Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 120


__ADS_3

Di depan pintu ruangan Mawar, Mahendra berdiri dengan memasang raut wajahnya yang lesu.


"Seperti inikah sikap anakku padaku? Bahkan Mawar tak ingin mengakui aku didepan semua karyawan ku, dia lebih suka di kenal sebagai istrinya Abymana dibanding dikenali sebagai anakku padahal aku belum sepenuhnya bangkrut, aku masih berstatus sebagai pemilik perusahaan meski saham yang kumiliki hanya sedikit," batin Mahendra.


Tak diakui oleh Mawar membuat Mahendra merasa tersinggung dan tersakiti tanpa ia sadari dirinya pernah melakukan hal yang sama pada putri yang lama ia buang itu.


"Pak Mahendra kenapa, sedih banget pas keluar dari ruangan Bu Mawar?" ucap seorang karyawan yang melihat Mahendra.


"Mungkin dimarahi oleh Bu Mawar," sahut karyawan lainnya.


"Gak mungkin, Bu Mawar tidak se_menyeramkan itu."


"Sok tahu kamu."


"Tadi gak sengaja Bu Mawar menabrak aku pas aku lagi nyapu aku pikir dia akan marah tapi ternyata dia minta maaf dan menyuruhku beristirahat kalau aku terluka," ucap salah satu petugas kebersihan yang tadi ditabrak oleh Mawar.


"Yang bener kamu?"


"Iya, tadi Bu Mawar sampai terjatuh dan bajunya kotor karena terkena debu yang sedang saya sapu tapi dia tidak marah sama sekali. Bu Mawar beda jauh sama Bu Marisa dan Jingga."


"Kalau gitu selamanya aja Pak Mahendra gak usah jadi bos kita lagi lebih baik Bu Mawar yang memimpin perusahaannya ini kalau Bu Mawar yang menjadi pemimpinnya di sini, kita pasti tidak akan kena omel dari Bu Marisa dan Jingga."


"Iya, semoga saja biar mereka gak berlaku semena-mena pada kita."


Mahendra berdeham saat mendengar pembicaraan karyawannya yang mengeluhkan sikap istri dan anaknya yang tak pernah memperlakukan mereka dengan baik.


Seketika para karyawan itu terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan bergosip di jam kerja. Kembali ke tempat kerja kalian masing-masing," tegas Mahendra.


Mereka semua pun membubarkan diri dari tempat itu karena takut kena marah Pak Mahendra!


**********


Di rumah sakit jiwa.


Michelle dan Randy berdiri di samping ruangan tempat Mitha dirawat, mereka menatap Mitha dari kaca jendela yang terpasang di dinding ruangan itu.


"Dia orang yang Roger kenalkan pada saya. Namanya Bu Mitha, katanya beliau adalah Ibu kandung saya," ucap Michelle sembari terus menatap Mitha.

__ADS_1


"Mitha," gumam Randy.


"Anda mengenal perempuan itu?" tanya Michelle.


"Dia menang Mamanya Roger tapi saya gak tahu ternyata dia adalah Mama kamu juga," ucap Randy.


Boleh saya bertemu dengannya?" tanya Randy.


"Tentu saja. Mari ikuti saya," ucap Michelle sembari berjalan memasuki ruangan itu!


"Selamat siang, Ma," ucap Michelle sembari meraih tangan Mitha lalu mencium punggung tangannya.


"Assalamu'alaikum, Mitha. Apa yang terjadi hingga kamu berada di tempat ini?" ucap Randy sembari menatap netra hitam milik istri dari sahabatnya itu.


"Mas Randy ... Mas Randy," ucap Mitha dengan sedikit bergumam.


"Ya, aku Randy. Kamu ingat denganku? Mitha tatap aku, kamu ingat padaku?" ucap Randy lagi.


"Mas Randy." Tiba-tiba Mitha meneteskan air mata saat menatap Randy.


Michelle yang tak tahu apa-apa hanya diam sembari menatap mereka berdua.


"Aku rindu pada Mas Arman, aku ingin bertemu dengannya," ucap Mitha.


