
Akhirnya setelah melakukan sedikit perdebatan, Mawar dan Aby pun sepakat menaiki perahu bebek itu.
Ditengah Danau itu mereka bekerja sama mengayuh pedal perahu itu agar perahunya terus bergerak maju!
"Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan sama kamu," ucap Aby dengan tanpa menghentikan gerakan kakinya.
"Tanya apa? Tanyakan saja, kalau aku tahu, aku jawab kalau nggak ya nggak akan aku jawab," sahut Mawar.
"Tapi kamu harus jawab jujur ya."
"Iya, apa pertanyaan?"
"Kamu pernah nolongin seorang laki-laki yang sedang dikeroyok oleh tiga orang laki-laki?"
"Kok kamu bertanya seperti itu?"
"Tuh kan tadi aku minta kamu untuk menjawab dengan jujur malah sekarang kamu yang bertanya sama aku."
"Nggak pernah deh kayaknya, lagipula dimana aku nolongin laki-laki itu?"
"Di kampung tempat kamu tinggal tepatnya di taman dekat jalan besar itu."
Mawar terdiam mencoba mengingat-ingat waktu yang telah berlalu.
"Kemarin, Ibu dan Bapak kamu menyuruh kamu memakai masker atau topeng atau apapun yang bisa menutupi wajah kamu saat kamu sedang beraksi agar wajah kamu tidak dikenali oleh orang lain."
"Iya, itu benar. Kenapa sih memangnya?" Mawar menatap Aby penuh tanya.
"Apa wanita itu bukan Mawar ya? Tapi yang dikatakan oleh Ibunya Mawar seolah mengatakan bahwa wanita itu adalah Mawar," batin Aby.
"Ditanya, malah bengong. Kenapa sih?"
__ADS_1
"Ehem!" Aby berdeham untuk memulai pembicaraan seriusnya.
"Aku pernah ditolong oleh seorang gadis saat aku pergi ke kampung kamu, waktu aku akan mengecek lahan milik Bapak kamu."
"Terus?"
"Gak ada lanjutannya karena aku gak tahu gadis itu siapa."
"Kamu gak akan tahu orang kamu pingsan kok."
"Berarti perempuan itu beneran kamu?"
"Aku gak bilang kalau itu aku ya, aku cuma membayangkan kalau waktu itu kamu pingsan jadinya kamu gak bisa mengenali perempuan itu."
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mereka melihat ada seorang anak kecil yang hampir tenggelam di Danau itu.
Mereka berdua langsung panik dan tanpa basa-basi Aby langsung melompat ke Danau untuk menolong anak itu!
"Sial, aku tertipu," batin Aby.
Seketika rencana jahil pun muncul dibenak Aby, dia pura-pura tidak bisa renang dan hampir tenggelam di sana.
Sepertinya rencana jahil Aby berhasil, Mawar mulai panik.
"Lho, lho By! Aby! Abymana kamu bisa renang kan?" ucap Mawar yang masih duduk di atas perahu bebek itu.
*********
"Udah mau sore nih, pulang sana. Gak baik lho anak gadis pulang lewat maghrib," ucap Dirga yang saat itu sedang bersiap untuk pulang.
"Aku mau nungguin Mas ganteng aja," sahut Nasya.
__ADS_1
"Ini aku udah mau pulang."
"Antarin aku dulu ya."
"Kamu ke sini sama siapa hah? Jangan minta diantar pulang sama Mas mu ini."
"Aku mau pulang sama Mas ganteng aja. Awas ya kalau gak mau."
"Kalau gak mau, emang kamu mau ngapain aku hmm?"
"Aku mau Mas ganteng jadi pacar aku dan Mas ganteng harus tinggalin pacar Mas ganteng yang bernama Michelle itu."
"Ogah banget punya pacar mungil kayak kamu, udah mungil hidup lagi." Dirga mencubit pipi Nasya lalu tertawa terbahak.
"Aaaah Mas ganteng mah gitu." Nasya memukul meja kerja Dirga sampai mengeluarkan suara berisik.
"Stop! Stop Nasya. Oke, aku antar kamu pulang ya." Dirga mencoba menghentikan Nasya yang sedang marah tapi masih terlihat manjanya.
"janji dulu mau ngantar aku pulang."
"Iya-iya, maksa banget sih padahal kamu bisa pulang bareng Pak Randy."
"Aku maunya sama Mas ganteng bukan sama Papa."
"Iya, aku udah siap untuk pulang. Ayo kita pulang!" Dirga berjalan keluar dari ruangan itu sembari menenteng tas kerjanya!
"Mas ganteng!" seru Nasya yang masih berada di tempat semula tanpa sedikitpun yang berubah.
Dirga menghentikan langkahnya lalu berbalik badan untuk melihat Nasya! "apa lagi sih Nasya?" ucapannya sembari berjalan menghampiri Nasya.
Entah kenapa Nasya sangat dekat dengan, Dirga padahal dirinya tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya ataupun Abymana.
__ADS_1
Bersambung