Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 232


__ADS_3

Perlahan Michelle mendekati Mawar laku mengusap pundaknya!


"Aku tahu ini berat buat kamu karena aku sendiri tidak yakin aku kuat jika aku ada di posisi kamu saat ini tapi kita tidak bisa mengubah takdir yang sudah Tuhan tuliskan untuk kita. Hadapi semua ini dengan ikhlas, aku yakin kamu pasti bisa," ucap Michelle.


"Aku tidak tahu harus apa setelah ini. Kenapa aku begitu tidak beruntung dalam keluarga? Seolah semesta tidak ingin melihat aku bahagia, seumur hidupku baru berapa bulan ini aku merasakan kebahagiaan dalam lengkapnya keluarga dimana ada seorang Ayah, Ibu dan seorang kakak. Kenapa waktu kebahagiaanku hanya sebentar saja? Sekarang muncul lagi masalah baru, kenyataan yang begitu menyakitkan bahkan aku ...." Mawar tak dapat melanjutkan ucapannya karena terlalu sesak dan tangisnya yang deras membuatnya kesulitan untuk berbicara.


"Tenang, Mawar. Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaanmu, kita sebagai ciptaannya hanya bisa menunggu waktu itu tiba ... menunggu sambil berdoa," ucap Michelle lagi.


Mawar terisak lalu Michelle langsung memeluknya erat! Diusapnya punggung Mawar dengan lembut agar wanita dua anak itu bisa merasa lebih tenang.


**********


Di kantor Abymana.


"Selamat siang, Pak mau bertemu dengan siapa?" tanya Dirga.


"Aby ada di tempatnya?" tanya Pak Mahendra.


"Ada. Silahkan masuk," ucap Dirga.


Tok!


Tok!


Dirga mengetuk pintu ruangan Aby lalu langsung membukanya!


"Pak Mahendra datang untuk menemui mu," ucap Dirga.


"Ada apa, Pa? Masuklah," ucap Aby yang saat itu sedang duduk di kursi kebesarannya.


Pak Mahendra masuk ke dalam ruangan itu! Sementara itu Dirga memilih untuk tidak ikut campur urusan mereka, ia membiarkan Pak Mahendra masuk dan ia sendiri keluar sambil menutup pintu!


"Aby, Mawar sudah tahu semuanya," jelas Pak Mahendra.


"Apa!" Aby terkejut saat mendengar pernyataan Papa mertuanya itu.


"Mawar datang ke tempat penyekapan itu dan dia mendengar pembicaraan Papa dan Michelle," ucap Pak Mahendra lagi.


"Gawat. Dimana Mawar sekarang? Dia tidak boleh sendiri dia tidak boleh stress," ucap Aby.


"Sekarang dia sama Michelle. Mawar sangat marah karena kita sudah membohonginya," ucap Pak Mahendra.


"Aku harus cari dia," ucap Aby sembari berjalan keluar dari ruangannya.


"Cepat temukan Mawar, dia pasti sangat sedih."


"Lebih baik sekarang Papa telpon Mama dan katakana kalau Mawar pulang, Mama jangan temui dia dulu. Saat seperti ini pasti Mawar tidak berpikir dengan jernih, aku takut Mawar akan marah marah pada Mawar," jelas Aby sembari terus berjalan.


Mahendra mengangguk pelan lalu segera mengikuti Aby dari belakang!

__ADS_1


********


"Hai Eliandra, Pacarku," ucap Fredy yang saat ini sedang berada di depan gerbang kampus El.


"Ngapain kamu di sini?" tanya El sambil berjalan menghampiri Fredy.


"Aku ingin bertemu dengan pacar aku. Aku kangen berat sama gadis yang bernama Eliandra," ucap Fredy.


"Pacar dari mana? Memangnya aku pernah menerima cintamu?" ucap El.


"Mau tidak mau harus mau, siap tidak siap harus siap."


"Pemaksaan banget. Untung ganteng kalau tidak sudah aku cakar-cakar kamu," celetuk El.


Fredy tertawa kecil lalu meraih tangan El! "Untung aku ganteng jadi gak kena cakar," ucapnya sembari memperhatikan kuku-kuku El.


