
Michelle melompat dari tembok tempat semula ia masuk dan perlahan menuruni pohon besar itu!
Sebuah senyuman penuh keberhasilan terukir di bibir Michelle ia mengambil berkas berharga milik Mahendra dari balik jaketnya lalu memeriksa ulang memastikan agar ia tak salah mengambil berkas itu.
"Oh ternyata benar, ini yang aku cari," gumam Michelle.
Michelle pun kembali menyimpan berkas itu di balik jaketnya dan mulai pergi meninggalkan tempat itu!
********
Di kediaman Randy.
"Cie yang lagi happy, gimana udah hilang bete nya?" ucap Nasya menggoda Mamanya.
"Kalian jahat ya, bisa banget mengerjai Mama," ucap Ratu.
"Tapi sekarang udah gak bete lagi kan? Udah seneng kan?" ucap Randy.
"Seneng dong. Gimana gak seneng coba, udah dikasih kejutan sama Papa dan anak-anak terus dapat kado spesial pula dari Aby dan Mawar," ucap Ratu.
"Kalau itu bukan cuma Mama yang senang Papa juga senang," ucap Randy.
"Aku juga senang banget, akhirnya sebentar lagi punya keponakan. Kalau keponakannya cewek pasti lucu banget," ucap Nasya.
"Laki-laki ataupun perempuan sama aja," ucap Randy.
"Iya sama tapi kalau perempuan pasti cantik seperti aunty nya," ucap Nasya.
"Mommy nya juga cantik apalagi Oma nya cantik banget," ucap Randy lagi.
"Ish kalian malah memperdebatkan yang gak jelas. Pada mandi sana, udah sore nih," ucap Ratu.
**********
Di kediaman Aby dan Mawar.
Mawar sedang terbaring dengan kepalanya yang ia posisikan di atas paha Aby sedangkan Aby asyik mengelus rambut Mawar yang lembut dan wangi.
"Sayang, boleh aku bertanya?" ucap Aby.
"Boleh, tanya apa?" sahut Mawar.
"Aku sering melihat kamu diam-diam menangis saat aku menghampiri kamu, seketika tangis itu hilang, kesedihan itu pergi entah kemana. Kamu kenapa? Apa yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Aby.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Mawar.
"Tidak mungkin baik-baik saja tapi kamu sering menangis. Katakan saja padaku atau mungkin sebenarnya kamu tidak bahagia denganku?"
"Tidak, Mas kalau aku tidak bahagia tidak mungkin aku masih bertahan bersamamu di dalam pernikahan ini."
"Lalu apa yang selalu membuat kamu menangis? Kamu sedang hamil jangan sampai bayi kita terkena dampaknya," ucap Aby.
Mawar bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Aby!
__ADS_1
"Banyak. Ada banyak hal yang membuat aku menangis, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan," ucap Mawar.
"Aku tidak mengerti," ucap Aby.
Mawar meraih ponselnya lalu mengutak-atik ponselnya itu setelah beberapa detik Mawar memperlihatkannya foto yang ia dapat dari Jingga.
"Lihat ini." Mawar memperlihatkan layar ponselnya pada Aby.
"Ini, ini juga dan ini," ucap Mawar sembari menggulir foto-foto Aby bersama Jingga.
"Dapat dari mana kamu semua foto itu?"
"Kenapa kamu masih berhubungan dengan Jingga sementara kamu sudah janji dan sudah mengatakan bahwa cuma aku yang ada dalam hati kamu? Lalu ini apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Aby, Mawar malah bertanya balik pada Aby.
"Aku berani bersumpah demi apapun saat ini memang hanya ada kamu di hati aku. Aku tidak pernah menemui Jingga," ucap Aby.
"Ini sudah ada buktinya, kamu masih mengelak."
"Dari mana kamu dapat foto itu?" tanya Aby lagi.
Mawar terdiam dan enggan berucap lagi pada sang suami.
"Kalau kamu tidak mengatakan dari mana foto itu, bagaimana aku bisa menjelaskan sama kamu. Dari mana kamu dapat semua foto-foto itu dan kapan kamu mendapatkannya?"
"Dari Jingga. Pesannya masih belum aku hapus, ini dikirim pada tanggal dua puluh lima bulan kemarin," jelas Mawar.
"Dua puluh lima?" Aby nampak mengingat hari itu.
