Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 119


__ADS_3

Michelle termenung sesaat setelah mendengar semua penjelasan dari Randy. Ia sudah mendengar semua penjelasan dari Randy tapi ia belum mendengar cerita versi kakaknya seperti apa. Saat ini jalan satu-satunya adalah kesembuhan Mamanya untuk menyudahi pertikaian antara Roger dan Randy.


Michelle yang tak tahu apa-apa tak dapat berbuat banyak, ia tak mau berpihak pada Randy ataupun pada Roger, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana cara agar Mitha cepat sembuh agar dirinya bisa mencari titik terang dalam pertikaian antara mereka.


********


Di kantor Mahesa.


"Selamat siang Pak Mahendra," ucap Mawar pada Papanya saat bertemu di lobby kantornya.


"Bu, saya sudah menaruh berkas di atas meja kerja Anda untuk nantinya, Anda pelajari," ucap Mahendra.


"Oh ya, terima kasih," sahut Mawar.


Karena berjalan kurang fokus, Mawar menabrak seorang officeboy yang sedang menyapu lantai hingga dirinya terjatuh.


"Mawar!" seru Mahendra sembari berlari menghampiri Mawar lalu membantunya berdiri.


"Aduh," ucap Mawar kesakitan.


"Maaf, Bu, saya tidak sengaja," ucap officeboy itu.


Laki-laki itu nampak ketakutan setengah mati pada Mawar, yang ia rasakan selama ini jika ia melakukan kesalahan, ia akan dimaki oleh bosnya apalagi jika sedang ada Marisa dan Jingga, ia atau siapapun yang berbuat salah akan dimaki habis-habisan bahkan ada yang sampai dipecat karena menumpahkan kopi pada baju Jingga.


"Tidak apa, saya yang salah, saya yang seharusnya minta maaf. Maafkan saya ya," ucap Mawar dengan nada ramah.


"Baju Ibu menjadi kotor," ucap laki-laki itu lagi.


"Tidak apa-apa, hanya terkena debu sedikit saja. Lanjut kerja aja ya atau kalau kamu merasa kesakitan, istirahat saja dulu," ucap Mawar sembari menegangi tangannya yang terasa sakit akibat terjatuh.


"Mari saya antar ke ruangan Anda," ucap Mahendra sembari memegang kedua belah bahu Mawar.


Mawar pun berjalan dan membiarkan Mahendra meneranginya!


"Papa ingin sekali memelukmu, Nak tapi apa kamu masih mau menerima Papa?" batin Mahendra sembari terus berjalan.


Mawar melirik tangan Mahendra yang memegangi bahunya dan tiba-tiba tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja.


Mawar segera mengusap air matanya agar tak terlihat oleh laki-laki yang berstatus sebagai Ayahnya itu.


"Tidak Mawar, jangan lemah seperti ini. Ingat tujuan awal kamu," batin Mawar mencoba menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setibanya di dalam ruangannya, Mahendra mengarahkan dirinya untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu! Ia hanya diam dan menuruti Mahendra.


"Ini, minum dulu." Mahendra menyodorkan segelas air putih pada Mawar.


"Terima kasih," ucap Mawar setelah meminum air itu.


"Biar Papa periksa tangan kamu dulu ya, Papa khawatir tangan kamu keseleo," ucap Mahendra sembari meraih tangan Mawar yang terasa sakit!


"Sudah saya peringatkan kemarin, bersikap profesional saja saat sedang berada di kantor," ucap Mawar tapi tetap membiarkan Mahendra memijat-mijat tangannya.


"Tapi di dalam ruangan ini tidak ada siapa-siapa Mawar. Tidak akan ada orang yang mendengar atau mengetahui kalau saya ini Papa kamu," ucap Mahendra.


"Sejak kapan, Anda menganggap saya sebagai anak? Bukankah selama ini Anda tidak pernah menganggap saya ada?"


"Mawar, maafkan Papa. Papa tidak bermaksud untuk melupakan kamu, Papa sayang padamu," ucap Mahendra sembari menggenggam erat jemari Mawar.


Mawar menatap Mahendra dengan tatapan dingin, ia menarik tangannya dari genggaman Mahendra!


"Tangan saya sudah tidak apa-apa. Silahkan kembali bekerja," ucap Mawar yang tak ingin membicarakan masalah pribadinya saat sedang berada kantor.


