Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
276


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Pak Haris.


Di suatu tempat.


Di tepi danau itu Mawar berdiri sendiri sembari memandangi air danau yang jernih dan tenang. Hari ini dia pergi sendirian ke tempat itu sekadar untuk mencari kedamaian hatinya.


Di sana tak ada seorang pun manusia selain Mawar. Saat sedang ingin mencari ketenangan batin, dia memang selalu pergi ke tempat sepi dimana tidak ada satu orang pun yang dapat mengganggunya.


Dari sisi lain tempat itu. Fredy juga berada di sana, dia juga sering ke tempat itu saat hatinya sedang dilanda kesedihan. Fredy yang selalu terlihat kuat dimata orang lain selalu menumpahkan tangisnya dan mengeluarkan sisi rapuhnya di sini, di tempat ini.


Saat sedang berjalan menyusuri tepuan danau itu, tanpa sengaja Fredy melihat seorang perempuan yang berdiri di arah berlawanan dari tempatnya saat ini. Dia tidak melihat dengan jelas orang itu siapa tapi dari pakaiannya, dia tahu bahwa orang itu adalah seorang perempuan.


Fredy terus menatap perempuan itu karena takut orang itu berbuat sesuatu yang dapat membahayakan dirinya. Dirinya memang tidak mengenal perempuan itu tapi dirinya tidak mungkin membiarkan orang lain terluka di hadapannya sendiri.


"Aaaaaaaa! Aaaaaa!"


Saat sedang menatap orang itu tiba-tiba Fredy mendengar suara teriakan seorang perempuan. Dia tahu orang yang sedang ditatapnyalah yang berteriak.


Takut perempuan itu melakukan percobaan bunuh diri. Fredy pun berlari menghampiri perempuan itu! Dirinya harus mencegah perempuan itu untuk melukai dirinya sendiri.


"Aaaaaa! Kenapa hidupku seperti ini Ya Allah? Kenapa engkau tak membiarkan aku hidup tenang walau sebentar saja?" teriak Mawar yang merasa tempat itu adalah tempat sepi dan tidak akan ada orang yang mendengar semua keluh-kesahnya.


Dari belakang Mawar. Fredy menghentikan langkahnya dan berjalan perlahan saat dirinya tahu bahwa perempuan itu adalah Mawar. Dia juga mendengar teriakan Mawar barusan yang membuatnya menghentikan gerakan kakinya yang hendak mendekati Mawar.


Dari sana Fredy tetap diam dalam tatapan mata yang terus teetuju pada Mawar. Dia merasa penasaran apa yang sedang ingin Mawar luapkan di sana.


"Kenapa harus aku yang kau berikan coba sampai seberat ini ya Allah? Aku tidak sanggup lagi menjalani hidupku ini. Dulu aku sudah dibuang oleh orang tuaku dan secara tidak langsung aku juga sudah dijual pada laki-laki yang sekarang menjadi suamiku lalu sekarang ... baru aku bisa menerima Pak Haris tapi kau telah mengambilnya. Permainan apa yang sedang kau mainkan dalam hidupku? Mengapa kau begitu tega padaku? Kapan aku bahagia, kapan aku bisa hidup seperti mereka? Aku lelah terus dihadapkan dengan masalah yang menguras tenaga dan pikiranku." Mawar terus berbicara sendiri dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.

__ADS_1


"Berarti ucapan Jingga kemarin benar," batin Fredy yang sedari tadi terus memperhatikan Mawar dan mendengarkan semua ucapannya.


Mawar menangis dan perlahan duduk di atas rerumputan yang tumbuh di sana. Biasanya setelah meluapkan kesedihannya, dia akan merasa lega dan emosinya pun mereda. Perlahan Fredy melangkah mendekati Mawar, dia merasa saat inilah waktu yang tepat untuk dirinya bicara dengan Mawar dari hati ke hati.


"Kamu tahu ... semua orang pasti memiliki cobaan hidupnya masing-masing? Siapa yang dianggapnya istimewa, maka dialah yang akan diberikan cobaan yang berat," ucap Fredy sambil terus berjalan mendekati Mawar.


