
Keesokan harinya di kediaman Pak Randy dan keluarga.
Pagi itu Aby dan Mawar sudah tiba di rumah orang tuanya Aby, mereka datang di pagi hari karena diminta datang pagi oleh Pak Randy dan Bu Ratu. Mawar masuk ke dalam rumah dengan menggendong baby Aditya sedangkan Aby menggendong baby Maira.
Mereka disambut gembira oleh Pak Randy dan Bu Ratu. Pak Randy langsung mengambil alih baby Maira dari Aby dan Bu Ratu segera menggendong baby Aditya dari Mawar.
"Ada apa, Pa sampai kita harus libur ke kantor?" tanya Aby sembari berjalan memasuki rumah.
"Ada hal penting yang kamu harus tahu," jelas Pak Randy.
"Hal penting mengenai apa?" tanya Aby lagi.
"Ada. Nanti kamu tahu, duduklah dulu," ucap Bu Ratu.
Mawar dan Aby duduk di kursi ruang keluarga dan seorang asisten rumah tangga di rumah itu pun langsung menyuguhkan minuman untuk mereka. Asisten rumah tangga itu tersenyum pada Aby dan Mawar, dia bahagia karena bisa bertemu dengan mereka.
"Hai, Mbok. Apa kabar?" tanya Mawar.
"Kabar baik. Bagaimana dengan, Mbak Mawar?" sahut asisten rumah tangga itu.
"Mawar baik-baik saja. Aku yang gak baik-baik saja karena dari tadi gak disapa," ucap Aby.
"Maaf, Den. Aden udah pasti sehat orang kelihatan seger gitu," ucap asisten rumah tangga Pak Randy yang memang sudah akrab dengan Aby karena dia sudah bekerja puluhan tahun di sana.
"Oh jadi aku harus pucat dulu baru disapa," ucap Aby.
"Silahkan minum," ucap asisten rumah tangga itu pada Aby dan Mawar dan setelah itu dia kembali ke belakang.
"By, hari ini keluarga Reza akan datang. Mereka mau meresmikan hubungan Nasya dan Reza, kita akan membicarakan tanggal pernikahan Nasya dan Reza," jelas Pak Randy.
"Apa! Kapan tuh anak melamar Nasya? Masa udah mau menentukan pernikahan aja," ucap Aby yang memang tidak tahu apa-apa.
"Reza udah melamar Nasya tapi tidak mengadakan acara besar. Hanya mereka pribadi dan juga Papa, Mama," ucap Bu Ratu.
"Rencananya kapan mereka mau nikah? Jingga dan Frans juga mau nikah, kami sedang mengurus semua keperluannya," jelas Aby.
"Aku sih pengennya bulan-bulan ini biar resepsi pernikahannya bisa bareng sama El," ucap Nasya.
"El? El, maksud kamu Eliandra adiknya Dirga?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Iya. Mereka akan menikah bulan depan tapi resepsinya belakangan karena nunggu aku dan Reza dulu," jelas Nasya.
"Berarti sudah ada obrolan serius diantara kalian. Kenapa gak ada yang ngasih tahu aku?" ucap Aby.
"Ya ini dikasih tahu. Kemarin-kemarin kalian sibuk dengan urusan ayah kandung Mawar jadi, kami tidak ingin mengganggu kalian," ucap Pak Randy.
"Padahal masalah itu sudah selesai, Ma, Pa. Kenapa baru ngasih tahu sekarang dan Dirga juga kenapa gak bilang kalau adiknya mau menikah bulan depan," ucap Mawar.
"El 'kan calon suaminya Fredy dan Fredy itu, sekarang kakak kamu. Jadwal sibuk kalau mereka nikah dan melakukan resepsi dalam waktu yang berbeda-beda," ucap Aby.
"Sibuk gimana?" tanya Pak Randy.
"Di rumah, Jingga dan Frans akan menikah bulan depan terus El dan Fredy juga bulan depan dan sekarang Nasya dan Reza bisa jadi bulan depan juga sedangkan semua adalah keluarga aku dan Mawar, pastinya kita sibuk banget ditambah lagi dengan jadwal kantor sedangkan Mawar sibuk sama anak-anak, aku takut Mawar kecapean dan akhirnya sakit," jelas Aby.
"Tinggal pastikan saja Jingga dan Frans akan menikah kapan kalau aku 'kan resepsinya belakangan nunggu waktu yang pas untuk aku dan juga keluarga Mas ganteng," ucap Nasya.
"Gimana kalau resepsinya dibarengin aja? Jadi, tiga pasang pengantin sekalian buat menghemat waktu juga, 'kan," ucap Bu Ratu.
"Ide bagus, Ma. Aku setuju berarti setelah ini kita bicara sama Jingga dan Frans juga mama papanya Mawar agar melakukan resepsinya barengan aja," ucap Aby.
"Aku ikut saja apa yang menurut kamu baik, Mas," ucap Mawar.
Di ruang tamu, keluarga Pak Randy sudah berkumpul di sana. Mereka berdiri untuk menyambut kedatangan keluarga besannya.
