
Malam hari di kediaman Abymana.
Saat semua keluarga Mawar sedang berkumpul di ruang keluarga di rumah Aby, saat itu mereka sedang berbincang sambil bercanda ria setelah puluhan tahun hidup dalam kejauhan dan kebencian yang berkepanjangan.
Dari pintu kamarnya Mawar menatap semua keluarganya yang sedang berbincang ria di lantai utama rumahnya.
Raut wajah kebahagiaan terlihat dari wajah kedua orang tua kandungnya dan juga di wajah kedua orang tua angkatnya. Mawar tersenyum saat melihat Aby yang juga tak kalah bahagianya dari mereka.
Tak terasa air mata kebahagiaan menetes dari pelupuknya. Ia pun segera bersembunyi di balik tembok di samping pintu kamarnya, ia menyandarkan punggungnya di dinding sambil sesekali ia menatap sebuah map berwarna coklat yang kini dalam genggamannya.
"Ternyata seperti ini rasanya memiliki keluarga yang lengkap. Terima kasih Ya Allah engkau masih memberikan aku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang luar bisa ini," batin Mawar. Meski air mata masih membekas di pipinya tapi senyuman bahagia terukir di bibirnya.
Mawar mulai menghapus air matanya lalu melangkah menghampiri semua keluarganya!
"Wah seru banget lagi pada ngobrolin apa?" ucap Mawar.
"Dari mana saja kamu. Ayo sini! Duduk bersama kami," ucap Jingga.
Mawar tersenyum lebar lalu ikut duduk bersama mereka di atas lantai yang dilapisi dengan karpet bulu berwarna coklat itu.
Mereka sengaja duduk di lantai agar kedekatan mereka semakin terasa dan tak berjarak.
"Apa itu?" tanya Aby pada Mawar.
"Ini ... ini sesuatu yang harus aku kembalikan pada pemiliknya," ucap Mawar.
Mereka semua tak ada yang bertanya lagi pada Mawar karena tak ada yang tahu apa yang dimaksudkan oleh Mawar.
"Di sini, di tempat ini dengan disaksikan oleh kedua orang tuaku dari kampung dan kamu sebagai suamiku," ucap Mawar sambil menatap Bu Ratna dan Pak Ija dan setelah itu menatap Aby dengan tangannya yang mengelus lembut pipi sang suami.
"Aku ingin mengembalikan apa yang bukan hak aku. Ini adalah sertifikat rumah dan perusahaan milik Papa, aku ingin mengembalikannya pada Papa," ucap Mawar sembari memberikan map itu pada Mahendra.
"Itu sudah menjadi milikmu," ucap Pak Mahendra.
Mawar tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya! "Tidak. Semua ini masih menjadi milik Papa, semuanya masih atas nama Papa, tidak ada yang berubah," ucap Mawar.
"Papa tahu kamu tidak akan melakukan itu pada kami. Papa tahu kalau surat perjanjian itu palsu. Pegang saja, Nak, Papa sudah memberikan semua itu pada kamu karena memang itu adalah hak kamu jika harus diperinci semua selama kamu tinggal sama orang tuamu di kampung, perusahaan dan rumah itu tidak akan cukup untuk menutup semua rasa sakit yang kami berikan padamu," ucap Mahendra dengan air mata yang mulai menetes.
"Tidak, Pa, aku tidak menginginkan ini semua, aku hanya ingin kita bersama dalam hidup yang bahagia. Yang selama ini aku kejar sudah aku dapatkan, aku tidak butuh harta lagi karena aku sudah mendapatkan harta yang sesungguhnya," ucap Mawar.
"Mawar, maafkan Mama. Selama ini Mama selalu benci sama kamu tapi ternyata kamu tidak pernah menyimpan rasa benci pada Mama," ucap Marisa.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku membenci Mama, Mama adalah orang yang paling berjasa buatku kalau tidak ada Mama, aku tidak mungkin terlahir ke dunia ini," ucap Mawar.
Mereka semua tak bisa menahan tangisnya saat mendengar semua perkataan Mawar apa lagi Mahendra dan Marisa, mereka sangat tidak menyangka kalau Mawar memiliki hati yang begitu besar hingga tak sedikit pun amarah, kebencian, dan dendam tumbuh dalam dirinya.
"Kamu begitu baik, entah dari apa Tuhan menciptakan hatimu. Aku menyesal karena sudah berbuat jahat padamu, Mawar," ucap Jingga.
Marisa memeluk Mawar dengan penuh cinta! Tangannya mengelus rambut Mawar dan tanpa sengaja ia meraba bekas luka jahit di kepala Mawar.
