
Di rumah sakit tempat Mawar ditangani oleh tim medis.
Kini Mawar sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan tangan yang terpasang selang infus.
Aby duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Mawar sambil terus menatap istrinya yang mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya.
"Kenapa kamu membawaku ke sini, Mas?" tanya Mawar yang baru membuka matanya.
Aby menatap wajah Mawar, ia menggenggam tangan Mawar dengan lembut.
"Kamu terluka dan hampir kehabisan darah tapi sekarang kamu jangan khawatir karena dokter sudah melakukan yang terbaik untuk kamu," ucap Aby dengan suara lembut.
Mawar melihat lengannya yang tertutup perban. "Aku tidak apa-apa," ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Lengan kamu mendapat lima jahitan dan paha kanan kamu mendapat lebih dari sepuluh jahitan. Ini luka serius, Mawar."
"Bahkan aku sendiri tidak merasa sakit sedikit pun. Luka berdarah ini tidak dapat menyamai luka hatiku," ucap Mawar dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuknya.
"Aku sayang sama kamu, Mawar, aku cinta sama kamu, apa rasa cinta aku kurang sehingga tidak dapat menyembuhkan luka hatimu?" ucap Aby.
"Kamu gak ngerti perasaan aku, Mas. Cinta dari kamu sangatlah besar, aku bahagia karena memiliki suami seperti dirimu tapi cinta dari keluarga juga penting, aku ingin keluarga yang utuh, dimana di dalamnya ada seorang ayah, ibu, adik, dan kakak. Aku memang memiliki semua itu tapi mereka hanya keluarga palsu, aku hidup dengan ayah yang sebenarnya bukan ayahku dan aku hidup dengan kakak yang sebenarnya bukan kakakku."
"Mereka menyayangi kamu. Papa Mahendra menyayangi kamu meski kamu bukan anaknya."
"Aku ingin orang itu dihukum seberat-beratnya," ucap Mawar.
"Mereka akan dipenjara, sekarang Michelle sedang mencari bukti-bukti yang lebih agar bisa memenjarakan mereka," ucap Aby.
Mawar terus mengeluarkan air mata meski dirinya sudah mencoba membendung tangisnya itu.
"Jangan menangis lagi, air mata kamu sangat berarti jadi jangan buang-buang air mata itu," ucap Aby sembari mengelus pucuk kepala Mawar.
"Rasanya aku ingin mati saja. Aku gak tahan merasakan penderitaan seberat ini, aku gak sanggup, Mas," lirih Mawar.
"Jangan bicara seperti itu, kalau kamu tiada bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan anak-anak kita? Cukup kamu yang merasakan pahitnya hidup tanpa kasih sayang seorang ibu jangan biarkan anak-anak kita merasakan apa yang kamu rasakan. Anak-anak kita butuh kamu."
__ADS_1
Mawar mengusap air matanya lalu menelan ludahnya kasar, tak ada lagi kata yang terucap dari bibirnya. Hanya suara isak tangis saja yang terdengar saat itu.
*********
Di rumah sakit tempat Michelle membawa Haris.
Di salah satu ruangan rawat inap di rumah sakit itu. Michelle dan istrinya Haris sedang menunggu Haris yang masih lemah dan belum dapat berbicara sedikit pun.
Haris mengalami luka sobek pada bagian wajahnya dan mengalami luka lain yang cukup serius pada organ tubuhnya yang lain salah satunya adalah bagian kepribadiannya.
"Siapa kamu?" tanya Fredy yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Nak, kenapa kamu ke sini? Kamu masih harus dirawat di ruangan kamu," ucap istrinya Haris.
Karena Fredy juga terlibat perkelahian dengan Mawar, Fredy juga mengalami luka yang memerlukan perawatan dari dokter.
"Aku baik-baik saja, Ma," ucap Fredy sambil terus berjalan ke arah Michelle dan istrinya Haris.
"Kita sudah berkenalan, aku rasa kamu sudah tahu siapa aku," ucap Michelle.
"Saya adalah seorang penyidik, saya tidak mungkin salah dalam melakukan pekerjaan saya. Kalau tidak ada bukti, saya tidak akan ada di sini untuk menegakkan keadilan bagi klien saya," ucap Michelle.
