
"Hai sayang," ucap Aby saat tiba di rumahnya.
"Hai, tumben udah pulang?" ucap Mawar sembari berjalan menghampiri Aby!
"Sengaja, katanya mau jemput orang tua kamu?" ucap Aby lagi.
Mawar mencium punggung tangan Aby lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Aku udah menjemput mereka tadi tapi jangan khawatir aku gak pergi sendiri. Frans yang menemani aku," ucap Mawar.
"Nakal kamu ya. Aku bilang aku yang mau antar kamu, malah kamu pergi sama Frans." Aby memangku tubuh Mawar lalu membawanya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga!
"Kamu marah?" ucap Mawar dengan tangannya yang masih melingkar di leher Aby.
"Tentu saja iya. Kamu harus dihukum," ucap Aby.
"Apa hukumannya?" Mawar menatap Aby dengan tatapan matanya yang terbuka sempurna.
"Eumm ... apa ya? Oh aku tahu." Aby menatap Mawar dengan tatapan matanya yang genit.
"Apa? Aku curiga," ucap Mawar.
"Cium aku di sini," ucap Aby sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Mawar tersenyum lalu tanpa basa-basi ia segera mencium bahkan sedikit melu**t bibir Aby.
"Udah," ucap Mawar.
"Eits, tunggu dulu. Hukuman kamu belum selesai," ucap Aby sembari menahan tubuh Mawar agar tak beranjak dari pangkuannya.
"Apa lagi? Jangan bilang kalau kamu minta yang lebih," ucap Mawar.
"Memangnya kamu gak mau kalau lebih dari ciuman?" ucap Aby.
"Bukan gak mau tapi perutku yang mulai buncit ini membuat aku kesulitan bergerak," ucap Mawar.
"Kan aku yang kerja keras, kamu tinggal diam aja kalau emang kamu kesulitan untuk bergerak ya udah diam saja sambil menikmati permainannya," ucap Aby.
"Mas, kamu lagi membicarakan apa?" tanya Mawar.
"Kamu sendiri sedang membicarakan apa?" Aby bertanya balik pada Mawar.
Mawar tersenyum lalu memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Di lahan belakang rumah mereka.
"Aduh Papa! Ini gimana harus diapain? Mama gak tahu gimana caranya merapikan rumah sempit kayak gini," ucap Marisa.
"Mama! Masa kamar aku kecil gini? Gak ada AC nya lagi," ucap Jingga dari dalam kamarnya.
"Gak pakai AC juga pasti dingin kalau malam hari," ucap Mahendra.
"Aduh! Aku lapar, Ma," ucap Jingga.
__ADS_1
"Tadi Papa udah masak nasi. Mama masak sana tadi kan Mawar bilang ada sayuran untuk dimasak," ucap Mahendra pada Marisa.
Tanpa protes Marisa berjalan ke dapur rumahnya dan mencari sayuran yang dimaksud oleh suaminya!
"Gimana sih si Mawar itu. Naruh sayuran kok di tempat terbuka gini yang ada sayurannya pada layu," ucap Marisa yang melihat sayuran bayam yang tergeletak di atas kompor.
Pandangannya beralih ke seluruh sudut dapur yang ukurannya begitu kecil baginya.
"Kulkasnya mana? Anak sial itu benar-benar keterlaluan ya masa gak ngasih kulkas. Mama kan gak bisa minum kalau gak dingin," ucap Marisa.
Mahendra berjalan menghampiri Marisa yang kini sudah duduk di dekat kompor gas itu.
"Udahlah, Ma jangan terus melontarkan kata-kata yang dapat menyakiti Mawar. Masih mending dia mau memberikan kita semua ini coba kalau nggak ... mungkin sekarang kita sudah menjadi pengemis dijalanan," ucap Mahendra.
"Ma, kapan masaknya? Aku udah lapar," ucap Jingga.
"Jingga, mulai sekarang kamu gak usah bersikap manja lagi. Sana bantu Mama kamu masak dan satu lagi Papa mohon kalian hentikan perkataan kasar kalian pada Mawar. Apa kalian gak sadar kalau Mawar lah yang sudah menolong kita?" ucap Mahendra.
"Papa kenapa sih Mawar! Mawar! Mawar terus," ucap Jingga dengan sedikit mengeraskan volume bicaranya.
"Karena Mawar yang sudah menolong kita. Selama ini Papa dan Mama sudah menyia-nyiakan dia tapi dia masih saja mau membantu kita," ucap Mahendra.
