Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 168


__ADS_3

Di rumah sakit.


Mahendra dan keluarganya masih menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan itu.


Marisa terus menangis dan tak bisa duduk tenang sebelum dokter mengatakan bahwa Mawar baik-baik saja.


Tak lama, Abymana berlari menghampiri mereka!


"Di mana Mawar? Bagaimana keadaannya?" tanya Aby, panik.


"Dokter masih memeriksa semoga tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan," ucap Mahendra.


"Kenapa bisa tertimpa pohon? Percuma saya bayar kalian semua," ucap Aby pada Frans dan dua rekannya itu.


Frans hanya diam, dia tak bisa berucap sesuatu apa pun karena memang dia yang tak mengawasi Mawar saat kejadian itu terjadi.


"Sabar, Nak. Ini bukan salah mereka," ucap Mahendra.


Tak lama, seorang dokter keluar dari ruang itu!


"Dokter, dokter bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Marisa pada dokter itu.


"Ibu, keluarganya?" tanya dokter itu.


"Saya Mamanya, ya kami semua keluarganya," sahut Marisa.


"Keadaannya ...." dokter itu menggantung ucapannya.


"Dokter, apa yang terjadi pada istri saya? Apa yang terjadi pada kandungannya?" tanya Aby.


"Kandungannya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Dokter, bagaimana keadaannya sekarang?" ucap Mahendra.


"Pasien sudah sadar untunglah tidak ada ada luka serius pada kaki pasien hanya saja untuk beberapa hari mungkin pasien tidak diperbolehkan berjalan terlebih dahulu," jelas dokter itu.


"Istri saya masih bisa berjalan?" tanya Aby.


"Tentu saja."


"Boleh saya menemuinya, Dokter?" ucap Marisa.


"Silahkan. Pasien sudah bisa ditemui dan sudah bisa diajak bicara."


Dengan cepat Marisa memasuki ruangan itu untuk menemui Mawar!


"Mawar, Mawar kamu baik-baik saja? Kenapa kamu melakukan ini hah? Kenapa kamu membahayakan nyawa kamu?" ucap Aby yang tiba lebih dahulu.


Aby langsung mencium kening Mawar lalu menggenggam tangannya.


Laki-laki itu tak hentinya mencium tangan Mawar dengan sebelah tangannya yang terus saja mengusap perut buncit Mawar.

__ADS_1


"Mawar, maafkan Mama karena Mama kamu jadi seperti ini," ucap Marisa dengan tangisnya yang tak pernah reda.


"Jadi, Anda yang membuat Mawar seperti ini?" ucap Aby.


"Mama gak tahu kalau ranting itu akan terjatuh. Kenapa kamu tidak membiarkan Mama yang tertimpa pohon itu, kenapa Mawar?" Marisa menggenggam tangan kiri Mawar dengan erat.


"Mas, ini bukan salah Bu Marisa. Aku yang ceroboh karena tidak bergerak cepat untuk menghindari pohon tumbang itu," ucap Mawar dengan suara pelan.


"Kenapa Mawar? Kenapa kamu selalu saja perduli pada mereka padahal selama ini mereka tidak pernah memperdulikan kamu bahkan mereka sering menyakiti kamu," ucap Aby.


Tanpa ragu, meski di sana ada orang yang dimaksud oleh Aby, Aby tetap saja menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.


"Aby benar, seharusnya kamu tidak usah memperdulikan Mama lagi. Maafkan Mama, Mawar maafkan Mama," ucap Marisa.


Marisa memeluk Mawar dengan penuh penyesalan.


Dirinya tak menyangka anak yang selama ini dia benci dan dia tidak akui keberadaannya ternyata rela membahayakan nyawa demi keselamatannya.


Tak terasa bulir berwarna bening meluncur dari sudut mata Mawar, ini kali pertamanya dirinya merasakan pelukan seorang ibu.


Jingga menatap Mahendra lalu menggenggam tangannya! Ada rasa yang bahagia dalam hatinya melihat Mamanya dapat meminta maaf kepada Mawar.


Sebenarnya ia pun pernah merasa benci terhadap Mawar tapi setelah ia mendapat banyak pengertian dari Mawar perlahan rasa benci itu mulai hilang meski dirinya belum membuktikan pada Mawar bahwa dirinya sudah benar-benar menyesali perbuatannya.


**********


Di kediaman Dirga.


Di sofa itu, Dirga dan Michelle duduk bersebelahan sambil terus membicarakan hal-hal yang menyenangkan.


Eliandra mengerucutkan bibirnya beberapa centi, "kenapa baru ingat sekarang sama aku?" gumam El sembari berjalan menghampiri Michelle dan Dirga.


