
"Maaf semuanya, sepertinya aku harus segera kembali tiba-tiba ada urusan mendadak," ucap Michelle pada orang-orang yang masih berkumpul di sana.
"Acaranya belum selesai lho, Chelle," ucap Randy.
"Iya, kamu belum mencicipi makanan yang sudah kami sediakan," ucap Aby.
"Maaf ya tapi aku harus pergi, ini mendesak sekali," ucap Michelle.
"Belum apa-apa udah pergi aja tapi ya udah lah urusan pribadi lebih penting," ucap Mawar sembari berjalan ke arah mereka.
"Tante Ratu, sekali lagi selamat ulang tahun ya. Saya permisi," ucap Michelle.
"Iya, terima kasih ya sudah datang," ucap Ratu.
"Mari aku antar kamu pulang," ucap Dirga.
"Gak usah, aku sendiri saja," ucap Michelle.
"Gak bisa Michelle, kamu pergi sama aku jadi pulangnya juga harus sama aku. Aku gak mau dicap sebagai laki-laki yang gak bertanggungjawab, aku bawa kamu pergi dari rumah kamu tapi aku biarin kamu pulang sendiri, gak bisa, aku gak bisa seperti itu," ucap Dirga.
"Aaah bikin iri," ucap Nasya.
"Ya Tuhan, sisakan satu laki-laki seperti Mas ganteng untuk aku," sambung Nasya.
Semua orang di sana menatap Nasya yang terlihat begitu kagum pada Dirga.
"Kenapa pada ngeliatin aku kayak gitu?" ucap Nasya saat sadar orang-orang di sana menatapnya aneh.
"Kayak cuma Dirga aja laki-laki paling sempurna," ucap Aby.
Michelle tersenyum melihat Aby yang terlihat iri pada Dirga.
"Emang Mas ganteng sempurna. Iya gak, Kak Michelle?" ucap Nasya.
"Emm ... aku rasa gak ada laki-laki yang sempurna sih tapi kalau menurut kamu Mas Dirga ini sempurna, menurut aku juga sempurna," ucap Michelle.
"Ya udah ya semuanya, kita pergi duluan," ucap Dirga.
"Hati-hati, jangan diajak belok ke hotel dulu. Anak orang tuh," ucap Aby.
"Terserah aku mau bawa Michelle ke manapun juga. Selama orangnya mau, gak ada masalah kan," ucap Dirga sembari pergi meninggalkan tempat itu!
"Mawar, ini Mama bawakan air minum untuk kamu. Kamu pasti haus," ucap Marisa sembari menyodorkan segelas air minum pada Mawar.
Mawar menatap Marisa lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot, Ma kalau haus aku bisa ngambil sendiri," ucap Mawar.
"Gak repot sayang, ini minum!" Marisa semakin mendekatkan gelas itu pada Mawar.
Saat Mawar hendak menerima gelas itu dan hampir menggenggamnya dengan sengaja Marisa menjatuhkan gelas yang ia pegang.
"Ya ampun Mawar, kalau kamu memang gak mau menerima pemberian Mama seharusnya tidak dijatuhkan seperti ini," ucap Marisa.
"Iya, tinggal terima terus letakkan di atas meja. Apa susahnya sih? Kalau gini kamu menyakiti perasaan Mama," ucap Jingga.
Merasa dirinya sedang dipermalukan Mawar langsung pura-pura pusing untuk membalikkan keadaan.
"Aduh, pusing sekali," ucap Mawar sembari sempoyongan dengan tangannya yang menegangi kepalanya.
"Mawar, ya ampun sayang." Dengan sigap Aby merangkul Mawar agar tak sampai terjatuh.
"Maafkan aku, Ma bukannya aku gak mau nerima minum yang Mama ambilkan tapi tiba-tiba kepala aku pusing hingga akhirnya tanpa sengaja aku menjatuhkan gelas itu," ucap Mawar.
"Gak usah minta maaf, Nak. Kamu tidak sengaja menjatuhkan gelas itu," ucap Mahendra.
"Lain kali jangan emosi dulu. Lihat tuh Kak Mawar lagi pusing lagian gak mungkin Kak Mawar melakukan itu pada orang tua. Kak Mawar orangnya sangat menjunjung tinggi etika baik," ucap Nasya.
Marisa dan Jingga saling menatap, terlihat mereka kesal karena gagal mempermalukan Mawar.
