
"Ya emang nggak sampai melakukan itu tapi dengan kamu yang mencium aku dengan tanpa izin dari aku, sama aja kamu mencuri kesucian bibirku dan itu termasuk pelecehan seksual," ucap Mawar yang masih menangis.
"Cewek jagoan bisa nangis juga ya ternyata? Aku pikir kamu gak bisa nangis? Udahlah jangan nangis Mawar, lagipula aku halal melakukannya. Kita kan sudah menikah."
"Menikah-menikah dan menikah. Kita memang sudah menikah tapi apa kamu lupa kita menikah karena apa? Aku bukanlah orang yang kamu cintai."
"Aku tahu itu makanya aku ingin berusaha untuk mencintai kamu."
"Aku bukan Jingga dan tidak akan pernah bisa seperti dia jadi tidak mungkin kamu bisa mencintai aku sama seperti kamu mencintai Jingga. Aku tidak sama seperti Jingga dan tidak akan pernah bisa menjadi dia."
"Aku tahu itu, aku tahu kamu tidak akan pernah bisa seperti Jingga, karena itulah aku menaruh harapan padamu, aku ingin kamu menjadi gadis yang pertama menikah dengan aku dan jadi wanita terakhir yang menikah dengan aku. Tentang aku dan Jingga ... lupakan saja itu, anggap Jingga tidak ada dan aku harap kamu bisa menerima aku. Aku janji akan mencintai kamu."
"Cinta tidak mudah untuk dilupakan, Tuan Muda Abymana, yang kamu ucapkan ini terdengar begitu gampang tapi kamu harusnya tahu kalau menjalankan lebih sulit daripada mengutarakannya."
"Kita bicara nanti, kamu basah kuyup. Ayo kita pulang! Aku takut kamu sakit lagi."
Aby mengusap pipi Mawar dan berusaha mengeringkan air matanya.
*******
"Saya bertanya pada Anda, kenapa Anda malah bertanya balik?" tanya Michelle.
Dirga tersenyum lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Saya sedang mengantar anak bos saya. Kamu sendiri sedang apa di sini?" ucapnya.
"Saya ... saya emang tinggal di sini," ucap Michelle, ia menatap anak-anak yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah, "Mereka adalah keluarga saya," sambungnya.
"Mas ganteng!" seru Nasya sembari berjalan menghampiri Dirga dan Michelle.
Mereka berdua menatap Nasya yang tengah berjalan ke ayahnya dengan senyum yang terus membingkai di wajahnya.
"Anak bos ... yakin itu anak bos Anda?" tanya Michelle yang entah kenapa mulutnya tiba-tiba berucap yang seakan ingin tahu hal pribadinya Dirga.
"Iya, dia memang anaknya bos saya. Adiknya Tuan Muda."
"Mas ganteng lagi sama siapa? Pantas anteng-anteng aja aku tinggal lama," ucap Nasya yang memang tak mengenal Michelle.
__ADS_1
Meski Nasya sudah beberapa kali menyambangi panti asuhan itu tapi dirinya tidak pernah bertemu ataupun melihat Michelle di sana.
"Udah ngobrolnya?" tanya Dirga.
"Udah, siapa cewek ini? Calon kakak ipar ku bukan?"
"Emm, bukan. Perkenalkan nama saya Michelle, kebetulan saya ini pengasuh anak-anak di sini," ucap Michelle sembari mengulurkan tangannya pada Nasya.
Mendengar Nasya yang menanyakan dirinya calon kakak iparnya, membuat Michelle tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Nasya," ucap Nasya sembari menjabat tangan Michelle.
"Eh tunggu dulu ... waktu itu Mas ganteng pernah bilang kalau pacarnya bernama Michelle, jangan-jangan memang benar kamu adalah pacarnya Mas ganteng?" sambung Nasya.
"B_bukan. Bukan aku."
Dirga hanya bisa mengusap rambutnya dengan senyuman hambar di bibirnya.
Dirga memang pernah mengatakan pada Nasya kalau dia ingin menemui pacarnya yang bernama Michelle, tapi sebenarnya waktu itu, ia berkata seperti itu hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari Nasya. Dirinya tidak pernah berpikir kalau akhirnya akan seperti ini.
"Jangan bohong kamu, lagian gak usah merasa cemburu ataupun marah dengan panggilan aku sama Mas ganteng. Kami udah seperti saudara, dari dulu aku memang suka memanggilnya dengan sebutan itu. Kamu tenang aja, aku bukan pacarnya Mas ganteng kok."
"Emm, Nasya! Kita pulang sekarang aja ya, kamu udah selesai kan dengan urusan kamu di sini?" ucap Dirga yang sedari tadi hanya diam.
"Jawab dulu, Michelle yang ini bukan yang akan menjadi kakak ipar aku."
"Nasya udah ya, kita bicara lagi nanti."
"Michelle, maaf ya. Anak bos ku ini emang suka bawel," ucap Dirga sembari tersenyum canggung. Ia merasa malu karena ketahuan mengakui Michelle sebagai pacarnya.
Meski waktu itu ia tak sengaja dan asal bicara saja tapi tetap saja dirinya merasa malu.
"Iya Pak, tidak apa-apa," sahut Michelle.
Dirga langsung menarik Nasya menuju mobilnya!
Michelle menatap mereka dengan senyum yang terus membingkai di bibirnya.
__ADS_1
"Dasar mereka. Ternyata ada anak bos dengan karyawannya yang sedekat itu, pantas Tuan Muda sangat percaya padanya ternyata Pak Dirga orangnya ngasikin," batin Michelle.
Michelle pun segera masuk karena ia harus memandikan anak-anak yang masih kecil, yang belum bisa mandi sendiri!
********
Di kediaman Mahendra.
"Pa, gimana ini? Dari tadi Jingga gak mau membuka pintu kamarnya, dia gak mau bicara sama Mama," ucap Marisa yang begitu khawatir terhadap Jingga.
"Papa harus apa Ma? Sama Mama aja dia gak mau apalagi sama Papa."
"Papa coba dulu dong, bicara pelan-pelan sama Jingga, mungkin dia mau bukain pintu kalau Papa yang minta. Mama khawatir sama dia Pa."
Mahendra bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Jingga!
Tok!
Tok!
Tok!
"Jingga! Jingga sayang, buka pintunya! Papa mau bicara sebentar," ucap Mahendra sembari terus mengetuk pintu kamar Jingga.
"Aku gak mau ketemu sama siapa pun Pa! Tolong beri aku waktu untuk sendiri!" sahut Jingga dari dalam kamarnya.
Mahendra menatap Marisa lalu kembali mengetuk pintu itu.
"Sampai kapan kamu mau begini? Kalau ada masalah bicara sama Papa dan Mama, siapa tahu kami bisa bantu."
Di dalam kamarnya, Jingga hanya duduk dengan posisi punggung yang tersandar di kepala ranjangnya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Kalian gak akan bisa membantu aku karena yang sudah hilang dariku tidak akan pernah bisa dikembalikan meski oleh kalian, orang tuaku," batin Jingga.
Gadis itu terus teringat dengan melakukan Roger dibelakangnya dan ucapan laki-laki itu yang tak mengakui dirinya sebagai pacarnya terus terngiang di telinganya.
"Aku harus bicara pada Roger, aku gak mau dia pergi begitu saja setelah apa yang sudah dia renggut dariku, setelah semua yang aku berikan padanya bahkan sekarang aku sudah kehilangan segalanya demi membahagiakan dia."
__ADS_1
Bersambung