Mawar mengusap air matanya lalu menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang berbicara padanya. Dia terkejut karena ternyata Fredy ada di sana, setahunya selama ini jarang sekali ada orang yang datang ke tempat itu.


Mawar tak menyahuti perkataan Fredy, dia hanya diam sembari berusaha mengeringkan air matanya. Dirinya tak tahu apa yang harus dia katakan jika Fredy bertanya sedang apa dirinya di tempat itu


"Menangislah, Mawar. Tumpahkan semua kesedihan kamu agar kamu merasa lega dan juga agar suasana hati kamu membaik setelah ini," ucap Fredy lagi.


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa kamu ke sini?" tanya Mawar dengan suaranya yang serak khas orang yang baru menangis.


"Aku suka datang ke sini saat aku sedih dan butuh ketenangan. Kepergian papa membuat aku datang ke sini, aku juga suka berteriak di sini," jelas Fredy yang sekarang sudah duduk di samping Mawar.


"Maafkan papaku, Mawar dan jika kamu menyayangi dia tolong ikhlaskan kepergiannya. Aku ingin dia tenang di sana," ucap Fredy lagi.


"Aku sudah memaafkannya," sahut Mawar pelan.


"Dari dulu aku ingin sekali mempunyai adik, sayangnya mamaku tidak bisa memberikan aku seorang adik karena saat melahirkan aku, mama juga melakukan operasi pengangkatan rahim karena adanya sesuatu penyakit yang berbahaya. Sekarang aku punya kamu meski kamu bukan terlahir dari rahim mama, yang mau aku tanyakan. Apa kamu mau menjadi adikku?" tanya Fredy sembari menatap Mawar dengan tatapan penuh pengharapan.


Mawar menoleh ke arah Fredy lalu menatap wajah laki-laki itu. Dia mengangguk pelan dengan sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya.


Fredy tersenyum gembira, dia meraih tangan Mawar lalu menggenggamnya dengan erat. "Terima kasih, Mawar," ucapnya.


Mawar tak mengatakan apa pun, hanya ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Dia harus bisa menerima semua orang yang disayangi oleh Pak Haris demi menjalankan permintaan terakhir ayah yang sudah membuatnya hadir di dunia ini.

__ADS_1


"Boleh aku memelukmu? Sebagai tanda kalau mulai saat ini kita bersaudara. Mulai saat ini aku adalah kakakmu dan kamu adalah adikku," ucap Fredy.


Mawar tersenyum lalu memeluk Fredy selama beberapa detik. "Terima kasih, Mawar," ucap Fredy.


"Aku suka datang sendirian ke sini dan aku sering berteriak sesuka hati di sini. Di sini adalah tempat terakhirku saat aku sudah tak kuat menahan beban pikiran yang susah terlalu berat," ucap Mawar yang kini duduk sembari menatap danau yang tenang itu.


"Aku juga sering ke sini saat aku sedang dilanda masalah. Kita mempunyai kesamaan dalam hal ini," ucap Fredy.


"Berteriaklah, Mawar. Sampai kamu puas dan tidak sedih lagi," sambung Fredy lagi.


"Aku sudah puas di sini. Sekarang aku mau pulang, anak-anakku pasti menunggu," ucap Mawar.


"Kalau gitu kita pulang bersama," ucap Fredy.


"Aku bawa motor, kamu, eh kakak maksudku, ke sini naik apa?" tanya Mawar.


"Bawa mobil tapi mobilku ada jauh dari tempat ini. Boleh aku menumpang padamu?"


"Tentu saja. Ayo! Mau aku yang bawa motornya atau kakak yang bawa?"


"Aku tidak bisa bawa motor trail.


"Payah jadi laki-laki. Ayo, naiklah!" Mawar pun mulai melajukan motornya saat Fredy sudah duduk di belakangnya.


"Pelan-pelan, nanti kakakmu ini terjatuh," ucap Fredy sembari memegangi jaket Mawar.


"Tenang saja. Aku pernah tinggal di pedalaman yang jalannya lebih parah dari ini," sahut Mawar sambil terus melaju.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2