
Salman dan Joe saling menatap lalu saling melempar senyuman.
"Dahlah, orang lagi jatuh cinta jangan diganggu, jangankan yang putih yang burik aja terlihat mulus," ucap Joe.
"Lah kamu aja liat Ussy dari mananya coba? Iya, sih dia cantik tapi usianya itu masih terlalu muda buat dijadiin pacar. Ingat usia dong. Nyari pacar kok anak ABG," ucap Frans.
"Yang muda yang bergairah," ucap Salman.
Seketika tiga pemuda itu pun tertawa lepas. Dalam setiap perbincangan mereka memang selalu ada canda sebagai penghilang situasi dan kondisi yang menegangkan.
"Ada apa, kalian?" tanya Aby yang saat itu baru hendak pergi ke kantor.
"Eh, Tuan muda. Tidak ada apa-apa, hanya sedikit hiburan," sahut Frans.
"Sedikit hiburan atau ada yang sedang berbunga-bunga?" tanya Mawar.
"Ah, Mbak Mawar ada-ada aja. Mana ada hati laki-laki yang berbunga-bunga adanya menggebu-gebu kali," ucap Joe.
"Oh, beda ya perempuan sama laki-laki?" tanya Mawar.
"Beda dong, kalau perempuan berbunga-bunga karena ditembak orang yang dicintainya nah kalau laki-laki, menggebu-gebu ingin memiliki perempuan yang disayanginya," jelas Joe.
"Sama aja, Joe. Ada-ada aja deh kamu," ucap Aby.
Trio pinky boy itu tertawa kecil lalu kembali pada posisi masing-masing. Bersiap, berjaga di rumah itu.
"Saya pergi, titip anak-anak dan semua anggota rumah," ucap Aby lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
"Padahal gak usah di jagain kita juga, orang rumah pasti aman orang nyonya rumahnya modelan Mbak Mawar," ucap Salman.
Mawar hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Salman.
"Frans, saya mau bicara," ucap Mawar.
"Boleh, Mbak. Mau bicara apa?" tanya Frans.
"Duduk dulu, Mbak Mawar biar gak pegal." Joe menarik kursi yang ada di belakang Frans lalu menyuruh Mawar untuk duduk di atas kursi itu.
"Kita permisi dulu ya, Mbak," ucap Salman.
"Kalian mau ke mana?" tanya Frans.
"Mana aja boleh. Suka-suka kita, anteng-anteng ya duduk di kursi panas," ucap Joe sambil terus berjalan.
"Panas gimana? Dasar pada aneh emang," ucap Frans sambil menghempaskan bokongnya ke kursi itu.
"Mau bicara apa ya, Mbak? Apa ada masalah dengan pekerjaan saya?" tanya Frans.
"Tidak ada. Gimana ya ngomongnya?" ucap Mawar.
"Ngomong aja langsung, Mbak kalau memang saya punya salah," ucap Frans dengan tanpa takut.
"Tidak. Bukan begitu, kamu suka sama Jingga?" tanya Mawar to the poin.
"Kenapa memangnya, Mbak? Gak boleh ya? Jujur saya memang suka pada Mbak Jingga," ucap Frans jujur.
__ADS_1
"Wah, aku suka gayamu. Jujur dan berani," ucap Mawar.
"Saya dan Jingga sudah sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman," ucap Frans.
"Bagus kalau gitu padahal aku baru mau minta kamu untuk mendekati Jingga biar gak jadi nikah sama Roger," ucap Mawar.
"Saya gak rela Jingga nikah sama orang lain. Maaf kalau perasaan saya ini lancang karena sudah mencintai anak majikan," ucap Frans.
"Heh, apaan sih, kamu. Kita sama, gak ada majikan dan gak ada bawahan. Kamu berhak mencintai siapa pun termasuk Jingga."
Frans terdiam karena tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan.
"Kalau beneran cinta, secepatnya lamar Jingga pada papa saya. Mereka pasti setuju," ucap Mawar.
"Pasti saya lakukan secepatnya tapi saat ini saya mau menyelesaikan urusan dengan Roger dan istrinya dulu," jelas Frans.
"Urusan apa?" tanya Mawar.
"Membatalkan rencana pernikahan mereka agar Roger dan istrinya tidak berharap akan pernikahan itu," jawab Frans.
"Eh iya. Ya udah, lakukan pekerjaan kamu dan pastikan Jingga tidak menikah dengan Roger karena aku gak mau Jingga jadi orang ke tiga," ucap Mawar.
**********
Di kediaman Mitha.
"Kak, aku perlu bicara," ucap Michelle pada Michaela.
"Ada apa, mau bicara apa?" tanya Michaela yang saat itu sedang asyik mengurus tanaman bunga yang tumbuh di depan rumah mereka.
"Apa? Tidak ada apa-apa yang aku sembunyikan," ucap Michaela.
"Ada." Michelle berjalan mendekati Michaela.
"Apa? Aku bilang gak ada apa-apa."
