Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 220


__ADS_3

"Ingat, jaga diri baik-baik," ucap Dirga.


"Iya Pak. Oh ya, Pak kalau ada apa-apa nanti Ussy minta tolong Bapak ya, siapa tahu laki-laki itu bermasalah," ucap Ussy.


"Hmmm, giliran gak enaknya minta tolong saya," ucap Dirga.


"Ya iyalah. Sekarang kan cuma Bapak yang paling bisa Ussy andalkan."


"Tenang aja, Sy ada aku kak Dirga, Nasya dan kakak ipar aku yang paling oke," ucap El.


"Tuh dengar, selain saya masih banyak orang yang sayang sama kamu," ucap Dirga.


"Saya juga sayang sama kamu, Sy," ucap Athalia.


"Terima kasih, Bu, Pak, Mbak El kalian emang orang-orang baik, semoga kebahagiaan terus membersamai kalian," ucap Ussy.


********


Setelah setelah sepuluh menit, Darko baru tersadar dia membuka matanya dan dia langsung melihat sosok Michelle yang sedang duduk di hadapannya. Di dalam ruangan tertutup itu hanya ada Darko dan Michelle saja sedangkan Marisa sudah pulang sejak tadi.


"Siapa kamu?" ucapnya pada Michelle.


"Malaikat maut mu," sahut Michelle dengan begitu santainya.


Darko mencoba bangkit dari duduknya tapi tak bisa karena dirinya terikat kuat pada kursi yang didudukinya.


"Lepaskan saya," ucap Darko sembari mengeluarkan tubuhnya berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.


Kepalanya masih terasa pusing dan sedikit sakit tapi ia terus mencoba melepaskan diri dari sana.


"Kamu tidak akan pernah bisa lari dari saya." Michelle menatap Darko dengan tatapan tajam setajam elang yang sedang mengintai mangsanya.


"Apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Darko.


"Berikan video itu pada saya," ucap Michelle sembari menadakan tangannya pada Darko.


"Video apa?" tanya Darko yang menang belum mengerti apa yang dimaksud oleh Michelle.


"Video dua puluh tiga tahun lalu. Video saat kejadian pem******an terhadap Bu Marisa," jelas Michelle.


"Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Darko berpura-pura tidak tahu dengan video yang dimaksud oleh Michelle.


Video itu adalah satu-satunya ladang uangnya, tidak mungkin ia akan menyerahkan video pada orang lain termasuk Michelle.


"Tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu?"


"Saya memang tidak tahu."


"Oke kalau tidak mau bicara tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa kamu untuk menjawab pertanyaan saya," ucap Michelle dengan santai.


Michelle mengambil ponselnya lalu memperlihatkan video seorang anak kecil yang usianya sekitar sembilan sampai sepuluh tahun sedang bermain dengan seorang perempuan paruh baya yang dipanggilnya dengan sebutan ibu.


"Mereka akan berada dalam bahaya," ucap Michelle sembari memperlihatkan video itu.

__ADS_1


"Siapa kamu? Dari mana kamu mendapatkan video itu?" ucap Darko.


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya dan dari mana video ini. Berikan apa yang saya minta dan saya pastikan mereka baik-baik saja," ucap Michelle.


"Jangan apa-apakan mereka. Saya mohon," ucap Darko.


"Dimana video itu?" tanya Michelle dengan suara lantang.


"V_video itu sudah rusak, sudah saya buang dari penyimpanan ponsel saya."


*******


Di kediaman Aby.


"Mama dari mana?" tanya Mawar pada Marisa.


"Dari pasar," sahut Marisa dengan sedikit tersenyum gugup.


"Kemarin baru dari pasar, hari ini ke pasar lagi?" ucap Mawar lagi.


"Iya. Kemarin Mama lupa membeli sesuatu jadi, Mama pergi lagi ke pasar untuk membelinya tapi ternyata yang mau dibeli Mama udah gak ada," ucap Marisa berbohong.


"Memangnya apa yang mau Mama beli di pasar?" tanya Mawar penasaran.


"Daster," sahut Marisa, "daster yang harganya murah. Murah banget malah," sambung Marisa.


"Daster? Sejak kapan Mama suka daster?" Mawar merasa heran mengapa Mamanya itu ingin sekali membeli daster padahal sebelumnya Mamanya itu tidak pernah memakai daster bahkan tidak pernah memiliki daster.


"Baru mau pakai sih." Marisa tersenyum sembari meremas jemarinya.


"Bermacam-macam harga, ada yang seratus ribu dapat tiga, ada yang lima puluh ribu dan yang paling mahal hanya sembilan puluh lima ribu," jelas Marisa.


Marisa memang sudah bertanya-tanya perihal harga di sana selain untuk menambah waktunya di pasar, ia juga bertanya-tanya untuk berjaga-jaga kalau ada pertanyaan aneh-aneh dari Mawar dan benar saja Mawar menanyakan sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.


