
Pagi hari Mawar sudah rapi dan sudah siap untuk pergi. Hari ini dirinya akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Haris.
Dirinya tak tega melihat istrinya Haris yang ikut tersiksa karena dirinya tidak kunjung datang ke rumah sakit untuk menemui orang yang sebenarnya sangat dia benci akan tetapi setelah memenangkan diri selama beberapa minggu. Mawar mulai bisa menerima semua kenyataan bahwa dirinya memang anak dari seorang penjahat yang sudah memberikan luka seumur hidupnya.
"Bu, Ma, aku titip anak-anak. Aku mau ke rumah sakit," ucap Mawar.
"Kamu mau menemui Haris?" tanya Bu Marisa.
"Iya. Aku tidak bisa membiarkan mamanya Fredy ikut tersiksa karena aku yang tidak datang untuk menemui Pak Haris," ucap Mawar.
"Pergilah, Nak! Temui dia dan maafkan dia setulus hatimu. Ibu tahu kamu tidak akan membiarkan orang lain tersiksa karena sifat keras kepalamu itu," ucap Bu Ratna.
"Aku sudah mengumpulkan kesabaran. Aku janji aku tidak akan marah-marah pada laki-laki itu, aku tidak akan berteriak padanya," ucap Mawar lagi.
"Aku akan pergi bersama kamu," ucap Aby.
"Kamu gak ke kantor?" tanya Mawar.
"Ke kantor tapi nanti, setelah pulang dari rumah sakit," sahut Aby.
"Kamu takut aku mengamuk di sana? Aku tahu kamu takut," ucap Mawar.
Aby terdiam karena yang dikatakan oleh Mawar seratus persen benar. Setelah kejadian Mawar menyerang Haris waktu itu, Aby memang selalu ketakutan saat Mawar pergi sendirinya, dia takut Mawar melakukan hal yang sama yang dapat membahayakan dirinya.
*******
Di kediaman Athalia.
"Aaaaa! Aku hamil! Aku hamil!" seru Michelle sembari melompat-lompat dengan tangan yang masih memegang alat tes kehamilan yang hasilnya positif.
"Eh, eh. Apa yang kamu lakukan? Jangan melompat-lompat seperti ini!" Dirga langsung menangkap Michelle dan memeluknya agar istrinya itu menghentikan gerakannya.
"Aku hamil, aku hamil, Mas. Lihatlah," ucap Michelle seraya memperlihatkan alat tes kehamilan bergaris dua itu penuh gembira.
"Jangan melompat-lompat lagi. Bahaya," ucap Dirga sembari mengambil alih alat itu dari tangan Michelle.
Seketika Dirga tersenyum lebar saat melihat alat tes itu. Dia menatap Michelle penuh kebahagiaan lalu memeluk Michelle dengan sangat erat.
"Alhamdulillah, akhirnya aku akan menjadi ayah. Terima kasih, Sayang," ucap Dirga.
"Aku hamil, Mas." Michelle mencium Dirga beberapa kali hingga membuat Dirga terheran-heran dibuatnya.
"Ada apa, pagi-pagi sudah buat keributan? Bukannya sarapan malah heboh berduaan," ucap El yang berdiri di ambang pintu kamar Dirga dan Michelle.
Seketika Michelle menghentikan aksinya dan mereka berdua pun melerai pelukannya. Dirga dan Michelle menatap El dengan senyum mesem di bibirnya.
"Kalian seperti pengantin baru saja. Bilangnya kakak gak romantis lalu apa yang aku lihat sekarang ini," ucap El.
"Kakakmu hamil," ucap Dirga pada El.
"Apa! Hamil? Aaaa, kakak." El langsung masuk ke dalam kamar Dirga lalu langsung memeluk Michelle.
"Selamat, Kak," ucap El sembarangan memeluk Michelle.
__ADS_1
"Gak adik, gak mama kalau ada apa-apa pasti yang didahulukan Michelle dulu," ucap Dirga.
