Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 257


__ADS_3

Siang hari di kediaman Aby.


"Gila ya, ganteng banget kamu. Mau ke mana?" tanya Joe pada Frans yang sudah memakai kemeja polos berwarna putih dengan stelan celana panjang berwarna hitam. Joe menatap Frans dari bawah hingga ujung kepala, dia begitu pangling dengan penampilan Frans yang begitu berbeda dari biasanya.


"Setiap hari aku selalu ganteng," sahut Frans sembari menautkan kancing di lengan bajunya.


"Iya-iya biasanya ganteng tapi beda dengan hari ini, rambut klimis ini kayaknya yang bikin kamu jadi tambah ganteng," ucap Salman.


"Bukan-bukan, kayaknya bajunya yang bikin kamu ganteng maksimal," ucap Joe lagi.


"Kalian berdua apaan sih. Dah ah aku pergi dulu," ucap Frans.


"Eh iya dari tadi ribut dengan penampilan kamu tapi kita gak tahu kamu mau ke mana. Memangnya kamu mau kemana?" tanya Salman.


"Nah, ini tadi aku udah tanya mau ke mana tapi gak dijawab," sambung Joe.


"Aku mau kencan perdana sama Mbak Jingga," sahut Frans.


"Jiah, masih aja manggil Mbak. Ayang kek atau apa kek asal jangan Mbak, masa sama pacar manggilnya Mbak," ucap Salman.


"Udah kebiasaan, lagipula gak apa-apa juga kali. Unik sendiri, saat orang-orang pada manggil yang lebai-lebai, aku manggilnya Mbak," ucap Frans dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Dasar aneh kalau manggil dengan kata itu, kayak gak ada romantis-romantisnya," ucap Salman lagi.


"Berisik kalian, ah." Frans mulai melangkah menuju motornya dan kini dia mulai memakai helmnya.


"Frans!" seru Mawar.


"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya Frans sambil terus memakai helmnya.


"Udah ganteng gitu masa mau naik motor? Mobil tuh pada nganggur," ucap Mawar.


"Gak usah, Mbak terima kasih, saya naik motor aja lagipula Mbak Jingga bawa mobil nanti kalau mau naik mobil bisa pakai mobil Mbak Jingga," jelas Frans.


"Kalau mau pakai mobil, pakai aja, Frans."


"Gak usah, Mbak. Lagipula menurut saya lebih mesra naik motor bisa dipeluk-peluk dari belakang," ucap Frans sambil tertawa kecil.


"Bisa aja, kamu. Ya udah, pergi sana! Hati-hati dan semoga berhasil," ucap Mawar.


"Semoga berhasil!" seru Joe dan Salman.


Frans tersenyum lalu mulai menaiki motornya dan perlahan pergi meninggalkan rumah tempat dirinya bekerja.


*******


Di restoran Roger.

__ADS_1


"Mas, Jingga mau ketemu kita. Siang ini dia mau ke sini," jelas Michaela pada sang suami.


"Mau ngapain? Baru kemarin kita bicara dengannya, sekarang mau apa lagi?" ucap Roger.


"Mungkin dia mau menerima lamaran kita," sahut Michaela dengan senyum gembira.


"Kita, kamu aja kali," ucap Roger dengan nada malas.


"Mas, ayo dong lagian ini demi kebaikan kita semua," ucap Michaela sembari meraih tangan Roger dan menggenggamnya lembut.


"Kita dari mananya? Semua hanya untuk kepuasan kamu saja."


"Demi kita semua. Dengan pernikahan ini, kamu akan diringankan dari dosa masa lalu dan Jingga akan terselamatkan dari aib yang sewaktu-waktu pasti akan terkuak saat dia menikah dengan laki-laki lain," jelas Michaela.


"Lalu kebaikan apa yang akan kamu dapat? Kamu hanya menyakiti hati kamu sendiri," ucap Roger sembari menempelkan jari telunjuknya di dada sang istri.


"Aku akan dapat anak yang terlahir dari rahim Jingga dan itu adalah anak kamu, anak kandung suami tercinta ku," sahut Michaela dengan senyuman penuh arti.


"Keras kepala." Roger mencubit hidung sang istri lalu menarik tubuhnya hingga kini Michaela berada dalam pelukannya.


*******


Di kantor Pak Mahendra.


Saat Frans tiba di area kantor itu ternyata Jingga sudah menunggunya di depan kantor itu.


