Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 152


__ADS_3

Tiga hari setelah Mawar mengusir Mahendra dari kediamannya.


Kini Mawar kembali mendatangi rumah milik orang tuanya itu untuk memastikan bahwa rumah itu benar-benar sudah dikosongkan.


Mawar berjalan dengan langkah cepat dengan tangan yang menenteng tas mahal miliknya!


"Kenapa kalian belum pergi juga dari sini?" ucap Mawar pada orang tuanya yang ternyata masih menempati rumah itu.


"Mawar, tolong beri kami waktu untuk mencari tempat tinggal baru. Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak ada rumah kontrakan yang kosong untuk kami tempati," ucap Mahendra.


"Iya Mawar sekarang Jingga sedang sakit tolong berikan kami waktu sampai Jingga sembuh," ucap Marisa yang saat itu berdiri di belakang Mawar.


Mawar memejamkan matanya menahan cairan bening itu agar tak keluar dari pelupuk matanya. Ada rasa iba dalam hatinya tapi ia juga tak ingin terlihat lemah dihadapan mereka. Cukup sudah penderitaan yang mereka berikan padanya sekarang saatnya dirinya benar-benar bersikap keras pada mereka.


"Saya tidak peduli. Sekarang juga pergi kalian dari rumah saya," ucap Mawar dengan suara lantang.


"Dimana hati kamu, Mawar? Dimana rasa belas kasihmu pada keluargamu? Kami ini keluargamu tapi sedikitpun kamu tidak mengasihani kami. Setidaknya kasihanilah Jingga, dia sedang sakit. Apa kamu lupa kalau dia itu kakak kandungmu?" ucap Mahendra.


"Dimana hatiku? Dimana belas kasihku? Kenapa Anda menanyakan itu padaku, Pak Mahendra? Apa Anda lupa bahwa rasa kemanusiaan saya sudah kalian ambil sejak puluhan tahun yang lalu? Saya yakin kalian tidak akan pernah lupa saat kalian membuang saya begitu saja. Saya tanya pada kalian, apa saat itu Anda mengasihani saya? Apa selama saya hidup di sana, Anda pernah menyambangi saya?" Mawar berucap dengan tatapan tajamnya pada Ayah dan ibu kandungnya.


"Tidak ... dua puluh tahun saya hidup susah bersama mereka bahkan saya pernah tidak makan karena sulitnya ekonomi orang tua angkat saya, apa saat itu Anda ada untuk saya? Seharusnya Anda sadar siapa di sini yang tidak punya hati dan tidak punya belas kasih," sambung Mawar.


"Kami tahu kami salah. Maafkan kami Mawar, maafkan Mama," ucap Marisa dengan air matanya yang sudah mengalir deras.


"Mawar, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, tolong biarkan aku tinggal di sini sampai aku sembuh," ucap Jingga dengan suara lirih.


Saat ini Jingga memang sedang kurang sehat. Tubuhnya demam dan dari semalam muntah-muntah. Mungkin karena kelelahan dan masuk angin.


"Maaf kalian tidak berarti lagi. Permohonan kalian sudah tidak ada gunanya lagi, aku tidak bisa membiarkanmu kalian tetap di sini. Pergi kalian dari rumahku," ucap Mawar.


"Tolong Mawar, tolong jangan seperti ini pada kami," ucap Marisa.


"Frans! Joe! Salman!" seru Mawar pada tiga bodyguardnya.


Tak lama tiga bodyguard itu datang dengan berlari menghampiri Mawar!


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Joe.


"Seret mereka. Keluarkan mereka dari rumah saya," titah Mawar pada mereka.

__ADS_1


Mereka bertiga tak langsung mengerjakan perintah Mawar.


Frans, Joe, dan Salman masih berdiri dihadapan Mawar sambil saling menatap satu sama lain. Mereka ragu apakah perintah Mawar ini serius atau hanya gertakan semata.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa orang-orang ini keluar dari sini," ucap Mawar lagi.


"Tidak usah, kami bisa keluar sendiri," ucap Mahendra.


