Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 252


__ADS_3

"Senang ya rasanya bisa kumpul kayak gini lagi," ucap Nasya dengan wajah yang berbinar penuh kebahagiaan.


"Ussy juga senang karena Mbak El dan Mas Fredy udah baikan, alhamdulillah ya semua berakhir bahagia," ucap Ussy.


"Semoga hubungan kita juga berakhir bahagia. Aku yang paling lama nunggu kamu lho soalnya diantara Mbak El dan Mbak Nasya, kamu paling muda sendiri," ucap Joe.


"Udah dua puluh tahun tinggal nunggu sebentar lagi," ucap Reza.


"Oy, kuliah kedokteran waktunya lama masih perlu sekitar lima tahun lagi sampai Ussy selesai," ucap Fredy.


"Lima tahun, gak akan terasa lama kalau dijalani dengan cinta," ucap Nasya.


"Kalian apaan sih, ngebahas yang gak jelas lagian hidup kalian masih panjang bisa aja kalian bukan jodoh," ucap El.


"Hey, jangan bicara seperti itu. Aku harap kita tetap berjodoh meski apa pun yang terjadi," ucap Fredy sembari melingkarkan tangannya di punggung El lalu sedikit menariknya ke arah dirinya.


"Aku hanya bicara fakta," ucap El.


"Semoga kami berjodoh tapi kalau Tuhan tidak mentakdirkan kami berjodoh, semoga dia menyiapkan laki-laki yang lebih baik dari saya untuk orang yang saya cintai ini," ucap Joe sembari menggenggam tangan Ussy.


"Aaah, sweet banget," ucap Nasya.


"Sweet apanya? Orang lagi galau dibilang sweet," ucap Reza.


"Setidaknya tidak ada kebencian meski hubungan mereka putus di tengah jalan," ucap Nasya.


"Ih, Mbak Nasya ngaco deh masa ngomongnya gitu? Doain apa biar kami berjodoh," ucap Ussy dengan nada kesal.


Seketika semua orang di sana mengangkat kedua tangannya sebatas dada dan Reza mulai berdoa. "Ya Allah tolong jodohkanlah Ussy dengan Joe, jangan sampai hubungan mereka putus, jadikanlah mereka pasangan sejati yang saling setia sampai tua nanti."


"Amin," ucap semua orang yang ada di sana termasuk Ussy dan Joe.


"Cocok tuh jadi Pak Ustadz," ucap El dengan sedikit senyuman.


"Alhamdulillah, aku siap kalau memang Allah mentakdirkan aku menjadi seorang ustadz," ucap Reza.


"Wah kalau kamu jadi ustadz kayaknya aku harus belajar berhijab," ucap Nasya.


"Gak harus nunggu aku jadi ustadz, kalau kamu niat ingin menutup aurat lakukan itu karena Allah dan karena dirimu sendiri jangan karena aku," ucap Reza.


"Wih, Za kamu beneran cocok jadi ustadz lho," ucap Fredy.


Reza tersenyum lalu menundukkan kepalanya.


"Aku pernah tinggal di pesantren," ucap Reza.


"Dasar aneh, pernah tinggal di pesantren tapi kelakuan kamu kayak gak ngerti agama," ucap Nasya.


"Maksud kamu apa? Aku taat beribadah," ucap Reza.


"Waktu pertama bertemu dengan Mbak Nasya, Mas Reza dengan sengaja menyentuh dadanya dan mencium pipinya. Apa itu bukan perbuatan dosa?" celetuk Ussy.


Reza menatap Ussy lalu menatap Nasya.


"Aku pernah senakal itu tapi aku tidak pernah melakukan hal seperti itu pada perempuan lain. Aku tahu aku salah makanya sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Nasya karena dia yang pertama dan akan menjadi yang terakhir yang pernah aku sentuh," ucap Reza.


"Kayak sebelumnya gak punya mantan aja," ucap Joe.


"Mantan? Kalau mantan banyak tapi aku gak pernah macam-macam," ucap Reza.


"Ya, gak pernah macam-macam paling satu macam aja," ucap Fredy.


"Laki-laki semua sama aja kayaknya. Gak mungkin pacaran tanpa minta ini dan itu," ucap El.


"Memang aku minta apa sama kamu? Aku gak pernah macam-macam ya," ucap Fredy.

