
"Mawar, kamu mau kan jadi istri aku?" Aby menggenggam kedua tangan Mawar dengan mata yang menatap gadis itu dengan tatapan dalam.
Mawar terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaan Aby. Matanya menatap netera Aby yang berwarna hitam pekat, hatinya terasa berbunga-bunga mengengarkan semua perkataan Aby padanya.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
Pengunjung kafe yang mayoritas adalah anak-anak muda pun menyuarakan kata 'terima' untuk mendukungnya Abymana. Meski mereka tak saling mengenal tapi ras solidaritas mereka cukup tinggi pada sesamanya.
Mawar dan Aby pun menatap ke arah para pengunjung yang kini tengah mendukung Aby dengan diiringi tepukan tangan mereka yang beraturan.
"Kamu apaan sih, bikin malu aja," ucap Mawar pada Aby.
"Karena aku cinta sama kamu."
"Jadi gimana? Diterima gak? Kita semua udah pada nunggu nih," ucap Nasya.
"Mau ya, please. Aku janji setelah ini aku gak akan lagi ngebiarin Jingga dekat-dekat sama aku," ucap Aby.
"Emang aku pernah minta kamu untuk menjauhi Jingga?"
"Jawab dulu. Kamu mau kan jadi istri aku, istri beneran bukan pacar lagi."
Mawar tersenyum lebar lalu mengangguk pelan tanda ia bersedia menjadi istri dari seorang Abymana.
Aby tersenyum lebar lalu memeluk Mawar!
Nasya dan semua pengunjung kafe itu pun bersorak bahagia. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang kini tengah dirasakan oleh Aby dan Mawar.
"Iih, bikin iri deh," ucap Nasya sembari menyenggol Aby dengan ujung bahunya.
"Kamu masih kecil, jangan iri dan jangan pernah meniru gaya berpacaran kami," ucap Aby.
"Selamat Bro." Seorang pengunjung yang tadi menabrak meja Mawar dan Nasya pun langsung memberikan selamat pada Aby.
"Selamat ya kalian berdua."
"Selamat, semoga selamanya bersama."
"Selamat ya, semoga selalu bahagia."
Beberapa pengunjung ikut mengucapkan selamat pada dua orang yang tengah berbahagia itu.
"Terimakasih, terimakasih atas do'anya, semoga kalian semua juga selalu bahagia dan sehat selalu," ucap Aby.
Mawar hanya terdiam dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Kita pulang sekarang. Nasya ayo kita pulang."
"Siap. Lets go!" Nasya berjalan lebih dahulu dan membiarkan Abu dan Mawar berjalan belakangan.
__ADS_1
"Mawar, pulang bareng aku aja," ucap Aby setelah tiba di parkiran.
"Motor. Gimana?"
"Kalian aja yang pulang naik motor. Aku bawa mobil kak Aby," ucap Nasya.
"Naik motor?" Aby menatap Nasya yang kala itu tengah tersenyum padanya.
"Iya kak, lagian ketampanan kakak masih terlihat meski memakai helm."
"Bilang aja kalau kamu gak mau bawa motor."
"Gimana mau bawa motor, aku kan gak bisa kak. Kakak sendiri yang ngelarang aku buat berlatih naik motor."
"Bisa aja ngelesnya."
"Udah lah, kalau kamu gak mau gak apa-apa biar aku aja yang pulang naik motor toh aku udah biasa pulang sendiri," ucap Mawar.
"Jangan lah, kita baru aja peresmian masa pulang pisah-pisah," ucap Aby.
"Mana kunci mobilnya, aku mau pulang sekarang." Nasya menadakan tangannya pada Aby.
"Ogah juga ngeliat kebucinan kalian," sambung Nasya.
Dengan cepat, Aby memberikan kunci mobilnya dan membiarkan Nasya pulang menggunakan mobilnya.
"Aku yang bawa motornya ya. Kamu jadi penumpang aja," ucap Aby sembari nenaiki motor milik Mawar!
"Yakin gak nih? Jangan sampai kamu bawa aku terjun bebas dari motor ini," ucap Mawar.
"Awas ya kalau jatuh."
