Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 218


__ADS_3

Keesokan harinya.


Michelle dan Marisa kembali ke pasar untuk memancing Darko agar menampakkan dirinya.


Di pasar itu Marisa berjalan mengelilingi pasar ia sengaja berlama-lama di sana agar Darko dapat melihatnya.


Dari kejauhan Michelle terus memperhatikan gerak-gerik Marisa dan orang-orang di sekitarnya.


"Ya Allah, semoga hari ini orang itu muncul," batin Michelle.


Michelle menatap jam di tangannya dan sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi tapi Darko belum muncul juga.


"Kalau dia tidak datang juga terpaksa aku harus mencarinya sampai dapat," batin Michelle lagi.


Setelah bosan menunggu Marisa pun bergerak ke tempat parkiran! Dia menghampiri seorang pedagang kue basah lalu membeli beberapa dan setelah itu ia duduk di kursi kayu yang terdapat di sudut tembok pembatas antara area pasar dan jalan di sekitarnya.


Kebetulan di sana tempatnya agak sepi karena terletak di paling ujung dan tidak ada lagi orang yang berjualan di sana. Marisa nampak bisa saja, dia tidak memperlihatkan bahwa dirinya sedang menunggu seseorang. Dengan santainya dia melahap sedikit demi sedikit kue yang ia beli barusan.


Tak lama seorang laki-laki datang menghancurkan Marisa dan tanpa diminta dia langsung duduk di samping Marisa!


"Apa mungkin itu orangnya?" batin Michelle yang berada sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh meter dari Marisa.


********


Di kediaman Dirga.


"Assalamualaikum!" seru Dirga dari luar.


"Waalaikumsalam," ucap Athalia sembari membuka pintu.


"Ma." Dirga langsung mencium punggung tangan Athalia lalu mencium kedua belah pipi Athalia tak lupa juga memeluk sang Mama.


"Mana menantu Mama?" ucap Athalia sembari mencari-cari keberadaan Michelle.


"Dia gak ikut, Ma. Aku datang sendiri," ucap Dirga.


"Kenapa? Kalian sedang tidak berantem kan?" tanya Athalia lagi.


"Nggak. Gak mungkin kami berantem."


"Lalu kenapa kamu datang sendirian?"


"Michelle sedang ada sesuatu yang harus dia kerjakan," jelas Dirga.


"Ayo masuk. Adik kamu pasti ingin bertemu denganmu juga," ucap Athalia.


Athalia dan Dirga pun memasuki rumah dengan berjalan beriringan!


"Hai Sy," ucap Dirga pada Ussy.


Ussy yang sedang fokus menyapu lantai pun langsung menoleh menatap si pemilik suara.


"Pak Dirga," ucap Ussy dengar berjalan menghampiri Dirga.


"Lama ya kita gak ketemu, kangen gak sama saya?" ucap Dirga sementara Athalia hanya tersenyum melihat Ussy yang bahagia karena bertemu dengan Dirga.


"Iya, Pak. Bapak apa kabar dan Kak Michelle mana?" ucap Ussy.


"Saya baik. Kakak kamu ada urusan sebentar."


"Kebetulan Bapak ke sini. Ussy mau bicara," ucap Ussy.


"Bicaranya nanti saja. Buatkan saya minum, kangen juga sama teh buatan kamu," ucap Dirga.

__ADS_1


"Oh, siap Pak. Nih! Bapak lanjutin nyapu, Ussy buatkan teh nya dulu," ucap Ussy sembari memberikan sapu yang ia pegang pada Dirga.


Dirga pun mengambil alih sapu itu dari tangan Ussy!


"Eh, apa-apan ini? Saya sedang bertamu malah disuruh nyapu lantai," ucap Dirga setelah sapu itu ada dalam genggamannya.


"Allahuakbar! Maaf, Pak. Ussy lupa kalau sekarang Bapak sedang bertamu di sini." Ussy merebut sapu itu dari tangan Dirga dan langsung membawanya ke dapur.


Athalia hanya tertawa melihat tingkah Ussy yang lucu.


"Dia tidak berubah padahal sudah bertambah usia," ucap Dirga sembari menatap kepergian Ussy.


"Gak kebayang gimana kehidupan kamu di sini sebelum ada Mama," ucap Athalia.


"Aku biasa aja dan aku baik-baik saja," ucap Dirga.


"Apa dulu Ussy sering melakukan hal seperti barusan?" tanya Athalia.


"Tidak juga. Mana berani dia menyuruh majikannya."


"Terus barusan apa?" Athalia duduk sambil menatap sang anak.


"Ussy memang suka gitu. Dia tuh anaknya periang dan pandai sekali menyembunyikan masalahnya dan juga kesedihannya. Dia itu datang dari kampung untuk bekerja, dia anak yatim piatu, Ma. Mama gak suka ya sama dia?" ucap Dirga.


