Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 268


__ADS_3

"Kenapa, sih mereka? Aneh-aneh aja," ucap Jingga sembari menatap Joe dan Salman.


"Biarkan saja, mereka. Duduklah," ucap Frans.


Jingga pun langsung duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Frans. Dia menatap kekasihnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sebuah senyuman manis disuguhkannya hanya untuk Frans seorang, dalam hati yang dipenuhi kebahagiaan Jingga terdiam menunggu Frans mengucapkan sesuatu padanya.


"Eum, udah makan malam?" tanya Frans yang sebenarnya tahu bahwa Jingga sudah makan malam.


"Udah," sahut Jingga singkat.


"Kamu kenapa belum tidur? Besok kamu harus ke kantor, 'kan?" ucap Frans lagi.


"Baru juga jam berapa, aku belum mengantuk," ucap Jingga.


"Jangan menatap saya seperti itu." Frans memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kenapa? Kamu gak sadar ya kalau selama ini aku sering memperhatikan kamu?" ucap Jingga.


"Hah!" Frans sedikit terkejut lalu dia menatap Jingga lagi.


"Iya. Dari dulu aku sering memperhatikan kamu melihat wajahmu membuat aku tenang," ucap Jingga dengan senyuman manisnya.


"Jangan merayu sayang. Kamu tuh perempuan, jangan gombal," ucap Frans.


"Aku sedang serius, Frans. Sudah lama aku mengagumi kamu."


"Iya, kah? Berarti kamu tahu kalau selama ini saya sering memperhatikanmu kamu?" tanya Frans.


"Apa! Jadi, kamu juga sering diam-diam memperhatikan aku?" Jingga menatap Frans penuh rasa heran.


"Sejujurnya, saya sudah lama menyukai kamu tapi saya tidak berani mengatakan perasaan saya karena saya tahu siapa saya dan siapa kamu," ucap Frans.


Baru kali ini Frans berani jujur pada Jingga tentang perasaannya selama ini pada anak majikannya itu. Terlalu takut baginya menyatakan cinta pada orang yang jelas-jelas derajatnya lebih tinggi dari dirinya.

__ADS_1


"Aku juga gak berani menyatakan cinta ini padamu karena aku tahu aku tidak pantas untuk dicintai," ucap Jingga.


"Sst. Jangan bicara seperti itu, semua orang berhak bahagia dan berhak dicintai dan mencintai," ucap Frans.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menyatakan cinta padaku?" tanya Jingga.


"Karena kita tidak sederajat. Saya hanya seorang budak di rumah ini sedangkan kamu anak majikan saya," jelas Frans.


"Ssst. Tidak ada perbedaan diantara kita, buktinya semua orang di sini memperlakukan kalian sama dengan keluarga lainnya. Yang lain makan daging kalian juga daging, yang lain jalan-jalan kalian juga jalan-jalan bedanya hanya pekerjaan saja dan apalah arti sebuah jabatan. Kalau saatnya mati tiba, semua orang juga pasti mati," ucap Jingga.


"Sekarang kita sudah bersama dan sebentar lagi kita akan menikah," ucap Frans.


"Terima kasih ya sudah menerima aku apa adanya," ucap Jingga.


"Terima kasih karena kamu juga mau menerima saya dalam segala kekurangan yang saya miliki," ucap Frans.


*********


Di rumah Mitha.


Sekitar pukul dua puluh dua, Roger dan Michaela baru tiba di rumah mereka. Mereka datang dengan membawa bayi yang baru dilahirkan oleh Sinta sedangkan jenazah Sinta masih di rumah sakit dan baru akan dilakukan proses pemakaman besok pagi.


"Kalian membawa bayi siapa?" tanya Mitha yang keheranan karena melihat Michaela membawa seorang bayi.


"Ma, tolong ajari aku cara merawat bayi ini. Mulai sekarang bayi ini akan menjadi bagian dari keluarga kecil kami," ucap Michaela.


"Kalian mengadopsi bayi ini? Dari mana kalian dapat bayi sekecil ini? Sepertinya dia baru lahir," ucap Mitha.


