
Di rumah sakit tempat Roger dan Michaela membawa ibu hamil yang akan melahirkan bayinya.
Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya perempuan itu melahirkan bayinya dengan selamat.
"Bapak, suaminya?" tanya seorang suster yang memangku bayi laki-laki itu.
"Selamat, Pak. Bayinya laki-laki, mirip sekali dengan Anda," ucap suster itu lagi tanpa menunggu Roger menjawab pertanyaannya.
Suster itu langsung saja memberikan bayi itu pada Roger dan membiarkan Roger memangku bayi itu. Dengan gerakan tangannya yang kaku, Roger berusaha menggendong bayi mungil itu.
"Suster, saya bukan–"
"Bayinya lucu sekali," ucap Michaela memotong perkataan Roger yang belum selesai.
"T_tapi ini bukan anakku," ucap Roger setelah suster itu pergi.
"Gak apa bukan bayi kita juga, Mas yang penting kamu sudah merasakan bagaimana rasanya menggendong bayi dan mengantarkan perempuan yang mau melahirkan meski perempuan itu bukan aku," ucap Michaela dengan senyuman gembira karena bisa melihat bayi baru lahir.
"Kamu mau menggendong bayi ini?" tanya Roger sembari memperlihatkan bayi itu pada Michaela.
"Mau banget. Gak apa ya, Mas kita pinjam bayi ini sebentar saja," ucap Michaela.
"Gak apa-apa, yang penting kita tidak menculiknya," ucap Roger.
"Eh, tapi gimana caranya mindahin bayi ini ke kamu? Gimana ya, kok susah?" sambung Roger.
Roger berusaha memindahkan bayi itu ke pangkuan Michaela! "Gini?" tanyanya sembari berusaha memberikan bayi itu pada sang istri.
"Hati-hati, nanti dia terjatuh," ucap Michaela sembari meraih bayi itu.
Terlihat raut wajah bahagia pada mereka berdua, meski itu bukan bayi mereka tapi mereka cukup bahagia karena bisa merasakan bagaimana memangku bayi baru lahir dan mereka juga bisa merasakan gelisah nya satu menunggu proses melahirkan.
Roger menatap wajah istrinya yang begitu bahagia, dia tersenyum tipis. Dalam hatinya ada sedikit pilu karena kenyataannya Michaela tidak bisa memiliki keturunan, kenyataannya mereka tidak bisa mempunyai bayi.
"Semoga ada jalan untuk kita mendapatkan bayi. Kita pasti punya anak tanpa harus ada istri kedua dalam hidup aku," batin Roger.
Roger terus saja menatap Michaela yang sedang asyik menggendong bayi itu. Michaela begitu bahagia dan terus mengajak bayi itu berbicara padahal bayi itu belum mengerti apa pun.
Dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya, Michaela terus menimang bayi itu. Dirinya tahu dirinya hanya boleh sebentar saja memeluk bayi itu karena itulah dia menggunakan kesempatan emas itu untuk memeluk dan menimang bayi mungil itu.
__ADS_1
"Pak, ibu bayi sudah bisa ditemui," ucap seorang suster pada Roger.
Suster dan dokter yang menangani proses persalinan pada perempuan itu menganggap Roger adalah suami dari perempuan itu sampai biaya tagihan rumah sakit pun mereka limpahkan pada Roger. Roger yang tak bisa berbuat apa-apa pun hanya bisa mengiyakan perkataan mereka dan atas izin dari Michaela, dirinya melunasi semua biaya persalinan itu.
Sebenarnya tanpa diminta pun, Roger akan tetap membiayai semua kebutuhan rumah sakit itu, dirinya tahu perempuan itu tidak punya uang untuk biaya melahirkan karena sebelumnya, saat mereka akan membawanya ke rumah sakit. Perempuan itu sempat menolak karena dia tidak punya biaya untuk bersalin di rumah sakit.
"Oh, ya. Di mana ruangannya?" tanya Roger.
"Di sebelah sini. Mari, saya antar!" Suster itu berjalan menuju sebuah ruangan yang ada tak jauh dari sana. Roger dan Michaela mengikuti langsung Suster itu dan tak lama mereka pun tiba di ruangan yang didalamnya ada perempuan si ibu sang bayi.
*********
Di kediaman Mawar.
Pak Mahendra dan Bu Marisa baru tiba di rumahnya setelah menjenguk Haris dan berbicara sedikit dengannya. Mereka berjalan santai melewati trio pinky boy yang dari tadi asyik bercanda ria dengan El dan Nasya.
Tak lupa saat melewati mereka Pak Mahendra dan Bu Marisa menyapa mereka dengan ramah. Frans dan mereka yang ada di sana pun menyahut ramah pada Bu Marisa dan Pak Mahendra, kehidupan di rumah itu memang terasa begitu tenang semenjak Mawar berdamai dengan kedua orang tuanya.
"Udah pada pulang?" tanya Mawar yang baru akan keluar rumah sembari menggendong baby Aditya.
"Mawar, dimana Maira?" tanya Bu Marisa karena tak melihat bayi perempuan itu dalam stroller nya.
