Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 261


__ADS_3

Setelah mengendara sekitar sepuluh menit. Joe menghentikan laju motornya di depan panti asuhan.


Di depan panti itu sudah ada bidadari hatinya yang sudah menunggunya sejak beberapa menit lalu. Dengan senyuman manis semanis madu, Ussy terus menatap Joe dengan tatapan berbinar.


"Udah nunggu dari tadi ya?" tanya Joe pada Ussy.


"Lumayan. Sekitar tiga sampai lima menit, aku menunggumu," sahut Ussy.


Joe berjalan menghampiri Ussy dan Bu Jena! "Bu, saya pinjam Ussy nya sebentar ya. Saya janji akan pulangin dia tanpa ada yang kurang sedikitpun," ucapnya pada Bu Jena.


"Ibu izinkan. Hati-hati dan jangan pulang terlalu larut," ucap Bu Jena pada Joe.


"Baik, Bu. Kalau gitu saya permisi," ucap Joe lalu mencium punggung tangan Bu Jena.


Ussy tersenyum lalu segera menaiki motor Joe setelah mencium punggung tangan sang Ibu. Mereka pun kembali melaju menuju tempat tujuan mereka.


"Tinggal kamu, Man. Ayo jemput ayang kamu," ucap Joe sambil melajukan motornya dengan kecepatan pelan.


"Wah ternyata teman-teman kamu udah pada punya pacar," ucap Ussy.


"Eh kayak kenal sama cewek itu," sambung Ussy saat melihat Jingga.


"Dia Jingga. Kakaknya Mbak Mawar," jelas Joe.


"Oh pantas saja kayak pernah lihat," sahut Ussy.


"Aku jemput Alena dulu ya. Kalian mau ikut belok atau lanjut ke kafe?" tanya Salman setelah tiba di persimpangan menuju rumah pacarnya.


"Masih jauh gak, dari sini?" tanya Frans.


"Tuh! Rumahnya udah kelihatan," ucap Salman seraya mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah rumah bertingkat.


"Pacarmu anak orang kaya, Man," ucap Joe.


"Bukan tapi dia janda kaya," sahut Salman.


"Gila lu," ucap Frans.


"Canda." Salman tertawa kecil lalu melaju menuju rumah mewah itu!


Tak sampai lima menit, Salman sudah tiba di depan rumah itu dan ternyata Alena sudah menunggunya.


"Kamu lama banget, sih?" ucap Alena.


"Maaf, tadi ada sedikit kendala. Kamu kok di luar? Mana orang tuamu? Aku mau izin," ucap Salman.


"Di dalam rumah lagi gak ada orang makanya aku nunggu kamu di luar. Gak baik masuki tamu laki-laki saat keadaan rumah sepi," jelas Alena.


"Orang tua kamu kemana?"


"Mereka ada acara pribadi di luar," sahut Alena.


"Pinter juga tuh anak cari pacar. Pacarnya cantik," ucap Frans.


Seketika Jingga melepaskan pelukannya dari Frans lalu mencubit pinggangnya hingga pemuda itu merintih kesakitan.


"Aduh, kamu kenapa nyubit saya?" tanya Frans sembari mengusap-ngusap pinggangnya.


"Lagian muji pacar orang," sahut Jingga dengan nada kesal.


"Maaf. Lagian masih cantik kamu dibanding janda kaya itu," ucap Frans dengan tawa kecil.


"Enak aja janda, aku masih gadis," ucap Alena yang tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud janda oleh temannya Salman.


"Tadi Salman yang bilang kalau kamu janda," ucap Ussy.


"Janda sebelum menikah? Mana ada," ucap Alena sembari menaiki motor Salman.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang. Udah lengkap nih tiga pasang kekasih yang siap bermain," ucap Joe.


"Main apa?" tanya Jingga.


"Main apa, kek. Main tembak-menembak, kejar-kejaran atau apalah itu yang seru-seru," ucap Frans.


"Yang seru itu menjelajahi keindahan suatu tempat yang sebelumnya belum pernah tarjamah oleh orang lain," ucap Salman.


