
"Mas ganteng lagi makan sama siapa?" tanya Nasya tanpa basa-basi.
Gadis itu memang orangnya tidak suka bertele-tele, kalau ada sesuatu yang mengganggunya, ia akan langsung bertanya pada intinya saja.
"Nasya, kamu di sini?" Dirga menatap Nasya yang kala itu berdiri di depannya.
"Mas ganteng?" gumam Ussy.
"Oh, Mbak ini pacarnya Pak Dirga ya. Maaf ya Mbak, saya bukan pacarnya Pak Dirga kok, saya ini cuma–“
"Ini teman aku," ucap Dirga memotong perkataan Ussy.
Ussy menatap Dirga yang menutupi siapa dirinya yang sebenarnya.
"Oh, udah punya teman cewek," ucap Nasya dengan begitu santainya.
"Mbak, nggak gitu. Saya ini sebenarnya–“
"Gak apa-apa lagipula aku bukan pacarnya Mas ganteng kok."
"Tapi, Mas ganteng?"
"Udahlah Ussy, kamu gak sadar apa kalau saya emang ganteng."
"Silakan duduk Mbak, mau gabung sama kami?" Ussy yang nampak tidak enak hati pada Nasya merasa serba salah dan tak tahu harus berbuat apa.
"Nasya, ayo duduk. Kita makan bersama ya."
"Maaf Mas, aku gak bisa karena aku datang bersama teman-teman aku." Nasya menolak karena memang dirinya mempunyai acara pribadi bersama dengan teman-temannya.
"Kamu cemburu, aku makan berdua sama Ussy?" goda Dirga.
"Siapa yang cemburu. Tuh lihat teman-temanku udah pada nunggu." Nasya mengarahkan jari telunjuknya pada teman-temannya yang sudah berkumpul di meja yang berada tak jauh darinya.
"Udah mulai malam kamu baru mulai makan-makan?"
"Udah selesai, bentar lagi pulang."
"Ya udah sana pergi, aku tunggu di sini. Kamu pulang sama aku, aku yang akan mengantarkan kamu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri, Mas ganteng."
"Jangan membantah, kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku yang akan kena marah nantinya."
"Iya-iya." Nasya langsung pergi dan kembali bergabung bersama teman-temannya!
"Pak, dia siapa? Bukan pacar Anda tapi manggilnya Mas ganteng?" tanya Ussy setelah Nasya pergi.
"Dia anaknya bos saya. Kamu cemburu juga karena manggil saya dengan sebutan Mas ganteng?"
"Nggak biasa aja."
"Kalau kamu mau, kamu juga boleh panggil sayang dengan sebutan Pak ganteng."
"Gak usah, Ussy nyaman manggil Bapak aja."
__ADS_1
"Emang saya udah tua banget ya?"
"Bukan gitu, masa Ussy manggilnya kayak Mbak tadi, gak sopan kan masa pembantu manggilnya gitu sama majikannya."
**********
Jingga berjalan tertatih meninggalkan apartemen itu, dengan air matanya yang terus mengalir, ia terus berusaha pergi dari sana!
Tak perduli banyak orang yang menatapnya dengan tatapan aneh, Jingga terus berjalan tanpa arah, dalam pikirannya saat ini adalah yang penting dirinya bisa meninggalkan tempat itu.
"Aku menyesal karena sudah meninggalkan Aby yang jelas-jelas mencintai aku dengan tulus. Dalam keadaan aku yang sudah tak gadis lagi, apa Aby mau menerimaku lagi, apa Aby mau mengulang kisah cinta bersamaku lagi?" Dalam langkahnya yang terasa mengambang, tiba-tiba ia teringat dengan Aby yang sudah ia tinggalkan menjelang pernikahannya.
"Maafkan aku, By. Aku harap kamu bisa memaafkan aku dan menerima aku lagi."
Jingga yang sudah kehilangan semuanya karena cinta palsu Roger itu mulai menyadari bahwa selama ini Aby lah yang menyayanginya dengan setulus hatinya.
**********
"Mawar, kalau udah ngantuk kamu tidur aja duluan, aku masih ada kerjaan."
"Nggak, aku temani kamu aja dulu lagipula aku belum mengantuk."
"Aku gak fokus kalau ada kamu di sini."
"Emang kenapa, aku gak ganggu kok cuma duduk diam sambil ngeliatin kamu."
"Iya itu dia yang membuat aku gak fokus. Diliatin sama kamu membuat aku ... ah udahlah jangan dibahas. Kamu anteng aja ya di situ."
