
"Gimana? Kamu suka dengan makanan di sini?" tanya Dirga.
"Suka sekali Pak. Makanannya enak." Ussy melahap makan itu lagi dan lagi.
Gadis polos yang baru berusia tujuh belas tahun itu tanpa rasa malu menyantap banyak makanan yang Dirga pesan untuknya.
"Kamu yakin mau menghabiskan semuanya?" Dirga menatap Ussy dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Yakin Pak. Kerja jadi pembantu membutuhkan tenaga ekstra jadi harus makan banyak."
"Oh gitu, berarti yang kerja kantoran gak perlu makan banyak?"
"Sebenarnya tergantung orangnya dan situasi dan kondisinya, Pak. Sekarang kan Ussy lagi makan gratis jadi makan nya harus banyak."
"Ussy, tiap hari kan kamu makan gratis di rumah saya."
"Eh iya ya Pak, Ussy lupa." Ussy nyengir dengan mulutnya yang terisi penuh dengan makanan.
"Makan yang benar jangan belepotan gitu. Pelan-pelan aja lagian saya gak akan minta."
**********
"Jingga, ngapain kamu di sini?" tanya Roger saat melihat Jingga tengah berdiri di depan apartemen nya.
"Aku mau kamu tinggalin cewek itu dan nikahi aku secepatnya."
"Apa kamu bilang? Memang kamu siapa hah ngatur-ngatur hidup aku seenaknya? Aku gak akan ninggalin Michaela karena aku cinta sama dia."
"Bagaimana dengan aku? Roger, aku gak mau hubungan kita berakhir di sini. Aku cinta sama kamu."
"Tapi aku nggak cinta sama kamu."
"Gak cinta kamu bilang? Lalu selama ini apa? Yang sudah kita lakukan bersama itu apa? Aku sudah menyerahkan semua yang aku punya untuk kamu tapi kamu ...." Jingga menghentikan ucapannya karena tak kuasa menahan amarahnya.
Dia menangis karena kecewa, kekasih yang ia cintai teganya mempermainkan cintanya yang tulus.
"Jingga, asal kamu tahu ya. Aku sama kamu cuma main-main dan lagi tentang yang sudah kita lakukan bersama. Aku tidak pernah minta kan, kamu sendiri yang menawarkan aku untuk melakukan itu."
"Kenapa kamu mau kalau memang kamu cuma berniat main-main denganku?"
"Ya ampun Jingga, aku rasa kamu sudah tahu kenapa aku mau menikmati tubuh kamu yang seksi ini. Laki-laki mana sih yang menolak kalau ditawari tidur bareng dengan seorang wanita. Kamu tahu? Itu sebuah keuntungan besar dari main-main yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Tega kamu ya. Jahat kamu!" Jingga memukuli Roger dengan tasnya.
Bukannya marah karena merasa kesakitan, Roger malah tersenyum penuh kemenangan sambil sesekali menggoda Jingga.
"Kamu itu ibarat boneka bagiku. Saat masih baru setiap hari aku akan memainkan dirimu dan setelah aku bosan, aku akan membuang kamu. Maaf ya Jingga, bukannya aku tidak punya rasa kasihan padamu tapi untuk hubungan yang serius, orang yang aku pilih untuk jadi istriku bukanlah gadis seperti kamu. Aku ingin orang yang menjadi istriku adalah gadis yang benar-benar baik."
"Maksud kamu apa? Aku kurang baik? Kurang baik dimananya? Selama ini aku selalu melakukan yang terbaik untuk kamu karena aku sayang sama kamu."
"Jika kamu rela meninggalkan pernikahan kamu dengan Aby maka bukan tidak mungkin kamu juga akan melakukan hal itu padaku setelah kamu mendapatkan laki-laki lain yang kamu cintai. Aku capek, aku mau istirahat, silahkan pergi dari sini." Roger membuka pintu apartemen nya dan langsung masuk tanpa memberikan kesempatan Jingga untuk ikut masuk ke dalam.
"Roger! Roger buka pintunya! Dasar bajingan!" Jingga menggedor pintu itu dengan keras sambil terus berteriak.
Sepertinya sudah tidak ada harapan untuk dirinya merebut kembali hati Roger karena laki-laki itu ternyata tidaklah benar-benar mencintainya.
Jingga menyandarkan punggungnya di dinding samsung pintu apartemen Roger, ia menangis pilu, betapa dirinya tak menyangka Roger hanya memanfaatkan dirinya untuk memenuhi kesenangannya saja.
**********
"Belum tidur? Udah malam nih," ucap Mawar yang melihat Aby masih terjaga dan sedang fokus pada laptopnya.
Aby menatap Mawar lalu mengulas senyum terbaiknya.
"Belum, ini lagi mengecek beberapa berkas yang tadi belum sempat aku cek."
"Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu."
"Gak usah lagian ini cuma sedikit lagi kok."
"Ya udah, aku tinggal ya."
"Hmm, istirahat sana. Pastikan luka kamu cepat sembuh."
"Iya, ini udah sembuh kok." Mawar langsung pergi meninggalkan Aby di sana namun bukannya masuk ke dalam kamarnya, Mawar malah pergi ke dapur.
"Katanya mau tidur kok malah pergi ke dapur," gumam Aby.
Aby membiarkan Mawar melakukan apa yang ingin dia lakukan, ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Tak lama, Mawar kembali dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
"Mau kopi?" tanya Mawar sembari meletakkan dua cangkir kopi yang baru ia buat.
__ADS_1
"Nawarin kok udah dibuatkan, gimana kalau aku menolak?"
"Kalau gak mau juga gak apa-apa, didepan ada trio ganas kan. Kasih aja sama mereka."
"Trio ganas, maksud kamu Frans, Joe dan Salman?"
"Iya lah, siapa lagi?"
"Bukannya lebih ganas kamu dibanding mereka?"
"Nggak lah, aku gak pernah makan orang ya. Jadi ini mau gak kopinya?"
"Ya mau lah, gak mungkin kan aku nolak pemberian istri aku tapi ini kopi ada racunnya gak? Jangan-jangan ada racunnya lagi."
"Cobain dulu aja kalau kamu gak mati berarti gak ada racunnya tapi kalau kamu mati berarti ada racunnya."
"Kalau aku mati gimana? Nanti kamu jadi janda kembang."
"Diam lah, minum kopinya tuh nanti keburu dingin."
"Iya, terimakasih ya istriku. Oh ya gimana dengan kuliah kamu?"
"Aku sudah mendaftar di salah satu universitas ternama di kota ini, aku harap kamu sanggup untuk mencatatnya."
"Kapan, dimana, kok aku gak tahu?"
"Kamu kan gak seharian ada di rumah, ya aku pergi saat kamu kerja lah lagipula aku gak mungkin meminta kamu yang mengurus semua keperluan aku."
"Ya udah kalau begitu, berapa biayanya sebulan? Kamu hitung aja semua dengan kebutuhan kamu selama satu bulan jadi aku bisa kasih kamu sekaligus."
"Serius? Kalau mencapai puluhan juta gimana?"
"Gak apa-apa, asalkan kamu senang dan tidak membuat aku sampai patah tulang, aku oke-oke aja."
**********
"Mas ganteng? Mas ganteng makan sama siapa tuh?" batin Nasya.
Saat itu Nasya juga tengah berada di restoran itu, dia datang bersama teman-temannya untuk mengadakan acara makan malam bersama dalam rangka merayakan hari ulang tahun temannya.
"Eh semuanya, aku tinggal dulu," ucap Nasya sembari melangkah menghampiri Dirga!
__ADS_1
Bersambung