
Setelah Mahendra keluar dari ruangannya, kelompok mata Mawar mulai digenangi air mata yang hendak mengantri ingin keluar dari sana.
Sebenarnya ia tidak tega melakukan ini pada Mahendra tapi apa yang diinginkan olehnya belum dia dapatkan sehingga ia harus bersikap keras pada orang tua yang selama ini sudah membuatnya sengsara.
"Gak, gak boleh Mawar, kamu gak boleh lemah gini ingat tujuan kamu dari awal," batin Mawar sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ini hanya sementara, hanya sebelum mereka menyadari kesalahannya saja. Sabar Mawar, suatu saat kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu ingin mereka menyayangi kamu ... kamu akan dapatkan itu, sekarang kamu sedang hamil semoga mereka bisa berubah menjadi menyayangi kamu setelah kamu melahirkan." Mawar terus berbicara di dalam hatinya mencoba menguatkan dirinya sendiri.
**********
Di kediaman Mahendra.
Mahendra baru saja tiba di rumahnya. Dengan langkah pelan seolah enggan berjalan dia melangkah sembari membawa dus kecil berisi peralatan kerjanya di kantor!
"Papa udah pulang? Tumben," ucap Marisa yang melihat suaminya berjalan memasuki rumahnya.
"Mulai hari ini Papa tidak akan ke kantor lagi. Baiknya kamu cepat cari pekerjaan, Jingga," ucap Mahendra dengan suara lemas.
"Maksud Papa apa? Kenapa Papa tidak akan ke kantor lagi?" tanya Marisa lagi.
"Iya nih Papa. Aku udah melamar kerja tapi belum dapat panggilan untuk interview," ucap Jingga.
"Papa dipecat oleh Mawar," ucap Mahendra.
"Apa!" Marisa dan Jingga terkejut saat mendengar perkataan Mahendra.
"Iya. Papa dipecat dari perusahaan," ucap Mahendra lagi, menegaskan anak dan istrinya itu.
"Gak mungkin dong, Pa perusahaan itu masih milik Papa masih milik kita," ucap Marisa.
"Tidak lagi. Saham perusahaan kita sudah berpindah pada Mawar."
"Kok bisa?" Marisa dan Jingga kembali dibuat terkejut oleh perkataan Mahendra.
"Kemarin Mawar meminta tandatangan Papa di atas kertas kosong, dia bilang dia mau membuat laporan pendapatan bulan ini tapi dia belum sempat membuatnya akhirnya dia meminta Papa menandatangani kertas kosong itu tanpa rasa curiga Papa langsung menandatangani kertas itu tapi ternyata Mawar bukan membuat laporan keuangan tapi surat pernyataan pengalihan perusahaan kita," jelas Mahendra.
"Gila ya tuh anak. Laporkan saja pada Posisi," ucap Jingga.
"Mana bisa. Dalam surat perjanjian itu terdapat tandatangan Papa dan itu dah karena ada matrainya juga," ucap Mahendra.
"Anak sial itu emang benar-benar pembawa sial. Dia licik, dia rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia mau," ucap Marisa.
"Sekarang Papa tidak bisa melamar kerja lagi diperusahaan lain karena usia Papa juga udah gak memungkinkan," ucap Mahendra.
"Sekarang satu-satunya ya kamu, Jingga. Kamu yang harus bekerja sekarang," ucap Mahendra pada Jingga.
"ku sudah berusaha untuk mencapai pekerjaan, Pa tapi gimana lagi aku belum mendapat panggilan dari beberapa perusahaan yang aku masukkan lamaran," jelas Jingga.
__ADS_1
Keluarga yang terbiasa hidup mewah itu, kini harus merasakan sulitnya hidup.
Hari ini adalah hari pertama Mahendra menjadi pengangguran, keluarga mereka sudah dilanda kebingungan bagaimana cara melanjutkan hidup mereka. Untunglah mereka tidak berhutang pada Bank sehingga mereka hanya tinggal memikirkan biaya sehari-hari saja tanpa harus memikirkan biaya cicilan apapun.
*******
Di sebuah jalan, Michelle mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang!
"Nah di sekolah itu dulu aku sekolah SD sampai SMA," ucap Michelle sembari mengarahkan pandangannya pada sebuah bangunan sekolah yang besar, namun tidak terlihat mewah.
Mitra menatap bangunan itu dengan tatapan mata yang tak pernah berkedip sekalipun.
"Kamu sekolah di tempat seprti ini?" ucap Mitha memastikan lagi perkataan Michelle.
"Ya, kenapa, Ma?" tanya Michelle.
"Maafkan Mama karena tidak bisa memberikan kamu pendidikan yang layak."
"Kenapa, Mama minta maaf? Mama gak salah lagipula sekolah ini juga bagus buktinya aku mendapat gelar sarjana," ucap Michelle.
Mitha menatap Michelle dengan tatapan sendu, ada rasa bersalah dalam dirinya karena Michelle tak biasa hidup mewah seperti anak lainnya padahal dia terlahir dari keluarga mampu.