Seolah seperti orang normal, Mitha mengatakan bahwa dirinya tengah merindukan sosok suaminya yang lama tiada.


Saay Arman meninggal Mitha memang sering melamun dan sering kali bertingkah aneh mungkin karena rindunya terlalu besar pada sang suami membuat Mitha menjadi seperti itu, membuat Mitha diharuskan untuk tinggal di rumah sakit jiwa itu.


"Aku mengerti, kamu pasti rindu padanya, aku pun rindu padanya. Kamu cepat sembuh ya agar kita bisa sama-sama berziarah ke makam suami kamu."


"Aku tidak gila, Mas. Aku tidak gila." Mitha menggenggam tangan Randy sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Michelle, tolong tenangkan Mamamu saya akan memanggil Dokter," ucap Randy.


"Ma, Mama tenang ya." Michelle memeluk Mitha dengan penuh kasih agar wanita yang mulai menua itu dapat tenang kembali sedangkan Randy berlari ke luar ruangan itu untuk memanggil Dokter yang menangani Mitha.


**********


Di kantor Randy.

__ADS_1


"Tumben Papa pergi gak bilang. Pergi kemana dia kira-kira?" ucap Aby.


"Mungkin ada urusan diluar urusan kantor. Tadi saya lihat beliau pergi bersama Michelle," ucap Dirga.


"Akhir-akhir ini aku perhatikan Michelle sering menemui Papa, sebenarnya Michelle kerja apa sama Papa gak mungkin dia simpanan Papa," ucap Aby.


Dirga menatap Aby dengan tatapan tak suka, perkataan Aby terlalu menjurus ke fitnah dan bukan lagi prasangka buruk pada mereka.


"Itu tidak benar. Pak Randy bukan orang seperti itu dan Michelle juga bukan gadis seperti yang Tuan Muda tuduhkan," ucap Dirga.


Aby menatap Dirga yang tengah kesal, sebuah senyuman misterius pun terukir di bibir Aby.


"Saya juga gak mungkin kali memfitnah Papa saya sekeji itu," ucap Aby.


"Tapi barusan."


"Itu bercanda. Gak mungkin juga kan Michelle mau sama Papa, meski Papa ganteng tapi kalau dibandingkan sama kamu ya pasti gantengan kamu kemana-mana secara kamu masih muda, masih perjaka lagi, beda sama Papa yang udah tua dan udah punya anak dua," ucap Aby dengan diiringi tawa kecil setelah ia selesai berbicara.


Dirga menatap Aby lagi, "kirain serius," ucapnya.


"Oh ya Dirga, saya mau ke kantor Mawar dulu, kamu urus kerjaan di sini dulu ya selama Papa belum kembali ke tempatnya," ucap Aby.


"Baik, akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin," sahut Dirga.


Aby mekempar senyuman lalu pergi meninggalkan Dirga tanpa mengucapkan sesuatu apapun lagi!


Dirga menatap kepergian Aby, dalam hatinya ia mengingat perkataan Aby yang menyangka bahwa Michelle adalah wanita simpanan bosnya.


Dirga bergidik ngerti, tak mungkin wanita yang ia sukai mempunyai sifat buruk seprti yang dipikirkan oleh Aby.


Setelah Aby sudah tak terlihat lagi, Dirga meraih ponselnya dari dalam saku celananya lalu segera menelpon Michelle.


Berkali-kali ia menelpon Michelle tapi Michelle tak juga menerima telpon darinya.


"Sedang apa Michelle sama Pak Randy? Sampai telpon ku saja tak diangkat olehnya, tak biasanya Michelle seperti ini," batin Dirga sembari menatap ponselnya.


Mendengar perkataan Aby membuatnya merasa khawatir dan takut, takut apa yang dikatakan oleh Aby ternyata benar adanya meski mulutnya terus berkata tidak mungkin tapi tak bisa dipungkiri hatinya merasa takut.


"Gak mungkin, itu gak mungkin terjadi. Pak Randy adalah orang terhormat dan Michelle juga adalah gadis terahir meski dia tinggal di panti asuhan," gumam Dirga mencoba menepis semua prasangka buruknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2