
Setibanya di panti asuhan itu, Dirga langsung masuk dan langsung disambut oleh beberapa anak yang sedang bermain di depan panti asuhan.
"Selamat siang menjelang sore, Om. Mau mencari siapa?" tanya salah satu anak yang usianya kira-kira baru lima atau enam tahun.
"Kak Michelle ada?" tanya Dirga dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
Anak itu tersenyum lalu meraih tangan Dirga dan menariknya masuk ke dalam panti itu!
"Kakak lagi istirahat di kamarnya, jangan gangguin dia ya kalau kakak marah wajahnya seram," ucap bocah laki-laki itu.
Dirga tersenyum mendengar perkataan yang terdengar seperti curhatan hati bocah itu.
"Bu, ada orang yang nyariin kakak," ucap Bocah itu pada Bu Jena.
Bocah itu pun langsung pergi setelah mengantarkan Dirga ke ruangan Ibu asuhnya.
"Terimakasih sudah mengantarkan om sampai sini," ucap Dirga.
Bocah itu berbalik badan dan tersenyum ke arah Dirga.
"Permisi, Bu. Saya datang untuk bertemu dengan Michelle. Apa saya bisa menemuinya sekarang?" ucap Dirga.
"Bisa kalau Michelle nya mau ditemui. Dia baru pulang dari pekerjaannya mungkin saja dia masih kelelahan," ucap Bu Jena.
"Oh, begitu kalau begitu saya temui dia besok saja. Saya pulang lagi aja," ucap Dirga.
"Ada perlu apa, mencari saya?" ucap Michelle dari belakang Dirga.
Dirga berbalik badan dan sekarang menghadap Michelle.
"Michelle, ada yang ingin saya bicarakan pada kamu," ucap Dirga.
"Kita bicara di luar," ucap Michelle sambil berjalan keluar dari ruangan itu!
"Bu, permisi," ucap Dirga pada Bu Jena sebelum akhirnya dirinya pergi meninggalkan tempat itu.
Setibanya di halaman panti mereka duduk di sebuah kursi yang ada di pojok tempat itu.
"Ada apa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Michelle.
"Ada orang misterius yang selalu muncul dan sepertinya dia selalu membuntuti kami saat kami pergi ke daerah perkampungan. Kamu tahu kan kalau Pak Randy akan membangun pabrik di perkampungan?" ucap Dirga.
"Ya, aku tahu. Katakan seperti apa orangnya, aku pasti membantu untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang itu," ucap Michelle, dalam hatinya ia sudah tahu bahwa orang yang dimaksud Dirga adalah dirinya sendiri.
"Gimana ya, susah juga jelasinnya," ucap Dirga.
__ADS_1
"Susah gimana? Kalau gak ada gambaran, aku gak bisa bantu," ucap Michelle yang masih berpura-pura tidak tahu.
"Ya ... masalahnya dia pakaian penutup kepala dan juga pakai masker jadi aku gak bisa melihat wajahnya."
"Kalau gitu lain kali saja minta bantuannya," ucap Michelle.
"Tapi gimana kalau orang itu mengancam keselamatan Tuan Muda dan keluarganya?"
"Kalau dia sangat berubah, waspadalah dan jangan pernah lengah sedikitpun."
"Tapi ...."
"Maafkan aku. Sekarang belum saatnya kamu tahu siapa orang misterius itu, aku masih banyak tugas yang harus diselesaikan," batin Michelle.
**********
"Gila ya tuh si Mawar. Awas aja, aku akan bikin perhitungan sama dia," ucap Jingga dengan nada kesal.
Saat ini Jingga sedang mengemudikan mobilnya menuju arah jalan pulang. Setelah menelan kekecewaan dari Aby dan Mawar, dirinya tak ada semangat untuk pergi ke tempat lain. Saat ini tujuannya adalah Mamanya karena hanya Marisa lah yang selalu mengerti dengan keinginannya dan selalu ada bersamanya.
"Aku gak bisa gini terus, pokoknya aku harus segera menyingkirkan Mawar dari Aby. Ya ... bagaimana pun caranya aku harus menyingkirkan Mawar."