"Kalau dulu Mama tidak terlalu memikirkan Papa kamu mungkin Mama tidak akan pernah tinggal di rumah sakit itu, mungkin kita tidak akan berpisah," ucap Mitha.
"Jangan mengingat masa lalu yang sudah terlewat. Sekarang kita udah bersatu lagi kan, mari kita mulai kenangan indah mulai dari sekarang," ucap Michelle sembari terus mengemudikan mobilnya.
Setelah lama berkendara akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan. Michelle menghentikan mobilnya dan mengajak Mitha turun.
"Mama akan tahu nanti," sahut Michelle.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan memasuki bangunan itu.
Setibanya di dalam, Mitha terpukau saat melihat banyak orang yang sedang berlatih bela diri. Tidak sedikit dari mereka adalah para gadis yang usianya sekitar dua puluh tahunan.
"Di sinilah aku mempelajari ilmu bela diri," ucap Michelle.
"Ibu Jena sudah membiayai pendidikanmu sampai sarjana dan dia juga masih membayar biaya tambahan untuk sekolah ilmu bela diri. Maka berhutang banyak padanya," ucap Mitha dengan raut wajahnya yang tiba-tiba sedih.
"Bukan, Mama tapi aku. Udahlah jangan memikirkan itu karena aku tahu Ibu Jena tidak mengharapkan balasan apapun dari aku atau dari Mama, beliau orang baik yang selalu menyayangi aku dan semua anak dengan setulus hati tanpa mengharapkan imbalan," jelas Michelle.
"Hai Michelle, datang kok gak ngabarin dulu?" ucap seseorang.
"Kakak Pandu," ucap Michelle.
Laki-laki itu tersenyum ke arah Michelle dan Mitha.
"Kamu datang sama siapa?" tanya laki-laki bernama Pandu itu.
__ADS_1
"Ini Mamamu," ucap Michelle pada Pandu.
"Ma, ini kak Pandu. Beliau orang yang membimbing aku dalam menguasai beberapa gerakan ilmu bela diri tepatnya beliau adalah guru aku," ucap Michelle pada Mitha.
Mitha tersenyum lalu menjabat tangan Pandu.
"Syukurlah kamu sudah menemukan keluarga kamu."
"Ya, aku bahagia," ucap Michelle.
**********
Di kantor Randy.
"Aby, barusan Bu Marisa menelpon Papa katanya Mawar sudah merebut aset milik Pak Mahendra dan sekarang memecat Pak Mahendra dari kantornya, apa itu benar?" tanya Randy.
Aby menoleh ke arah Randy, "ya," sahutnya singkat.
"Kenapa By, apa selama ini kamu tidak pernah memberinya uang belanja sehingga dia harus mencari uang sendiri?"
"Bawaan hamil Pa lagian kalau gak ada izin dari Pak Mahendra mana mungkin Mawar bisa memiliki aset mereka," ucap Aby dengan santainya.
Ya, Aby memang menganggap yang Mawar lakukan ini adalah bawaan hamil karena sebelumnya Mawar tidak pernah sekejam ini pada keluarganya meski mereka sudah sangat menyakitinya.
"Bawaan hamilnya menakutkan sekali," celetuk Dirga yang kebetulan ada di ruangan itu juga.
"Gak ada bawaan hamil yang membuat orang lain kesusahan," ucap Randy.
"Ada, buktinya Mawar bisa melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan," jawab Aby.
"Lalu sekarang bagaimana dengan nasib Pak Mahendra? Pak Mahendra adalah teman Papa yang sekarang menjadi mertua kamu."
"Gak tahu, terserah Mawar aja."
"Jadi, sekarang Mawar yang berkuasa?" ucap Dirga.
Aby terdiam, dia menatap Randy lalu menatap Dirga.
"Aku tidak beeniat untuk menghentikannya. Aku ingin tahu anak yang tak pernah dianggap keberadaannya oleh orang tuanya bisa melakukan apa pada mereka," ucap Aby.
"Maksud kamu apa?" ucap Randy.
"Mawar dibuang oleh Pak Mahendra dan Bu Marisa karena terlahir sebagai anak perempuan sedangkan mereka menginginkan anak laki-laki. Dua puluh tahun kemudian anak itu diculik dari orang tua angkatnya dan dipaksa menikah dengan aku, dulu aku pikir akulah korban dari semua yang terjadi ini tapi ternyata aku bukan satu-satunya ternyata Mawar juga adalah korban dari keegoisan mereka," ucap Aby panjang lebar.
"Jadi, itu sebabnya sebelum pernikahan kita hanya mengenal Jingga saja dan sekarang Mawar ingin membalas dendam," ucap Randy.
"Aku juga tidak tahu tapi selama ini Mawar tidak pernah membiarkan orang lain menyakiti mereka," jelas Aby.
__ADS_1
"Yang ada dalam pikiranku adalah, Mawar tidak ingin ada orang lain yang menyentuh mereka karena hanya dirinya saja yang berhak menyentuh mereka," ucap Dirga.
Bersambung