
Tok!
Tok!
Michelle mengetuk pintu ruangan rawat inap yang didalamnya ada Haris dan kekuatannya.
Tanpa diminta, Michelle pun membuka pintu itu dan langsung memasuki ruangan tersebut dengan langkah santai. Michelle datang bersama Pak Mahendra dan Bu Marisa, sesuai janjinya pada Haris bahwa dirinya akan datang membawa mereka menemui seorang Harus Sitompul si penjahat di masa lalunya.
"Michelle," ucap mamanya Fredy.
"Saya data bersama mereka. Apa suami, Anda sudah sadar?" ucap Michelle.
"Saya sadar dan saya tahu kalian datang," ucap Haris yang membuka matanya sedikit.
"Saya datang karena Michelle yang meminta kalau tidak, saya tidak akan pernah datang ke sini meski hari kiamat telah tiba," ucap Bu Marisa.
"Saya tahu saya salah. Maafkan saya," ucap Haris yang sedari dulu memang ingin meminta maaf tetapi terhalang oleh rasa malu.
"Saya tidak tahu apa saya harus memaafkan kamu atau tidak. Perbuatan kamu sudah sangat menyiksa istriku dan juga Mawar," ucap Pak Mahendra.
"Pak, saya menyesal karena sudah berbuat hal buruk itu, karena sakit hati, saya tidak berpikir apa yang akan terjadi dimasa depan," ucap Haris lagi.
"Tolong maafkan suami saya," ucap istrinya Haris pada Bu Marisa.
"Saya tidak pernah tahu apa yang suami saya lakukan jika saja saya tahu maka semua tidak akan seperti ini. Saya pasti sudah menyerahkan suami saya pada pihak yang berwajib dan membiarkannya dihukum saat masih muda dulu, sekarang lihatlah kondisinya." istrinya Haris menatap sang suami yang masih terbaring lemah dengan beberapa selang medis yang masih terpasang dalam tubuhnya.
"Kondisinya begitu buruk, tolong maafkan dia karena dia sudah mendapatkan hukumannya. Saya tahu hukuman ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Ibu dan juga anak perempuan itu tapi saya mohon, maafkan suami saya," ucap istrinya Haris lagi.
"Pak, Bu, jujur saya malu pada kalian tapi inilah kenyataannya. Papa saya memang pernah berbuat salah pada Bapak dan Ibu tapi bukan berarti dia tidak berhak bahagia, selama ini Papa saya juga tersiksa karena terus dibayangi dosa masa lalu, untuk itu saya mohon pada Bapak terutama Ibu, tolong maafkan papa saya," ucap Fredy.
"Saya memang tidak pantas untuk dimaafkan tapi setidaknya saya sudah meminta maaf dalam segala kesalahan yang pernah saya perbuat. Saya ingin tenang saat menghadapi ajal yang mungkin sebentar lagi akan datang untuk menjemput saya," ucap Haris.
"Jangan bicara seperti itu, Pa. Mama gak akan bisa tanpa Papa," ucap istrinya Haris.
"Saya dan istri saya sudah memaafkan kamu, memang semua terasa berat tapi kami akan berusaha memaafkan kamu," ucap Pak Mahendra.
"Terima kasih, Pak. Satu lagi, apa saya boleh menemui Mawar? Tolong, saya ingin sekali bertemu dengannya dan meminta maaf padanya," ucap Haris.
"Mawar sudah memaafkan kamu tapi dia belum bisa menemui kamu," ucap Pak Mahendra.
"Tepatnya tidak bisa," ucap Bu Marisa yang sedari tadi hanya diam.
"Dia mudah memaafkan tapi tidak mudah membuang dendam kalau dia ke sini bisa saja kamu mati dibunuhnya," sambung Marisa.
"Ma, jangan bicara seperti itu," ucap Pak Mahendra dengan suara pelan.
"Kenapa, Pa? Biarkan saja dia tahu bahwa anaknya memang seperti itu," ucap Bu Marisa.
"Papa jangan khawatir, aku akan membawa Mawar ke sini. Aku yang akan meminta dia datang menemui, papa," ucap Fredy.