"Rupanya anak kampung itu pintar berakting juga," batin Jingga.
"Dirga, turunin aku di sini saja," ucap Michelle.
"Di sini? Ini masih jauh lho ke rumah kamu," ucap Dirga sembari menepikan mobilnya.
"Aku gak mau pulang ke rumah, aku mau ketemu teman," ucap Michelle berbohong.
"Serius?" Dirga menatap Michelle.
"Ya. Lihat perempuan yang berdiri di depan gang itu." Michelle mengarahkan jari telunjuknya pada seorang wanita yang berdiri di tepi jalan dengan motor yang terparkir di sampingnya.
"Dia teman aku," sambung Michelle.
"Baik, kalau gitu silahkan turun. Aku langsung pergi lagi ya, ada urusan kantor yang harus aku urus," ucap Dirga.
"Silahkan, semangat kerjanya ya," ucap Michelle setelah turun dari mobil Dirga.
"Aku selalu semangat, demi kamu demi masa depan kita," ucap Dirga.
Michelle tersenyum manis ke arah kekasihnya.
__ADS_1
"Aku pergi ya," ucap Dirga.
Perlahan pemuda itu melajukan mobilnya dan mulai menjauh dari Michelle.
Setelah memastikan Dirga benar-benar sudah pergi. Michelle tak menghampiri perempuan yang sedang berdiri di sebrang jalan itu, Michelle pergi ke tempat lain dengan menumpangi taksi yang kebetulan lewat di sana.
Tak butuh waktu lama, hanya sepuluh menit dari titik awal ia menaiki taksi itu, kini Michelle sudah tiba di depan rumah mewah milik Mahendra.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Michelle pada sopir taksi itu.
"Terima kasih kembali," ucap sopir taksi itu lalu mulai pergi.
Michelle menatap pagar besi yang menjulang tinggi itu, ia nampak sedang memikirkan bagaimana cara masuk ke dalam rumah itu sementara sekeliling rumah itu dilindungi oleh pagar besi yang menjulang tinggi.
"Gak mungkin aku lewat depan. Orang-orang yang melihatku pasti curiga," batin Michelle.
Michelle pun melipir ke samping rumah tapi tak menemukan jalan masuk ia pun lanjut ke belakang rumah dan ternyata tembok tinggi melindungi bagian belakang rumah itu.
Michelle yang pantang menyerah itu pun mencoba mencari cara agar ia bisa masuk ke dalam rumah itu. Ia pun melihat pohon besar di dekat tembok itu.
"Ternyata keberuntungan masih berpihak padaku," batin Michelle lalu ia segera memanjat pohon besar itu dan setelah sampai di atas ia berjalan di bibir tembok itu untuk sampai di balkon lantai dua rumah itu!
Michelle pun melompat ke balkon itu dan akhirnya ia berhasil masuk ke dalam rumah milik Mahendra! Kini ia sedang mencari jendela yang bisa ia buka untuk dijadikan pintu masuknya!
Setelah berusaha membuka jendela, akhirnya ia berhasil dan ia pun langsung mencari kamar Mahendra!
Dengan cepat, Michelle membuka semua pintu kamar dan menggeledah isinya untuk mencari apa yang Mawar inginkan.
"Di mana tempat penyimpanan surat-surat berharga itu?" batin Michelle.
Setelah menggeledah beberapa kamar. Michelle tak juga menemukan apa yang ia cari hingga akhirnya ia sampai di ruangan tempat Mahendra bekerja.
"Sepertinya ini ruang kerja, mungkin sertifikat itu ada di sini," ucap Michelle didalam hatinya.
Michelle pun langsung menggeledah ruangan itu.
Di luar rumah Mahendra.
Mahendra dan keluarganya sudah tiba di rumahnya, mereka langsung turun dari mobilnya setelah mobilnya terparkir di halaman rumah mereka!
"Hari ini Papa gak ke kantor?" tanya Marisa sembari terus berjalan.
"Tidak, hari ini Papa kerja di rumah," sahut Mahendra.
Dari celah gordyn yang tidak tertutup sempurna, Michelle melihat sang pemilik rumah sudah tiba di rumahnya dan kini mereka sedang berjalan memasuki rumah.
__ADS_1
"Sial, mereka sudah tiba di sini," batin Michelle.
Bersambung