Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 143


__ADS_3

Malam berjalan begitu cepat, kini pagi pun telah tiba.


"Mas, aku boleh ke kantor?" tanya Mawar pada sang suami.


Aby yang baru akan melahap sarapannya itu pun meluangkan waktu untuk menatap Mawar yang sedang berdiri di depannya.


"Gak boleh sayang, kamu masih lemah dan sering pusing," ucap Aby.


"Kamu kok jahat sama aku," ucap Mawar.


"Kok jahat sih? Aku sayang sama kamu," ucap Aby.


Mawar tak berucap lagi, ia menarik kursi lalu duduk di kursi itu.


Dengan wajahnya yang cemberut ia mengisi piring makannya dengan nasi dan lauknya saking kesalnya Mawar sampai tak sadar kalau ia menuang banyak makanan kedalam piringnya.


Aby hanya diam dengan senyuman yang nampak ditahan, ia ingin tertawa melihat porsi makan Mawar pagi ini.


"Allahuakbar," ucap Mawar setelah menyadari piringnya begitu penuh dengan makanan.


"Yakin mau makan sebanyak itu?" ucap Aby.


"Kenapa banyak gini. Astaghfirullah apa yang aku pikirkan sampai sebanyak ini," ucap Mawar.


Aby tertawa kecil sembari terus menatap Mawar. "Abisin ya sayang, biar bayi kita sehat," ucapnya.


"Ish ini sih porsi kuli jangan-jangan yang kuli aja gak segini banyak," ucap Mawar lagi.


"Makanya kalau lagi ngerjain sesuatu jangan sambil cemberut, gini kan jadinya," ucap Aby.


"Gimana gak cemberut kalau mau kerja aja dilarang," ucap Mawar.


"Sebenarnya aku gak bisa melarang kamu, aku juga gak tega kamu diam sendirian di rumah tapi ini kan perintah Mama, kalau Mama tahu ternyata kamu masih ke kantor nanti aku yang kena omel," jelas Aby.


"Ya, terserah kamu aja deh kalau gitu sekarang masalahnya bagaimana cara menghabiskan makanan ini?" ucap Mawar.


"Mana aku tahu," ucap Aby.


**********


Di kediaman Michelle dan Mitha.


"Pagi , sayang," ucap Mitha pada Michelle.


"Pagi, Mama sayang." Michelle memeluk Mitha dan mencium pipinya.


"Sarapan dulu, kamu mau kemana udah cantik gini," ucap Mitha.


"Aku mau ketemu Ibu dan adik-adik aku di panti," ucap Michelle.


"Mama ikut," ucap Mitha.

__ADS_1


"Oh boleh tapi kita kan gak ada mobil masa Mama mau naik motor?" ucap Michelle.


"Kenapa tidak, Mama sering naik motor sama Papa kamu dulu," ucap Mitha dengan senyuman tipis di bibirnya.


Michelle menatap Mitha dengan tatapan aneh.


"Kenapa, Nak?" tanya Mitha.


"Aku ingin bertemu dengan Papa," ucap Michelle.


"Setelah kamu bertemu dengan adik-adik kamu di panti, bagaimana kalau kita ziarah ke makam Papa?" ucap Mitha.


Michelle tersenyum ke arah sang ibu, "Mama tahu banget dengan apa yang sedang aku pikirkan," ucapnya.


"Ikatan batin antara anak dan Ibu itu kuat, meski kita tidak pernah bertemu sebelumnya tapi ikatan batin kita terus ada," ucap Mitha.


"Ya udah, ayo kita sarapan habis itu pergi," ucap Michelle sembari menarik kursi makan untuk Mitha duduk.


********


Di kediaman Dirga.


"Pak, tumben sarapannya sedikit?" ucap Ussy.


"Biasa aja," ucap Dirga.


Ussy nampak memperhatikan nasi dalam piring Dirga masih tersisa tapi nampaknya majikannya itu sudah berhenti memakannya.


"Hari ini masakan kamu gak enak makanya saya gak bisa makan banyak-banyak," ucap Dirga.


"Hah, masa sih?" Ussy meraih piring makan lalu mengisinya dengan lauk dan sayur yang ia masak.