"Aaah, kakak cemburu terus bawaannya. Sini peluk aku dan sekalian gendong aku sampai ke ruang makan," ucap El sembari memeluk Dirga dari belakang lalu tanpa aba-aba dia langsung menaiki punggung sang kakak.
"Eh. Ya ampun, yang hamil Michelle kenapa kamu yang minta digendong?" ucap Dirga sembari menyeimbangkan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh.
Michelle hanya tertawa kecil lalu berjalan mengikuti Dirga dari belakang. Dalam hatinya, dia begitu bahagia karena kali ini dirinya benar-benar hamil.
"Kalian ini ada-ada saja," ucap Athalia saat melihat Dirga yang berjalan dengan menggendong El.
"Ma, kak Michelle hamil," ucap El setelah Dirga menurunkannya di dekat meja makan.
"Mama sudah tahu. Dari kemarin mama sudah tahu kalau kakak kamu hamil," sahut Athalia.
"Mama benar, ternyata aku beneran hamil," ucap Michelle.
"Mama bilang juga apa. Duduklah dan ayo kita sarapan!" titah Athalia pada anak-anaknya.
"Kayaknya sebentar lagi Ussy akan beralih profesi nih," ucap Ussy.
"Maksud kamu apa?" tanya El.
"Setelah bayi itu lahir Ussy pasti jadi babysitter untuk Dirga junior," sahut Ussy.
"Gak, nanti kamu fokus saja sama kuliah kamu," ucap Dirga.
"Pak. Ussy akan fokus dalam kuliah tapi juga Ussy akan tetap bekerja pada Anda," ucap Ussy.
"Wah asyik nih sarapan bareng kakak. Udah lama kita gak makan bersama, Kak," ucap Ussy sembari duduk di kursi itu.
Mereka pun sarapan dengan penuh kebahagiaan. Dirga dan Michelle saling curi-curi pandang saat ada kesempatan.
*******
Di rumah sakit.
Mawar sudah tiba di rumah sakit tempat Haris dirawat, dengan cepat dia berjalan menuju ruangan tempat papanya dirawat. Sebenarnya dia merasa ada sesuatu yang mengganggu hatinya tetapi dirinya juga tidak tahu apa yang mengganggu hati dan pikirannya.
Saat ini yang ada dalam pikiran Mawar adalah memperbaiki semua yang terjadi sebelumnya dan hidup damai di waktu yang akan mereka lewati. Setelah berpikir semalaman Mawar menyadari bahwa dirinya harus bisa menerima Haris dan keluarganya meski sakit hatinya belum sepenuhnya pulih.
Setibanya di depan ruangan itu. Mawar mengetuk pintu sebanyak beberapa kali lalu langsung masuk ke dalam ruangan itu. Dia berjalan menghampiri Pak Haris yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, ditatapnya laki-laki yang sudah mulai menua itu dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi apa pun.
"Mawar, kamu datang?" ucap istrinya Haris. Mawar hanya tersenyum tipis pada perempuan paruh baya itu tanpa mengatakan sesuatu apa pun.
"Mawar," ucap Pak Haris dengan suara halus.
"Ya, Pak. Saya sudah datang, cepat sembuh, jangan biarkan orang-orang yang mencintai Anda tersiksa dengan kondisi Anda sekarang ini," ucap Mawar dengan suara pelan.
"Maafkan papa," ucap Haris lagi sementara istrinya dan Fredy hanya diam memberikan mereka waktu untuk bicara.
"Saya sudah memaafkan, Anda sejak lama."
"Kamu mau menerima saya sebagai papamu? Tolong, Mawar," ucap Pak Haris sembari meraih tangan Mawar dengan gerakan pelan lalu menggenggam jemarinya.
__ADS_1
Mawar tersenyum tipis lalu mengangguk. Melihat kondisi Haris saat ini membuatnya tak tega jika harus mengatakan tidak.
"Papa, cepat sembuh agar kita bisa berkumpul bersama," ucap Mawar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih. Boleh papa memelukmu? Sebentar saja," ucap Haris lagi.
"Tentu saja." Mawar membungkukkan tubuhnya dan memeluk Pak Haris yang masih terbaring di sana.
