Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 64


__ADS_3

"Hai Aby sayang." Jingga memeluk Aby dari belakang.


Aby yang sedang sarapan pun meras terkejut dengan perlakuan Jingga yang tiba-tiba.


"Masuk rumah orang tanpa permisi. Kamu tahu sopan santun tidak?" ucap Mawar yang juga sedang sarapan.


"Mawar, ini rumah pacar aku. Kenapa harus menunggu izin? Toh orang yang jaga didepan juga oke-oke aja liat aku masuk."


"Lepasin aku Jingga. Kamu gak liat apa ada istri aku di depan mata kamu."


"Aby. Mawar gak akan kenapa-kenapa, kalian kan menikah tanpa cinta," ucap Jingga yang tak juga melepaskan Aby dari pelukannya.


"Iya kan Mawar?" sambungnya.


"Jingga, aku harap kamu dapat bersikap lebih sopan lagi. Sekarang Aby sudah menjadi suamiku jadi kamu tidak berhak lagi untuk memeluk bahkan hanya memanggilnya dengan sebutan sayang. Sekarang Aby sudah menjadi milik aku, bukankah kamu sendiri yang menyerahkan Aby padaku? Aku harap kamu tidak lupa akan hal itu."


"Lo gak usah banyak bicara dan sok menasihati gue. Lo siapa hah bicara seperti itu sama gue."


"Aku adalah anak yang sudah disia-siakan oleh orang tua kamu. Kamu mau apa? Mau marah? Marah aja, aku gak takut, atau kamu mau ngadu sama Pak Mahendra dan Bu Marisa, silahkan Jingga, sedikitpun aku tidak takut."


"Udah-udah, kalian malah ribut. Jingga, tolong keluar dari rumah aku."


"Kamu ngusir aku By?"


"Iya, cepat pergi atau mereka yang akan memaksa kamu pergi," ucap Aby lagi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke luar rumahnya.


Jingga tak terima dirinya diusir begitu saja oleh Aby. Dia meraih gelas berisi air minum lalu menyiram wajah Mawar dengan air itu.


Mawar terkejut, dia menatap Jingga dengan tatapan tajam namun tak mengatakan sesuatu apapun.


"Kenapa menatapku seperti itu? Aduh Mawar, aku takut." Jingga berlagak seolah dirinya ketakutan pada Mawar namun beberapa detik kemudian dia tertawa lepas.


"Kamu pikir aku takut sama kamu hah! Nggak ya," ucap Jingga sembari terus tertawa.


"Jingga udah! Pergi kamu dari sini!" Aby yang marah pun kembali mengusir Jingga dari rumahnya.


Dengan wajahnya yang basah, bajunya juga basah, Mawar mengepalkan tangannya erat. Ingin sekali dirinya memukul Jingga namun ia tak ingin membuat Aby merasa simpati pada Jingga.


Ia tahu bahwa sebenarnya Aby masih mencintai Jingga, sebisa mungkin dirinya tak sampai membuat Jingga terluka ataupun merasa kesakitan.


"Aku akan mengembalikan semua yang kamu lakukan padaku, tunggu saja Jingga, aku janji aku akan mengembalikan semua itu. Penderitaan ku, rasa sakit ku, rasa kekecewaan ku, aku pasti akan mengembalikan semuanya padamu. Jika kamu bisa menyakiti hati aku, kenapa aku tidak. Aku sudah cukup menderita hidup susah bersama kedua orang tua angkat ku, aku tidak mau menerima penderitaan lagi," ucap Mawar didalam hatinya.

__ADS_1


"Mawar, baju kamu basah. Ganti dulu," ucap Aby sembari meraih kedua bahu Mawar.


"Aku bisa sendiri. Permisi." Mawar beranjak dari duduknya lalu berjalan memasuki kamarnya!


"Kenapa sedingin ini? Aku tahu kamu masih mencintai aku, apa karena ada Mawar, kamu bersikap seperti ini padaku?" ucap Jingga setelah Mawar pergi.


"Aku sudah tidak mencintai kamu lagi, pergi dari sini dan jangan pernah ganggu aku dan Mawar lagi."