Ia segera melahap makanan itu. "Enak kok, jangan-jangan Bapak lagi sakit makanya lidahnya gak ngerasain makanan enak gini," ucap Ussy.


"Udahlah jangan dibahas lagi. Ngomong-ngomong gimana kabar Michelle?"


"Kak Michelle baik, sekarang dia udah gak tinggal di panti lagi. Kak Michelle udah tinggal di rumah Mamanya," jelas Ussy.


"Dari mana kamu tahu kalau Michelle baik-baik saja kalau sekarang dia udah gak tinggal di panti lagi?" tanya Dirga.


"Tiap hari kak Michelle datang, paling lama dua atau tiga hari sekali dia datang," ucap Ussy.


Dirga tak berucap lagi, ia beranjak dari duduknya dan hendak bersiap untuk pergi ke kantor.


"Pak kapan mau nikahin Kak Michelle?"


Pertanyaan Ussy sontak membuat Dirga langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Ussy.


"Kenapa tiba-tiba nanyain itu?" ucap Dirga.


"Karena Ibu sudah ingin mempunyai menantu. Setiap kak Michelle datang Ibu pasti menanyakan kapan Bapak akan membawa kak Michelle ke pelaminan."

__ADS_1


"Iya, nanti cari modal dulu buat nikah," ucap Dirga dengan sedikit bercandaan.


"Ish uang banyak masa masih nyari modal untuk nikah," gumam Ussy.


"Gimana mau nikah sementara Michelle saja belum siap mempertemukan aku dengan keluarganya," batin Dirga.


**********


"Kalau mau ke kantor boleh-boleh aja asalkan kamu jangan terlalu banyak bekerjasama," ucap Aby pada Mawar.


"Gak, hari ini aku gak ke kantor deh. Aku baru ingat kalau hari ini aku lemas," ucap Mawar.


Aby menautkan alisnya, ia tak mengerti dengan perkataan Mawar.


"Baru ingat kalau kamu mersa lemas?" ucapnya mengulang perkataan Mawar.


"Iya, ternyata aku masih merasa lemas seperti tidak bertulang."


"Emang tadi kamu? Ah ya sudahlah, sekarang kamu emang jadi aneh," ucap Aby.


Setelah selesai sarapan, Aby langsung berpamitan untuk pergi ke kantornya sementara itu Mawar memilih mengurangi niatnya untuk pergi ke kantor.


Setelah Aby pergi, Mawar langsung berjalan menuju kamarnya dan mengambil berkas-berkas penting milik Mahendra yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya.


"Aku harus mengganti nama kepemilikan saham-saham ini," ucap Mawar didalam hatinya.


Mawar pun mulai mencari cara untuk membalik nama kepemilikan surat-surat berharga itu.


"Aku butuh tandatangan Pak Mahendra, cuma itu yang bisa mengesahkan perpindahan kepemilikan ini," gumam Mawar.


Mawar pun segera merias diri karena ia harus pergi ke kantor untuk menemui Mahendra.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Mawar selesai dengan semua urusannya. Dia meraih tasnya yang terletak di atas meja lalu memakainya.


Mawar pun langsung berjalan keluar dari rumahnya!


"Mbak Mawar mau kemana?" tanya Salman.


"Saya mau ke kantor. Apa ada yang bersedia mengantar saya?" tanya Mawar pada tiga bodyguardnya.


Bukan tak bisa pergi sendiri, Mawar tak ingin menimbulkan masalah dengan sang suami jika ia pergi dari rumah sedangkan sebelumnya ia mengatakan pada sang suami kalau ia tidak akan pergi ke kantor atau kemanapun.


"Mari, saya antarkan," ucap Joe.


"Boleh, ayo kita pergi sekarang. Saya juga gak lama cuma mau ketemu sama Pak Mahendra sebentar saja," ucap Mawar sembari berjalan mendahului Joe!


Joe meraih kunci mobil yang terletak di atas meja lalu berlari kecil menghampirimu mobilnya!


"Mari, Mbak," ucap Joe setelah membukakan pintu mobilnya untuk Mawar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2