
Saat itu Dirga sudah melakukan aktivitasnya di kantor. Setelah selesai makan siang di rumah Michelle, ia langsung kembali ke kantornya.
Sekitar pukul lima belas siang. Michelle datang ke kantor itu untuk menemui Dirga.
Di lobby kantor.
"Hai, Michelle mau ketemu Papa ya?" ucap Aby yang baru hendak keluar dari kantor itu.
"Hai. Sebenarnya aku mau menemui Dirga, apa dia masih ada di tempatnya?" tanya Michelle.
Aby tersenyum lalu menggaruk kepalanya.
"Aku pikir mau menemui Papa, Oh ya. Dirga masih di ruangannya mungkin dia lembur sampai pukul tujuh belas nanti," ucap Aby.
"Oh gitu."
"Eum tapi aku kurang tahu coba kamu temui saja dia di ruangannya. Kamu udah kangen ya padahal baru tadi ketemu?" ucap Aby menggoda Michelle.
Michelle tertawa kecil, dia menundukkan kepalanya sekilas lalu kembali menatap lawan bicaranya.
"Nggak juga. Sebenarnya aku mau ... ada sesuatu hal yang perlu kami bicarakan," ucap Michelle.
"Tidak mau mengakui. Baiklah kalau gitu aku pergi duluan ya," ucap Aby.
"Ya, silahkan."
Aby dan Michelle mulai meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tujuan masing-masing!
Tok!
Tok!
Setelah tiba di depan pintu ruangan Dirga, Michelle mengetuk pintu sebanyak dua kali lalu membuka pintu sebelum disuruh oleh sang pemilik ruangan.
Dirga menatap ke arah pintu. "Eh, Michelle. Aku lembur dua jam kedepan," ucap Dirga.
"Ya, aku tahu. Aku masuk ya," ucap Michelle sembari berjalan memasuki ruangan Dirga!
"Aaah, Michelle ...." Dirga menghentikan perkataannya.
"Kenapa dan ada apa?" tanya Michelle.
"Kamu jangan menyentuhnya."
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Aku ingin mengelus-elusnya. Bukunya indah," ucap Michelle.
"Nanti dia terbangun," ucap Dirga.
Di depan pintu ruangan Dirga.
Aby berdiri mematung sambil mendengarkan percakapan antara dua orang yang terlibat hubungan percintaan yang baru mau menikah itu.
"Baru mau menikah sudah begitu, ah dasar Dirga," ucap Aby di dalam hatinya.
Di dalam ruangan Dirga.
"Aku baru tahu kamu punya peliharaan selucu ini," ucap Michelle.
"Udah dari lama, kamu nya aja yang gak tahu," sahut Dirga.
"Uuh, gemasnya," ucap Michelle.
"Aassh, tuh kan dia bangun. Kamu harus bertanggungjawab," ucap Dirga.
Brak!
Aby membuka pintu ruangan Dirga dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara berisik.
"Keterlaluan kalian. Ini perusahaan, bukan tempat mesu...." Aby menghentikan perkataannya saat melihat Michelle yang sedang berdiri sembari memangku seekor kucing jantan berwarna oren.
"Kenapa?" ucap Dirga.
"Jadi kalian sedang membicarakan kucing?" ucap Aby.
Entah kenapa dirinya bisa lupa kalau di kantornya ada seekor kucing liar yang suka menemani karyawannya bekerja.
"Ya, apa lagi? Memang menurutmu kami sedang membicarakan apa?" ucap Michelle.
"Eum, aku ... aku. Maaf aku pikir kalian ...." Aby merasa malu karena sudah berprasangka buruk pada Dirga dan Michelle padahal ia sendiri tahu bahwa Dirga tidak mungkin melakukan hal bodoh itu.
"Dasar mesum. Pasti kamu pikir kalau Michelle sedang memainkan bulu milikku," ucap Dirga.
Sontak Michelle langsung terkejut saat mendengar perkataan Dirga. Wajahnya berubah menjadi merah padam, ia menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malunya.
"Maaf, abisnya kalian gak ngomong kalau sedang ngomongin kucing lagipula siapa yang gak mikir buruk kalau kalian bicaranya mengarah ke sana," ucap Aby.
"Dahlah, Tuan Muda mau ngapain ke sini?" ucap Dirga.
__ADS_1
"Cuma mau bilang kalau kalian mau pergi, kamu gak usah lembur," ucap Aby.
"Oh, ya udah kalau gitu saya mau lanjut pacaran sama Michelle. Jangan takut terjadi sesuatu pada kami lagipula kalau pun Michelle hamil, si oren pasti tanggungjawab," ucap Dirga.
"Hus! Apaan sih, kok kamu ngomongnya gitu emang si oren bisa bikin aku hamil?" ucap Michelle.
"Bisa aja. Si oren kan jantan." Dirga tertawa kecil sembari mengelus kucing berwarna oren yang masih berada dalam pangkuan Michelle.
"Pacarannya jangan keterlaluan," ucap Aby.
"Bisa aja ngomongnya, pakai ngingetin segala padahal sendirinya dulu sama Jingga udah berlabuh ke surga tertinggi," ucap Dirga.
"Enak aja. Nggak ya. Dahlah, saya pergi." Aby langsung keluar dari ruangan Dirga dan meninggalkan mereka berdua.
Dirga dan Michelle saling menatap lalu setelah beberapa detik mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun. Gak nyangka ternyata kita sudah meracuni otak Tuan Muda," ucap Dirga.
"Kenapa aku gak ngeh ya kalau perbincangan kita menimbulkan pikiran sesat," ucap Michelle.
"Kamu sih ngapain gangguin si oren."
"Kok aku? Kamu yang ngomongnya gak jelas."
"Iya deh salah aku. Apa sih yang bisa menyalahkan seorang perempuan," ucap Dirga.
"Oh ya, dari kapan kamu punya kucing ini?"
"Udah lama. Dulu tuh si oren ini kucing liar yang suka datang ke sini untuk cari makanan. Karena tiap hari aku kasih dia makan eh jadinya dia betah deh di sini," jelas Dirga.
********
Di kediaman Dirga.
"Bu, Ussy pulang ya," ucap Ussy pada Athalia.
"Iya, Sy kalau mau pulang ya pulang aja jangan lupa bawa makan yang tadi saya beli buat adik-adik kamu di panti," ucap Athalia.
"Baik, Bu terima kasih."
"Mbak Ussy! Boleh aku ikut ke panti?" tanya El.
"Boleh, boleh banget," ucap Ussy gembira.
__ADS_1
Bersambung