Marisa langsung membantu Jingga untuk berjalan sementara Mahendra membawa pakaian milik mereka yang memang sudah dikemas sejak kemarin.


Frans ikut membantu Marisa untuk membawa Jingga keluar dari rumah itu sementara Salman dan Joe mengikuti mereka dari belakang.


"Pak hati-hati ya. Maaf kami hanya menjalankan perintah dari majikan kami," ucap Frans pada Mahendra.


Di depan gerbang tinggi itu, Mahendra dan keluarganya berdiri menatap rumah yang sudah puluhan tahun dihuninya.


"Saya paham. Tidak usah minta maaf," ucap Mahendra.


"Pa, kita mau kemana? Jingga sedang sakit bagaimana ini?" ucap Marisa.


"Papa tidak tahu, Papa masih ada uang mending kita cari taksi dulu, kita bawa Jingga berobat dulu," ucap Mahendra.


Air matanya menetes melihat kedua orang tuanya mulai melangkah meninggalkan rumahnya.


"Maafkan aku," ucap Mawar di dalam hatinya.


Setelah mereka sudah tak terlihat lagi Mawar duduk di kursi yang ada di dekatnya itu.


Dia tak kuasa menahan tangisnya, hari ini dirinya baru melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dirinya tega mengusir orang tuanya dari rumahnya sendiri.


"Ya Tuhan, apa yang aku lakukan ini sudah benar? Aku tersiksa sendiri dengan perlakuanku pada mereka," batin Mawar.


Dari depan pintu masuk, Frans dan dua rekannya itu menatap Mawar yang kini tengah menangis deras namun, tanpa suara sedikitpun yang terdengar dari mulutnya.


"Mbak Mawar kenapa?" tanya Joe.


Salman mengangkat kedua belah bahunya tanda ia juga tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Mawar.


Dengan langkah pelan Frans menghampiri Mawar.

__ADS_1


"Mbak Mawar baik-baik saja?" ucap Frans dengan suara pelan.


Mawar segera mengusap air matanya lalu menatap Frans.


"Saya baik-baik saja."


"Tapi kenapa, Mbak menangis? Saya takut Mbak kenapa-kenapa," ucap Frans lagi.


"Tidak, saya baik kok. Pergilah, pastikan orang tua saya baik-baik saja tapi ingat jangan pernah kamu menampakkan diri pada mereka dan jangan pernah menolong mereka terkecuali dalam keadaan mendesak," ucap Mawar.


"Baik, Mbak." Frans dan Salman pun pergi meninggalkan rumah milik Mahendra sedangkan Joe tetap tinggal di sana karena harus memastikannya keselamatan Mawar.


**********


Di sebuah klinik kesehatan.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Marisa pada dokter yang baru memeriksa kondisi Jingga.


"Ini cuma demam biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini obatnya," dokter itu memberikan racikan obat untuk Jingga pada Marisa.


"Jangan lupa dihabiskan ya dan usahakan agar pasien istirahat total selama beberapa hari kedepan ya," sambung dokter itu.


"Baik, Dok terima kasih," ucap Marisa.


Mahendra membantu Jingga untuk turun dari ranjang periksa dan membawanya keluar dari klinik itu!


"Kita harus kemana, Pa?" tanya Marisa.


"Mama punya uang gak?" tanya Mahendra.


"Tidak ada tapi Mama masih ada perhiasan," ucap Marisa.


"Syukurlah kalau gitu kita cari penginapan aja dulu untuk malam ini agar Jingga bisa istirahat. Besok baru Papa akan mencari kontrakan untuk kita tinggal," ucap Mahendra.


"Tapi dimana kita bisa menjual perhiasan Pa?"


"Sekarang pakai uang Papa dulu. Papa masih punya sedikit uang," ucap Mahendra.


Mereka pun mulai melangkah mendekati jalan raya untuk menunggu taksi yang lewat. Karena Mawar tak mengizinkan mereka membawa mobilnya, mereka harus menumpang sarana transportasi apapun yang bisa mereka tumpangi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2