Ia teringat dengan perbuatannya yang pernah memukul kepala Mawar dengan gagang pelan hingga berdarah. Seketika Marisa menangis deras sembari terus mengeratkan pelukannya pada Mawar.
"Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama," ucap Marisa.
Aby tersenyum tipis saat tahu bahwa keluarga Mawar sudah benar-benar berubah.
"Udah-udah, mulai sekarang kita jalani hidup baru dengan kebahagiaan ini. Mawar pasti memaafkan Papa dan Mama karena dia sangat menyayangi kalian," ucap Abymana.
"Jadi ini yang selama ini kamu kejar. Kamu menjadi anak hebat yang tak pernah kenal lelah dan sakit hanya untuk mengejar kasih sayang mereka," ucap Bu Ratna.
"Kamu hebat, Mawar. Bapak bangga sama kamu, kamu sudah membuktikan bahwa semua orang berhak bahagia dan pasti akan mendapatkan kebahagiaan meski harus menunggu lama bahkan sampai puluhan tahun," ucap Pak Ija.
"Aku sudah puas sekarang, aku bahagia karena sudah dipeluk oleh Mama," ucap Mawar tentunya dengan air mata bahagia yang terus mengalir membasahi pipinya.
**********
Di panti asuhan.
"Mbak El, Mbak Nasya, terima kasih ya karena sudah mengantarkan kami pulang," ucap Ussy pada dua gadis yang memiliki hubungan dekat dengan Dirga.
"Sama-sama," ucap Nasya.
"Oh ya, Mbak Nasya terima kasih ya belanjaan Ussy udah dibayarin," ucap Ussy lagi.
"Santai aja," ucap Nasya.
"Kalian udah kenal lama ya?" ucap El.
"Lumayan. Sejak saya kerja di rumah Pak Dirga," ucap Ussy.
"Berarti kamu sering ke rumah Kak Dirga dong?" ucap El pada Nasya.
"Sering sih nggak. Mas ganteng yang sering ke rumah aku," ucap Nasya.
__ADS_1
"Aku tuh heran deh sama kamu. Udah tahu kak Dirga sudah punya kak Michelle, kamu masih aja manggil dia dengan sebutan Mas ganteng."
"Gimana lagi, aku tidak bisa mengubah panggilan sayang aku sama dia. Mas ganteng terlalu sulit untuk dilupakan," ucap Nasya.
"Kamu mantannya kak Dirga?" tanya El dengan penuh penasaran.
"Ya ampun, bukanlah! Masa aku mantannya Mas ganteng. Gimana ya ngejelasinnya?" ucap Nasya.
"Apa sih, kalau gak pernah ada cinta kenapa bisa sedekat itu."
"Gini ya, Eliandra. Aku kenal sama kakak kamu tuh udah dari lama kami berdua sudah seperti adik dan kakak. Mas ganteng itu temannya kakak aku dan juga asisten pribadinya Papa aku kalau dibilang keluarga, kami memang sudah seperti keluarga. Mas ganteng menyayangi aku sebagai adiknya dan aku pun menyayangi dia sebagai kakak aku," jelas Nasya.
"Yang bohong kamu?" El menatap Nasya.
"Yang bohong? Yang benar kali."
"Udah-udah, yang penting kalian kan sama-sama adiknya Pak Dirga," ucap Ussy.
"Kamu siapanya?" tanya El dan Nasya secara bersamaan.
"Ya Ussy asisten rumah tangga di rumah Pak Dirga lah, apa lagi?" sahut Ussy.
"Bukannya kakak juga sayang padamu?" ucap El.
"Iya sih." Ussy nyengir kuda hingga menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
"Untung Ussy mau jatuh cinta gak jadi kalau sampai itu terjadi apalah yang akan terjadi pada Ussy," ucap Ussy lagi.
"Apa!" ucap El dan Nasya secara berbarengan.
"Kenapa terkejut? Wajar kan kalau Ussy suka sama Pak Dirga, secara dia ganteng dan baik."
"Haduh, jangan sampai kamu jadi benalu dalam rumah tangga kakak aku," ucap El.
"Itu tidak akan terjadi. Pak Dirga orang baik dan kak Michelle adalah kakak aku, rasanya untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka adalah hal yang mustahil untuk dilakukan," ucap Ussy.
"Kamu lagi bener ya ini? Biasanya juga somplak," ucap Nasya.
Tiga gadis itu tertawa terbahak-bahak hingga membuat Bu Jena merasa keheranan mendengar tawa mereka yang begitu lantang.
Bersambung
__ADS_1