"Diamlah!" El menarik tangannya. "Mulai sekarang kita pacaran tapi ingat, jangan macam-macam kalau kamu macam-macam akan aku laporkan pada kakak aku."


"Tidak akan macam-macam paling satu macam saja," ucap Fredy.


"Ya udah kita putus lagi aja sekarang," ketus El.


"Dih, baru jadian udah putus lagi saja," ucap Nasya.


"Kita pulang yuk!" ajak Nasya.


"El akan pulang bareng aku," ucap Fredy.


"Kalau gitu aku yang pulang sama kamu," ucap Fredy.


"Mobil kamu gimana?" tanya El.


"Orang-orangku akan datang untuk membawa mobilku pulang."


"Ada aja alasannya," ucap Nasya. "Udahlah aku pulang duluan," sambung Nasya lagi.


Fredy tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya pada El.


"Ish, buaya," ucap El.


"Allahuakbar, aku ganteng gini dibilang buaya padahal kakiku cuma dua sedangkan kaki buaya ada empat," ucap Fredy santai.


"Dahlah, pulang." El masuk ke dalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Aku yang akan menyetir," ucap Fredy sembari nyelonong masuk ke dalam mobil.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" ucap El sembari menggeser duduknya.


Fredy hanya tersenyum melihat El yang berusaha pindah ke kursi di sebelahnya tanpa turun dari mobil.

__ADS_1


*********


Setibanya di rumah, Mawar memarkirkan mobilnya di semarang tempat, dia berlari melewati tiga bodyguardnya!


"Mbak! Mbak Mawar kenapa?" ucap Frans.


"Mbak, apa ada yang terjadi?" ucap Joe.


"Mbak Mawar bicaralah," ucap Salman.


Mereka bertiga terus bertanya pada Mawar sedangkan Mawar terus berlari menuju kamarnya!


"Kamu sudah pulang?" tanya Bu Ratna tapi tak dihiraukan oleh Mawar.


Mawar menutup pintu dengan sedikit keras lalu menguncinya dari dalam!


Mawar menyandarkan tubuhnya di pintu dengan tangisnya yang tak pernah surut.


"Apa salahku sehingga aku harus menerima ini semua? Ya Allah ini cobaan atau hukuman, kenapa rasanya begitu berat? Aku tidak sanggup, aku tidak kuat menerima semua kenyataan ini," ucap Mawar dalam hatinya.


Perlahan tubuh itu merosot ke bawah hingga akhirnya Mawar duduk di lantai.


Di luar kamar.


Bu Ratna terus mengetuk pintu kamar Mawar sambil terus meminta Mawar untuk membuka pintunya.


"Mawar, kamu kenapa, Nak? Buka pintunya Ibu mau bicara," ucap Bu Ratna.


"Ada apa, Bude?" tanya Marisa yang saat itu sedang menimang Aditya.


"Tidak tahu. Mawar pulang sudah dalam keadaan menangis dan dia tidak mau bicara sedikit pun," ucap Bu Ratna.


"Mawar! Ada apa, Sayang? Bicaralah sama Mama kalau ada masalah kita hadapi masalah itu bersama," ucap Bu Marisa sambil mengetuk pintu kamar Mawar.


"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri dulu," ucap Mawar dari dalam kamar.


"Tapi, Mawar kami khawatir padamu," ucap Bu Ratna.


"Pergi dari sini, Bu tolong biarkan aku sendiri," ucap Mawar dengan suara khas orang sedang menangis.


Bu Marisa dan Bu Ratna saling bertatapan, mereka mengkhawatirkan Mawar tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


Mereka berdua langsung pergi karena takut Mawar akan menjadi marah dan akan semakin sedih.


Di kamar Mawar.


Mawar terus menangis sampai tak sadar bawa dirinya sudah mengacak-ngacak kamarnya hingga tak berbentuk seperti semula. Bantal berserakan dimana-mana, selimut dan sprei pun sudah tak berada di tempatnya lagi.


Kini Mawar duduk di lantai tepatnya di sudut tempat tidur itu, air matanya terus mengalir mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami selama ini seakan dunia tak ingin melihatnya bahagia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2