"Gimana gak suka dengan anak yang tingkahnya selalu bikin ketawa. Mama betah lama-lama sama Ussy dan El juga bahkan El sudah menganggap Ussy sebagai saudara sendiri. Mereka sering pergi bareng, tidur bareng bahkan saling meminjam pakaian. Mama kayak punya dua anak gadis sekaligus," ucap Athalia.


"Syukurlah kalau Mama suka sama Ussy."


Saat mereka asyik berbincang. Ussy pun datang dan segera menata minim yang ia buat untuk Dirga dan Athalia.


"Sy, makin cantik aja kamu," ucap Dirga sambil menatap Ussy.


"Bapak memuji atau merayu? Garing banget," ucap Ussy.


"Merayu dengan nada seperti itu, gak akan ada cewek nyantol dan memuji dengan nada begitu, rasanya kayak orang lagi ngobrol di tengah gunung es," ucap El.


"Mana ada, buktinya Michelle cinta sama kakak," ucap Dirga.


"Untung kak Michelle cewek tomboy kalau nggak, jangan harap dia mau sama kulkas berjalan," ucap El.


"Untung, Bapak ganteng dan baik hati kalau gak, mana mungkin kak Michelle mau," celetuk Ussy.


"Kalian sedang mencela memuji atau apa? Aneh banget perbincangan kalian ini," ucap Athalia.


"Mereka sedang menasihati aku, Ma," ucap Dirga.


Athalia menggelengkan kepalanya. "Mama jadi pusing," ucapnya sembari beranjak pergi dari ruangan itu.


*******


"Gimana, Joe udah jadian belum sama Ussy?" tanya Salman pada Joe.


"Belum."


"Kenapa? Katanya kemarin kamu ketemu sama dia?" tanya Frans.


"Sebenarnya dia juga suka sama aku tapi dia harus izin dulu sama seseorang," sahut Joe.


"Izin? Memangnya kamu sudah mau menikahinya sampai harus izin dulu?" ucap Salman.


"Nggaklah. Ussy masih kuliah gak mungkin nikah dan lagi usianya baru sembilan belas tahun katanya," ucap Joe.


"Lalu kenapa harus izin kalau cuma pacaran doang?" tanya Salman.

__ADS_1


"Ada seseorang yang sangat menyayangi dia dan katanya untuk pacaran, dia harus mendapatkan izin dari seseorang itu," jelas Joe.


"Pasti ada. Ussy punya keluarga kan? Mungkin orang tuanya yang menyayangi Ussy," ucap Frans.


"Kalian sedang bicara apa sih? Seru banget," ucap Jingga yang datang dengan membawa makanan untuk mereka.


"Tidak ada," ucap Joe sembari tersenyum kecil.


"Ada apa, Mbak? Tumben ke sini," ucap Frans.


"Ada kue untuk kalian. Aku sendiri yang membuatnya, coba kaluan cicipi," ucap Jingga sembari menyodorkan kue dalam piring itu.


"Terima kasih, Mbak," ucap Frans sembari menerima piring berisi kue itu.


"Saya coba ya," sambung Frans sembari mengambil sepotong kue lalu memakannya.


"Gimana rasanya?" tanya Jingga.


"Wah ini enak, Mbak," ucap Frans.


"Saya coba ya, Mbak," ucap Joe.


"Saya juga," ucap Salman.


"Ini beneran enak. Wah, Mbak Jingga pintar bikin kue ya. Istri idaman ini mah," ucap Salman.


"Bisa aja kamu. Sku tidak seprti yang kalian bayangkan," ucap Jingga dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Kalian mau kopi? Atau teh, mungkin?" sambung Jingga.


"Tidak, Mbak. Kami bisa bikin sendiri," ucap Joe.


"Terima kasih, kuenya," ucap Salman.


"Aku masuk dulu kalau mau nambah lagi di dalam masih ada, ambil saja ya," ucap Jingga.


"Iya, Mbak," ucap Salman.


Jingga tersenyum ramah lalu langsung masuk ke dalam rumah lagi!


"Ternyata, Mbak Jingga baik juga ya?" ucap Frans.


"Itu sekarang. Kamu lupa saat dia masih jadi nenek mampir? Tiap hari gangguin Mbak Mawar," ucap Joe.


"Tapi itu dulu. Sikat aja Frans, calon istri idaman tuh udah cantik, baik pintar bikin kue pula," ucap Salman.


"Apa yang kamu pikirkan? Gak mungkin aku sama Mbak Jingga," ucap Frans.


"Sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin dengan adanya kekuatan cinta," ucap Joe.


"Masalahnya aku gak cinta sama Mbak Jingga," ucap Frans.


"Terus kalau bukan cinta, tadi apa?" ucap Joe.


"Tadi yang mana?" tanya Frans.


"Tadi kamu kayak salah tingkah saat bicara dengan Mbak Jingga," ucap Salman.


"Jadi kamu juga menyadarinya, Sal?" tanya Joe.


"Kalian ini ngaco deh," ucap Frans sembari menjauh dari teman-temannya yang sedang menggodanya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2