"Gila lo. Nanti aku laporkan kak Michelle biar disunat untuk yang kedua kalinya," ucap Ussy yang mengerti apa yang dimaksud oleh Salman.


"Emang kamu ngerti apa maksudku?" tanya Salman.


"Lama kenal sama kalian, membuat aku pelan-pelan mengerti apa yang kalian bicarakan meski dengan perkataan halus sekali pun," ucap Ussy lagi.


"Ayo pergi!" Frans mulai melajukan motornya pelan lalu mulai tancap gas menuju tempat yang sudah mereka sepakati!


********


Di kantor polisi.


"Pak! Pak polisi tolong! Tolong!" seru Adi dan Fian pada polisi yang berjaga malam itu.


"Ris! Ris, sabar . Kamu bertahan ya," ucap Adi pada Haris yang saat itu merasakan sakit di kepala dan bagian dadanya.


"Sakit sekali, kalau aku mati tolong sampaikan maafku pada keluarga Pak Mahendra dan juga anak dan istriku," ucap Haris lirih.


"Tidak. Jangan bicara seperti itu, Ris kamu pasti selamat, kamu pasti sembuh," ucap Fian.


"Ada apa ini?" tanya seorang polisi yang berjaga.


"Pak, tolong teman kami sakit," ucap Adi.


Melihat Haris yang hanya terbaring dengan tanpa adanya pergerakan, Polisi itu pun segera mengevakuasi Haris dan membawanya ke rumah sakit.


********


Trio pinky boy itu duduk dalam satu meja yang sama. Bisa dikatakan mereka bukan sedang kencan bersama pacarnya masing-masing tapi mereka sedang mengadakan reuni bersama teman dekat karena ternyata tidak hanya mereka yang ada di sana tapi dua anak tuyul ganteng, Nasya dan juga Eliandra.


"Hai semuanya, sebelumnya aku perkenalkan dulu nih pacar aku, namanya Alena," ucap Salman.


Karena di sana mereka semua sudah saling kenal. Salman hanya butuh mengenalkan Alena saja pada mereka. Alena tersenyum pada mereka lalu menjabat tangan mereka satu per satu.


"Jadi udah gak ada jomblo lagi diantara kita," ucap Nasya.


"Sebenarnya saya agak gugup nih karena duduk bareng, Mbak Nasya dan juga Mbak Jingga," ucap Salman.


"Biasa aja kali. Aku juga biasa saja duduk sama kalian," ucap Nasya.


"Kalian udah kenal dekat kayaknya," ucap Alena.


"Tentu saja kami kenal dekat. Mbak Nasya ini adiknya majikan aku dan Mbak Jingga kakaknya majikan aku," jelas Salman.


"Hey, hey! Apa yang kamu katakan. Tidak ada majikan, kita semua sama," ucap Jingga.


"Kak Jingga betul," sambung Nasya.


"Aku bahagia kita bisa kumpul gini apa lagi kalau ada Mawar, pasti akan terasa lebih sempurna," ucap Fredy.


"Tenang saja, kita pasti bantu kamu untuk bertemu dengan kak Mawar," ucap Nasya.


"Terima kasih," ucap Fredy.


"Udah-udah, sedihnya nanti saja sekarang pilih menu apa yang mau kalian pesan biar aku yang bayar," ucap Reza.


"Wah asyiknya ditraktir pak polisi," ucap Ussy.


"Seru banget ya kalian. Aku baru pertama kumpulan bersama banyak orang gini," ucap Alena.

__ADS_1


"Kamu akan terbiasa setelah pertemuan pertama kita ini," ucap El yang hanya dibalas senyuman oleh Alena yang masih merasa canggung karena baru pertama bertemu dengan mereka.


"Tangannya diam, dasar anak tuyul kerjaannya curi-curi kesempatan mulu," celetuk Ussy pada Reza yang diam-diam merayap meraba tangan Nasya.


"Hah, anak tuyul!" seru Alena, Salman, Frans dan Jingga. Mereka memang tidak tahu apa dan siapa yang dimaksud oleh Ussy.


