Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 148


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Aby dan Mawar.


"Mas, hari ini aku ke kantor ya," ucap Mawar.


"Boleh tapi jangan lama-lama," ucap Aby.


"Mas, kalau misalkan aku off ke kantor nanti siapa yang ngurusin perusahaan itu?" tanya Mawar.


"Papa kamulah, siapa lagi."


"Aku ke kantor untuk memecat Pak Mahendra," ucap Mawar dengan penuh keyakinan.


Aby menghentikan gerakan tangannya yang hendak memakan sarapannya. Dia menatap Mawar dengan tatapan penuh tanya.


"Apa? Tapi kenapa kamu memecat Pak Mahendra?" tanya Aby.


"Ya aku hanya ingin memecatnya saja. Aku pernah bilang kan sama kamu kalau aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan."


"Bagaimana kamu bisa memecat Pak Mahendra sedangkan dia masih mempunyai saham di sana."


"Sekarang tidak lagi. Sahamnya sudah menjadi milikku," ucap Mawar.


"Mawar, aku tahu kamu sangat menyayangi mereka tapi kenapa kamu ingin membuat mereka tersiksa?" Aby begitu tidak mengerti dengan pemikiran Mawar.


Dia tidak mengizinkan orang lain menyentuh keluarga Mahendra tapi dirinya sendiri berniat menghancurkan mereka.


"Kamu tidak akan mengerti meski aku menjelaskannya berkali-kali. Kamu tidak pernah berada dalam posisiku makanya kamu tidak bisa memahamiku," ucap Mawar.


"Ya baiklah karena aku terlanjur cinta sama kamu, aku gak bisa melarang atau membantah kamu. Lakukan apa yang kamu mau yang penting kamu dan bayi kita sehat dan selamat. Aku yakin yang kamu lakukan adalah yang terbaik untuk kamu dan kita semua."


Mawar tersenyum ke arah Aby dan melanjutkan sarapannya lagi.


"Oh ya soal perusahaan itu. Biarkan saja bangkrut," ucap Aby.


"Jangan dong, Mas. Pak Mahendra sudah membangun perusahaan itu sejak bertahun-tahun masa dibiarkan bangkrut," ucap Mawar.


"Ya gak apa toh Pak Mahendra juga gak mungkin ngurus kantor karena sekarang dia berada dibawah kekuasaan kamu kan."


"Aku tidak berniat menghancurkan mereka. Suatu saat aku pasti mengembalikan apa yang aku ambil dari mereka," ucap Mawar dengan suaranya yang lesu.


Aby menatap Mawar lagi, dia semakin tak mengerti dan merasa kesulitan untuk memahami apa yang ada dalam pikiran Mawar.


Jika dia memang sayang pada Pak Mahendra dan keluarganya, kenapa dia ingin membuat mereka hidup sengsara dan jika dia menyimpan dendam pada mereka kenapa ia ingin mengembalikan semua harta milik Pak Mahendra yang ia ambil?


"Kalau gitu aku akan meminta orang kepercayaan aku untuk menjadi CEO di sana atau kita cari karyawan di sana yang memang sudah paham dan mengerti dengan gaya kerja mereka," ucap Aby.


********


Di kediaman Mita.

__ADS_1


"Hari ini kamu sudah janji untuk mengajak Ibu ke tempat biasa kamu kunjungi saat kita belum bertemu," ucap Mitha pada Michelle.


"Aku ingat, Ma. Aku akan membawa Mama ke tempat-tempat yang sering aku sambangi sebelumnya," ucap Michelle.


"Kenapa jam segini kamu belum siap?" ucap Mitha.


"Masih pagi, Ma lagipula aku mau ngajak Mama pergi nanti siang bukan pagi," ucap Michelle.


"Yah kamu gak bilang. Mama udah cantik begini," ucap Mitha.


Michelle tersenyum melihat tingkah Mamanya.


"Gimana lagi?" ucap Michelle pasrah.


"Ya gak gimana-gimana sih tapi kalau kamu ngajak Mama ketemu calon menantu Mama dulu gimana?" tanya Mitha.


"Calon menantu?" Michelle menatap Mitha dengan tatapan tak biasa.


"Ya. Kamu bilang kamu punya pacar tapi kenapa belum dibawa ke rumah? Apa hubungan kalian belum serius?" ucap Mitha.


"Ma, sabar dulu dong. Aku dan dia baru pacaran beberapa bulan yang lalu masa udah mau diteror nikahin aku," ucap Michelle.