"Oh, tunggu sebentar ya," ucap Aby sembari merogoh ponselnya yang terletak di dalam saku celananya lalu menelpon Dirga.
[Baik, Tuan Muda.]
[Jangan lama ya, sepuluh menit cukup gak?]
[Saya akan datang sebelum sepuluh menit.]
Aby langsung mematikan sambungan telponnya setelah selesai bicara dengan Dirga.
"Kenapa menelpon Dirga?" tanya Mawar.
"Kalau ada masalah harus diselesaikan sampai tuntas, kejadian tanggal dua puluh lima itu hanya Dirga yang bisa menjelaskan semuanya," ucap Aby.
"Kok Dirga? Yang bermasalah itu kamu bukan Dirga," ucap Mawar.
"Kalau aku jelasin, kamu gak akan percaya. Kita tunggu Dirga dulu."
Mawar mengerucutkan bibirnya beberapa centi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Waktu itu Jingga datang ke kantor, dia ingin bicara denganku tapi di luar bukan di dalam kantor, karena aku gak mau ada keributan akhirnya aku jalan sama Jingga ke area parkir. Ini foto waktu aku berjalan sama Jingga di tangga yang menuju tempat parkir kantor," jelas Aby sembari memperlihatkan foto pertama yang terdapat di ponsel Mawar.
"Kenapa kamu peluk-pelukan gitu sama dia?"
"Ini bukan pelukan tapi tiba-tiba Jingga pingsan dan jatuh ke pelukan aku."
__ADS_1
"Bohong. Kalau jatuh kenapa kamu menindih tubuhnya di dalam mobil?" tanya Mawar lagi.
"Ya ampun, Mawar itu aku lagi masukin Jingga ke dalam mobil. Mana ada aku menindih tubuhnya," ucap Aby membantah tuduhan Mawar.
"Kalau pun iya aku tak apa. Lepaskan aku karena gak mungkin Jingga menjadi maduku."
"Kamu bicara apa? Ini Dirga lama banget sih," ucap Aby.
"Selamat sore, Tuan Muda, Mawar," ucap Dirga.
"Nah tuh Dirga datang," ucap Aby.
"Ada apa memanggil saya ke sini?"
"Sini kamu." Aby melambaikan tangannya pada Dirga.
"Kamu masih ingat kan waktu Jingga tiba-tiba pingsan?" tanya Aby.
"Oh, iya saya ingat," ucap Dirga.
Aby meraih ponsel Mawar yang ada dalam genggaman Mawar lalu memperlihatkan foto-foto yang Mawar dapatkan dari Jingga.
"Lihat ini, ternyata wanita itu sengaja menjebak saya," ucap Aby.
Dirga melihat beberapa foto itu lalu dia menatap Mawar yang sedari tadi hanya cemberut.
"Sebentar, Tuan Muda. Saya telpon teman saya yang kerja di rumah sakit itu," ucap Dirga.
"Untuk apa?" tanya Aby.
"Kalian lagi ngomongin apa? Dari tadi anteng sendiri," ucap Mawar.
"Aku lagi nyari bukti kalau Tuan Muda tidak bersalah," ucap Dirga.
"Jadi waktu itu Tuan Muda cuma memasukkan ulat bulu itu ke dalam mobil setelah itu aku yang mengurus ulat bulu itu. Aku membawanya ke rumah sakit karena ulat bulu itu sedang dalam keadaan pingsan," jelas Dirga.
"Lalu bukti apa yang bisa kamu perlihatkan padaku? Bukan tidak mungkin kamu bekerjasama dengan Mas Aby untuk membohongi aku," ucap Mawar.
"Sayang ayolah, aku gak mungkin melakukan itu," ucap Aby.
[Halo Kal. Kal aku boleh minta tolong gak?] tanya Dirga pada temannya yang bernama Haikal yang bekerja di rumah sakit tempat Dirga membawa Jingga waktu itu.
[Minta tolong apa?]
[Aku minta rekaman CCTV di bagian area tempat parkir sekitar jam sebelas sampai jam dua belas siang.]
[Rekaman tanggal berapa?]
[Tanggal dua puluh lima bulan lalu. Tolong ya ini menyangkut pernikahan orang.]
[Baik, tunggu sebentar ya.]
Dirga langsung mematikan sambungan telponnya.
__ADS_1
"Temanku bersedia membantu, kita tunggu sebentar ya," ucap Dirga.