"Pak CEO dan Pak Polisi ini yang dimaksud anak tuyul oleh Ussy. Mereka memang cocok dipanggil anak tuyul," jelas Joe dengan tawa kecil.


"Kenapa anak tuyul?" tanya mereka secara bersamaan.


"Jangan dibahas paling sebentar lagi kalian juga jadi anak kodok atau bisa jadi tuyul pink," ucap Fredy.


"Betul kamu. Kita yang gantengnya gak ada lawan aja jadi anak tuyul gimana dengan kalian?" sambung Reza.


"Memang kalian pikir Salman gak ganteng?" tanya Alena.


"Ganteng tapi kalau lihatnya dari ujung sedotan," sahut Fredy. Mereka pun tertawa bersama.


"Jangan anggap serius. Saat bersama seperti ini, tidak ada kata serius diantara kami," jelas El pada Alena.


Alena dan Jingga tertawa ternyata sebegini menyenangkannya punya banyak teman apalagi Jingga, dia baru sadar ternyata menjadi orang baik lebih berwarna daripada menjadi orang pendendam yang tidak bisa berbuat baik kepada orang lain.


"Pesanan tiba. Silahkan pilih yang mana pesanan kalian," ucap Reza.


"Seneng ya berkumpul bersama orang-orang terdekat. Aku baru pertama punya teman sebanyak ini," ucap Jingga.


"Sebenarnya saya malu karena malam ini ada kamu," ucap Fredy pada Jingga.


Seketika suara bising di area meja itu menjadi hilang setelah Fredy berucap barusan. Kini hanya ada keheningan di sana dengan semua tatapan yang tertuju pada Jingga dan Fredy.


"Malu kenapa? Masalah orang tua tidak usah dibawa-bawa lagipula kita sama-sama tidak tahu tentang masalah itu," ucap Jingga yang sebenarnya tak ingin mengungkit masa lalu orang tuanya. Baginya mereka tidak harus bermusuhan dan saling membenci seperti orang tua mereka.


Kesalahan ayahnya Fredy memang tidak akan mudah dimaafkan oleh orang tuanya Jingga tapi apa salahnya mereka mencoba memperbaiki kesalahan itu.


"Kenapa jadi tegang? Ayolah, kita di sini untuk bersenang-senang," ucap El.


Mereka pun kembali pada suasana awal. Berisik, penuh dengan canda dan tawa.


Saat mereka asyik mengontrol sambil menikmati hidangan yang mereka pesan, tiba-tiba ponsel Fredy berdering tanda ada telpon masuk.


Fredy pun langsung melihat siapa yang menelponnya dan dia langsung melihat nama sang ibu pada layar ponselnya.


"Mamaku menelpon. Sebentar ya, aku angkat telpon dulu." Fredy bangkit dari duduknya lalu melangkah beberapa langkah dari teman-temannya.


"Apa! Iya, Ma sekarang aku ke rumah sakit," ucap Fredy pada mamanya.


Seketika semua orang yang di sana menatap Fredy karena mendengar perkataan Fredy.


"Siapa yang sakit? Mama kamu?" tanya El yang ikut panik.


"Papaku dilarikan ke rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit," ucap Fredy.


"Kamu pulang sama Reza aja ya," ucap Fredy lagi pada El.


"Za, tolong antar El pulang ya. Aku harus pergi sekarang," sambung Fredy pada Reza.


"Tidak mau. Aku mau ikut sama kamu," ucap El.


Fredy menghentikan langkahnya lalu menatap El. Dia kembali menghampiri kekasihnya itu!


"Apa kamu serius? Yang aku tahu kamu membencinya," ucap Fredy sembari menatap El.


"Maafkan aku. Aku tahu tidak seharusnya aku membencinya, ayo kita pergi dan tolong pertemukan lagi aku dengannya," ucap El.


Fredy tersenyum lalu menggenggam tangan El. "Terima kasih, kamu sudah mau menerima aku dan papa," ucap Fredy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2