Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 155


__ADS_3

Setelah berusaha mengejar akhirnya Michelle dapat menangkap orang misterius itu. Dia melompat dan memijakkan kakinya tepat di punggung orang itu hingga orang itu jatuh tersungkur!


"Siapa kamu?" ucap Michelle sembari membuka penutup wajah orang itu.


Michelle menatap wajah orang itu yang ternyata adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh lima sampai lima puluh tahunan itu.


Saat Michelle sedang meneliti wajah laki-laki itu tiba-tiba ia mendapat pukulan pada bagian kakinya.


"Ahh," ringis Michelle.


Dengan cepat laki-laki itu berlari untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Michelle.


"Sial. Siapa bapak tua itu, ada urusan apa dia dengan Mama?" ucap Michigan.


Karena tak mungkin berlari lebih jauh lagi Michelle membiarkan laki-laki itu pergi dan ia segera kembali ke rumahnya dengan langkah kakinya yang pincang!


"Sayang, kamu mengejar siapa itu?" ucap Mitha pada Michelle.


"Mama pernah punya masalah dengan orang?" tanya Michelle sembari terus berjalan.


"Tidak. Kenapa, Nak?" ucap Mitha lagi.


"Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan." Michelle duduk di kursi yang ada didepan rumahnya lalu melihat kondisi kakinya.


"Kamu memar. Kenapa ini?" ucap Mitha.


"Tadi orang itu menendang ku karena. Hampir saja aku menangkapnya tapi dia berhasil lari setelah menendang ku," ucap Michelle dengan nada kesal.


"Mama rasa pekerjaan kamu sekarang sangat membahayakan. Mungkin dia orang yang sengaja mengincar dirimu," ucap Mitha.


"Selama ini aku aman. Tidak ada siapapun atau apapun yang mengganggu kehidupan aku," ucap Michelle.


"Lalu siapa orang itu?"


"Aku dapat mengingat wajahnya. Kita akan segera tahu apa dan siapa dia," ucap Michelle.


**********


"Wah ternyata di sini penampilannya sudah beda," ucap Aby sembari mengedarkan pandangannya ke semua arah.


"Ya. Sini deh," ucap Mawar sembari menarik tangan Aby dan membawanya ke rumah panggungnya yang sudah selesai dibuat oleh para pekerja di sana.


"Ini untuk apa? Kamu mau tinggal di sini?" ucap Aby sembari terus mengikuti langkah Mawar.

__ADS_1


"Tidak. Aku sengaja menyiapkan ini semua untuk tempat tinggal Pak Mahendra dan Bu Marisa," jelas Mawar.


"Apa? Jadi capek-capek membuat pemandangan indah ini dan tempat senyaman ini, untuk mereka?"


"Ya." Mawar tersenyum ke arah Aby.


"Rumah ini persis seperti rumah orang tua angkat aku dan ukurannya juga sama. Ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi yang letaknya ada di belakang," ucap Mawar lagi.


"Aku pikir untuk kita bersantai," ucap Aby.


"Tidak. Mereka akan bertani di sini. Disebelah sana akan ada kebun sayuran." Mawar mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah arah.


"Dan di sebelah sana karena tanah di sebelah sana banyak airnya akan ada beberapa petak pesawahan. Keluargaku harus tahu perjuangan aku untuk tetap hidup sampai saat ini," ucap Mawar lagi.


Aby menarik tangan Mawar dan mengajaknya duduk di tempat duduk yang terbuat dari bambu yang ada di samping pintu depan rumah panggung itu!


Ditatapnya wajah sang istri yang kini tengah memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja meratakan tanah di sana.


"Kamu tuh niat balas dendam nggak sih sama mereka? Mereka kesusahan masih kamu bantu dan dengan mudahnya kamu mengeluarkan uang untuk menyiapkan semua ini demi mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak," ucap Aby.


Mawar menoleh ke arah Aby dan menatap dalam waktu yang lama.