"Boleh tahu gak, seperti apa wajahnya?" ucap Mitha sembari menghempaskan bokongnya pada kursi di samping Michelle.


"Dia tampan. Wajahnya berbentuk oval, dia punya pipi, hidung, mata, alis, dua bibir yang berwarna merah jambu dan tentunya punya gigi. Gak lucu kan kalau orang tampan gak ada giginya," ucap Michelle.


Michelle dan Mitha tertawa terbahak-bahak.


*******


Di suatu tempat.


"Dasar gak becus kalian semua. Cuma menangkap satu perempuan tua aja gak bisa sekarang sudah terlambat, bisa saja Roger sudah mengetahui semua kebenaran yang disimpan oleh Mitha," ucap seorang laki-laki pada beberapa anak buahnya.


"Maaf, Bos gadis itu bukan gadis sembarangan. Dia begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan," ucap seorang laki-laki.


"Halah, alasan saja."


**********


Di kantor Mawar.


"Tolong panggilkan Pak Mahendra, suruh dia ke ruangan saya," titah Mawar pada salah satu karyawannya yang baru ke ruangannya.


"Baik, Bu," sahut karyawan perempuan itu.


Dia pun langsung keluar dari ruangan Mawar!


"Pak Mahendra! Dipanggil Bu Mawar sekarang," ucap karyawan itu setelah tiba di ruangan Mahendra.

__ADS_1


"Ada apa ya?" tanya Mahendra.


"Maaf, saya tidak tahu," sahut perempuan itu.


"Ya udah terima kasih ya," ucap Mahendra sembari bangkit dari duduknya.


Tak butuh waktu lama hanya perlu beberapa menit saja untuk sampai ke ruangan pribadinya Mawar.


"Permisi," ucap Mahendra sembari menyembulkan kepalanya di pintu yang ia buka sedikit.


"Masuk," ucap Mawar dengan ekspresi wajah datar.


Mahendra pun langsung masuk dan duduk di kursi yang ada di sebrang Mawar tanpa di suruh oleh Mawar!


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mahendra setelah duduk.


"Anda saya pecat dari perusahaan ini," ucap Mawar tanpa basa basi.


Mahendra terdiam mematung sembari berusaha mencerna perkataan Mawar barusan.


Yang ada dalam pikirannya tidak mungkin Mawar memecatnya sementara dirinya masih memiliki saham di perusahaan yang kini dikelola oleh Mawar.


"Ini uang kebijakan perusahaan," ucap Mawar sembari meletakan uang dalam amplop coklat di atas meja.


"Mawar apa kamu serius? Kamu tidak bisa melakukan ini karena Papa masih pemilik saham di sini," ucap Mahendra.


"Siapa bilang? Dua puluh persen saham milik Anda sudah beralih menjadi milik saya jadi, Anda tidak punya hak apapun lagi atas perusahaan ini."


"Tidak mungkin. Papa tidak pernah memberikan saham perusahaan Papa pada siapapun termasuk kamu." Mahendra nampak tak percaya dengan perkataan Mawar karena memang ia tak merasa mengalihkan kepemilikan saham perusahaannya.


Mawar tersenyum sinis ke arah Mahendra.


"Lihat ini," Mawar memperlihatkan sebuah surat perjanjian pengalihan nama yang ia buat kemarin.


"Ini adalah bukti bahwa Anda sudah menyetujui pengalihan kepemilikan perusahaan ini pada saya. Lihat baik-baik Pak Mahendra, di sini jelas tertulis nama dan tandatangan Anda."


"Kamu sudah mencurangi Papa. Kenapa kamu melakukan ini Mawar?"


"Jangan tanya kenapa. Sekarang pergilah dari perusahaan saya karena saya tidak ingin melihat wajah Anda lagi," ucap Mawar mengusir Mahendra.


"Mawar tolong, tolong jangan pecat Papa." Mahendra memohon pada Mawar agar anaknya itu tidak memecatnya dari perusahaannya.


Jika Mahendra tidak bekerja lagi, dari mana keluarganya mendapatkan uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari sedangkan sampai saat ini Jingga belum mau bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.


"Pergi. Pergi saya bilang jangan sampai saya memaksa Anda keluar dari sini," ucap Mawar lagi.


Dengan wajahnya yang terlihat sedih dan lesu. Mahendra keluar dari ruangan pribadi Mawar, tak lupa ia mengambil uang terakhirnya dari perusahaan itu!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2