Seketika trio pinky boy itu juga El dan Nasya langsung menatap ke arah Mawar sesaat setelah mendengar pertanyaan Mawar pada Pak Mahendra dan Bu Marisa.
Mereka tak menyangka Mawar akan menanyakan kondisi Haris langsung pada kedua orang tuanya. El nampak bahagia karena tanpa sadar Mawar memperlihatkan kekhawatirannya pada Haris.
"Kondisinya tida baik-baik saja. Sebaiknya kamu temui dia sebelum semua terlambat. Biar bagaimana pun, dia adalah papamu juga," ucap Pak Mahendra.
"Pa, dia saja tidak menginginkan aku ada. Apalah artinya aku untuk dia," ucap Mawar.
"Sama seperti Mama yang dulu pernah tak menginginkan kamu, dia juga seperti itu tapi anak tetaplah anak. Seperti halnya Mama yang sekarang sudah sangat menyayangi kamu dan menyesal karena telah me_nyia-nyiakan kamu, dia juga seperti itu. Karena dia tidak tahu Mama hamil anaknya itu sebanyak dia tidak pernah menganggap kamu ada. Jika kamu bisa memaafkan Mama yang sudah sangat berdosa padamu, kenapa kamu tidak berusaha memaafkan dia yang mungkin akan menyayangi kamu jika saja dia tahu bahwa kamu adalah anaknya," ucap Bu Marisa.
"Udahlah, Ma jangan bahas itu lagi. Aku tidak mau mengungkit masa lalu," ucap Mawar sembari berjalan memasuki rumahnya.
"Kalau begitu, temui dia dan bicaralah. Katakan kalau kamu sudah memaafkannya," ucap Bu Marisa.
"Ma, aku sudah memaafkannya. Tidak usah menemuinya, Allah pasti tahu bahwa aku sudah memaafkannya," ucap Mawar.
"Duduk di sini, Nak." Bu Marisa mengarahkan Mawar untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu lalu dirinya pun ikut duduk di sana.
__ADS_1
"Pa, Mama mau bicara sebentar dengan Mawar. Tolong berikan Aditya pada Nasya atau sama Frans, biasanya Aditya senang kalau sama Frans," ucap Bu Marisa pada Pak Mahendra.
"Ayo, Sayang. Sama kakek yuk!" Pak Mahendra langsung mengambil alih baby Aditya lalu membawanya ke tempat nongkrong tiga bodyguard ganteng itu.
"Hai, Sayangku," ucap Nasya.
Nasya langsung berjalan menghampiri Pak Mahendra sembari memposisikan tangannya untuk segera meraih baby Aditya dari Pak Mahendra.
Gadis itu memang sangat suka pada anak kecil terutama bayi, karena itulah dia sangat bahagia dan kegirangan saat melihat bayi itu.
"Tolong jagain Aditya sebentar. Mamanya sedang bicara serius sama neneknya Aditya," jelas Pak Mahendra.
"Siap, Om. Udah Om masuk saja dan bujuk Kak Mawar biar mau ke rumah sakit, jenguk Pak Haris," ucap Nasya lalu dia segera membawa baby Aditya ke tempat mereka berkumpul.
Di dalam rumah.
"Mawar, sebenarnya Pak Haris bukan satu-satunya orang yang paling bersalah dalam hal ini. Mama yang salah karena memendam rahasia ini sampai puluhan tahun, seandainya dia tahu kalau kamu adalah anaknya mungkin dia akan menyayangi kamu sebagaimana mestinya. Salah Mama karena Mama sudah membuang kamu ke kampung," ucap Bu Marisa.
"Ma, aku bilang aku gak mau membahas masa lalu itu," ucap Mawar.
"Kita harus membahasnya agar kamu tahu kalau sebenarnya Haris pantas untuk dimaafkan," ucap Bu Marisa lagi.
"Mawar, Papa tahu ini berat untuk kamu tapi apa salahnya memaafkan, Nak? Kamu bisa memaafkan Papa dan Mama dengan mudah, kenapa tidak mencoba memaafkan Haris juga," ucap Pak Mahendra.
"Aku sudah bilang kalau aku sudah memaafkan Pak Haris. Aku belum siap untuk menemuinya lagipula dia pasti sembuh, belum saatnya dia mati karena dia belum lunas membayar hukuman dunia," ucap Mawar.
Di luar rumah.
"Semoga Kak Mawar mau ke rumah sakit," ucap Nasya sembari menimang baby Aditya.
"Semoga Bu Marisa berhasil merayu dan membujuk Mbak Mawar," ucap Frans.
"Sebenarnya Mbak Mawar sudah memaafkan Pak Haris tinggal memantapkan hatinya untuk menemui Pak Haris dan berbicara bahwa dia sudah memaafkannya," ucap Joe.
"Fredy pasti senang kalau tahu Kak Mawar sudah memaafkan papanya," ucap El.
"Sebaiknya segera beritahu dia agar papanya bisa bahagia kalau tahu tentang ini," ucap Salman.
"Aku akan memberitahunya. Aku akan menemui Fredy setelah pulang dari sini," ucap El.
__ADS_1
Bersambung