Setelah mengendara selama sepuluh menit akhirnya dirinya tiba di rumahnya, ia pun segera memarkirkan mobilnya dan segera bergegas masuk ke dalam rumahnya!
"Ada apa, kenapa teriak-teriak seperti itu?" ucap Marisa.
"Ma, aku gak terima diginiin sama Mawar. Masa dia ngusir aku dari rumah Aby, Aby juga malah diam aja dan membiarkan Mawar ngusir aku. Pokoknya aku mau anak kampung itu pergi dari rumah Aby, apapun dan bagaimana pun caranya!" Jingga berucap dengan nada keras meski dirinya tahu bicara perlahan pun Marisa akan dapat mendengar ucapannya dengan baik.
"Apa, kamu direndahkan seperti ini sama Mawar? Awas ya tuh anak. Udah sayang, kamu tenang aja kita cari waktu untuk mendatangi rumah Aby saat Aby sedang tidak ada di rumah," ucap Marisa.
**********
"Gaya berjalan kamu jadi aneh, jadi kayak bebek," ucap Aby sembari terus menatap Mawar yang sedang berjalan menuju dapur.
Mawar menghentikan langkahnya lalu menatap Aby dengan tatapan tajam.
"Nggak-nggak, aku cuma bercanda. Kamu masih cantik kok meski gaya berjalan kamu agak aneh," ucap Aby.
"Iis, aku kayak gini gara-gara kamu. Malah diejek gini," ucap Mawar dengan nada kesal.
"Maaf. Apa kita perlu ke Dokter? Biar sakitnya cepat sembuh," ucap Aby.
"Gak mungkin dong, nanti bilangnya gimana masa abis gituan," ucap Mawar dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
Aby tersenyum lebar lalu memangku tubuh Mawar dan membawanya ke kursi makan!
__ADS_1
"Ya abis gimana lagi, aku gak tega juga kalau melihat kamu seperti ini lagian Dokter juga gak akan menertawakan kamu karena berobat karena sakit bagian sensitif kamu itu," ucap Aby setelah Mawar duduk di kursi itu.
"Kalau gak tega gak usah minta lagi nantinya," ucap Mawar.
"Kalau gitu namanya kamu kejam sama aku."
"Kok gitu, yang kesakitan aku kok jadi aku yang kejam?" Mawar menatap Aby dengan penuh tanya.
"Kalau aku gak minta sama kamu terus aku mau sama siapa? Kalau lama-lama gak masuk sarang nanti burungku karatan dan jadi mati rasa," ucap Aby.
Mawar tertawa kecil sembari menatap Aby, dalam pikirannya muncul gambaran sesuatu barang pusaka milik sang suami yang sedang lemas tak berdaya.
Entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi semesum itu.
"Dih, malah ketawa. Tega ya kamu," ucap Aby.
"Aku mau minum," ucap Mawar
"Kamu duduk aja biar aku yang mengambilkan air minum untuk kamu," ucap Aby.
"Gak apa-apa, aku bisa kok."
"Udah diam aja. Hari ini biar aku yang melayani kamu biar kamu cepat sembuh dan besok udah bisa ngampus lagi," ucap Aby.
"Oh iya, sampai lupa kalau aku aku udah kangen sama–"
"Jangan bilang kangen sama cowok sok ganteng itu," ucap Aby memotong perkataan Mawar.
"Siapa yang mau bilang kalau aku kangen sama Galaxi orang aku kangen sama Dosen aku," ucap Mawar dengan santainya.
"Dosen?" Aby menghentikan gerakan tangannya dan berdiri di tempat itu.
"Kamu cemburuan juga ya," ucap Mawar.
"Kamu jangan permainkan aku ya. Aku serius cinta sama kamu."
"Iya aku tahu, aku juga serius cinta sama kamu," ucap Mawar.
Aby tersenyum lalu duduk di kursi yang ada di samping Mawar!
"I love you Mawar," ucap Aby.
"Aku juga cinta kamu," ucap Mawar.
Bersambung
__ADS_1