"Mawar maafkan Papa."


"Tolong keluar dari sini Pak Mahendra, saya sedang ingin sendiri." Dengan nada bicaranya yang dingin, Mawar mengusir Mahendra dari ruangannya.


Mawar menatap kepergian Mahendra, ada rasa yang tak biasa yang hadir dalam dirinya.


Dua puluh tahun hidup tanpa belaian kasih sayang seorang Ayah membuat Mawar merasa haus akan kasih sayang dari orang tua kandung.


Baru ia merasakan sedikit perhatian dan belaian dari sang Ayah, rasanya ia tak ingin menyudahi waktu bersama Mahendra tapi ia tak mau terlihat lemah dihadapan laki-laki itu karena biar bagaimana pun juga saat ini keadaan sudah berbalik. Bisa saja Mahendra mendekatinya karena ingin kedudukannya kembali lagi padanya.


Bisa saja, Mahendra ingin mengambil tempat yang sekarang ini sedang dinikmati nya yang didapatkan dengan cara instant.


Biar bagaimana pun juga, Mahendra pasti merasa terganggu dengan hadirnya dirinya di kantor itu apalagi dirinya hadir sebagai pengganti jabatan Mahendra di kantor itu.


"Tujuanku belum tercapai, jangan harap aku akan menyerah begitu saja. Perusahaan ini akan maju pesat dibawah pimpinan ku," batin Mawar.


Mawar memejamkan matanya lalu menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Mawar selalu melakukan itu untuk mendapatkan ketenangan dan menghilangkan kesedihan yang sedang mendera hatinya.


**********


"Lo! Lo orang yang sudah mengambil Roger dari gue," ucap Jingga pada Michaela.

__ADS_1


Saat ini Jingga sedang berada di salah satu restoran milik Roger dan je betul Michaela sedang berada di sana.


"Maaf, siapa ya?" ucap Michaela yang sudah tak mengingat Jingga.


"Jangan pura-pura gak tahu deh lo. Gue Jingga pacarnya Roger tapi sekarang dia udah lo rebut," ucap Jingga.


"Maaf, saya tidak mengenal Anda, jika kedatangan Anda hanya membuat kekacauan di restoran saya lebih baik Anda pergi," ucap Michaela.


"Kurangajar lo ya, berani-beraninya ngusir gue." Jingga berusaha menjambak rambut Michaela namun, Michaela langsung menepis tangan Jingga.


"Security!" seru Michaela memanggil petugas keamanan di sana.


Tak butuh waktu lama, seorang security pun berlari menghampirimu Michaela dan Jingga!


"Bawa perempuan ini pergi dari sini," titah Michaela pada security itu.


"Mari Mbak." Security itu memegang tangan Jingga dan menariknya menuju pintu keluar!


"Lepasin!" Jingga menarik tangannya, "gue bisa sendiri," sambungnya lalu pergi meninggalkan tempat itu!


Jingga berjalan menyusuri jalanan di sana sembari menggeruru sendiri!


"Sial banget hidup gue, Aby udah susah banget gue deketin, Roger juga. Ternyata dia cuma mainin gue," gumam Jingga sembari terus berjalan.


**********


Lama Mawar duduk di kursinya dengan mata yang tertutup rapat, akhirnya ia terbangun dan langsung melihat Mahendra yang sedang duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.


"Pak Mahendra, sedang apa Anda di sini?" ucap Mawar.


"Saya ingin memberikan berkas ini untuk ditandatangani tapi, Bu Mawar sepertinya terlihat lelah jadi saya tidak berani membangunkan Ibu," jelas Mahendra.


"Aku lelah hati dan pikiran. Sampai kapan aku begini Pak Mahendra, kapan kau sadar bahwa aku ini ada?" batin Mawar.


"Bu, mau teh atau kopi?" tanya Mahendra karena Mawar hanya terdiam.


"Tidak usah, saya baik-baik saja. Mana berkas yang harus saya tandatangani?"


"Ini, Bu." Mahendradatta memberikan berkas itu pada Mawar.


"Baiklah, silahkan kembali ke tempat Anda," ucap Mawar.

__ADS_1


Mahendra pun langsung berjalan keluar dari ruangan itu!


Bersambung


__ADS_2