Mawar tersenyum lalu menyeruput kopinya!
"Karena aku udah nikah sama kamu."
"Tapi kamu gak cinta kan sama aku?"
"Saat ini belum tapi akan aku usahakan."
"Kok gitu, kalau emang gak cinta yaudah lah lepaskan aku dan kejar gadis yang kamu cinta."
"Sekarang aku lebih tertarik sama kamu dibanding dengan Jingga."
"Kok bisa?"
"Bisa lah, buktinya sekarang aku nyaman sama kamu."
"Cinta dan nyaman itu beda By, jangan paksakan sesuatu yang tidak hadir dari hati kamu."
"Kamu cinta sama aku?"
"Nggak. Jujur aku gak ada perasaan sama kamu."
"Kalau ternyata aku ada perasaan sama kamu gimana?"
"Nggak gimana-gimana, ya kita jalani aja dulu."
"Jingga bukan diculik orang tapi dia sengaja kabur dengan pacarnya."
__ADS_1
Perkataan Aby membuat Mawar terkejut dan tak percaya. Berarti selama ini feeling nya benar, Jingga bukan diculik, dia sengaja pergi dan menjadikan dirinya sebagai pengganti Jingga di pernikahan itu.
"Ternyata bukan cuma aku yang jadi korban dalam pernikahan ini," gumam Mawar.
**********
"Mas ganteng, ayo pulang! Teman-temanku udah pada pergi semua tuh," ucap Nasya.
"Ya udah ayo," ucap Dirga.
"Ussy, kamu serius gak mau bungkus makanan untuk dibawa pulang?" sambung laki-laki yang biasa dipanggil dengan sebutan Mas ganteng oleh Nasya itu.
"Serius Pak. Ussy udah ngantuk, kita pulang sekarang aja."
Mereka pun langsung meninggalkan restoran itu dengan berjalan beriringan!
********
"Jingga kemana sih udah malam belum pulang juga? Ditelpon gak diangkat, dichat juga gak dibaca bikin orang tua khawatir aja," oceh Marisa yang kesal karena tak juga berhasil menghubungi Jingga.
"Ini akibat Mama yang terlalu memanjakan dia jadinya dia berlaku semaunya pada orang tuanya sendiri," ucap Mahendra.
"Papa jangan nyalahin Mama terus dong. Bukannya selama ini Papa juga selalu memanjakan dia?"
"Udah dewasa masih aja gak ngerti. Udah malam gak juga pulang, udah tahu dia itu anak gadis." Mahendradatta berjalan menuju pintu keluar rumahnya!
"Papa mau kemana?" Marisa berjalan membuntuti Mahendra!
"Ya mau nyari Jingga lah Ma mau apa lagi."
"Papa mau cari dia kemana? Mama ikut."
"Siapa tahu ada di rumah teman-temannya."
*******
"Aku boleh bertanya sesuatu?" Aby menurut laptopnya lalu menatap Mawar.
"Boleh, tanya saja."
"Yang aku tahu hanya ada satu putri Pak Mahendra, tiba-tiba kamu muncul sebagai putrinya Pak Mahendra dan Bu Marisa. Selama ini kamu beneran diasuh oleh Pak Ija dan istrinya?"
"Tepatnya diberikan pada mereka. Selama dua puluh tahun aku tidak pernah dijenguk ataupun dikirimi uang oleh mereka. Aku rasa mereka bukan orang tua aku, mereka gak pernah menganggap aku ada."
"Bagaimana caranya mereka bisa menikahkan kamu denganku kalau kamu tidak pernah mengenal mereka?"
"Pak Mahendra pernah datang ke rumah dan bicara baik-baik tentang pernikahan ini tapi Bapak dan Ibu menolak dan akhir ada orang yang tiba-tiba menculik aku. Aku pingsan dan setelah terbangun aku sudah berada di rumah mereka. Mereka mengancam ku."
"Yang aku tahu kamu bukan gadis yang lemah yang takut dengan ancaman, kenapa kamu tidak melawan atau memberontak seperti yang kamu lakukan di rumahku?"
"Mereka menyekap kedua orang tuaku dan mengancam ku, kalau aku tidak menuruti kemauan mereka, mereka akan melenyapkan kedua orang tuaku."
Mawar mengusap air matanya yang sedari tadi sudah membanjiri pipinya. Saat menceritakan masa itu, Mawar tak kuat dan tak bisa menahan kesedihannya.
Bersambung
__ADS_1