Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 229


__ADS_3

Tok!


Tok!


Aby mengetuk pintu kamar karena mendapati pintu kamarnya yang tertutup.


Di dalam kamarnya, Mawar langsung merapikan pakaiannya dan rambutnya lalu membuang semua tanya yang kini sedang meliputi hatinya lalu membuka kamarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Mawar pada Aby.


Aby menatap Mawar dengan tatapan aneh, mengapa istrinya itu bertanya ada apa padahal seharusnya dia tahu mau apa dirinya masuk ke dalam kamar itu.


"Ya ... aku mau istirahat, memang menurutmu apa lagi?" ucap Aby.


Mawar tertawa kecil dan terlihat salah tingkah. "Ah ya, aku hanya bercanda. Mas, besok aku izin pergi ya," ucap Mawar.


"Mau kemana?" tanya Aby.


"Aku kangen sama teman-teman aku dan lagi sudah lama aku tidak pergi ke luar, aku ingin menghirup udara segar di tempat terbuka," jelas Mawar.


"Aku temani ya."


"Memangnya kamu gak sibuk?" tanya Mawar sembari menatap Aby.


"Sibuk sih tapi untuk kamu, aku akan meluangkan waktu."


"Aku bisa pergi sendiri. Urus saja pekerjaan kamu daripada nanti dipecat sama Papa," ucap Mawar.


"Tapi kamu ditemani Frans atau yang lainnya gak?"


"Aku pergi sama Frans."


"Oke. Kamu boleh pergi," ucap Aby.


"Terima kasih, Mas." Mawar tersenyum lebar sambil memeluk Abymana.


********


Di kediaman Haris.


"Udah jam tujuh, kayaknya saya harus pulang kasian Mama saya sendirian di rumah," ucap Michelle.


"Kami tidak bisa menahan tamu di sini," ucap Haris pada Michelle.


"Fredy, sepertinya kaki gadis ini masih sakit tolong antar dia pulang," ucap Haris pada Fredy.


"Baik, Pa," ucap Fredy.


"Tidak usah. Saya bisa pulang sendiri kok," ucap Michelle.


"Perempuan yang sedang terluka lebih rentan terkena bahaya, dari sini ke jalan raya jaraknya lumayan jauh jadi jangan menolak Fredy untuk mengantarkan kamu," ucap Mamanya Fredy.


"Iya, apa lagi tadi kamu bilang kamu baru belajar mengendarai motor kalau tiba-tiba kamu terjatuh di jalanan yang gelap dan sepi bagaimana?" ucap Fredy.


"Baiklah kalau begitu, saya tidak bisa menolak," ucap Michelle.


Fredy tersenyum lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar rumahnya!


"Kalian berdua ikuti Fredy dari belakang karena dia akan mengendarai motor gadis ini," ucap Haris pada dua bodyguardnya.


Mereka pun langsung pergi dari rumah itu setelah berpamitan pada Haris dan istrinya!


Di perjalanan.


"Siapa namamu, tadi?" tanya Fredy.

__ADS_1


"Namaku Michelle," sahut Michelle yang duduk di jok belakang motornya.


"Aku heran kenapa kamu bisa nyasar ke rumah orang tuaku padahal rumah kami berada jauh dari perumahan di sekitar sini," ucap Fredy.


Rumah milik Haris memang terdapat di tempat yang jauh dari perumahan di wilayah itu. Rumah itu berdiri sendiri di tengah lebatnya hutan dan hanya satu-satunya rumah di sana. Meski begitu rumah itu terlihat nyaman untuk ditinggali dan indah dipandang karena rumah itu sangatlah mewah dan luas.


"Aku tidak tahu kenapa aku bisa di sana temanku bilang arahnya ke sana," ucap Michelle.


"Kamu masih sekolah atau sudah bekerja?" tanya Fredy lagi.


"Aku masih kuliah," sahut Michelle berbohong.


"Berarti belum menikah ya?"


"Hmm, belum."


"Sayang aku sudah punya pacar kalau belum kita bisa pedekate," ucap Fredy.


"Kamu bisa aja. Eh udah nyampe jalan raya nih, antar aku sampai sini saja," ucap Michelle.


"Yakin?" tanya Fredy.


"Iya."


"Tapi kaki kamu masih sakit," ucap Fredy, terlihat laki-laki itu mengkhawatirkan Michelle.


"Tidak apa-apa, aku bisa kok."


"Ya sudah, hati-hati ya." Fredy turun dari motor Michelle dan berdiri di sampingnya.


"Michelle, ini kartu namaku kalau ada apa-apa telpon saja aku ya," ucap Fredy sembari memberikan sebuah kartu nama pada Michelle.


Michelle tersenyum lalu menerima kartu nama itu dan ia pun langsung melajukan motornya!


********


"Jadi gimana, Mbak? Mbak El mau menerima laki-laki itu?" ucap Ussy pada El.


"Entahlah, Sy." El berdiri dan berjalan beberapa langkah.


Kini posisinya berdiri dengan membelakangi Ussy sedangkan Ussy duduk di kursi yang sejak tadi ia duduki.


