
"Mimi, ini kakak. Kakak yang selalu mencari kamu ke mana-mana," ucap Roger setelah mereka berdua mendapatkan pengobatan.
Michelle terdiam dan tak memiliki niat untuk menjawab perkataan Roger.
"Roger, apa yang terjadi? Om tidak mengerti kenapa tiba-tiba kamu mengakui Michelle sebagai adik kamu?" tanya Randy.
Roger terdiam tanpa sedikitpun kalimat yang terucap dari bibirnya sebagai jawaban atas pertanyaan Randy padanya.
"Pak, ayo kita pulang. Tidak ada gunanya kita di sini toh laki-laki ini tidak akan memilih jalan damai atas permasalahannya dengan Anda sepertinya kita harus menyiapkan pertahanan ekstra untuk menyelamatkan diri kita," ucap Michelle sembari beranjak dari duduknya.
Roger menarik tangan Michelle dan memintanya untuk kembali duduk di tempat semula.
"Saat Papa meninggal, Mama menjadi sering melamun yang akhirnya menyebabkan dia depresi berat. Waktu itu usiamu baru tiga bulan, dalam ketidak sadaran nya Mama meninggalkan kamu entah dimana hingga setelah Mama memiliki kesadaran penuh Mama baru ingat padamu tapi saat itu sudah terlambat karena kamu sudah tidak ada di tempat semula Mama meninggalkan kamu. Saat itu usiaku baru dua belas tahun tapi aku sudah harus berpikir keras untuk merawat Mama dan juga mencari kamu yang hilang entah kemana," ucap Roger panjang lebar.
"Lalu apa yang kamu pikirkan sehingga kamu menyimpan dendam sebesar ini pada Om? Om tidak tahu kalau Mamamu mengalami gangguan jiwa setelah kejadian itu, Om juga gak tahu kalau kamu kehilangan adik kamu. Kenapa kamu gak bilang sama Om kalau kejadiannya seperti itu?" ucap Randy.
"Om jangan sok baik pada saya. Om sengaja mengajak Papa saya pergi dan sengaja menghabisi nyawanya kan?" ucap Roger dengan nada tinggi.
"Itu tidak benar Roger. Tidak mungkin, Om melakukan hal keji seperti itu pada teman baik Om sendiri. Papamu meninggal karena terjatuh dan terkena serangan jantung."
"Bohong! Kalau memang seperti itu kejadiannya kenapa hanya Papa yang terjatuh di tempat itu padahal masih banyak orang lain yang juga ada di tempat itu."
"Percayalah Roger, Mamamu tahu yang terjadi pada Papamu, dia tahu karena dia yang bicara dengan Dokter yang menangani Papa kamu," ucap Randy yang terus membela dirinya.
Sementara itu Roger terus saja menyalahkan Randy atas kematiannya Papanya yang terjadi dua puluh dua tahun lalu.
"Jalan satu-satunya adalah menyembuhkan Mamamu, setelah itu kamu akan tahu kebenarannya seperti apa," ucap Randy.
"Michelle, percayalah kalau aku ini kakakmu. Liontin berbentuk kupu-kupu itu adalah liontin milik Mama, didalam liontin itu ada foto keluarga kita, buktinya ada pada liontin itu," ucap Roger.
"Aku butuh waktu untuk mempercayai ini semua. Tolong jangan ganggu aku dulu karena aku butuh waktu sendiri," ucap Michelle.
"Pak Randy, ayo kita pulang. Saya akan mengantarkannya Anda ke kantor," ucap Michelle pada Randy.
__ADS_1
Randy tak berucap apapun, ia bangkit dari duduknya lalu mulai berjalan mengikuti Michelle!
Sementara itu, Roger masih terdiam terpaku di tempatnya, dia hanya menatap Michelle yang sudah pergi semakin menjauh darinya.
**********
Di kantor Mahendra.
"Saya tidak keberatan, apalagi Mawar yang akan menjadi pemimpin di kantor ini justru saya akan merasa bahagia karena bisa satu kantor dengan anak saya," ucap Mahendra pada Abymana.
