Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 176


__ADS_3

"Udah lama tapi Mama kok belum pulang juga," ucap Jingga.


Sudah hampir tiga jam Marisa pergi ke pasar tapi belum ada tanda-tanda wanita paruh baya itu akan sampai di rumahnya.


Jingga dan Mahendra mulai khawatir karena tak biasnya Marisa betah berlama-lama di tempat kotor dan kumuh seperti di pasar.


"Apa sebaiknya Papa jemput Mama aja ya?" ucap Mahendra.


"Ada apa? Kalian terlihat sangat cemas," ucap Mawar.


"Mama belum pulang juga dari Pasar padahal dia udah lama di sana, gak mungkin kalau belum selesai berbelanja," ucap Mahendra.


"Biar aku suruh Frans atau yang lain untuk menjemput Mama," ucap Mawar.


Baru Mawar menarik nafas bersiap untuk memanggil Frans, dari arah pintu keluar-masuk tempat itu Marisa muncul.


Wanita paruh baya itu berjalan tergesa-gesa sambil terus menatap ke belakangnya seperti sedang ada yang mengejarnya.


"Mama! Ada apa Ma? Mama seperti sedang dikejar orang," ucap Mahendra.


"Pa tadi ada anjing galak. Mama takut akhirnya Mama berlari sampai lupa sepedanya gak dibawa," ucap Marisa.


"Anjing?" Jingga menatap Marisa, "tapi aku tidak mendengar suara anjing menggonggong," sambung Jingga.


"Bicaranya nanti aja ya. Mama capek mau minum dulu," ucap Marisa.


Mawar dan yang lainnya hanya diam sembari menatap Marisa yang begitu ketakutan.


"Mungkin benar Mama dikejar anjing," batin Mawar.


********


Di sebuah butik.


Michelle sedang menunggu seorang desainer datang membawakan gaun pengantin miliknya.


Sambil menunggu Michelle dan Dirga melihat-lihat pakaian yang terpajang di ruangan itu sedangkan Mitha dan Athalia asyik memilih gaunnya sendiri.


"Ini bagus gak? Kamu suka gak?" tanya Dirga sembari memegang manekin yang menggunakan gaun seksi bahkan terbilang kurang bahan.


Michelle menoleh menatap Dirga.


"Kenapa, kamu suka sama cewek yang dandanannya seperti itu?" Bukannya menjawab, Michelle malah bertanya balik pada Dirga.


"Ya ... semua laki-laki pasti suka melihat perempuan dengan penampilan yang seperti manekin ini," ucap Dirga.


"Berarti kamu membolehkan orang lain melihat dan menikmati keindahan tubuh perempuan yang kamu cintai?" tanya Michelle.


"Nggak juga. Mana mungkin aku ikhlas tubuh kamu yang wah ini dibagi dengan orang lain meski hanya memandang," ucap Dirga.


"Lalu kenapa kamu menanyakan tentang pakaian kurang bahan ini? Jangankan memakainya melihatnya saja aku sudah ngerti duluan. Ya ampun rok sependek ini dan ini, astaga mahkota kembarku pasti gampang dicomot orang," ucap Michelle sembari memegang rok dan baju yang dikenakan oleh manekin itu.


Dirga tersenyum melihat raut wajah Michelle yang tiba-tiba seperti orang yang sedang ketakutan.


"Mbak, Mas ini gaunnya. Silahkan dicoba," ucap seseorang yang membawa gaun pengantin milik Michelle.

__ADS_1


"Oh ya." Michelle menerima gaun itu.


"Waw indah sekali," ucap Michelle.


"Akan lebih indah kalau kamu yang memakainya," ucap Dirga.


"Iyalah, kalau kamu yang memakai gaun ini gimana jadinya nanti," ucap Michelle.


"Mbak, tolong dicoba dulu karena gaun ini masih harus disempurnakan," ucap seseorang desainer.


"Oh, sebentar ya." Michelle langsung masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun itu.


Tak berselang lama Michelle kembali dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih itu.


"Cantik," gumam Dirga sambil terus menatap Michelle.


Seorang desainer perempuan itu mendekati Michelle dan meneliti seluruh bagian tubuh Michael dari atas sampai bawah.


"Sepertinya tidak ada yang harus diubah lagi, nanti kita tinggal pasang manik-manik di beberapa bagian agar terlihat lebih indah," jelas perempuan itu.


"Kalau manik-maniknya menggunakan berlian, apa hasilnya akan lebih bagus?" tanya Dirga.


