Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 209


__ADS_3

"Waktu itu ...." Marisa mulai menceritakan sejelas-jelasya yang terjadi dua puluh tiga tahun lalu.


*Flashback on*


Siang itu di kediaman Mahendra.


"Siapa kalian?" tanya Marisa pada tiga orang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dengan menggunakan penutup wajah berwarna hitam.


Tiga laki-laki itu berjalan mendekati Marisa yang saat itu baru selesai mandi dan tubuhnya hanya dililit oleh handuk berwarna putih.


"Kalau mau apa? Uang, perhiasan? Ambil saja semua ada di lemari itu," ucap Marisa lagi.


Saat itu Marisa sudah ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa yang ada dalam benaknya hanyalah keselamatan dirinya dan juga Jingga.


"Bukan harta yang kami minta. Sepertinya tubuhmu nikmat," ucap salah satu laki-laki itu.


"Pergi kalian! Pergi dari sini!" Marisa melempar bantal ke arah mereka tapi mereka terus mendekat.


Tiga laki-laki itu mengelilingi Marisa dan setelah itu satu dari mereka memeluk Marisa dari belakang!


"Kalau mau anakmu selamat. Turuti permintaan kami," ucap laki-laki itu di telinga Marisa.


"Jangan. Jangan lukai anakku," ucap Marisa.


"Lihat ini." Satu orang laki-laki itu memperlihatkan benda kecil yang berbentuk remote tapi hanya memiliki satu tombol saja.


"Ini adalah remote pengendali peledak di kamar bayi mungil itu kalau kami menekannya maka kamar itu akan meledak," sambungnya lagi.


"Jangan. Jangan lakukan itu," ucap Marisa.


"Kalau gitu puaskan kami semua," ucap laki-laki yang saat itu sudah memeluk tubuh Marisa dari belakang.


Laki-laki itu menarik handuk yang melilit di tubuh Marisa dengan perlahan!


Marisa menahan handuk itu agar tidak terlepas tapi rupanya laki-laki itu tak membiarkan itu terjadi, dia menarik handuk itu dengan sangat keras hingga akhirnya terlepas dari tubuh Marisa.


Marisa langsung menutupi bagian dadanya dan bagian bawahnya dengan tangannya.


"Aaaa, jangan, jangan lakukan ini padaku," ucap Marisa.


Tiga laki-laki itu langsung menyerang Marisa secara membabibuta hingga Marisa tak dapat melakukan apapun selain pasrah.


"Menjauhlah dariku. Aku mohon lepaskan aku," ucap Marisa.


Tiga laki-laki itu hanya tertawa sambil memainkan setiap benda terlarang milik Marisa. Satu diantara mereka sudah tak dapat menahan hasratnya dan dia pun langsung membuka pakaiannya dan ....


Terjadilah pemer****an terhadap Marisa. Tiga laki-laki itu bergantian melakukan aksi bejatnya, meski Marisa sudah lemah tak berdaya mereka terus saja melakukan dan menuntaskan hasratnya.

__ADS_1


Dua jam berlalu mereka sudah puas dengan permainannya dan mereka pun memungut pakaiannya lalu pergi begitu saja setelah memakai pakaiannya!


Tak lama setelah mereka pergi, Darko datang dan nyelonong masuk ke dalam kamar Marisa! Tukang yang sedang memperbaiki dapur Marisa itu duduk di samping Marisa lalu menyentuh dada Marisa dan mere***nya dengan kencang, dia beralih pada mahkota di bawah sana yang sudah terbuka lebar bekas tiga orang penjahat laknat itu dan memainkannya sebentar.


"Maaf ya, Bu berhubung sudah terbuka seperti ini. Saya numpang mencicipi sedikit," ucap Darko.


"Jangan, jangan lakukan lagi, saya mohon," ucap Marisa dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Darko tersenyum lalu bangkit dari sana! Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil uang senilai sepuluh juta rupiah yang terdapat do dalam lemari!


"Anggap saja ini sebagai uang penutup mulut kalau tidak saya akan melaporkan ini pada suami Anda. Saya punya bukti rekaman perbuatan kalian, bisa saja suami Anda akan meninggalkan anda dan saya akan mendapatkan banyak uang dari suami Anda," ucap Darko.


"Ambilah dan pergilah dari sini. Jangan pernah beritahukan ini pada suamiku," ucap Marisa.


*Flashback off*


"Aku tidak dapat mengingat wajah mereka. Aku tidak tahu siapa mereka," ucap Marisa sambil terus menangis.