"Michelle, terima kasih kamu sudah membawa Pak Mahendra dan Bu Marisa ke sini. Saya sudah sedikit tenang karena sudah mendapat maaf dari mereka, kamu memang perempuan yang baik. Terima kasih," ucap Haris pada Michelle.
__ADS_1
"Istri, Anda menganggap saya orang yang tidak baik. Kemarin dia menganggap saya yang menyebabkan semua ini tapi, Anda tidak usah khawatir karena saya tidak pernah marah pada istri, Anda. Saya tahu dia sangat mencintai Anda meski dia sudah tersakiti dan hatinya sudah sangat hancur, bersyukurlah karena memiliki istri seperti dia kalau saya yang berada diposisinya, mungkin saya sudah meninggalkan, Anda tanpa menunggu lama dan mempertimbangkan semuanya," jelas Michelle.
"Maafkan saya," ucap istrinya Haris.
"Tidak, Bu. Tidak usah minta maaf, saya tahu, Anda terlalu mencintainya," ucap Michelle.
*********
Di sebuah jalanan perkotaan. Roger dan Michaela sedang dalam perjalanan menuju restorannya yang terdapat di tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.
Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Roger.
"Kamu gak masalah 'kan kalau Jingga menikah dengan Frans?" tanya Roger pada Michaela.
"Selama dia menerima Jingga apa adanya, aku ikut bahagia," sahut Michaela.
"Kenapa kamu memaksaku menikahi Jingga padahal sebenarnya kamu tidak rela dimadu?" tanya Roger lagi.
"Aku harus berkorban demi menyelamatkan perempuan yang sudah kamu renggut kesuciannya dan juga aku berusaha melindungi suamiku dari aib yang sewaktu-waktu bisa saja menyeret kamu ke ranah hukum," jelas Michaela.
"Semua itu masa lalu dan itu terjadi karena dia juga menginginkannya jadi, dia tidak akan pernah membiarkan aib itu terkuak," ucap Roger.
"Aku tahu sekarang Jingga sudah menjadi lebih baik lagi, semua terlihat dari dia yang tidak menikah meski ususnya sudah semakin bertambah. Aku tahu bukannya dia tidak mau menikah tapi dia takut, takut perbuatan masa lalunya terungkap oleh laki-laki yang menikahinya. Secara tidak langsung, dia juga sudah melindungi kamu, dia menanggung semua deritanya sendiri sedangkan kamu asyik hidup bahagia denganku," jelas Michaela.
"Maafkan aku karena pernah mengkhianati kamu," ucap Roger sembari mengelus lutut hingga paha sang istri.
"Aku sud– Aah! Awas, Mas!" Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Michaela dikejutkan oleh seorang wanita yang tiba-tiba terjatuh di depan mobil mereka.
Mereka berdua langsung turun dari mobil dan menghampiri wanita yang sedang duduk tepat di depan mobilnya. Michaela langsung membantu perempuan yang ternyata sedang hamil besar itu.
"Ya ampun, Mbak. Mbak tidak apa-apa?" tanya Michaela.
"Maaf, Mas, Mbak. Saya tidak sengaja melakukan ini," ucap perempuan itu.
Perempuan itu merintih kesakitan sambil mengganti perutnya, dia tidak sengaja terjatuh karena tak tahan dengan sakit yang dirasakannya.
"Mbak, Mbak kenapa?" tanya Roger.
"Aah, perut saya sakit sepertinya bayinya akan lahir," ucap perempuan itu.
"Astaghfirullah. Sayang, ayo bawa dia ke mobil! Kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Roger sambil meraih tangan kanan perempuan itu.
Dengan sigap Roger membantu perempuan itu masuk ke dalam mobilnya, dia harus mengantarkan ibu hamil itu ke rumah sakit sesegera mungkin.
"Mas, Mbak jangan ke rumah sakit. Saya tidak punya biaya untuk membayar biaya rumah sakit yang sangat mahal," ucap perempuan itu.