"Hanya untuk menyelamatkan harga diri Jingga dan menghindarkan keluarganya dari aib yang sudah mereka lakukan di masa lalu, kakak rela tersakiti, kakak rela dimadu?" ucap Michelle dengan tatapan dalam.
Michaela menatap balik Michelle dengan tatapan mata yang tidak berkedip satu kali pun.
"Kok, kamu bicara begitu?" gumam Michaela.
"Lupa ya aku ini siapa?" Michelle tersenyum ke arah Michaela.
"Ya-ya, kamu memang tidak bisa dibohongi." Michaela berjalan mendekati kursi yang ada di teras rumahnya lalu menduduki kursi itu!
"Aku tahu kenapa sampai saat ini dia tidak menikah. Pasti dia takut laki-laki yang menikahinya pergi dan menghinanya setelah tahu kebenaran bahwa dia sudah tidak lagi perawan selain itu dia juga takut keluarganya akan menanggung malu karena pastinya laki-laki itu akan mengatakan alasan kenapa dia ingin pergi dan mengakhiri pernikahan yang baru dilangsungkan kemarin itu. Aku tahu, Jingga selalu berada dalam ketakutan, aku hanya ingin menyelamatkan dia dari semua rasa takut itu," jelas Michaela.
"Sebenarnya, kakak sakit dengan semua ini?" tanya Michelle.
"Perempuan mana yang mau dimadu, Chell? Aku pikir aku hanya menjalankan tugas aku sebagai istri pertama Mas Roger, aku harus bisa karena ini memang kesalahan suamiku, aku harus ikut menanggung beban atas kesalahan itu."
"Tapi, Kak mungkin belum saatnya Jingga menikah. Belum ada laki-laki yang cocok untuk Jingga," ucap Michelle.
"Karena hanya Mas Roger yang pantas untuk Jingga," ucap Michaela.
__ADS_1
"Jangan menyiksa diri sendiri seperti ini, kak. Meski aku ini seorang detektif yang bisa saja berbuat kejam tapi aku tidak bisa melihat hati seorang wanita hancur karena hal yang sebenarnya tidak harus ada. Itu masa lalu, biarkan Jingga menanggung sendiri atas kesalahannya," ucap Michelle.
"Itu namanya egois, Chell. Kakak kamu bahagia dengan aku karena perjaka atau bukan tidak ada bedanya lain lagi dengan perempuan, kalau dia sudah tidak perawan pastinya ada bekas tersendiri dan itu pastinya akan menimbulkan masalah."
"Gak ngerti lagi sama pemikiran, kakak. Aku gak tahu harus bicara apa, pengen marah tapi gak bisa," ucap Michelle dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Gitu aja sedih. Untuk ukuran cewek kayak kamu, gak pantas cengeng," ucap Michaela.
"Kakak." Michelle memeluk sang kakak ipar dengan erat! Betapa ia tidak menyangka bahwa kakak iparnya itu memiliki hati yang begitu baik sampai rela berkorban demi orang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
*******
Di kantor Abymana.
"Dirga, aku mau bicara," ucap Aby saat melihat Dirga wara-wiri di lobby kantornya.
"Oke, Bos!" Dirga langsung berjalan mengekor di belakang Aby.
"Ada pekerjaan khusus untuk kamu," ucap Aby setelah mereka tiba di ruangan Aby.
"Kerjaan lagi? Aku baru menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal dan sekarang harus kerja lagi?" tanya Dirga.
"Bukan kerjaan kantor tapi kakak ipar kamu," ucap Aby.
"Kakak ipar aku?" Dirga menatap Aby penuh tanya.
"Pokoknya kamu cegah Roger untuk menikahi Jingga, jangan sampai mereka menikah," jelas Aby.
"Hmmm, gak rela ya si mantan dinikahi orang? Udah punya berlian masih saja nyari perak," ucap Dirga.
"Sembarangan, kamu. Jingga mau dijodohkan dengan Frans," jelas Aby.
"Oh kirain buat cadangan," ucap Dirga dengan sedikit senyum jahil.
"Gaklah, aku gak mau patah tulang. Tahu sendiri Mawar kayak apa, nanti burungku bisa dipatahin sama dia."
Seketika Dirga tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan sang bos yang begitu takut kehilangan benda pusakanya.
"Malah ketawa, nih anak," gumam Aby.
"Maaf-maaf, aku gak sengaja ketawa," ucap Dirga sambil terus tertawa.
"Sebenernya aku sama Michelle juga sedang berusaha untuk menggagalkan pernikahan itu. Tenang saja, aku dan Michelle juga sedang berusaha," ucap Dirga lagi.
"Baguslah kalau gitu," ucap Aby.
"Aku dan Jingga pasti berusaha keras, aku juga gak mau kali punya kakak ipar macam Jingga," ucap Dirga.
"Sekarang dia udah jadi orang baik, stop menyangka dia orang jahat," ucap Aby.
"Aku tahu, aku hanya bercanda," ucap Dirga.
"Aku permisi karena masih banyak tugas yang belum selesai," ucap Dirga lagi lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Bersambung
__ADS_1