Jingga berdiri sambil menatap jalan masuk kantor itu, senyumnya mengembang saat melihat Frans berjalan mendekatinya.


"Tidak. Aku baru saja ke luar dari kantor," ucap Jingga.


"Kita pergi sekarang aja," sambung Jingga lagi.


"Pak Mahendra ... saya harus izin dulu padanya, saya gak mau bawa seorang gadis pergi tanpa izin dari orang tuanya," ucap Frans.


"Papa lagi gak ada di tempatnya, papa lagi ke luar," jelas Jingga.


"Kalau gitu telpon dulu," ucap Frans.


"Gak usah tadi aku udah izin, kok dan kabar baiknya papa sama mamaku setuju sama kamu," jelas Jingga.


"Apa? Kamu udah bicara sama mereka?" tanya Frans yang hanya dijawab anggukan dan sebuah senyuman tipis oleh Jingga.


"Padahal aku mau aku sendiri yang bilang sama mereka sekalian aku melamar kamu," sambung Frans.


"Aku gak bilang kalau kita udah pacaran, aku hanya bilang kita sedang dekat dan orang tuaku bilang katanya aku lebih baik sama aku. Itu artinya mereka setuju dengan hubungan kita," ucap Jingga.


Frans tersenyum, "ya udah kita pergi sekarng," ucap Frans sembari menggandeng tangan Jingga.

__ADS_1


"Pakai mobil atau motor?" tanya Jingga sambil terus berjalan mengikuti langkah Frans.


"Terserah kamu mau pakai apa tapi kalau menurut aku lebih baik pakai mobil karena sekarang cuaca lagi panas nanti kulit kamu terbakar," ucap Frans.


"Ya udah naik mobil aja kalau gitu, padahal aku juga suka naik motor," ucap Jingga.


"Naik motornya nanti saja, kapan-kapan kalau pergi pagi atau sore. Sayang kulit mulus kamu nanti kepanasan," ucap Frans sembari membuka pintu mobil untuk Jingga masuk.


"Terima kasih." Jingga tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobil.


Setelah Jingga masuk, Frans langsung masuk ke dalam mobil itu dan langsung mengemudikan mobilnya menuju restoran Roger dan Michaela.


*******


Di kediaman Mitha.


"Gak ada kegiatan ya?" tanya Mitha saat melihat Michelle duduk di kursi ruang keluarga sambil main ponsel.


"Iya, ni, Ma. Sebenarnya ada kerjaan tapi Dirga melarang," ucap Michelle.


"Mama juga gak akan setuju kalau pekerjaannya bahaya," ucap Mitha sembari duduk di samping Michelle.


"Nggak bahaya, cuma menyelidiki kasus perselingkuhan," jelas Michelle.


"Tapi tetap saja kerjaan kamu di luar kalau mau kerja melamar saja di perkantoran," ucap Mitha.


"Aku gak cocok, Ma kerja di dalam satu ruangan yang sumpek yang orang-orangnya cuma itu-itu aja. Aku bosan nanti yang ada koruptor di tempat kerjaku masuk penjara semua," ucap Michelle.


"Bagus dong, dengan begitu kamu jadi cepat naik jabatan," jelas Mitha.


"Bukan itu yang aku mau, aku maunya hidup bebas kalau kerja jadi seorang detektif kan enak, jalan-jalan dimodalin orang tinggal cari tau apa yang mereka inginkan itu pun kita udah puas jalan-jalan, makan dan jajan," jelas Michelle.


"Hah, terserah kamu aja kalau gitu. Dibilangin gak mau dengar," ucap Mitha.


"Maaf, Ma." Michelle tersenyum melihat sang mama kesal padanya.


********


"Hai, Jingga," ucap Michaela saat Jingga masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Kamu datang sama siapa?" tanya Roger.


"Gak akan ada yang menyakiti kamu di sini jadi, gak usah bawa bodyguard," sambung Roger yang tahu dengan siapa Frans sebenarnya.


"Kami datang untuk menolak lamaran yang kalian tawarkan pada Jingga," ucap Frans tanpa basa-basi.


"Apa!" Seketika Michaela dan Roger terkejut mendengar pernyataan Frans.

__ADS_1


Michaela menatap Jingga dan Frans bergantian, ada beberapa pertanyaan yang kini sudah mengantri dalam dirinya.


Bersambung


__ADS_2