Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 95


__ADS_3

Di kantor.


"Dirga, kamu melihat Aby tidak?" tanya Randy pada Dirga.


Sudah beberapa kali Randy mencari Aby di ruangannya tapi dirinya tidak dapat menemukan Aby di sana, akhirnya setelah lelah mencari dan menelponnya Randy bertanya pada Dirga yang kala itu sedang berjalan ke arah ruangannya bekerja.


"Tuan Muda sudah pulang," ucap Dirga.


"Pulang?" Randy menatap jam ditangannya. "Baru j berapa ini, kenapa dia pulang sebelum waktunya?" sambung Randy.


"Tadi ...." Dirga menghentikan ucapannya lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung harus berkata apa pada Pak Randy.


"Kenapa? Seharusnya kamu ingatkan dia untuk tidak pulang semaunya seperti ini, bagaimana mau jadi pemimpin nomor satu kalau kelakuannya kayak gini."


"Tidak, Pak sebenarnya tadi Tuan Muda pergi bersama saya. Jadi begini, Pak tadi Nasya menelpon katanya menemukan motor milik Mawar terparkir di tengah jalan dan dia juga menemukan tas Mawar tergeletak di sana jadi Tuan Muda pergi bersama saya untuk mencari Mawar."


"Apa yang terjadi pada Mawar?"


"Dia diculik orang tapi dia berhasil selamat setelah itu karena Mawar terlihat sangat syok jadi Tuan Muda membawanya pulang," jelas Dirga.


"Siapa yang menculik Mawar?" batin Randy.


"Kamu lanjutkan pekerjaan kamu, saya sedikit pusing," ucap Randy pada Dirga.


"Pak apa mau saya antar ke Dokter?"


"Tidak perlu, saya hanya butuh istirahat sebentar saja." Randy memasuki ruangannya!


Sementara itu, Dirga masih berdiri di sana sembari memastikan Pak Randy baik-baik saja saat menuju ruangannya.


**********


Di panti asuhan.


Michelle sedang bermain ria bersama adik-adiknya di sana, setiap hari saat dirinya tidak bekerja di luar kota, dirinya selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama mereka. Baginya tawa mereka adalah semangat hidupnya.


"Kak, ada yang menelpon!" seru seorang anak kecil pada Michelle.


Anak itu mengambil ponsel Michelle yang terletak di atas meja lalu memberikannya pada Michelle.

__ADS_1


"Oh ya, terimakasih ya sayang," ucap Michelle sembari meraih ponselnya dari anak itu.


"Kakak angkat telpon dulu," ucapnya pada mereka lalu ia berjalan menjauh dari anak-anak itu!


[Halo, Pak.] ucapnya setelah menerima telpon dari Pak Randy.


[Ada yang menculik Mawar. Temui saya sekarang,saya ingin bicara.] ucap Randy dari sebrang telpon.


[Baik, Pak.]


Michelle memutuskan sambungan telponnya karena merasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi.


"Anak-anak, maaf ya kakak harus pergi," ucap Michelle pada anak-anak di sana.


"Tah, kakak gak asyik."


"Kakak harus kerja dulu biar dapat uang untuk kita jajan," ucap Michelle lagi.


"Ya udah. Kakak hati-hati ya kalau ada yang nakal, pukul aja dia," ucap salah satu anak.


"Pastinya. Kakak pergi dulu ya kalian main sama Ibu saja dulu sebentar lagi kak Ussy pulang," jelas Michelle.


Michelle menghampiri Bu Jena yang sedari tadi duduk di kursi yang ada di depan panti!


"Bu, aku pergi dulu ya." Michelle mengulurkan tangannya hendak mencium punggung tangan Bu Jena.


"Kamu mau ke mana?" tanya Bu Jena.


"Pak Randy ingin bicara denganku, aku akan menemuinya di kantornya."


"Hati-hati ya. Oh ya pemuda itu kerja di sana juga kan?"


"Iya, dia kerja di sana sebagai asistennya Pak Randy dan anaknya. Ibu tenang saja nanti aku akan sampaikan padanya kalau Ibu suka padanya."


"Michelle." Bu Jena menatap Michelle.


Michelle tersenyum lebar, "maksud aku, Ibu suka padanya dan ingin dia menjadi menantunya kan." Michelle tertawa.


"Dasar anak jahil. Pergi sana."

__ADS_1


**********


Di kediaman Aby.


"Mawar, makan dulu dong. Nanti kamu sakit kalau gak makan," ucap Aby yang saat itu sedang memegang piring berisi makanan dan sebuah sendok.


"Nanti saja, aku belum lapar," ucap Mawar.


Aby menatap Mawar dengan tatapan sendu.


"Mereka tidak melakukan apapun padamu, mereka hanya menyentuhmu sedikit saja tapi kamu sudah seperti ini, bagaimana kalau mereka sampai mempe****a kamu? Bahkan aku tidak bisa membayangkannya jika itu terjadi. Kamu memang berbeda, kamu tidak seperti mereka bahkan Jingga yang katanya kakak kandung kamu." batin Aby.


Melihat Mawar seperti ini membuat Aby mengingat waktu yang sudah ia lewati bersama Jingga. Dulu saat dirinya masih berpacaran dengan Jingga, dengan gampangnya gadis itu menawarkan tubuhnya padanya bahkan dia tak ragu untuk mencium bahkan mencumbu nya didepan umum.


Hal itu berbanding terbalik dengan Mawar, sekarang pun saat sudah menikah dengannya, sekali pun Mawar belum pernah menciumnya apalagi mencumbu nya. Mereka sudah saling mencintai tapi Mawar masih merasa malu padanya.


"Mawar, kalau kamu tidak makan aku juga gak mau makan. Oke kalau kamu kuat tapi aku punya penyakit maag yang tidak membolehkan aku terlambat makan, kalau aku sakit gimana?" ucap Aby berbohong.


"Kamu makan saja duluan," ucap Mawar.


"Gak mau kalau kamu gak makan aku juga gak mau makan."


Mawar menatap Aby sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Awh, aduh sakit," ucap Aby dengan nada lirih. Dipegangnya perutnya untuk melancarkan tipuannya.


"Mas Aby. Mas kamu kenapa?" Mawar langsung menurunkan kakinya dari tempat tidur lalu ia memegang lengan Aby sembari menatapnya.


"Perutku sakit," sahut Aby.


"Ya ampun. Makanya kamu makan, ini aku suapi," ucap Mawar sembari meraih piring yang berisi makanan yang tadi Aby pegang.


"Gak mau kalau kamu gak makan juga."


"Iya, kita makan berdua ini," ucap Mawar.


Mawar pun menyuapi Aby dengan hati-hati dan penuh perhatian.


Setelah Aby makan satu suap dari tangan Mawar giliran Aby yang menyuapi Mawar, akhirnya mereka makan satu piring bedua dengan satu sendok yang sama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2