ini hubungan kamu dengan keluarga Om Randy akan rusak terlebih dengan Abymana. Masa lalu hitamku pastinya masih menyisakan luka dalam hati Aby," ucap Roger.


"Aku tidak akan melepaskan Michelle meski apapun halangannya. Kamu jangan takut, Pak Rendy dan Aby orang baik, orang yang selalu berpikir dengan kepala dingin dan dengan pemikiran jernih. Mereka tidak akan menjadi penghalang antara aku dan Michelle," ucap Dirga.


Roger terdiam dalam wajahnya yang masih menyimpan kekhawatiran.


Di dalam rumah.


"Sepertinya mereka sudah kenal lama," ucap Mitha.


"Bukan sepertinya tapi memang sudah kenal lama tapi bukan sebagai teman tapi musuh," batin Michelle.


"Sayang, kapan orang tua Dirga akan datang? Mama tidak sabar ingin kalian cepat nikah," ucap Mitha.


"Secepatnya, Ma. Dirga bilang dia akan membawa orang tuanya awal bulan depan," jelas Michelle.


"Semoga lancar ya tanpa adanya masalah yang menghalangi niat baik kita," ucap Mitha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2