"Apa pun yang Mawar lakukan, aku tidak akan pernah berhenti membencinya. Aku benci pada anak itu," batin Marisa.
Dengan wajahnya yang cemberut Jingga duduk di samping Marisa lalu meraih sayuran itu untuk segera disiangi agar secepatnya dapat dimasak.
Mahendra langsung pergi keluar dari rumah untuk melihat lahan yang masih kosong di sekeliling rumahnya!
Mahendra mengedarkan pandangannya kesemua arah.
Mahendra menatap beberapa petak sawah yang besok akan mulai ia garap itu.
"Ya Tuhan, mungkin ini caramu membalas semua perbuatanku pada anakku sendiri. Maafkan aku," batin Mahendra.
*******
Di kediaman Mitha.
Roger duduk di samping Michelle yang sedang asyik membaca buku.
Di samping kolam renang itu, Michelle duduk di sebuah kursi dengan ditemani oleh satu gelas teh hangat.
"Disini rupanya kamu. Dicari di dalam gak ketemu ternyata kamu di sini," ucap Roger.
Michael mengalihkan tatapannya pada Roger. "Kenapa mencariku?" tanya Michelle.
"Kamu yakin sama Dirga?" tanya Roger tanpa ragu.
"Kenapa? Kakak gak suka sama dia?" ucap Michelle tanpa ekspresi apapun.
"Bukan gitu. Kakak hanya takut," ucap Roger.
"Takut kenapa?" Michelle menatap Roger lagi.
__ADS_1
"Kamu tahu kan kakak pernah sangat jahat pada keluarga Om Randy apalagi pada Aby," ucap Roger dengan suara pelan karena takut terdengar oleh Mitha.
"Terus?"
"Dirga adalah orang terdekat mereka, apa mungkin mereka tidak akan mempengaruhi Dirga? Atau mungkin bisa saja mereka malah membenci Dirga? Kakak takut," ucap Roger.
"Kenapa mesti takut? Aku yang akan merasakan apa pun keputusan Dirga."
"Justru itu yang kakak takutkan. Kakak takut kamu yang harus menanggung akibat dari kesalahan kakak. Maafkan kakak, Michelle."
"Udahlah, kak. Aku sendiri sedang cemas, aku butuh waktu sendiri tolong tinggalkan aku di sini," ucap Michelle.
Baik Roger maupun Michelle, mereka berdua sama-sama mempunyai kekhawatiran yang sama. Meski Dirga mengatakan bahwa dia akan mempertahankan Michelle tapi bisa saja setelah mendapat ancaman dari Aby dan Randy, dia lebih memilih pekerjaannya dan meninggalkan Michelle.
*******
Di kediaman Randy.
"Mama lagi ngapain?" tanya Randy saat melihat istrinya asyik dengan ponselnya.
"Ini, Pa. Mama lagi belanja pakaian bayi," sahut Ratu.
"Bayi siapa?" tanya Randy dengan tatapan heran.
"Bayinya Aby lah, bayi siapa lagi coba," ucap Ratu lagi.
"Ya ampun, Mama masa beli pakaiannya sekarang sedangkan hamilnya aja baru berapa bulan," ucap Randy.
"Ya gak apa-apa dong, Pa. Mama gak sabar pengen belanja peralatan bayi."
"Lagi pada ngapain sih? Heboh banget," ucap Nasya.
"Ini Mama kamu, masa udah beli pakaian bayi," ucap Randy.
"Dari pada ribet mending Mama sama Papa mikirin kado buat mas ganteng," ucap Nasya.
"Kado? Seingat Mama sekarang masih lama ke hari ulang tahunnya," ucap Ratu.
"Bukan kado ulang tahun tapi kado pernikahan," ucap Nasya.
"Pernikahan?" ucap Randy dan Ratu secara berbarengan.
Randy dan Ratu memang tak tahu bahwa hubungan Dirga dan Michelle sudah sangat serius. Mereka tak tahu bahwa Dirga akan menikahi Michelle.
"Mama, Papa gak tahu kan kalau mereka mau nikah?" ucap Nasya.
"Kok kamu tahu?" ucap Randy.
"Aku ketemu sama Michelle dan aku minta dia untuk jadi kakak ipar aku," ucap Michelle.
"Terus gimana? Michelle nya mau," ucap Ratu.
"Gak tahu, orang dia cuma diam sambil senyum-senyum sendiri," ucap Nasya lagi.
__ADS_1
Randy dan Ratu saling menatap lalu mereka tertawa kecil.
Bersambung