
Setibanya di rumah sakit. Jingga langsung berlari mencari ruangan Mawar diperiksa oleh dokter, dia begitu mengkhawatirkan Mawar pasalnya adiknya itu tidak pernah pingsan sebelumnya.
Saat sedang berjalan menuju arah yang diberitahukan oleh petugas rumah sakit. Di lorong itu dia melihat Fredy dan mamanya, dia pun langsung berjalan menghampiri mereka.
"Di mana Mawar?" tanya Jingga pada Fredy.
"Dia di dalam," sahut Fredy.
"Apa kata dokter? Apa sudah bisa ditemui?" tanya Jingga lagi.
"Sudah. Di dalam ada Aby," jawab Bu Haris.
"Ya udah ayo kita masuk. Kita lihat Mawar sama-sama," ucap Jingga sembari memasuki ruangan itu. Jingga langsung berjalan mendekati Mawar.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai pingsan, apa yang dikatakan oleh dokter? Mawar baik-baik saja 'kan?" Jingga langsung menghujani Aby dengan pertanyaan.
"Tenang. Tenang, Mawar baik-baik saja. Dia hanya kelelahan," sahut Aby.
"Kelelahan? Bukannya selama ini dia sering melakukan pekerjaan yang menyita tenaga. Di mana dokternya? Aku ingin menanyakan yang lebih pasti," ucap Jingga lagi.
"Aku gak apa-apa, Jingga. Kata dokter, aku hanya perlu istirahat di rumah dan tidak harus dirawat di rumah sakit," jelas Mawar.
"Kelelahan, suasana hati dan pikiran Mawar sedang tidak baik-baik saja. Karena itulah Mawar pingsan ditambah lagi dengan perut yang kosong membuat Mawar semakin melemah," jelas Aby.
"Tadi pagi kamu tidak sarapan, siang gak makan dan sekarang sudah mau maghrib gini masih belum makan. Besok-besok jangan gini lagi. Kamu membuat semua orang khawatir," ucap Jingga pada Mawar.
"Maaf." Hanya kata itulah yang bisa Mawar katakan.
"Mawar. Aku gak bisa berkata apa-apa lagi setelah semua ini terjadi, aku hanya ingin agar kamu memaafkan papaku dan juga mengikhlaskan kepergiannya sebenarnya aku ingin sekali menjadi kakakmu tapi itu terserah kamu, aku tidak bisa memaksamu untuk mengakui aku sebagai kakakmu," ucap Fredy.
"Semua terserah padamu, Mawar tapi kami akan tetap menjalankan amanah papamu yaitu menerima kamu sebagai keluarga kami. Mama akan selalu menganggap kamu sebagai anak mama jika kamu tidak keberatan tolong panggil saya dengan sebutan mama seperti yang diinginkan oleh papamu," ucap Bu Haris.
"Mama dan kakak. Aku akan menjadi bagian dari keluarga kalian, maaf karena aku terlalu keras kepala hingga semua ini terjadi. Kalau saja aku datang lebih awal mungkin papa masih bisa disembuhkan," ucap Mawar.
"Tidak. Ini bukan karena kamu tapi Tuhan yang telah mengatur semua ini. Papa memang sudah lama sakit dan belakangan ini terkena komplikasi," ucap Bu Haris.
"Bisa kita pulang sekarang? Orang-orang rumah sedang menunggu Mawar dalam kepanikan," ucap Jingga.
__ADS_1
"Ya. Kita pulang sekarang," ucap Aby.
"Mawar, boleh mama memeluk kamu? Sebentar saja," ucap Bu Haris.
"Tentu saja." Mawar tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan ibu barunya.
Bu Haris pun memeluk Mawar dengan erat dengan hati yang penuh rasa bahagia. Meski dirinya sempat merasa tersakiti oleh penghianatan yang dilakukan oleh sang suami tapi menurutnya Mawar tidak bersalah atas apa yang sudah terjadi karena Mawar pun tak pernah menginginkan dirinya terlahir dari hubungan tak resmi itu.
Mereka semua pun keluar dari ruangan itu dengan berjalan beriringan sementara Aby tak mau membiarkan istrinya berjalan hingga ke tempat parkir. Dia memangku tubuh Mawar dan membiarkan orang-orang menatapnya aneh.
"Padahal aku bisa jalan sendiri," ucap Mawar dengan tangannya yang dia kalungkan di leher Aby.
"Aku tahu tapi aku tidak mau kamu menghabiskan tenaga untuk berjalan kaki," ucap Aby.
Jingga yang berjalan di belakang Aby hanya tersenyum bahagia melihat mereka. Fredy dan Bu Haris pun ikut bahagia melihat mereka. Setelah semua kesedihan menghantam kehidupan Mawar semoga setelah ini tidak ada lagi badai derita yang menghampiri kehidupan Mawar.