__ADS_1


"Gak pernah macam-macam apa? Kamu pernah mencium aku, pernah minta dicium balik dan pernah memaksa aku untuk ...." El menghentikan ucapannya hingga membuat teman-temannya bertanya-tanya.


"Memaksa apa?" tanya Joe dan Reza secara bersamaan.


"Kalau macam-macam kita siap menghakimi orang ini," sambung Reza.


"Dasar polisi tukang onar. Orang salah bukannya diproses secara hukum malah mau dikeroyok," ucap Fredy.


"Memang pernah memaksa apa?" tanya Ussy.


"Memaksa agar aku menikah dengannya," ucap El.


Semua orang langsung merasa lega saat mendengar jawaban dari El, mereka pikir Fredy memaksa El untuk melakukan sesuatu yang aneh-aneh.


"Kirain dipaksa apaan," ucap Reza.


"Kamu pikir apa? Ngajak tidur gitu? Aku tidak segila itu," ucap Fredy dengan sedikit ngegas.


"Biasa aja kali, aku aja pernah ngajak Nasya tidur," ucap Reza.


Seketika semua orang di sana menatap Reza dengan tatapan aneh.


"Pernah tinggal di pesantren kelakukan, Anda seperti seorang berandal," ucap Ussy.


"Hampir tiap malam aku ngajak Nasya tidur dan dia mau-mau aja tuh, gak pernah nolak. Iya gak, Sayang," ucap Reza sembari menatap Nasya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Apa! Nasya mau diajak tidur sama kamu?" ucap Ussy dan El secara berbarengan.


"Ya iyalah mau, orang ngajak tidurnya lewat telpon lagian kalau telponannya malam ya pasti langsung tidur setelah selesai berbicara," ucap Nasya.


Reza tertawa melihat teman-temannya yang sudah emosi berat padanya.


"Gak waras emang ni polisi. Sukanya bikin orang jantungan," ucap El.


Di kediaman Aby.


Jingga sedang berdiri di taman kecil yang ada di area rumah mewah milik Abymana itu. Sambil menatap bunga-bunga yang tumbuh di sana, Jingga terdiam dalam pikirannya yang melayang entah kemana.


Dari arah belakang, sedari tadi Frans berdiri sambil terus memperhatikan Jingga. Setelah mengumpulkan keberaniannya, dia mulai melangkah menghampiri Jingga!


"Mbak Jingga," ucap Frans.


Suara Frans yang tiba-tiba membuat Jingga sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah suara.


"Frans? Sedang apa kamu di sini?" tanya Jingga.


Frans berjalan tiga langkah untuk mensejajarkan posisinya dengan Jingga!


"Mbak, boleh saya bicara?" tanya Frans dengan tatapan yang terus tertuju pada Jingga.


"Bicara apa? Kamu kayak lagi linglung, gugup banget, kenapa sih? Gak biasanya," ucapan Jingga.


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah lancang berbicara. Maaf ya, Mbak."


Jingga tertawa kecil. "Bicara saja belum udah minta maaf," ucapnya.


"Apa, Mbak serius mau nikah sama laki-laki yang sudah punya istri?" tanya Frans penuh rasa takut.


Jingga tak langsung menjawab pertanyaan Frans, dia terdiam sambil menatap wajah Frans dengan tatapan misterius.


"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi, Mbak Jingga," ucapan Frans lagi karena tahu saat ini mungkin Jingga sedang bersiap untuk marah.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tahu dari mana kalau saya mau menikah dengan Roger?" tanya Jingga.


Berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Frans sebelumnya, ternyata Jingga tidak marah malah dia bicara dengan suara lembut seolah tidak ada yang menyinggung hatinya.

__ADS_1


"Mbak, gak marah saya bertanya seperti ini?" ucap Frans.


"Untuk apa saya marah, kamu tidak salah dan setiap orang memiliki hak untuk berbicara atau pun berbicara."


"Saya tidak setuju, Mbak menikah dengan dia." Tanpa ragu, Frans mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Kena?" Jingga menatap Frans dengan sedikit senyuman.


"Saya cinta sama, Mbak Jingga, saya gak rela Mbak menikah dengan orang itu," ucap Frans dengan jujur.


Setelah lama bersikap acuh cuek pada Jingga akhir Frans kalah juga dengan perasaan cintanya hingga akhirnya dirinya memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya setelah semuanya terlambat.


"Kamu gak mungkin mencintai saya kalau kamu tahu siapa saya. Saya orang jahat, kenapa kamu mencintai saya?" tanya Jingga sembari berjalan menghampiri kursi taman yang berada tak jauh dari mereka lalu dia menduduki kursi itu!


"Orang jahat juga berhak punya cinta, orang jahat juga berhak untuk dicintai dan mencintai lagipula sekarang, Mbak Jingga bukan orang jahat lagi," ucap Frans.


"Saya akan tetap menikah dengan Roger," ucap Jingga.


"Apa, Mbak mencintainya? Kenapa Mbak mau menjadi yang kedua sementara ada saya yang akan menjadikan Mbak satu-satunya."


"Kamu gak tahu apa yang terjadi. Seandainya kamu tahu tidak mungkin kamu mencintai saya," ucap Jingga lagi.


"Saya tahu, Mbak. Mbak pernah pacaran dengan laki-laki itu kan? Sekarang dia sudah punya istri, lupakan dia Mbak," ucap Frans yang masih berdiri di tempat semula.


"Aku memang sudah melupakan dia bahkan cinta itu sudah hilang dari hatiku," batin Jingga.


"Mbak, saya tulus mencintai, Mbak Jingga saya tahu saya bukanlah siapa-siapa tapi saya punya cinta yang tulus dan dengan gaji saya sekarang ini saya yakin bisa mencukupi kebutuhan kita nanti," ucap Frans lagi.


"Tidak bisa Frans, jujur saya juga suka sama kamu," ucap Jingga.


"Lalu kenapa, Mbak memilih menikah dengannya?" Frans menatap Jingga dengan tatapan penuh tanya.


"Karena aku tahu setelah kamu tahu aku ini siapa, kamu gak akan lagi mencintai aku berbeda dengan Roger dan istrinya, mereka sudah tahu dan mereka pasti menerimaku," ucap Jingga dengan suara pelan.


"Apa yang saya tidak ketahui dari, Mbak Jingga? Saya akan menerima semuanya," ucap Frans.


Di kamar Mawar dan Aby.


Sepasang suami-istri itu memperhatikan Jingga dan Frans dari jendela kamarnya, sedari tadi mereka terus memperhatikan Frans dan Jingga yang sedang bicara serius tapi mereka tidak tahu apa yang sedang dibicarakan karena mereka tak dapat mendengar suara mereka.


"Kayaknya ada sesuatu diantara mereka," ucap Aby pada Mawar.


"Aku juga berpikir seperti itu. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kita," sahut Mawar.


"Kakak kamu serius mau nikah sama Roger?" tanya Aby yang entah mengapa tiba-tiba membicarakan pernikahan Jingga dan Roger.


"Gak tahu, kami belum sempat bicara lagi," ucap Mawar.


"Menurut feeling ku, kayaknya istrinya Roger tahu deh mereka pernah pacaran dan pernah melakukan hubungan terlarang, karena itulah istrinya Roger kukuh ingin mereka menikah," ucap Aby.


"Ngaco kamu, tahu dari mana? Gak mungkin dia tahu secara cuma kamu dan Dirga yang tahu dan juga Michelle tentunya," ucap Mawar.


"Bisa saja Michelle atau Dirga salah bicara atau mungkin mereka sedang bicara dan terdengar oleh istrinya Roger, mereka tinggal satu rumah jadi mungkin saja istrinya Roger itu tidak sengaja mendengar perbincangan Dirga dan Michelle," jelas Aby.


"Kamu benar tapi gak mungkin juga aku tanya hal itu pada Jingga, dia akan malu nanti," ucap Mawar.


"Dahlah, lupakan itu sekarang kita cari tahu ada apa dengan salah satu personil trio pinky boy itu dengan Jingga, kalau mereka saling cinta, kita nikahkan saja mereka agar tidak ada yang tersakiti," ucap Aby.


"Memang siapa yang tersakiti kalau Jingga menikah dengan Roger?"


"Istriku Sayang, pasti istrinya Roger tersakiti karena suaminya menikah lagi, masa gitu aja gak tahu kayak bukan perempuan saja," ucap Aby.


Mawar nyengir kuda dan menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2