"Nggak, ayo naik. Jangan lupa pegangan yang erat biar kamu selamat sampai tujuan," ucap Aby sembari menarik kedua tangan Mawar dan mengarahkannya ke perutnya.
Kini Mawar sudah duduk dibelakang Aby dengan kedua tangannya yang melingkar di perut Aby.
"Ya gak gini juga. Ini mah kamu yang untung," ucap Mawar.
"Untung gimana. Biasa aja." Aby mulai melajukan motornya perlahan.
**********
Di kampung.
Michelle sudah tiba di kampung tempat akan dibangunnya pabrik milik Randy.
Dia langsung mendatangi lahan yang dimaksud oleh Randy. Ia berjalan menyusuri lahan itu sembari menikmati sejuknya cuaca sore itu.
"Aku harus cari tempat untuk istirahat malam ini," gumam Michelle sembari terus berjalan menasuki hutan itu.
Setelah lumayan lama dia berjalan, langkahnya terhenti saat melihat ada bunga mawar hitam yang tumbuh di atas tanah itu, ia pun merasa penasaran dan akhirnya menghampiri bunga itu!
"Mawar hitam? Siapa yang menanam bunga secantik ini di hutan?" batin Michelle.
__ADS_1
Michelle menyentuh kelopak bunga yang sedang mekar itu dan mengelus nya dengan lembut.
"Sayang sekali kalau bunga secantik ini harus ditebang." Michelle segera meninggalkan bunga itu karena ia harus mencari tempat yang cocok untuknya beristirahat!
Malam ini dan seterusnya, Michelle akan tidur di hutan dengan hanya dilindungi oleh tenda kemah miliknya. Uang yang ia dapat dari Pak Randy, untuk kebutuhannya di sana, ia berikan pada ibu asuhnya untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya di panti.
**********
Di kediaman Dirga.
"Ussy, kenapa kamu belum pulang? Udah sore ini," ucap Dirga saat tiba di rumahnya.
"Ussy mau pulang Pak, tapi nungguin Bapak pulang dulu," sahut Ussy.
"Kenapa? Bukannya belum waktunya gajian."
"Iya, Ussy mau izin buat bawa makanan ini pulang."
"Kenapa harus izin. Saya sudah bilang semua yang ada di sini boleh kamu malam dan boleh kamu bawa pulang. Sekarang kamu tinggal dengan banyak anak-anak. Bawa semua makanan itu dan berikan pada mereka."
"Tapi, buat Bapak makan? Nanti kelaparan lagi kayak waktu itu."
"Gampang, saya bisa pesan online."
"Serius Pak. Kalau gitu ini mau Ussy bawa semuanya ke panti."
**********
Di kediaman Aby.
"Mawar, kamu lagi ngapain?" tanya Aby yang melihat Mawar sedang membuka kancing bajunya.
"Mau ganti baju lah, apa lagi," sahut Mawar sambil membuat kancing bajunya yang kedua.
"Yakin? Kok kamu gak ngusir aku?" Aby terus menatap tangan Mawar yang bergerak di bagian datanya, saat kancing itu terlepas, dirinya pasti dapat melihat sesuatu benda yang terdapat pada dada Mawar.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku takut," ucap Mawar.
Setelah semua kancing bajunya Mawar terlepas semua, Mawar langsung membukanya dan nampaklah kaus atasan berwarna putih yang Mawar kenakan dan dijadikan sebagai **********.
Aby langsung tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Pantas berani membuka baju didepanku ternyata ada baju lainnya yang kamu pakai," ucap Aby.
Mawar tertawa kecil lalu menghampiri Aby! Dia duduk di samping Aby dan menatap laki-laki itu.
"Apa yang kamu pikirkan hmm? Kamu ingin melihatnya?" tanya Mawar.
"Kalau diizinkan tapi kalau gak boleh aku akan tetap melihat dengan cara paksa," ucap Aby.
"Yakin hanya melihat? Tidak mau memegang, meraba atau bahkan mere*as?" tanya Mawar seolah menggoda Aby.
Aby mendongakkan kepalanya dan menatap Mawar dengan tatapan tak biasa.
__ADS_1
Bersambung