"Siapa yang dendam? Aku hanya ingin mereka merasakan sulitnya hidupku dulu. Dulu aku hidup susah sedangkan mereka asyik menikmati harta mereka yang banyak itu," ucap Mawar.


"Jangankan kamu, Mas, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku begini. Ingin sekali aku membalas semua perlakuan mereka padaku tapi aku tidak bisa," ucap Mawar lagi.


Aby hanya diam sembari menatap Mawar yang saat ini sudah terlihat bersedih.


"Asal kamu tahu, Mas ... Bu Marisa dan Jingga sering menyakiti aku, mereka sering mengancamku, mereka ingin aku meninggalkan kamu tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu sehingga aku tetap bertahan di tengah tekanan mereka," ucap Mawar.


"Kenapa kamu tidak membalas? Kamu punya kemampuan khusus kan? Kenapa kamu gak bilang sama aku hah?"


"Aku berpikir hanya aku saja yang boleh membalas mereka dan sekarang saatnya aku mengembalikan apa yang mereka lakukan padaku."


"Apa kamu bisa?" tanya Abymana.


"Aku harus bisa. Jika mereka saja bisa menyakiti aku kenapa aku tidak."


*******


Di sebuah kafe.


"Aduh dimana dompet aku?" gumam Basya yang hendak membayar pesanannya.

__ADS_1


Gadis itu terus mencari-cari dompetnya dari dalam tasnya.


"Sebentar ya, Mbak sepertinya dompet saya tertinggal di mobil," ucap Nasya.


"Jangan beralasan. Pelajar sepertimu sudah banyak merugikan kami dengan berpura-pura seperti ini," ucap seorang petugas keamanan di sana.


"Tapi beneran Pak, dompet saya tidak ada dalam tas saya mungkin tertinggal di mobil saya."


"Tidak bisa. Kamu tidak boleh pergi sebelum membayar pesanan kamu."


"Pak tolong. Saya tidak mungkin berbobot, saya pasti membayar semua makanan saya," ucap Nasya.


"Maaf, Mbak ini kebijakan baru kami. Semua pelanggan tidak boleh keluar sebelum membayar," ucap seorang petugas kasir.


"Berapa tagihannya, Mbak?" tanya Michelle yang kebetulan sedang berada di tempat itu juga.


"Ini, Mbak." petugas kasir itu memberikan struk pembayaran yang harus dibayar oleh Nasya.


Michelle pun langsung membayar tagihan milik Nasya dan juga miliknya.


"Terima kasih ya kak. Aku gak tahu kalau gak ada kakak mungkin aku disuruh mencuci piring sampai sore nanti," ucap Nasya pada Michelle.


"Iya sama-sama lain kali kalau mau apa-apa cek dulu apa saja yang akan kamu butuhkan dan pastikan yang kamu butuhkan itu berada di dalam tas kamu," ucap Michelle.


Nasya tersenyum sambil terus berjalan berdampingan dengan Michelle.


"Maaf, boleh aku bertanya?" ucap Nasya.


"Ya, tanya saja."


"Aku sayang sama Mas ganteng."


Seketika Michelle menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar perkataan Nasya. Dia berdiri dengan tatapan yang tertuju pada Nasya.


"Jangan salah paham. Maksud aku, aku sayang sama Mas ganteng sebagai kakak aku sendiri. Aku berharap kalian bahagia dan ingat ... Mas ganteng itu orangnya baik dan tak pernah nakal jadi aku minta kamu jangan menyakiti dia ya," ucap Nasya karena Michelle masih terdiam di sana.


"Yakin kamu gak cinta sama Dirga?" ucap Michelle.


"Yakin. Yakin seratus persen lagipula aku dan Mas ganteng gak selevel. Mas ganteng itu emang cocoknya sama kamu, kakak ipar," ucap Nasya.


"Hah, kakak ipar?" Michelle menatap Nasya dengan penuh pertanyaan.


"Iya kakak ipar. Jadilah kakak ipar aku yang baik setelah kak Mawar." Nasya tertawa kecil sembari menggenggam lalu mengelus tangan Michelle.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2