Tak lama, Michaela datang dengan membawa air minum untuk mereka semua!


"Eh kok sepertinya Mama asyik sendiri ya? Perasaan keluarga Dirga baru tiba, memangnya acaranya udah selesai?" ucap Michaela sembari menata minuman di atas meja.


"Tidak diduga ternyata mereka asyik berdua. Lihat saja kak sepertinya mereka lupa dengan rencana awal," ucap Michelle.


"Sabar ya. Sepertinya kalian harus menunggu lebih lama lagi. Sahabat yang lama gak bertemu memang suka seperti itu," ucap Michaela.


"Ya ampun sampai lupa ternyata kita mau membahas sesuatu," ucap Mitha.


"Ah ya, jadi apa rencana kita?" tanya Athalia.


"Ya rencananya kami mau nikah dalam waktu dekat ini pokoknya aku dan Michelle udah gak mau nunggu lama lagi," ucap Dirga.


"Uuuh, lihatlah Athalia sepertinya putramu sudah tak tahan ya ingin melepas masa lajangnya," ucap Mitha.


"Ya putraku sudah dewasa. Jadi kapan ya kita melangsungkan acara pernikahan mereka," ucap Athalia.


"Secepatnya," sahut Mitha.

__ADS_1


"Nah gitu dong, dari tadi kek. Mama malah asyik ngobrol berdua," ucap Eliandra.


"Kesal ya karena dikacangin," ucap Athalia.


"Persiapan kita lakukan dari sekarang. Bulan depan pernikahan akan dilaksanakan," ucap Athalia.


Michelle dan Dirga saling menatap lalu saling melempar senyuman.


"Kalian tahu gak? Sebenarnya kalian sudah kami jodohkan sejak Michelle masih ada dalam kandungan," ucap Mitha.


"Kenapa begitu?" tanya Dirga.


"Karena kami tidak mau hubungan persahabatan kami berakhir jadi, kami menjodohkan kalian," jelas Athalia.


"Syukurlah kalian bertemu dan saling jatuh cinta," ucap Mitha.


**********


Randy dan Ratu baru tiba di rumah sakit. Mereka langsung berlarian ke ruangan tempat Mawar dirawat!


Setelah mendapat kabar dari Aby, mereka langsung pergi ke rumah sakit itu karena khawatir pada Mawar.


"Pa yang mana ruangannya?" tanya Ratu.


"Di sini, Ma," ucap Randy sembari membuka pintu sebuah ruangan.


"Mawar." Ratu langsung berlari menghampiri Mawar tanpa menyapa siapapun yang ada di dalam ruangan itu.


"Mawar, sayang apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini hah?" ucap Ratu sembari menggenggam tangan Mawar.


"Kejadiannya begitu cepat sampai aku tidak bisa menghindari pohon tumbang itu," ucap Mawar.


"Sayang, yang mana yang sakit, kamu gak kenapa-kenapa kan? Bayi kamu selamat kan?" tanya Ratu lagi.


"Semua selamat, Ma. Untunglah sang maha kuasa selalu melindungi orang baik, Alhamdulillah Mawar dan bayinya selamat," jelas Aby.


"Syukurlah. Mama sangat khawatir sama kamu Mawar," ucap Ratu.


"Aku gak kenapa-kenapa, Ma. Aku baik-baik saja," ucap Mawar.


Di depan ruangan Mawar.


Mahendra dan Marisa duduk bersebelahan di sebuah kursi yang terletak di sana.


"Seharusnya Mama yang sekarang terbaring di sana, seharusnya Mama yang celaka bukan Mawar," ucap Marisa.


"Ma, semua sudah terjadi. Mungkin memang Tuhan masih menyayangi Mama dan masih ingin memberikan Mama kesempatan untuk meminta maaf pada Mawar," ucap Mahendra.


"Mama terlalu banyak dosa pada Mawar. Mama tidak pantas untuk dimaafkan, Mama malu pada Mawar, Pa."


"Ma, Mawar mau memaafkan Papa dan Papa yakin dia juga pasti mau memaafkan Mama. Udah ya Ma, jangan nangis lagi minta maaflah pada Mawar dan setelah itu kita mulai lagi kehidupan yang baru biarpun kita tidak punya harta lagi tapi kita kumpul sama Mawar dan Jingga, kita pasti bahagia," ucap Mahendra.

__ADS_1


"Mama malu sama Mawar, Pa. Mama malu sama Aby," ucap Marisa sembari memeluk Mahendra.


Bersambung


__ADS_2