"Sombong ... mentang-mentang punya uang pengennya yang aneh-aneh," ucap Michelle.


Sang desainer tertawa kecil mendengar perkataan Michelle.


"Emang aku punya uang kok. Aku mau nyenengin kamu lho," ucap Dirga.


"Jadi gimana, Bu bisa gak pakai berlian?" tanya Dirga pada sang desainer.


"Dih sayang tahu, ngapain gaun harus dikasih berlian segala mending uangnya buat anak-anak di panti kalau kamu merasa emang udah kebingungan buat menghabiskan uang," ucap Michelle.


"Sayang, Dirga tuh gak bermaksud menghambur-hamburkan uang tapi dia ingin yang paling spesial untuk kamu," ucap Mitha.


"Serius?" Michelle menatap Dirga.


"Gak ngerti juga. Gigit nih," ucap Dirga sembari menggerakkan mulutnya mempraktekkan gigitannya.


Michelle menjauh dan mundur sebanyak dua langkah!


"Masa digigit, Aku bukan daging atau makanan yang lainnya," ucap Michelle.


"Udah-udah ah, kalian bercanda terus ya, kapan selesainya coba?" ucap Athalia.


"Mereka memang pasangan yang serasi," ucap desainer itu.


"Jadi udah ya ini, saya boleh Mekel gaun ini?" ucap Michelle.


"Eeh tunggu! Jangan dilepas di sini. Amu belum siap melihatnya," ucap Dirga.


Michelle menatap Dirga lalu mendorong tubuh laki-laki itu! Bagaimana bisa laki-laki itu berucap demikian dihadapkan orang lain dan juga dihadapan orang tuanya.


Michelle sama sekali tidak habis pikir dengan tingkah Dirga, diawal perkenalan mereka Dirga terlihat cuek bahkan terkesan kaku ternyata setelah kenal kelakuannya malah seperti ini.


*******

__ADS_1


Di kantor.


"Sibuk sekali kamu, By," ucap Randy.


"Biasa saja, setiap hari juga seperti ini," ucap Aby.


"By, Papa lagi bingung nih," ucap Randy sembari menghempaskan bokongnya ke atas kursi.


"Bingung kenapa?"


"Bukannya sebentar lagi acara tujuh bulanan Mawar?"


"Iya. Katanya Mama yang akan urus dan katanya semua sudah beres?" ucap Aby santai sambil terus fokus pada laptopnya.


"Papa bingung mau beliin apa buat cucuk Papa. Mama kamu udah beli semua peralatan bayi," jelas Randy.


"Gak usah bingung, Pa cukup doakan semoga cucu Papa sehat dan selam saat dilahirkan. Sekamt yang melahirkan dan juga yang dilahirkan."


"Ya kalau itu jangan kamu bicarain, tanpa kamu minta juga Papa udah mendoakan Mawar."


"Nah kalau gitu gak usah bingung lagi karena Papa udah memberikan yang terbaik untuk keluarga kami."


*******


Di kediaman Mawar.


"Mbak Mawar butuh sesuatu?" tanya Frans pada Mawar.


"Tidak, saya hanya ingin jalan-jalan saja. Gak enak seharian di rumah terus," ucap Mawar yang saat itu ingin berjalan-jalan di halaman depan rumahnya.


"Mari saya antar," ucap Frans lagi.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri kok."


"Tapi nanti–"


"Tidak apa, kamu kerjakan tugas kamu aja."


"Tugas apa?" Frans menatap Mawar.


"Bukankah suamiku menyuruhmu mengawasi keluargaku? Lakukanlah, aku juga ingin tahu apakah mereka benar-benar menyesali perbuatannya atau tidak," ucap Mawar.


"Jadi, Mbak juga tahu?"


"Tidak. Suamiku tidak memberitahuku tapi aku tahu semua yang dilakukan olehnya."


"Baik, Mbak akan saya lakukan."


*********


Setelah selesai dengan semua urusannya, saat Michelle hendak keluar dari butik itu. Dia melihat orang yang waktu itu mengintip Mamanya dari depan rumahnya.


"Orang itu," batin Michelle.


"Kenapa?" tanya Dirga yang melihat Michelle seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Eum, tidak apa-apa. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku melihat teman lamaku di sana. Aku temui dia dulu ya," ucap Michelle lalu berjalan menuju restoran yang letaknya berada di sebrang jalan itu!


__ADS_2