"Dia ganteng sih dan keluarganya juga sepertinya orang baik-baik," sambung El.


"Kalau gitu terima saja," ucap Ussy.


"Aku memang sudah menerimanya tapi aku gak tahu ini benar atau tidak," ucap El.


"Lah, kok gitu, Mbak?"


"Aku suka sama dia tapi masa mau langsung nikah?" ucap El.


"Berapa usia, Mbak El? Kok Ibu mengizinkan Mbak menikah padahal, Mbak El masih kuliah," ucap Ussy.


"Usiaku dua puluh dua, memang sudah boleh menikah," ucap El.


"Mbak tiga tahun lebih tua dari ku rupanya," ucap Ussy.


"Memang kamu berapa?" tanya El.


"Sembilan belas," sahut Ussy.


"Apa! Sembilan belas? Kenapa kamu sudah pacaran?" ucap El.


"Gimana lagi, Ussy cinta sama Mas Joe.

__ADS_1


"Jantan macam-macam kamu ya bisa-bisa kuliah kamu berhenti di tengah jalan."


"Nggak, Mbak. Ussy gak akan macam-macam."


**********


Di perjalanannya menuju pulang ke rumahnya, Michelle terus memikirkan tentang Haris dan keluarganya.


"Bagaimana bisa seorang mantan karyawan menjadi jutawan? Perusahaan apa yang dipimpin oleh seorang Haris sehingga dia dapat membayar bodyguard sampai sebanyak itu?" batin Michelle.


Michelle terus melanjukan motornya karena harus segera tiba di rumah sebelum malam semakin larut.


"Haris terlihat begitu baik dan keluarganya juga baik. Mereka orang baik-baik tapi bagaimana pun Haris sekarang, aku akan tetap menangkapnya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Bu Marisa," batin Michelle lagi.


Setelah mengendarai motornya selama tiga puluh menit.


Setelah mengendarai motornya selama kurang lebih satu jam, akhirnya Michelle tiba di rumahnya.


Ia langsung disambut oleh keluarganya yang sedari tadi sudah menunggu kepulangannya.


"Michelle, akhirnya kamu pulang juga," ucap Mitha sembari merangkul tubuh Michelle.


"Mama, aku pasti pulang karena rumahku memang di sini," ucap Michelle sembari memeluk Mitha. "Assalamu'alaikum," sambung Michelle.


"Waalaikumsalam. Kamu telat ngucapin salam," ucap Dirga sembari menghampiri Michelle dan Mitha.


"Ada yang terluka?" tanya Dirga sembari meneliti tangan dan seluruh tubuh Michelle.


Michelle menarik tangannya dari genggaman Dirga sambil berucap, "tidak, aku tidak apa-apa."


"Sudah kuduga. Tidak akan ada yang bisa melukai seorang Michelle," ucap Dirga.


"Ayo masuk, kamu sudah makan malam?" tanya Mitha pada Michelle.


"Sudah. Ternyata buruan ku orangnya baik tadi aku numpang makan di rumahnya," ucapan Michelle.


"Apa!" Semua orang yang di sana terkejut mendengar pernyataan Michelle.


"Sayang, apa kamu tidak takut diracun?" ucap Dirga dengan raut wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran.


"Buktinya aku masih hidup, oh ya ternyata dia punya anak laki-laki yang belum menikah. Dia ganteng, tinggi, putih, hidungnya mancung, bola matanya biru dan dia juga baik, aku tertarik dengan pemuda itu," jelas Michelle.


"A_apa? Melihat yang seperti itu seketika kamu lupa sama aku hah?" ucap Dirga.


"Gak baik memuji laki-laki lain dihadapan suami sendiri," ucap Mitha.


"Michelle, jangan bikin gara-gara. Dirga sudah cukup sempurna untuk kamu," ucap Roger.


"Kulkas berjalan gitu dibilang sempurna. Kalian tahu gak, tadi laki-laki itu merayu aku, dia mengucapkan kata-kata indah untukku," udah Michelle.


"Memangnya dia tidak bertanya kamu sudah menikah atau belum?" ucap Michaela.


"Tanya tapi aku jawab aku masih kuliah," sahut Michelle.


"Nggak-nggak, kamu gak boleh melanjutkan misi ini. Bisa-bisa kamu yang ditangkap oleh mereka," ucap Dirga.


"Lalu siapa yang akan menangkap penjahat itu? Klien ku pasti kecewa kalau aku mundur dan lagi kalau pun aku mundur, aku tetap bisa menemui laki-laki itu karena aku punya nomor ponselnya," ucap Michelle sembari berjalan memasuki kamarnya!


Dirga yang sudah terbakar api cemburu langsung membuntuti Michelle dari belakang!


"Anak itu sukanya bercanda. Suka banget bikin suaminya kebakaran jenggot," ucap Michaela sembari menatap Michelle dan Dirga yang mulia masuk ke dalam kamarnya.


"Biarkan saja. Biar Dirga berubah jadi romantis kayak aku," celetuk Roger.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2