Nasya tersenyum bahagia saat melihat sang kekasih berjalan menghampiri dirinya. Dia melihat Reza sangat tampan hari ini hingga tatapan Nasya terus tertuju pada polisi tampan itu.
"Biasa aja kali. Udah sering ketemu, juga," ucap Mawar pada Nasya.
"Kakak, jangan menggodaku," ucap Nasya dengan senyum malu.
"Selamat datang, Pak, Bu," ucap Pak Randy pada kedua orang tua Reza.
Mereka saling berjabat tangan sedangkan ibunya Reza dan Bu Ratu saling berpelukan setelah berjabat tangan. Mereka langsung duduk di kursi yang ada di ruangan itu dan langsung menyantap jamuan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
*******
Di kediaman Fredy.
"Kamu sedang apa, dari tadi kelihatannya sibuk banget?" tanya Bu Haris pada Fredy.
__ADS_1
"Ma, aku lagi memeriksa surat-surat penting milik papa yang akan diberikan pada Mawar," jelas Fredy.
Ya, setelah tahu bahwa Pak Haris memiliki seorang anak dari Bu Marisa, sebelum Pak Haris sakit keras, dia sudah menuliskan wasiat untuk keluarganya, dia membagi semua hartanya yang masih tersisa menjadi tiga bagian yaitu istrinya, Fredy dan Mawar. Meski dirinya tahu dirinya tidak pernah tahu dan tidak pernah mengenal Mawar sebelumnya tapi bukti tes DNA sudah cukup membuatnya yakin bahwa Mawar memang anaknya karena itulah dia memasukan nama Mawar sebagai penerima warisannya.
"Kenapa sibuk ngurusin itu. Sebentar lagi kamu akan menikah, kenapa gak urus keperluan pernikahan kamu dulu?" ucap Bu Haris.
"Iya, Ma tapi sekarang aku lebih ingin memberikan hak Mawar dulu, ini amanah dari papa lebih cepat dilaksanakan akan lebih baik," ucap Fredy.
Bu Haris tersenyum dengan kebijakan anaknya. Suaminya memang tidak gagal dalam mendidik Fredy meski dahulu dia pernah melakukan kesalahan fatal hingga membuatnya kesakitan. Melihat Fredy yang begitu perduli pada Mawar membuat Bu Haris semakin bangga memiliki suami seperti Pak Haris. Semua sakit yang dirasakannya hilang seiring dengan waktu dan pertumbuhan Fredy menuju lebih dewasa lagi.
"Kamu yakin? Kamu tidak sayang dengan semua yang papa berikan pada Mawar? Yang Mama tahu, Mawar mendapat bagian lebih banyak dari kita," ucap Bu Haris.
"Kenapa tidak. Selama dua puluh tahun lebih Mawar hidup tanpa mencicipi harta papa sedangkan aku ... sejak aku lahir, aku sudah menikmati harta pada jadi, tidak ada salahnya Mawar mendapatkan lebih banyak. Anggap saja itu sebagai ganti selama hidup Mawar sebelum mendapatkan haknya ini meski aku tahu semua ini tidak akan dapat membayar apa yang dirasakan Mawar hampir dua puluh lima tahun hidupnya," ucap Fredy.
"Usia Mawar sudah dua puluh lima tahun?"
"Belum. Beberapa bulan lagi dia genap dua puluh lima tahun, tepatnya tiga bulan dua puluh tiga hari lagi," jelas Fredy.
"Tahu dari mana kamu?" tanya Bu Haris.
"Nasya yang memberitahu aku. Setiap Mawar ulang tahun pasti akan ditayangkan oleh mereka," jelas Fredy lagi.
"Berarti tahun ini kita harus ikut merayakan ulang tahun Mawar. Mama akan menyiapkan pesta ulang tahun paling megah dan meriah untuknya."
"Aku setuju, saat itu keluarga kita sudah lengkap karena aku sudah memperistri El," ucap Fredy dengan senyum penuh kebahagiaan.
Bu Haris dan Fredy saling menatap dan saling melempar senyuman. Selain merencanakan acara pernikahan yang meriah untuk Fredy dan El, Bu Haris juga harus mempersiapkan acara pesta ulang tahun untuk Mawar.
********
"Jadi, bulan depan tanggal sepuluh," ucap Pak Randy.
"Iya. Itu pun kalau keluarga, Bapak setuju," ucap Papanya Reza.
"Kami setuju, Pak. Lebih cepat lebih baik," ucap Bu Ratu.
"Alhamdulillah, bulan depan sah," ucap Mawar pada Nasya yang hanya dibalas dengan senyuman tipis.
Selesai menentukan tanggal pernikahan mereka akan kembali bertemu di lain waktu untuk membicarakan resepsi pernikahannya karena akan dilangsungkan dalam waktu dan tempat yang berbeda. Mereka perlu bicara terlebih dahulu dengan keluarga Pak Mahendra dan keluarga Dirga untuk menentukan hari resepsinya.
__ADS_1
Bersambung