"Dia memang baru lahir, Ma. Besok aku mau adain tahlilan di rumah ini untuk ibu bayi ini. Kami akan mengurus semua kebutuhan pemakaman ibu bayi ini," ucap Roger.


"Apa. Apa maksudnya?" tanya Mitha.


"Nanti aku jelasin sekarang tolong bantu kami untuk mengganti pakaiannya bayi ini. Ngompol nih kayaknya," ucap Roger.


*********

__ADS_1


Di rumah sakit tempat Haris dirawat.


Haris sudah tidur lelap sedangkan istrinya dan Fredy masih belum bisa menutup matanya. Entah mengapa mereka tidak bisa istirahat tenang meski sekarang kondisi Haris sudah semakin membaik.


Di tempat duduknya, Fredy terus menatap layar ponselnya, entah apa yang sedang dia lakukan dengan ponselnya itu tapi kegelisahan masih terlihat di wajahnya.


Sementara itu, isterinya Haris hanya duduk sambil terus menatap suaminya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Tatapannya tak pernah lepas dari laki-laki yang ternyata sudah menyakitinya sejak puluhan tahun lalu.


"Aku tidak menyangka kamu seperti ini, Pa. Kamu begitu baik dan begitu sempurna bagiku tapi ternyata dibalik semua itu, kamu menyimpan dusta besar bahkan banyak sekali orang yang kamu sakiti. Aku hancur diperlakukan seperti itu, Pa, selama ini aku setia padamu tapi kamu ... entah kenapa aku sangat mencintai kamu hingga saat aku tahu bahwa kamu berbuat dusta pun, aku masih mencintai kamu dan dengan mudahnya aku memaafkan kesalahan kamu itu. Sampai sekarang, sampai saat ini kamu sudah terbaring seperti ini pun, aku masih sayang sama kamu Pa, cintaku masih seperti yang dulu." Istrinya Haris hanya bisa bicara didalam hatinya untuk menumpahkan semua kekesalannya pada sang suami.


Perempuan paruh baya itu tidak mungkin bicara dengan lisannya karena di sana ada sang putra yang selalu menemaninya. Dirinya tak ingin Fredy mengetahui betapa hancurnya hatinya atas semua perbuatan suaminya di masa lalu.


"Ma, istirahatlah biar aku yang menjaga papa," ucap Fredy pada sang ibu.


"Gak apa-apa. Mama belum mengantuk," ucap mamanya Fredy dengan suara halus.


"Belakangan ini, Mama kurang istirahat. Istirahatlah, Ma. Aku gak mau kalau sampai mama ikutan sakit," ucap Fredy lagi.


"Mama kuat, kok. Jangan khawatir lagipula mama gak capek karena memang mama gak pernah melakukan pekerjaan apa-apa," ucap sang ibu.


"Bisa ya, aku punya mama yang keras kepala gini?" Fredy memeluk sang ibu dari belakang dan mencium kepalanya dengan lembut.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" ucap mamanya Fredy sembari memegangi tangan Fredy yang melingkar di dadanya.


"Aku sedang memeluk mamaku. Gak boleh ya?" ucap Fredy lalu mencium lagi kepala sang ibu.


"Kamu ini, udah besar masih aja manja."


"Kadang aku berpikir, aku tidak mau menjadi dewasa karena setelah aku menikah nanti aku takut mama tidak menyayangi aku lagi," ucap Fredy.


"Mama akan selalu sayang sama kamu. Cinta mama banyak dan gak akan pernah habis meski kamu sudah diculik El," ucap mamanya Fredy.


"Mama, El tidak menculik aku justru aku yang akan menculiknya dari orang tuanya. Aku yang akan membawanya pergi dari rumahnya dan mengajaknya tinggal bersama kita," ucap Fredy.


"Iya-iya. Mama percaya sama kamu, kamu tidak akan membiarkan mama dan papa kesepian," ucap sang ibu sembari melerai pelukan Fredy darinya.

__ADS_1


"Sekarang sudah malam lebih baik kamu tidur duluan karena besok kamu harus ke kantor."


Bersambung


__ADS_2