Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 164


__ADS_3

Di sebuah restoran milik Roger.


"Silahkan duduk, Om," ucap Roger dengan nada bicaranya yang canggung.


"Terima kasih," ucap Randy.


"Permisi, Pak ini minuman kesukaan Anda," ucap seorang pelayan di restoran itu sembari meletakkan satu gelas jus di atas meja itu.


"Terima kasih," ucap Roger.


"Oh ya, Om mau pilih minum atau makanan apa. Semua yang Om inginkan di sini gratis," ucap Roger.


"Om mau memakan dan meminum apa saja yang kamu pesankan," ucap Randy.


"Baiklah Shesya, bawakan makanan dan minuman yang paling spesial yang kita miliki di restoran ini," ucap Roger pada Shesya karyawannya.


Pelayan itu mengangguk lalu segera pergi dari sana!


Roger menatap Randy yang kala itu masih terlihat tenang meski sebenarnya dia tahu bahwa Roger masih menyimpan dendam.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Kamu mau menjebloskan Om ke penjara? Lakukan saja Roger kalau memang kamu sudah mendapatkan bukti yang menguatkan tuduhanmu," ucap Randy.


"Om, aku disini ingin meminta maaf. Aku mau meminta maaf padamu. Aku salah, aku sudah bersalah padamu dan juga keluargamu," ucap Roger dengan penuh penyesalan.


Randy terdiam dan tak mengatakan sesuatu apapun.


"Aku tahu aku sudah sangat keterlaluan. Aku sudah salah menilai Om Randy," ucap Roger lagi.


"Jadi, kamu sudah tahu kalau Om tidak bersalah?"


"Mama sudah memberitahu aku, awalnya aku tak percaya tapi setelah aku menemui teman lama Papaku malah dia tidak memberikan penjelasan apa pun terkait dengan bukti yang dimiliki oleh Mama bahkan sekarang dia sangat sulit untuk dihubungi," jelas Roger.


"Setelah Om tahu bahwa kamulah orang berada dibalik semua kekacauan yang terjadi pada perusahaan Om, Om tidak pernah lagi menyerang kamu. Om sadar kalau pertikaian ini hanyalah karena sebuah kesalahpahaman," ucap Randy.


"Jadi, Om bersedia memaafkan aku?" Roger menatap Randy penuh harap.


"Om rasa kamu tidak bersalah. Om sudah memaafkan kamu."


**********


Di rumah Aby.


Mawar duduk di kursi ruang keluarga. Bayangan dirinya yang memakan makanan dari tangan Jingga terus saja melintas di pemikirannya.


Dirinya merasa bahagia saat merasakan disuapi oleh kakak kandungnya itu. Meski bukan ibu kandungnya yang menyuapi tapi kejadian tadi siang sudah sangat membuatnya bahagia.


"Apa mungkin Jingga sudah mulai bisa menerima aku?" batin Mawar.

__ADS_1


Untuk sesaat Mawar tersenyum bahagia tapi sedetik kemudian senyum itu menghilang.


"Gak, aku gak boleh percaya begitu saja pada mereka. Aku tahu mereka adalah manusia licik yang akan menghalalkan segala cara untuk dapat menggapai keinginannya," gumam Mawar.


Di tempat Mahendra.


"Aduh, Pa pinggang Mama sakit gara-gara bantuin Papa mencangkul sawah ini," ucap Marisa sembari memegangi pinggangnya.


"Tadi kan Papa udah bilang biar Papa aja yang mencangkul sawah ini," ucap Mahendra.


"Pa, Papa ini suami Mama. Mama sayang Mama cinta sama Papa mana Mama tega melihat Papa bekerja keras seperti ini," ucap Marisa.


"Yakin?" Mahendra menatap Marisa.


"Bukannya dari tadi Mama kerjanya sambil ngedumel? Papa pikir Mama gak ikhlas membantu Papa," sambung Mahendra.


