
Pagi hari di kediaman Mitha.
Setelah selesai sarapan Dirga langsung berpamitan pada Michelle untuk pergi ke kantor.
"Ma, aku ke kantor dulu," ucap Dirga kepada Mitha dan Mamanya.
Dirga mengulurkan tangannya pada Athalia hendak mencium punggung tangannya setelah mencium punggung tangan Mamanya baru ia mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Chell, aku pergi ya," ucap Dirga sembari mengusap kepala Michelle.
"Ya, hati-hati ya," ucap Michelle sembari meraih tangan Dirga lalu menciumnya.
Setelah itu Dirga pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar!
"Hey tunggu!" ucap Athalia.
Dirga menghentikan langkahnya lalu berbalik arah menjadi menghadap meja makan lagi!
"Ada apa, Ma?" tanya Dirga.
"Kamu ini, pengantin baru gak ada romantis-romantisnya banget," ucap Athalia.
"Emang harus gimana? Barusan Michelle udah mencium tangan aku," ucap Dirga.
"Dirga, yang diinginkan perempuan itu bukan cuma sebatas izin berangkat kerja dan mencium tangan saja. Kamu bisa mencium keningnya sebelum pergi atau memeluknya gitu," ucap Mitha.
Michelle tersenyum geli mendengar perkataan Mamanya. Bisa-bisanya Mamanya itu tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Nah, dengar tuh apa kata Mama Mitha," ucap Athalia.
"Ya ... masa harus di sini di depan Mama? Lagi pula gak harus memamerkan kemesraan kan," ucap Dirga.
"Ya gak apa-apa Dirga. Kalian kan udah menikah," ucap Mitha.
"Bahasnya nanti aja deh. Udah siang nih," ucap Dirga.
"Michelle, kita bermesraan nya nanti siang aja ya. Aku pulang kok nanti siang," ucap Dirga lalu melanjutkan langkahnya lagi.
Athalia dan Mitha saling menatap lalu saling melempar senyuman.
"Anak itu, maaf ya Chell, maaf ya Dirga memang orangnya kaku," ucap Athalia.
Michelle tersenyum tipis. "Gak apa, Ma lagian udah biasa kok," ucap Michelle.
"Kaku di depan orang banyak tapi lues saat berdua. Kalian gak tau aja soal pribadi, mungkin dia lebih ganas dari laki-laki romantis," batin Michelle.
"Kulkas betul anakmu itu," ucap Mitha.
"Persis Papanya tapi dia orangnya penyayang kok. Kamu jangan takut Michelle akan kekurangan kasih sayang," ucap Athalia.
*********
Di rumah Dirga.
"Mbak El sendirian aja. Kemana Ibu?" tanya Ussy.
"Tadi subuh udah pergi ke rumah kak Michelle," ucap El sembari terus memainkan makanannya dengan sendok.
"Mau ngapain subuh-subuh udah pergi ke sana?"
__ADS_1
"Takut kak Dirga gak dikasih makan kali atau mungkin takut kak Dirga diremukin tulangnya sama kak Michelle."
"Gak mungkinlah, Kak Michelle kan cinta sama Pak Dirga," ucap Ussy.
"Mungkin aja Sy, buktinya kemarin aja sampai dipelintir tangannya."
"Sebenarnya itu resiko Pak Dirga karena sudah menikahi perempuan tangguh seperti Kak Michelle."
"Entahlah. Emang kak Michelle itu siapa? Kok dia kuat gitu?" ucap El.
"Yang Ussy tahu sih, kak Michelle itu seorang detektif yang bekerja secara rahasia," jelas Ussy.
Uhukk!
Uhukk!
El batuk-batuk karena tersedak makanannya.
Ussy segera menyodorkan air minum pada El dengan tangan kanannya sementara tangan kiri nya mengelus punggung El.
"Hati-hati, Mbak," ucap Ussy.
"Gak apa, gak apa. Aku aman kok," ucap El.
********
Di kediaman Aby.
Dibelakang tempat Mahendra bertani. Pak Ija dan Bu Ratna sedang menikmati perkebunan yang dikelola oleh Mahendra dan Marisa.
"Papa, kenapa belum bersiap? Papa harus ke kantor," ucap Mawar.
"Pa, bertani itu capek. Udah Papa urus perusahaan aja."
"Kenapa gak kami kamu kelola sendiri saja? Toh kamu juga sudah sangat paham dengan perbisnisan."