Dengan beraninya, Jingga memeluk Aby dan membenamkan kepalanya di dada bidang Aby! Dia mengusap-usap dada Aby dengan tangan kanannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Jangan tinggalkan aku By, aku gak bisa tanpa kamu. Jujur waktu pernikahan kita, aku diculik oleh seorang laki-laki. Dia menculik ku dan membawa ku berlibur ke luar kota, dia memperlakukan aku seperti pacarnya. Dia itu laki-laki suruhannya Mawar, Mawar yang ada dibalik gagalnya pernikahan kita," ucap Jingga dengan air mata buayanya.


Butiran bening kepalsuan itu terus menetes dari sudut mata Jingga hingga membasahi kemeja Abymana. Perempuan itu mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepasnya sementara itu, Aby hanya diam dan malah membiarkan Jingga tetap memeluknya.


Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya, masih ada kenyamanan dalam dirinya saat Jingga memeluknya.


"Rasa nyaman ini masih sama seperti dulu, saat kamu memelukku, jujur aku tak ingin lepas dari kenyamanan ini," batin Aby.


Mawar yang melihat pemandangan itu pun langsung berjalan keluar rumahnya dan langsung pergi ke kampusnya!


**********


"Selamat pagi," ucap Michelle pada Dirga.


"Saya mau bicara."


"Silahkan masuk! Kebetulan saya mau sarapan, kita sarapan dulu."


"Tidak perlu, saya cuma sebentar kok."


"Ayo sarapan dulu."


"Ussy, saya rasa tamu ini datang untuk kamu," ucap Dirga pada Ussy yang sedang menyapu lantai.


Ussy menatap Dirga yang sedang berjalan menuju ruang makan dengan diikuti oleh Michelle.


"Kak Michelle?"


Michelle tersenyum ke arah Ussy yang saat itu tengah menatapnya.


"Kamu udah sarapan?" tanya Michelle.

__ADS_1


"Udah dong, sebelum Pak Dirga sarapan, Ussy udah sarapan duluan."


Dirga hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Ussy.


Michelle mengerutkan dahinya karena tak mengerti. Bagaimana bisa ada asisten rumah yang sarapan lebih dahulu dari majikannya.


"Silahkan duduk Michelle," ucap Dirga setelah menarik kursi makan untuk Michelle duduk.


"Terimakasih, sebenarnya saya datang untuk memberitahu kalau mulai nanti malam Ussy tidak akan tidur di kontrakannya lagi karena dia akan tinggal di panti asuhan."


Dengan cekatan Dirga mengisi piring kosong dengan nasi goreng yang baru dimasak oleh Ussy lalu meletakkannya didepan Michelle.


"Saya sudah tahu karena Ussy sudah cerita." Dirga duduk di kursinya lalu mulai makan.


*********


"Ngapain aku datang sepagi ini ke kampus?" gumam Mawar yang saat itu sudah berada di depan gerbang kampusnya yang masih tertutup meski sudah tak terkunci.


"Mbak Mawar udah datang aja masih pagi gini," ucap seorang satpam yang bertugas di depan gerbang.


"Iya nih Pak, kepagian berangkat nya. Jam saya mati jadi gak tahu deh sekarang jam berapa."


"Baru jam tuju Mbak. Udah sarapan belum Mbak?"


"Belum. Sarapan yuk Pak, kebetulan ada tukang bubur lewat tuh."


"Emang Mbak mau makan ditempat terbuka kayak gini?"


"Kenapa enggak, makan ditempat apapun selalu nikmat menurut saya."


Pak satpam itu tersenyum lalu menyetop tukang bubur yang mau lewat di depan mereka.


"Bang dua ya," ucap Mawar.


Abang penjual bubur itu mengangguk lalu seger menyajikan bubur ayam yang Mawar pesan.


"Tambah lagi dua ya Bang." Belum juga Abangnya selesai dengan dua mangkuk pesanan awal, Mawar sudah memesan lagi.


"Itu aja belum dimakan, mau buat siapa lagi Mbak?" tanya Pak satpam.


"Buat Bapak pemulung itu, kasian dia, udah tua madih kerja aja jadi pemulung."

__ADS_1


Mawar menatap seorang pemulung yang sudah tua sedang melewati jalanan di depannya bersama dengan seorang anak kecil yang berpakaian seragam sekolah SD.


Bersambung


__ADS_2