Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 277


__ADS_3

Fredy memegang erat jaket yang dikenakan oleh Mawar. Dia mencengkeram dengan kuat karena takut terjatuh dari motor yang dikemudikan oleh Mawar.


Seumur hidupnya, ini kali pertama dirinya diajak naik motor dengan kecepatan tinggi. Mawar yang sudah lama tidak mengendarai kendaraan merasa rindu dengan masa lalu yang sering membawa motor dengan kecepatan tinggi di jalanan berbatu menuju kebunnya.


"Kamu bisa pelan sedikit gak, bawa motornya? Aku takut jatuh!" seru Fredy dengan tangan yang terus mencengkeram erat jaket Mawar.


"Gak bisa. Aku menghilangkan kekesalan, kesedihan dan kegundahan dengan cara ini. Aku suka melakukan ini," sahut Mawar dengan suara sedikit keras agar Fredy dapat mendengar suaranya.


"Aku bisa terkena serangan jantung kalau begini terus," timpal Fredy yang memang jantungnya sudah berdetak tak beraturan karena ketakutan.


"Masih muda, jangan mati dulu. Aku baru saja punya kakak laki-laki masa udah mau hilang lagi aja," ucap Mawar sembari memelankan laju motornya.


"Kamu perempuan. Kenapa mainnya yang mengancam keselamatan?" tanya Fredy yang kini sudah tidak terlalu takut.


"Aku hanya melakukan apa yang orang lain bisa lakukan."


"Kamu menuntut dirimu untuk bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan? Untuk apa?"


"Kesempurnaan, tepatnya semua yang bisa dilakukan oleh anak laki-laki pasti aku pelajari. Dulu aku dibuang orang tuaku dengan alasan aku terlahir menjadi seorang anak perempuan karena itulah aku berusaha menjadi anak laki-laki agar aku bisa diakui oleh ayah dan ibuku," jelas Mawar.


"Maafkan papa ya. Bu Marisa tidak akan membuatmu kalau saja kamu bukan anak papa," ucap Fredy.


"Itu masa lalu. Aku sudah melewati semua masa itu, sekarang aku ingin bahagia semoga saja dia yang menciptakan aku tidak mencabut nyawaku sekarang," ucap Mawar.


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kehilangan adik yang baru aku kenal," ucap Fredy.


Mawar pun menepikan motornya karena sudah tiba di dekat jalan raya dan mobil milik Fredy pun terlihat terparkir di tepi jalan itu. Setelah berkendara beberapa menit, mereka pun tiba di sana dengan sudah sedikit mengobrol yang membuat mereka semakin dekat.


"Pulanglah, aku juga mau pulang," ucap Mawar.


"Hey Mawar! Mau balapan denganku?" seru seseorang pada Mawar.


Mawar dan Fredy menoleh ke arah suara dan mereka langsung melihat sosok seorang laki-laki berdiri di sana. Dia duduk di atas motornya sambil menatap ke arah Mawar dan Fredy.


"Siapa kamu? Jangan membahayakan adikku," ucap Fredy.


"Fik. Ini serius kamu? Ya ampun udah lama kita gak ketemu. Kamu makin ganteng aja," ucap Mawar sembari berjalan menghampiri Taufik.


"Aku ganteng tetap saja gak bisa memiliki kamu. Gimana kabar kamu? Sejak kapan kamu punya kakak?" tanya Taufik.


"Ceritanya panjang. Kamu mampir dong ke rumah! Ibu sama bapak juga ada di sini dan aku udah punya dua anak. Ayo, dong mampir ke rumahku," ucap Mawar pada sahabat lamanya itu.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Fredy.


"Eh sampai lupa mengenalkan kalian," ucap Mawar.


"Fik, kenalin ini kak Fredy dan kak Fredy, kenalin ini Taufik teman baik aku," ucap Mawar lagi.

__ADS_1


Taufik dan Fredy berjabat tangan sembari menyebutkan nama mereka masing-masing.


"Beneran ini kakak kamu? Oh apa mungkin ini suaminya Jingga? Si nenek lampir itu," ucap Taufik.


"Sembarangan, kamu. Sekarang Jingga sudah menjadi orang baik. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," ucap Mawar.


"Nanti kalau aku ikut ke rumah kamu, suami bucin kamu cemburu seperti dulu. Nanti dia marah sama kamu dan mengusir aku dari rumah kamu," ucap Taufik.


"Gak, sekarang Mas Aby susah lebih dewasa."


"Hah! manggilnya mas Aby." Taufik tertawa kecil.


"Memang harus apa?" tanya Mawar.


"Nggak. Aku cuma bercanda, mau balapan? Kita kenang masa lalu kita."


"Siapa takut. Meski sudah menjadi ibu, aku akan tetap menjadi pemenang," ucap Mawar.


"Hey! Hey! Jangan lakukan itu. Balapan liar dilarang di sini. Jangan membahayakan diri sendiri," ucap Fredy.