"Pa, Mama emang cerewet, Mama keras kepala dan mungkin sering berkata kasar tapi Mama sayang sama Papa Mama gak mau Papa terlalu kecapean dan lagi Mama ngedumel bukan karena gak ikhlas membantu Papa tapi Mama kesal karena perbuatan anak itu pada kita," ucap Marisa.


"Pa, Ma, aku berpikir mungkin Mawar sedang membalas dendam pada kita khusunya pada Mama dan Papa karena kalian dulu sudah membuangnya kan," ucap Jingga.


"Maksud kamu?" ucap Marisa.


"Maksud aku Mawar sengaja gak menjebloskan kita ke penjara karena dia ingin menghukum kita dengan ini. Dia ingin kita merasakan hidup susah seperti yang dia alami dengan orang tua angkatnya," ucap Jingga.


Marisa hanya terdiam sembari mencerna perkataan Jingga sedangkan Mahendra hanya menatap Jingga dengan tatapan aneh.


"Kalau boleh tahu sebenarnya apa alasan kalian membuang Mawar padahal aku akan sangat bahagia karena memiliki adik. Aku pasti punya teman bermain dan teman bicara," ucap Jingga.


Marisa menatap Jingga dengan tatapan tajam.


"Jangan banyak tanya, Jingga. Seharusnya kamu tahu kalau Mawar akan menjadi saingan kamu," ucap Marisa.


***********


Di kediaman Dirga.


"Berapa usia kamu?" tanya Athalia ~ mamanya Dirga pada Ussy.


"Delapan belas tahun, Bu," ucap Ussy.


"Masih muda sekali ya memangnya kamu gak sekolah?" tanya Athalia lagi.


"Aku kuliah, Bu tapi hari ini sedang tidak ada kelas," ucap Ussy.


"Udah lama ya kerja sama kak Dirga?" tanya Eliandra pada Ussy.


Eliandra adalah adiknya Dirga yang sengaja datang bersama Mamanya karena ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan oleh sang kakak.

__ADS_1


"Belum, Mbak baru beberapa bulan," sehat Ussy.


"Kakak aku gak pernah jahat kan sama kamu? Aku harap sih tidak," ucap Eliandra.


"Tidak. Pak Dirga adalah majikan yang baik."


Athalia tersenyum lalu membuka kulkas yang ada di samping Eliandra!


"Mau apa, Bu? Mau saya buatkan minum lagi?" ucap Ussy.


"Tidak. Saya mau masak makanan kesukaan Dirga. Kamu udah masak belum?" tanya Athalia.


"Belum, Bu biasanya Ussy masak agak sorean. Buat makan malam," ucap Ussy.


**********


Di kediaman Randy.


"Ma bentar lagi acara tujuh bulanan kak Mawar ya?" ucap Nasya.


"Iya makanya ini Mama lagi siap-siap," ucap Ratu.


"Siap-siap? Bukannya masih satu bulan lebih lagi?" ucap Nasya.


"Tepatnya empat puluh dua hari lagi. Mama dan Papa mau mengadakan acara syukuran dan pesta besar-besaran untuk menyambut kehadiran bayi itu," ucap Ratu.


"Harus ada pesta juga? Apa gak terlalu berlebihan?"


"Selama kita mampu gak ada kata berlebihan yang penting kita sudah menjalankan syariat utamanya yaitu syukuran," ucap Ratu.


"Semacam pengajian gitu ya, Ma?" tanya Nasya lagi.


"Iya, nanti kamu akan tahu setelah acaranya di langsungkan," ucap Ratu.


********


Di suatu tempat.


"Mamaku sudah datang. Nanti sore kamu ikut aku ya, aku mau memperkenalkan kamu sama Mama," ucap Dirga pada Michelle.


"Iya kah? Cepat sekali?" ucap Michelle.


"Karena aku udah gak sabar pengen ...." Dirga menghentikan ucapannya.


"Pengen apa?" Michelle menatap Dirga dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Unboxing kamu," bisik Dirga dengan senyuman penuh arti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2