"Saya harap, Anda dapat membimbing Mawar dan mengenalkan pada semua hal yang biasa dilakukan oleh seorang pemimpin perusahaan, dia belum tahu kehidupan di kantor tapi dia ingin mencoba dan merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang nomor satu di suatu perusahaan."
"Saya pasti akan mendukung Mawar. Tuan Muda tidak usah khawatir, Mawar akan menjadi perempuan yang hebat dan saya pastikan dia akan membawa perusahaan ini menjadi lebih baik lagi," ucap Mahendra.
Mahendra yang sedari dulu memang merasa bersalah pada Mawar, merasa bahagia dengan permintaan Aby yang menjadikan Mawar sebagai pemimpin perusahaannya. Dirinya berpikir jika Mawar bekerja di sana dirinya dapat meminta maaf pada anak yang sudah dia sia-siakan itu.
**********
"Mawar, terima kasih ya kamu sudah bersedia memaafkan kami. Aku gak nyangka ternyata kamu bethati Malaikat, aku sudah sangat jahat padamu tapi kamu masih bisa memaafkan aku," ucap Yura disela candanya.
"Terima kasih. Terima kasih banyak," ucap Yura.
Lima gadis yang sedang nongkrong di sebuah kafe itu pun kembali bercanda ria setelah sedikit obrolan seriusnya.
"Kalian nongkrong kok gak ngajak-ngajak," ucap Galaxi yang juga biasa nongkrong di kafe itu.
"Biasanya kan lo gak suka sama gue, ngapain kita ngajak lo," ucap Yura.
"Kalau lo bersikap manis seperti ini, tidak ada alasan untuk gue membenci lo," ucap Galaxi.
"Ya kalau mau gabung, gabung aja tapi emang kamu gak malu nongkrong sama cewek-cewek?" ucap Sherin.
"Sherin benar. Kita berlima sedangkan kamu, laki-laki sendiri," ucap Mawar.
__ADS_1
"Siapa bilang sendiri. Tuh teman-teman aku," ucap Galaxi sembari menunjuk ke arah teman-temannya.
*********
Setibanya si kantor Randy.
Michelle mengantarkan Randy ke ruangan pribadinya setelah memastikan Randy baik-baik saja di sana, ia langsung keluar dari ruangan itu dan pergi meninggal kantor mikin Randy!
Sambil berjalan, Michelle terus teringat kata-kata Roger yang mengakui dirinya sebagai adiknya, ucapan laki-laki itu terus terngiang di telinganya.
Dirinya tidak percaya bahwa Roger adalah kakaknya.
Saat sudah berada di luar kantor, ia duduk di sebuah kursi taman yang ada di depan kantor itu! Diraihnya liontin yang ia pakai lalu dilepaskan dari kalungnya.
"Jika benar dalam liontin ini ada foto keluarga aku mungkin aku akan percaya tapi bagaimana cara membuka liontin ini?" batin Michelle sembari berusaha mencari cara untuk membuka liontin itu.
Michelle terus berusaha untuk membuka liontin itu namun, usahanya gagal karena ia tak kunjung menemukan celah untuk membukanya.
"Sedang apa di sini?" tanya Dirga yang hendak keluar untuk makan siang.
Michelle mendongakkan kepalanya melihat orang yang bertanya padanya!
"Eh kamu, nggak lagi ngapa-ngapain tadi aku habis mengantar Pak Randy ke sini," ucap Michelle.
"Boleh duduk di sini?" ucap Dirga sembari menghempaskan bokongnya ke kursi yang diduduki oleh Michelle!
Michelle menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat lebih luas untuk Dirga duduk! "Minta izin tapi kamu sudah duduk duluan," ucap Michelle.
Dirga tersenyum, "mau diapain liontin itu? Dari tadi aku lihat kamu serius banget dengan liontin itu," ucap Dirga.
"Nggak, aku hanya iseng aja. Lagi gak ada kesibukan."
"Gimana kalau kita makan siang bersama?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Terimakasih, bukannya aku menolak tapi anak-anak sudah menungguku di panti," ucap Michelle.
Bersambung