"Pa, urus perusahaan Papa sendiri. Demi Jingga, demi cucu papa juga," ucap Mawar sembari mengusap perutnya.
Mahendra tersenyum lalu menatap perut buncit milik Mawar.
"Baiklah, ini karena kami kamu yang meminta ya," ucap Mahendra.
Mawar tersenyum lalu mengangguk.
"Mama dari mana?" tanya Mawar saat melihat Marisa berjalan melewati mereka.
"Ngambil sayuran segar. Lihat tanaman sayuran kita sudah bisa dipanen," ucap Marisa.
"Wah, aku mau ikut memanen sayuran," ucap Jingga.
"Jingga! Kamu ikut Papa ke kantor. Mulai sekarang kamu harus bisa memegang perusahaan," ucap Mahendra.
"Menangnya boleh?" ucap Jingga sembari menatap Mawar.
"Tentu saja. Pergilah dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," ucap Mawar.
Jingga tersenyum lalu segera masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya!
*********
__ADS_1
Di kantor Aby.
Aby terkejut melihat Dirga yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Eh kamu! Kamu ngapain udah masuk kantor? Kamu libur untuk satu minggu, ini baru tiga hari," ucap Aby.
"Ngapain di rumah juga. Gak bisa ngapa-ngapain," ucap Dirga sambil berjalan menghampiri Aby!
"Ayolah, Dirga. Kalian kan menikah karena cinta masa gak ada keinginan untuk tetap bersama berduaan di dalam kamar gitu?" ucap Aby.
"Pengennya gitu tapi Michelle nya ...." Dirga menghentikan ucapannya.
"Kenapa dia? Apa saking tangguhnya kamu gak bisa memuaskan dia?" Aby tertawa kecil dengan tatapan jahilnya pada Dirga.
"Apa sih kok malah kebalik. Emang kalau yang pertama kali melakukannya akan merasa kesakitan sampai berhari-hari ya? Apa waktu itu Mawar juga gaya berjalannya jadi kayak bebek?"
Aby tertawa lagi mendengar pertanyaan Dirga yang konyol. Menurutnya semua orang pasti sudah tahu akibat dari perbuatannya meski sebelumnya belum pernah tahu atau pun belum pernah melakukannya.
"Jadi cowok kok polos banget. Gak mungkin kamu gak tahu."
"Bukan gitu, soalnya Michelle sampai meringis saat aku datang meski hanya untuk menyentuhnya sedikit," ucap Dirga lagi.
Aby semakin dibuat geli dengan perkataan Dirga barusan. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau sebenarnya itu bukan meringis kesakitan melainkan karena keenakan.
"Malah ketawa, bukannya ngasih solusi. Apa kek," ucap Dirga.
"Itu bukan kesakitan tapi dia mend***h," ucap Aby.
"Bedalah mend***h sama meringis. Jelas-jelas Michelle kesakitan."
"Oh, gitu ya. Jangan-jangan punya kamu kebesaran sampai lukanya parah. Memangnya berapa ukuran punyamu?" tanya Aby penasaran.
"Mana aku tahu. Cuma orang nganggur yang sempat mengukur ukurannya."
"Gimana kalau kita ukur sekarang?" ucap Aby.
"Lama-lama somplak juga ya kamu. Yang pasti punyaku jumbo," ucap Dirga.
"Mana coba lihat. Penasaran segimana besarnya sampai Michelle tepar," ucap Aby sambil menatap bagian keperkasaan milik Dirga.
"Enak aja. Benar-benar udah gila kayaknya orang satu ini," ucap Dirga sembari melangkah menjauhi Aby.
"Sama-sama laki-laki juga. Kenapa harus malu. Udahlah, lupakan ukuran kamu yang besar sekarang aku mau tanya, kado dari aku benar-benar manjur kan?" ucap Aby.
"Nah ini ... ini yang bikin Anda semakin gila, harusnya sebelum dikasih ke saya, Anda coba dulu gimana khasiatnya," ucap Dirga.
"Tanpa obat-obatan yang begituan, aku udah kuat dari dalam."
Dirga tersenyum kecut. "Anda pikir saya tidak kuat gitu?"
"Ini kado yang asli," ucap Aby sembari memberikan sebuah kado pada Dirga.
"Emang yang kemarin cuma jebakan?"
"Kamu pikir? Gak mungkinlah aku ngasih kado yang harganya segitu," ucap Aby dengan nada sombong.
"Sombongnya," ucap Dirga sembari berusaha membuka kado itu.
Bersambung
__ADS_1