Istrinya Haris, Fredy dan Aby yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia melihat Mawar dan Haris sudah dekat. Mereka bahagia akhirnya Mawar dapat memaafkan Haris bahkan dia mau mengakui Haris sebagai ayahnya.
"Terima kasih. Maafkan papa, maafkan papa," ucap Haris berbisik di telinga Mawar.
"Saya sudah memaafkan, Papa," sahut Mawar.
Haris tersenyum lalu mengecup pipi Mawar setelah itu tangannya yang sedang memeluk Mawar jatuh begitu saja dan tak ada pergerakan lagi dari laki-laki itu. Mawar mengangkat tubuhnya karena merasakan Pak Haris tak lagi bersuara dan tangannya pun sudah tak memeluknya lagi.
"Pak Haris," ucap Mawar sembari menatap wajah laki-laki itu.
"Pak Haris." Mawar berucap dengan nada yang sedikit dinaikkan dan sembari menggoyangkan pipi laki-laki tua itu.
Semua orang yang di sana langsung menghampiri Pak Haris dan Mawar. Mereka ingin memastikan kondisi Pak Haris yang tak menyahut saat Mawar memanggil namanya.
"Papa! Pa!" seru istrinya Haris.
Fredy segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan tak lama seorang dokter datang ke ruangan itu. Dokter itu langsung memeriksa denyut nadi Pak Haris dan raut wajah sedih pun terlihat diwajahnya.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un. Pasien sudah meninggal dunia," ucap Dokter itu.
Bak disambar petir di siang bolong tiba-tiba saja Mawar merasa seperti ada yang menghantam jantungnya. Dia merasa sesak seolah napasnya terhenti saat itu juga, air matanya langsung meluncur dari sudut matanya dan sudah tak terbendung lagi.
"Pak Haris, bangun! Pak Haris bangun!" Mawar berteriak sembari menggoyangkan tubuh laki-laki tua itu.
"Papa jangan tinggalkan aku, Pa. Papa bangun, Pa jangan bercanda," ucap Fredy yang juga berusaha membangunkan papanya yang sudah dinyatakan meninggal oleh dokter itu.
Istrinya Haris menangis karena kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Dia tak dapat berkata-kata lagi menyaksikan suaminya terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.
Aby yang juga ada di dalam ruangan itu ikut merasakan kesedihan melihat kejadian itu. Namun sebisa mungkin Aby bersikap tenang dan berusaha menenangkan Mawar yang kini menangis histeris.
"Pak Haris, bangun. Saya sudah datang dan saya sudah memaafkan Anda bahkan saya bersedia untuk menjadi anak kandung Anda tapi kenapa Anda malah pergi meninggalkan saya? Bangun Pa. Dengarlah saya memanggilmu dengan sebutan papa. Bangunlah," ucap Mawar sambil terus menangis.
Mawar tak melepaskan pelukannya dari laki-laki itu. Penyesalan hadir dihatinya karena dirinya sudah mengulur waktu untuk menemui Haris padahal dirinya sudah memaafkan laki-laki itu sejak lama.
"Mawar, dia sudah tenang. Ikhlaskan kepergiannya," ucap Aby sembari mengelus punggung Mawar.
"Seharusnya aku tidak datang ke sini. Kalau aku tidak ke sini mungkin sampai saat ini dia masih hidup," ucap Mawar tanpa melepaskan pelukannya.
"Dia sudah ingin pergi sejak lama tapi dia menunggumu. Dia menunggu putrinya datang dan memeluknya," ucap istrinya Haris sembari mengusap punggung Mawar.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, aku baru saja berharap bisa hidup berkumpul bersama setelah ini tapi nyatanya seperti ini. Kenapa? Kenapa harus pergi secepat ini, aku baru saja ingin memulai hidup baru bersamanya," ucap Mawar.
Sementara itu Fredy hanya diam sambil terus menggenggam tangan sang ayah. Fredy tak berbicara apa pun karena dia tahu saat ini akan tiba, saat dimana sang ayah akan pergi meninggalkan mereka dan juga dunia.
Bersambung
__ADS_1