"Siapa perempuan itu?" tanya Fredy.
"Namanya Mawar, dia anak dari Bu Marisa tapi bukan anak dari suaminya bisa jadi Mawar adalah anak laki-laki ini," ucap Michelle sembari menunjuk ke arah Haris.
"Mungkin juga Mawar adalah anak dari dua rekan Haris," ucap Michelle.
"Maksud kamu apa?" tanya istrinya Haris yang tak mengerti dengan perkataan Michelle.
"Dua puluh tiga tahun lalu Pak Haris Sitompul melakukan korupsi besar-besaran di perusahaan tempat dia bekerja sampai Pak Mahendra atau bosnya suami Anda hampir mengalami kebangkrutan tapi seiring berjalannya waktu Pak Mahendra mengetahui suami anda korupsi akhirnya dia memecat suami Anda secara tidak hormat. Merasa dirinya dihina dan dipermalukan di depan banyak orang, suami Anda menyimpan dendam hingga suatu hari suami Anda dan dua rekannya mendatangi rumah Pak Mahendra dan saat itulah mereka bertiga melecehkan istrinya Pak Mahendra sampai dia mengandung dan Mawar lah anak itu. Saya sudah menangkap dua rekan suami Anda dengan maksud untuk melakukan tes DNA dan mencari siapa ayah kandung Mawar sebenarnya tapi ternyata semua berjalan tidak baik. Suami Anda sulit untuk ditangkap dan terjadilah kejadian sekarang ini," jelas Michelle pada istrinya Haris dan juga Fredy.
"Itu tidak mungkin, suami saya tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu," ucap istrinya Haris yang tak percaya suaminya yang selama ini sangat baik dan selalu pengertian pada orang disekitarnya bisa melakukan kejahatan sekeji itu.
"Kadang kenyataan memang menyedihkan tapi inilah yang harus kalian jalani. Haris mungkin laki-laki baik dimata kalian tapi tidak selamanya orang baik berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Sekarang mungkin suami Anda sudah berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya tapi masa lalu datang dan melenyapkan semua kebaikan suami Anda," ucap Michelle.
__ADS_1
"Apa kamu akan memenjarakan papa saya?" tanya Fredy.
"Tentu saja. Dia harus menerima balasan atas apa yang dia lakukan," sahut Michelle.
"Aku tidak menyangka ini semua bahkan satu kali pun aku tidak pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi," ucap Fredy.
"Tolong jangan penjarakan suami saya jika memang suami saya pernah korupsi saya akan menggantikannya tapi tolong jangan penjarakan suami saya," ucap istrinya Haris.
"Maaf saya tidak bisa mengabulkan permintaan Anda menurut saya penjara adalah tempat yang terbaik daripada nanti suami Anda akan tiada di tangan Mawar," ucap Michelle.
*********
Di kediaman Athalia.
El tiba di rumahnya setelah di antara pulang oleh Salman, ia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa sedikit pun menyapa mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga!
"El, kamu dari mana?" tanya Athalia pada El.
"Abis main," sahut El sambil terus berjalan! El menutup pintu kamarnya sedikit keras hingga membuat Athalia terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullah, ada apa dengan anak itu?" gumam Athalia.
Athalia tak berniat bertanya pada El karena El tidak akan bicara saat dalam keadaan emosi seperti itu.
Di kamar El.
El menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap!
Ia memeluk bantal guling itu sambil terus menangis, ia kecewa karena ternyata keluarga Fredy bukanlah keluarga baik-baik.
Dirinya sudah sangat mencintai Fredy tapi kenyataan ini mengharuskan dirinya meninggalkan Fredy karena masa lalu papanya Fredy bisa membuat dirinya dan keluarganya merasa malu ditambah lagi ia merasa takut, takut suatu saat Fredy akan berlaku seperti papanya itu.
"Kenapa harus begini? Disaat aku sudah benar-benar cinta sama kamu ternyata kamu adalah anak dari seorang penjahat," batin El yang saat ini masih menangis. Dirinya merasa berat karena harus meninggalkan Fredy yang sudah ia cintai itu tapi disisi lain dirinya juga memikirkan nama baik keluarganya yang mungkin akan rusak jika dirinya masih berhubungan dengan Fredy.
Bersambung
__ADS_1