Mahendra terdiam, antara percaya dan tidak percaya tapi mendengar penjelasan sang istri, ia tahu bahwa saat ini Marisa sedang berbicara jujur.


"Aku membenci Mawar karena aku tahu dia bukan anak kamu, Pa. Aku benci orang-orang biadab itu," sambung Marisa.


"Jalan satu-satunya untuk menemukan Ayah kandung Mawar adalah, kita harus menemukan Darko," ucap Bu Ratna.


"Kamu sadar gak Marisa, kamu sudah melampiaskan kebencianmu pada anak yang tidak bersalah. Seharusnya kamu tahu bahwa Mawar tidak meminta dilahirkan dalam keadaan orang tuanya yang tidak jelas, kamu sudah salah menyimpan dendam, kamu berdosa besar pada anak yang tidak tahu apa-apa itu," ucap Pak Ija.


"Maafkan aku, kebencian yang sudah membuatku seperti ini," ucap Marisa.


**********


Di panti asuhan.


"Untung ada dua orang itu yang membantu kita," ucap El sembari menenteng makanan untuk anak-anak di panti itu.


"Iya, Mbak untung ada mereka ya. Ternyata benar kata orang tua zaman dulu, kalau kita orang baik pasti ada saja yang menolong kita," ucap Ussy.


"Untung kita baik ya, Sy."


"Iya, Mbak."


"Kak Ussy!" seru anak-anak itu.


"Hai anak-anak! Assalamu'alaikum!" seru Ussy.


"Waalaikumsalam," sahut anak-anak itu.


"Nih makanan untuk kalian semua." El meletakan makanan itu di depan mereka semua. Anak-anak itu pun langsung menyerbu makanan yang sudah tersimpan dalam boks kecil itu.

__ADS_1


"Eits tunggu dulu." Ussy menghalangi mereka yang hendak mengambil makanan itu.


"Udah shalat maghrib belum? Kalau belum, gak boleh ambil makan ini," sambung Ussy.


"Udah dong, Kak gak liat apa sekarang udah jam berapa."


"Ya udah, ambil nih makanan. Dimana ibu?" tanya Ussy.


"Ada di dalam. Biasa lagi curhat," ucap salah satu anak itu.


"Curhat sama siapa? Bukannya bu Jena udah tua ya, kok masih suka curhat kayak anak muda," ucap El pada Ussy.


"Ibu sedang dzikir. Aku pamit dulu sama ibu ya, Mbak kalau gak pamit takutnya dia khawatir," ucap Ussy.


"Iya. Aku tunggu di sini ya," ucap El.


*********


Di kediaman Mitha.


"Kalian baru pulang?" ucap Mitha yang melihat Michelle dan Dirga berjalan berjalan memasuki rumah.


"Assalamualaikum," ucap Dirga dan Michelle. Mereka berdua berjalan menghampiri Mitha lalu mencium punggung tangannya secara bergantian.


"Mama, gimana hasil pemeriksaan Mama tadi siang?" tanya Michelle sembari duduk di kursi yang diduduki oleh Mitha.


"Hasilnya bagus. Mama sehat kok, kata dokter cuma migrain biasa."


"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Michelle.


"Kak Roger dan Kak Michaela udah pulang belum, Ma?" tanya Dirga.


"Udah, baru saja mereka pulang. Ada apa?" tanya Mitha.


"Tuan Muda ingin bertemu dengan kak Roger. Beliau ingin berterima kasih secara pribadi pada kak Roger," jelas Dirga.


"Semoga kapan-kapan mereka bisa bertemu tapi sebenarnya tidak usah berterima kasih juga tidak apa-apa. Roger ikhlas kok membantu istrinya Aby," ucap Mitha.


*********


Di rumah sakit.


Aby menatap Mawar dari kaca kecil yang terdapat di pintu ruangan rawat Mawar. Rasanya ia begitu pilu melihat sang istri belum juga pulih paca melahirkan bayi kembarnya.


Baru satu hari Mawar terbaring di atas ranjang rumah sakit tapi Aby merasa seperti sudah satu bulan berada di tempat menyebalkan itu.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Mawar saat kamu tahu ternyata Pak Mahendra bukanlah Papa kandungmu. Aku tidak sanggup melihat kamu hancur berkali-kali, aku tidak mungkin bisa melihat kamu kembali berjuang untuk menemukan orang tua kamu lagi setelah perjuangan kamu mendapatkan kasih sayang dari Bu Marisa dan Pak Mahendra," batin Aby sambil terus menatap Mawar yang tengah tertidur di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2