
"Haaaa! Aaaaa! Brengsek, brengsek lo Mawar!" teriak Jingga sembari mengacak-acak isi kamarnya.
"Astaga Jingga! Apa yang kamu lakukan?" Marisa mencoba menghentikan amukan Jingga yang sudah tak terkendali.
"Anak sial itu tahu dari mana kalau aku udah ... dia tahu dari mana kalau Roger lebih memilih menikah dengan perempuan lain?"
"Jingga, Jingga tenang dulu. Bisa aja Mawar cuma asal bicara lagian gak mungkin dia tahu."
"Buktinya tadi dia tahu kalau aku sudah melakukan hal bodoh itu."
"Udah-udah, tenang Jingga. Kita harus mencari cara lain untuk menyingkirkan Mawar, sepertinya dia cukup berani pada kita. Mama gak akan membiarkan Mawar bahagia sebelum kamu merasakan kebahagiaan yang melimpah." Marisa memeluk Jingga dan membeli rambutnya.
"Gimana kalau aku hamil, Roger udah pergi entah kemana, aku udah coba mencari dia kemana-mana tapi gak ketemu." Gadis yang sudah tak lagi perawan itu menangis dipelukan sang Mama. Cinta yang terlalu besar membuatnya berada dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
"Tenang ya sayang lagipula gak mungkin hamil kalau cuma sekali melakukannya." Marisa terus berusaha menenangkan Jingga meski dalam hatinya terasa sesak menerima kenyataan putri yang selama ini dibanggakannya dengan gampangnya menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang belum pasti mencintainya dengan tulus itu.
**********
"Mawar, teh buatan kamu ini terasa berbeda dari yang lain."
"Beda bagaimana? Perasaan bikinnya sama dan teh nya juga sama seperti teh biasanya."
"Ini sangat nikmat. Apa yang bikinnya pacar aku ya makanya teh nya jadi enak."
Mawar tertawa renyah. Ditatap nya wajah Abymana yang tengah tersenyum padanya.
"Ada-ada aja. Ingat Jingga tuh yang mungkin lagi mikirin kamu."
"Kamu kenapa sih, selalu saja bawa-bawa nama Jingga? Udahlah, lupakan gadis itu."
"Beneran, kamu mau melupakan dia?"
"Ya. Mulai sekarang hanya akan ada kamu."
"Serius nih? Gak bohong?"
"Kapan aku bohong sama kamu?"
"Aby, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa? Tanyakan saja."
__ADS_1
"Tapi kamu jangan marah dan jawab dengan jujur ya."
"Iya."
"Kalau misalnya Jingga minta kalian balikan, apa kamu akan menerima dia, meski dia sudah tak lagi suci?"
Aby tak langsung menjawab pertanyaan Mawar. Dia terdiam sembari terus menatap Mawar.
"Jujur aku masih mencintai Jingga bahkan setelah aku tahu dia tidak setia pun aku masih cinta sama dia," batin Aby.
"Gak usah dijawab, aku rasa aku sudah tahu jawabannya," ucap Mawar lagi karena Aby tak juga bicara.
"Mawar, aku sedang berusaha melupakan Jingga kalau suatu saat dia datang lagi dan meminta kembali, aku pasti menolaknya."
"Bukan suatu saat tapi kemarin dia udah datang dan dengan terus terang minta kalian kembali seperti dulu."
"Mawar, beri aku waktu untuk menguatkan hati untuk kamu. Aku memang masih mencintai Jingga tapi aku tidak mungkin bersamanya lagi."
"Lebih baik jangan berusaha menumbuhkan cinta untuk aku. Rasa cinta kamu begitu besar pada Jingga kalau kamu mencoba memaksa nanti yang ada hubungan kita tidak akan baik. Aku tak masalah kalau kamu menikahi Jingga dan menceraikan aku toh pernikahan kita juga terjadi karena terpaksa kan? Mumpung semua belum terlambat, lebih baik kamu ceraikan aku."
"Aduh!" Tiba-tiba Aby meraung kesakitan sembari memegangi dadanya.
"Aby, kamu kenapa?" Mawar mulai panik. Dia pun langsung menghampiri Aby yang tengah duduk di kursi yang ada di depannya.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan?" Mawar segera berjalan ke, arah pintu untuk meminta bantuan pada orang rumahnya yang lain n
"Peluk aku."
Seketika, Mawar menghentikan langkahnya yang hendak pergi ke luar untuk meminta bantuan pada Frans dan dua rekannya.
"A_apa, kamu mau apa?" ucapnya sembari berbalik badan.
"Mawar, hatiku sakit. Cuma kamu yang bisa menyembuhkan luka ini."
Mawar mendekati Aby lalu memukul lengan atasnya!
"Kamu ya, aku pikir serius. Bikin panik aja deh."
"Aku serius Mawar, coba kamu pegang dada aku." Aby meraih tangan Mawar lalu meletakkan telapak tangannya tepat di bagian jantungnya!
"Kamu pasti merasakan detak jantungku yang berirama saat aku dekat dengan kamu."
__ADS_1
Mawar tersenyum lebar lalu menarik tangannya.
"Biasa aja, semua jantung kan berdetak seperti itu."
"Kita makan di luar yuk!"
"Tadi bikin aku panik, sekarang malah mau ngakak makan di luar."
"Aku mau kita lebih sering bersama di tempat-tempat romantis biar cinta kita tumbuh subur. Aku akan melupakan Jingga dan kamu juga harus melupakan Taufik."
"Ih kok nyambung ke Taufik? Dia bukan pacar aku."
"Tapi dia dekat banget sama kamu, bisa aja kan diam-diam kalian saling suka."
"Nggak, aku sama dia cuma temenan."
"Ya udah ayo kita pergi."
*********
Di kediaman Dirga.
Seperti biasa, setelah Ussy pulang, Dirga hanya tinggal sendirian di rumahnya. Untuk menghilangkan rasa bosan, biasanya ia akan mengecek pekerjaan kantornya lagi agar tidak ada kesalahan sedikitpun.
Saat dirinya fokus dalam laptop di depannya tiba-tiba ia teringat pada Michelle.
Pandangannya, senyumannya, lambaian tangannya teringat dengan jelas dikepalanya. Dirga tersenyum lalu meraih ponselnya yang terdapat di samping laptopnya!
Dia mengetik sebuah pesan untuk Michelle.
[Selamat malam.] tapi ia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan itu, ia menghapus pesannya dan mengganti dengan kata-kata lain.
[Kamu lagi apa?] Lagi-lagi Dirga tak mengirimkan pesan itu. Dia menghapusnya lagi dan memilih meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Dirga yang merasa tak percaya diri, tak berani mengirim pesan meski sekedar untuk menyapa atau menanyakan sesuatu.
"Ah gak mungkin aku jatuh cinta sama Michelle. Dia cantik, dia hebat pasti dia udah ada yang punya," gumam Dirga.
Dirga menutup laptopnya lalu meninggalkan meja kerjanya! Diraihnya kunci mobilnya dan dia berjalan ke luar rumahnya.
"Daripada mikirin cewek mending makan. Enak bikin kenyang," gumam Dirga lagi sambil terus berjalan menuju garasi mobilnya.
__ADS_1
Bersambung