"Jangan pikiran biaya dulu, sekarang yang terpenting adalah keselamatan, Mbak dan bayi Mbak," ucap Michaela yang duduk di bangku belakang menemani perempuan itu sementara Roger fokus mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
*********
Di kediaman Aby.
__ADS_1
Saat itu Nasya dan El sengaja datang ke rumah Aby untuk menemui Mawar. Siang itu, setelah selesai kuliah. Dua gadis cantik itu mendatangi rumah Abymana.
"Hai semua," ucap Nasya pada trio pinky boy yang sedang asyik duduk di depan pos penjagaan mereka.
"Hai, Mbak. Tumben ke sini?" tanya Salman.
"Kalian ingat 'kan dengan masalah keluarga Fredy dan Kak Mawar?" tanya Nasya.
"Ya, tentu saja. Kita tidak akan berhasil karena tadi udah ada Mbak Michelle datang untuk membujuk Mbak Mawar agar mau menjenguk papanya Fredy, tapi kayaknya gagal karena Mbak Mawar masih anteng di rumah," jelas Joe.
"Benarkah? Tadi kak Michelle ke sini?" tanya El.
"Mbak Michelle yang memulai semua cerita ini jadi, dia juga yang akan menyelesaikan cerita ruwet kayak benang kusut ini," ucap Frans.
"Kak Mawar memang sedikit keras kepala tapi kita harus berusaha demi anak tutul kesayangan, El," ucap Nasya.
"Ya udah, Mbak berdua bicara saja langsung sama Mbak Mawar. Kita bantu doa saja dari sini," ucap Salman.
"Ah kalian gak ada kasian-kasiannya sama Fredy," ketus El.
"Bukan gitu, Mbak. Kita akan bantu saat kalian benar-benar gagal, silahkan, Mbak El dan Mbak Nasya coba dulu, siapa tahu Mbak Mawar luluh kalau kalian yang meminta," ucap Joe.
"Ya udah. Ayo El!" Nasya dan El pun langsung berjalan memasuki rumah mewah milik sang kakak.
"Aditya! Maira!" seru Nasya memanggil dua keponakannya itu.
"Ssst, diam jangan berisik. Mereka sedang bobo siang," ucap Mawar yang ternyata sedang bersantai di ruang tamu sambil main ponsel.
"Eh, Kak Mawar. Di sini ternyata," ucap Nasya sembari nyengir kuda.
Nasya dan El pun langsung menyalami Mawar secara bergantian, setelah itu mereka duduk di samping Mawar.
Mawar menatap dua gadis itu dengan tatapan aneh lalu kembali fokus pada ponselnya. Dirinya sudah tahu maksud kedatangan mereka untuk apa karena barusan dia mendengar perbincangan antara dua gadis itu dengan tiga bodyguardnya.
"Kayak tidak mau menemui orang itu. Kalau kedatangan kalian hanya untuk meminta kakak datang ke rumah sakit lebih baik kalian pulang saja," ucap Mawar sebelum dua gadis itu memulai percakapannya.
"Kak, apa tidak ada sedikit saja maaf untuknya? Kasian Fredy dan mamanya," ucap Nasya.
"Kenapa kamu bawa-bawa mereka. Kakak tidak pernah berbuat jahat pada mereka, apa yang mau dikasihani?" ucap Mawar.
"Kak, tolonglah maafkan papanya Fredy. Aku mencintai Fredy," ucap El.
"Kalau kamu mencintainya, lanjutkan hubungan kalian, toh yang jahat papanya bukan Fredy," ucap Mawar.
"Tapi aku gak tega melihat Fredy dan Mamanya ikut tersiksa karena kakak tidak mau memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh Om Haris," ucap El.
"Pulanglah, Eliandra, Nasya! Kakak sedang tidak mau membahas itu semua," ucap Mawar dengan nada sedikit dinaikkan hingga membuat dua gadis itu langsung ketakutan.
El dan Nasya saling menatap, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan karena mau menolak pun mereka tidak berani. Akhirnya mereka memilih meninggalkan Mawar di ruangan itu tapi mereka tidak langsung pulang melainkan mengobrol dengan trio pinky boy itu.
Bersambung
__ADS_1