
Saat Mawar dan Aby sedang sarapan, terdengar suara klakson mobil dari depan rumahnya.
"Pasti Dirga," ucap Aby.
"Siapa lagi, yang mau pergi kan dia," sahut Mawar.
"Lanjut aja sarapan, nanti juga dia masuk sendiri," ucap Aby lagi.
"Lagian siapa yang mau jeda sarapan?" Mawar terus mengunyah makanannya.
"Kalian belum siap? Udah jam berapa ini?" ucap Dirga sembari berjalan menghampiri Mawar dan Aby.
"Bentar lagi," sahut Aby.
"Udah sarapan belum? Kalau belum, ayo sarapan bareng," ucap Mawar.
"Terimakasih, aku udah sarapan tadi. Ussy yang masakin."
"Nikahi aja tuh asisten rumah tangga kamu. Kayaknya dia sayang banget sama kamu," ucap Aby.
"Masa aku nikah sama anak kecil. Gimana rasanya?"
"Memang berapa ususnya?" tanya Mawar.
"Baru tubuh bekas bentar lagi ulang tahun yang kedelapan belas," sahut Dirga.
"Masih ABG."
"Kamu juga masih ABG," ucap Aby.
__ADS_1
"Dih, kok nyambung nya ke aku." Mawar bangkit dari duduknya lalu mengambil buah yang lupa tidak ia taruh di meja makan!
"Makanan penutupnya. Maaf, aku lupa membawanya ke sini."
"Gak apa-apa, aku bisa ambil sendiri kok," ucap Aby.
Setelah beberapa menit, mereka pun selesai sarapan lalu segera berangkat ke kampung.
**********
Di kediaman Mahendra.
"Papa mau kemana? Pagi-pagi gini udah siap-siap?" tanya Marisa.
"Ya ke kantor lah, kemana lagi," sahut Mahendra.
"Papa ada pertemuan dengan Pak Randy," ucap Mahendra.
"Pertemuan dengan Pak Randy? Tumben," ucap Marisa sembari menatap sang suami.
"Delapan puluh persen perusahaan kita kan milik dia jadi setiap bulan, Papa harus laporan penghasilan perusahaan kita," ucap Mahendra.
"Tapi mereka tidak pernah mengharuskan ini, Pa. Bukankah mereka menyerahkan semua pada Papa?" ucap Marisa.
"Iya, Papa gak enak aja sama mereka. Mereka sudah baik pada kita masa setelah perusahaan kita bangkit lagi, kita gak ada sedikitpun laporan pada mereka."
"Yang penting uang mereka gak habis dan setiap bulan mereka mendapat bagi hasil dari kita."
"Mama gak ngerti. Udahlah, Papa berangkat dulu ya karena takut membuat Pak Randy menunggu," ucap Mahendra.
__ADS_1
"Iih, Papa. Kalau mereka tahu kan kita gak bisa ngambil lebih." Marisa menggerutu sendiri sembari menatap sang suami yang telah pergi menjauh darinya.
"Ada apa, Ma?" tanya Jingga.
"Tuh, Papa kamu bikin Mama kesal aja."
"Sekarang emang Papa ngeselin, Ma. Mama baru nyadar?" ucap Jingga.
"Semenjak ada Mawar, Papa kamu jadi nyebelin banget. Jangan-jangan mereka sering bertemu tanpa sepengetahuan Mama dan Mawar mempengaruhi Papa kamu."
"Bisa jadi, Ma. Soalnya semenjak ada Mawar, Papa jadi berubah. Oh ya, Ma katanya Tante Ratu mau bantu Mama buat nyingkirin Mawar, sampai sekarang kok gak ada tembusannya," ucap Jingga.
"Iya ya, kok Bu Ratu belum ngabarin Mama, apa Mama temui Bu Ratu aja lagi ya."
**********
Di kampung.
Michelle sudah merapikan tendanya lagi lalu menyembunyikannya di bawah rerumputan yang tumbuh liar di sana. Sengaja dirinya menyembunyikan barang-barang miliknya agar tak ada yang mengetahui keberadaannya.
Setelah dirasa aman, Michelle langsung pergi dengan berjalan kaki ke jalanan yang akan dilewati oleh Aby dan Dirga. Dirinya harus tiba tepat waktu di tempat itu karena orang-orang yang belum diketahui siap, itu akan melakukan penyerangan terhadap Abymana dan rombongannya.
Semalaman penuh dirinya mengintip dan menguping pembicaraan dua orang itu yang akhirnya dirinya tahu kalau mereka merencanakan penyerangan terhadap Abymana.
"Aku harus tiba tepat waktu di jalan yang merupakan maksud. Membantu anaknya Pak Randy juga menjadi kewajiban aku," batin Michelle sembari terus berjalan menyusuri jalan setapak itu!
Sembari terus berjalan, dirinya mejeriksa senjata-senjata yang ia bawa. Untuk melindungi dirinya dari ancaman, Michelle memang selalu membawa senjatanya yang berupa pisau kecil dan beberapa jarum yang sudah ia berikan racun untuk melumpuhkan lawannya, meski begitu Michelle tidak pernah membunuh lawannya, hanya dalam keadaan mendesak saja dirinya akan melakukan hal itu.
Bersambung
__ADS_1