"Sekarang kamu udah punya kakak. Banyak yang ngatur kehidupan kamu, enak waktu kita di kampung mau ngapain juga gak pernah ada yang melarang," ucap Taufik.


"Ayo kita pulang! Jangan balapnya!" titah Fredy.


*******


"Mawar kenapa belum pulang?" tanya Jingga pada Bu Marisa.


"Mungkin dia masih sibuk," sahut Bu Marisa.


"Dia sudah di jalan," ucap Aby yang baru keluar dari kamarnya.


"Maira mana?" tanya Aby lagi karena tak melihat bidadari kecilnya.


"Tuh, lagi sama Frans," ucap Bu Ratna.


"Maira emang centil, nih masih bayi sukanya sama cowok-cowok ganteng," ucap Jingga.


"Jangan cemburu kali, Maira gak akan merebut Frans dari kamu," ucap Aby sembari tertawa kecil.


Mereka semua menatap ke arah trio pinky boy itu yang sedang membawa baby Maira bermain. Mereka terlihat begitu menikmati kebersamaan dengan bayi lucu itu, begitu pun dengan baby Maira yang selalu happy saat bersama dengan tiga pemuda tampan itu.


"Seru banget mainnya. Cepat punya bayi biar Maira ada temannya," ucap Aby pada tiga pemuda itu.


"Gimana mau punya bayi? Punya istri saja belum," sahut Bu Marisa yang juga sedang berjalan menghampiri tiga pemuda itu.


"Cepat nikahi Jingga dan Frans," ucap Bu Ratna yang sedang asyik menggendong baby Aditya.

__ADS_1


"Kayaknya ada yang mau demo," celetuk Joe.


"Demo?" ucap Salman penuh tanya.


"Tuh, lihat mereka," ucap Joe sembari menatap ke arah keluarga majikannya yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Ada-ada aja kamu," ucap Frans yang masih berjongkok untuk mengajak baby Maira mengobrol.


"Si centil ini sedang menertawakan apa, hmm?" tanya Jingga pada baby Maira yang anteng rebahan di atas strollernya.


Bayi mingil itu hanya tertawa mendengar pertanyaan dari Jingga. Setiap orang yang berucap padanya, bayi itu memang selalu menanggapinya dengan tertawa dan ocehan gak jelas dengan bahasa bayi.


Jingga mengangkat tubuh baby Maira hendak memangkunya tapi bayi itu malah mencengkeram erat jari-jari tangan Frans. Jingga dan semua orang yang melihat itu pun hanya tertawa.


"Centil, nih emang Maira," ucap Aby.


"Aduh, aduh. Tuh 'kan kamu dibilangin centil," ucap Frans sembari memangku baby Maira.


"Makanya jangan main sama cowok-cowok terus biar gak dikatain centil," ucap Frans lagi.


"Da-da-da.cacacaa!" Baby Maira pun mengoceh menanggapi perkataan Frans.


"Nyahut, dia. Bicara apa kamu hem? Giliran Aunty nya yang ngajak bicara gak pernah ditanggapi," ucap Jingga dan benar saja, baby Maira hanya diam dengan tangannya yang asyik mencakar, mengusap bahkan mencubit pipi Frans.


"Tuh 'kan dia, diam. Beda kalau Aditya, dia paling cerewet kalau sama aku," ucap Jingga lagi.


"Coba, nih ajak Aditya bicara," ucap Bu Ratna sembari memberikan bayi itu pada Jingga.


"Coba-coba. Jangan-jangan Aditya lebih suka sama perempuan karena dia gak pernah anteng kalau diajak main sama pemuda-pemuda tampan itu," ucap Aby.


"Ada-ada aja. Memang sendirinya tidak tampan," ucap Bu Marisa.


"Yah pakai nanya. Aku tampannya maksimal, Ma hanya saja aku bukan pemuda tapi ayah tampan," ucap Aby dengan penuh percaya diri.


"Hmm, kepedean, tuh papa kamu. Gantengan juga kamu ya," ucap Jingga pada baby Aditya.


Aditya pun langsung tertawa menggemaskan. Dia asyik memainkan gelang-gelang tangan yang dipakai oleh Jingga.


"Mamama! Cacacapapa." Aditya mengoceh sendiri sembari terus memainkan gelang Jingga.


"Tuh. Aditya lebih suka sama aku," ucap Jingga.


"Centil emang kamu tuh. Awas ya jangan rebut omnya dari tante," ucap Jingga pada Maira yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh baby Maira.


Mereka semua pun tertawa melihat tingkah Maira yang selalu acuh-cuek pada Jingga sedang pada Frans, dia selalu merespon semua perkataan Frans. Bayi itu memang seperti sudah mengerti dan sudah bisa, memilih dengan siapa saja dia ingin bermain dan bisa memilih siapa saja yang bisa membuatnya nyaman.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2