**********


Di sebuah taman perkotaan.


Nasya, Ussy dan El sedang menghabiskan weekend bersama dengan berkeliling tempat-tempat indah di kota tempat mereka tinggal.


Sekarang mereka sedang berada di salah satu taman yang sebelumnya tidak pernah didatangi oleh El.


"Waw taman ini indah dan luas ada banyak macam tanaman dan bunga," ucap El.


"Mbak belum pernah ke sini?" tanya Ussy.


"Belum," sahut El.


"Biasanya di depan sana ada kang bakso nongkrong. Kalian mau jajan bakso gak?" tanya Nasya.


"Memangnya, Mbak Nasya suka jajan dipinggir jalan?" tanya Ussy.


"Kenapa enggak. Makanan dipinggir jalan juga gak kalah enaknya dari makan di restoran atau kafe-kafe mewah," ucap Nasya.

__ADS_1


"Kadang orang kaya gak mau makan makanan di pinggir jalan ada teman sekampusku yang berteman dengan orang miskin saja tidak mau katanya gak selevel," jelas Ussy.


"Yang gitu bukan orang kaya namanya, tapi orang sombong dan lagi apa yang mau dibanggakan dengan kekayaan orang tua?" ucap Nasya.


"Kamu gimana sih, kalau punya orang tua kaya tentunya kamu dipandang orang dan akan diperlakukan istimewa oleh orang lain," ucap El.


"Kadang jadi orang kaya tidak seenak yang kaluan bayangkan. Kalian gak pernah tahu bagaimana kami melawan teror dan serangan orang-orang jahat yang menginginkan kehancuran keluarga kami, aku masih ingat saat itu kak Aby dan kak Mawar baru beberapa hari menikah dan mereka harus tertimpa kemalangan karena ada sekelompok orang yang menyerang mereka saat dalam perjalanan menuju perkampungan. Masih jelas dalam ingatanku, saat itu Mas ganteng terluka parah di bagian dadanya, aku sampai ngeri sendiri melihatnya," ucap Nasya sambil terus berjalan santai berdampingan dengan dua gadis di sisi kanan dan kirinya.


"Yang kamu maksud mas ganteng itu kak Dirga ya?" tanya El.


"Hmm." Nasya bergumam sembari menganggukkan kepalanya.


"Kami sudah seperti keluarga. Aku menyayangi Mas ganteng layaknya aku menyayangi kak Aby dan begitu pula sebaliknya. Mas ganteng menyayangi aku sama seperti dia menyayangi kamu," ucap Nasya.


"Pak Dirga juga menyayangi Ussy seperti dia menyayangi Mbak El padahal Ussy ini cuma pembantunya," ucap Ussy.


"Ish, diamlah kamu ini. Tidak ada pembantu di rumahku, aku, kamu, kita keluarga," ucap El.


"Keluarga," ucap Nasya lalu tiga gadis itu berpelukan.


"Trio kwek-kwek gini nih kalau udah bersatu. Gak nyada kalau ada orang yang dari tadi mengikutinya," ucap Reza yang berjalan menghampiri mereka dengan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Kamu! Kamu ngapain di sini? Aku gak mau ada laki-laki yang bergabung bersama kami. Hari ini khusus cewek-cewek cantik dan lembut yang boleh bersama kami," ucap Nasya.


"Iya kah? Tapi memangnya kamu lembut? Setahu aku kamu cantik tapi kasar," ucap Reza dengan senyuman menggoda.


"Iiih, kamu nyebelin banget jadi orang." Nasya mencubit tangan Reza.


"Aduh! Aduh! Tuh kan kamu kasar, sama sekali gak lembut," ucap Reza.


"Kalian berantem aja dulu di sini, aku mau beli minum dulu," ucap El sembari pergi meninggalkan mereka!


"Mbak El! Tunggu. Ussy gak mau menjadi saksi atas pertengkaran mereka," ucap Ussy sembari berlari menghampiri El.


"Ussy!" seru Joe.


Ussy menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Mas Joe," gumam Ussy.


Joe tersenyum lalu segera menghampiri Ussy!


"Kok, Mas ada di sini? Gak mungkin Mas kebetulan lewat sini?" ucap Ussy.


"Aku sengaja ke sini karena ingin menemui kamu," ucap Joe.


"Kok tahu aku ada di sini?"


"Tahu dong. Aku lihat postingan di sosial media facebook milik Mbak Nasya," jelas Joe.


Saat mereka baru tiba di taman itu memang Nasya mengambil foto mereka lalu mengunggah foto itu dan menyertakan bahwa saat ini mereka sedang berada di tempat itu.


Ussy tersenyum tapi tak mengucapkan sesuatu apa pun lagi karena sudah cukup jelas ia mengetahui mengapa tiba-tiba Joe ada di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2