"Semoga papa tenang di sana. Kami di sini bahagia dan akan berusaha membahagiakan Mawar seperti yang papa inginkan," batin Bu Haris.
"Semua berkat kamu dan teman-teman yang lain. Terima kasih," ucap Fredy pada Jingga.
"Bukan berkat aku atau yang lainnya. Semua terjadi karena Mawar memang sudah membuka hatinya untuk kalian. Kalau saja kamu tahu aku ini siapa, mungkin kamu tidak akan percaya dengan kedekatan aku dengan Mawar," ucap Jingga.
"Iya. Aku kakaknya Mawar dan juga mantan pacarnya Aby dan yang paling gila, dulu aku pernah sangat jahat pada Mawar tapi lihatlah sekarang. Hubungan kami baik-baik saja karena dia memaafkan aku," ucap Jingga.
"Pernah sangat jahat? Kamu mantan pacar Abymana? Kok bisa gitu?" tanya Fredy sambil terus berjalan.
"Itulah Mawar, sejahat apa pun orang lain padanya. Dia akan tetap memaafkan orang itu meski butuh waktu lama. Mamaku membuang Mawar karena Mawar bukan anak papaku dan setelah dua puluh tahu Mawar dijemput dari orang tua angkatnya dan dinikahkan dengan Aby karena waktu itu aku tidak mau menikah dengan Aby. Aku menyesal karena pernah berbuat jahat pada Mawar, kalau aku tahu seberat ini beban hidupnya mungkin aku tidak akan pernah memberikan siksa tambahan untuk Mawar," ucap Jingga dengan penuh penyesalan.
"Semua sudah berlalu. Semoga Mawar juga menerima aku sebagai kakaknya," ucap Fredy.
"Semoga saja," ucap Jingga.
*******
Di kediaman Mitha.
Saat tiba di rumah, Dirga dan Michelle langsung disambut oleh tangisan baby Samar. Mereka pun segera bergegas mencari di mana bayi itu menangis.
__ADS_1
"Aduh kenapa keponakanku yang manis menangis gini?" ucap Michelle setelah melihat Samar menangis dalam pangkuan Roger.
"Gak tahu, nih dari tadi nangis terus. Kayaknya dia gak mau sama kakak deh," ucap Roger.
"Kak Michaela kemana?" tanya Dirga sembari mencari-cari sosok Michaela.
"Lagi mandi," sahut Roger.
Michelle mendekati baby Samar lalu berusaha meraih pipinya. Namun, tangannya ditepis oleh Dirga dan akhirnya dirinya tak sampai menyentuh pipi si bayi. Michelle pun kesal karena perlakuan Dirga, dia mengerucutkan bibirnya setelah memelototi sang suami.
"Gitu aja marah. Kamu baru saja tiba setelah seharian di luar, bisa saja tangan kamu ada kumannya. Ayo mandi, ganti baju habis itu baru main bersama Samar," ucap Dirga.
"Suaminya aja tahu apa yang terbaik untuk bayi, lah istrinya ceroboh banget," ucap Roger.
"Hah! Emang kalian pada pelit. Awas aja kalau bayi aku udah lahir, kalian gak boleh menyentuhnya sedikit pun," ketus Michelle yang merasa kesal. Michelle pun langsung berjalan memasuki kamarnya dengan melangkah, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Michelle hamil?" tanya Roger pada Dirga.
"Gagal deh mau bikin surprise. Iya, Michelle hamil," sahut Dirga.
"Alhamdulillah. Selamat ya," ucap Roger sembari terus menimang putranya.
"Terima kasih. Aku masuk dulu ya, kayaknya mulai sekarang aku punya baby besar yang manja," ucap Dirga sembari tertawa kecil.
Akhir-akhir ini Michelle memang sangat manja pada Dirga. Setelah tahu bahwa Michelle hamil, Dirga pun tak heran lagi kenapa sikap istrinya itu berubah drastis.
"Jaga baik-baik adikku itu. Awas aja kalau kamu bikin dia nangis," ucap Roger pada Dirga yang sudah melangkah pergi meninggalkan dirinya.
"Ada apa kamu ini, Mas teriak-teriak gitu?" ucap Michaela yang baru keluar dari kamarnya.
"Michelle hamil," jelas Roger.
"Apa! Alhamdulillah akhirnya dia hamil," ucap Michaela penuh bahagia.
"Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kita. Sebentar lagi akan ada dua cucu yang akan mengganggu mama istirahat," ucap Roger.
Michaela tersenyum sembari mengambil alih baby Samar dari pangkuan sang suami. Dia membawanya duduk di kursi lalu memberinya susu yang sudah dia buatkan sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung