Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 282


__ADS_3

Aby merangkul Mawar dari samping. "Jangan sampai berubah sikapmu padaku. Kakak kamu tampan, jangan bikin aku cemburu," ucap Aby tanpa merasa malu pada semua orang yang berada di sana.


"Ya salam. Sama kakak sendiri saja harus cemburu padahal sendirinya ganteng gak ketulungan," celetuk Joe.


"Saking tampannya sampai Mawar yang dulu benci banget sekarang jadi bucin, tuh," ucap Dirga.


"Oh iya. Dulu berdua gak akur ya, sekarang malah lengket banget," ucap Salman.


"Lihat! Lihat! Aku masih ada bekas luka di kening gara-gara mereka yang gak pernah akur," ucap Frans sembari memperlihatkan bekas luka berwarna kehitaman di keningnya. Untunglah luka itu berada di kening paling atas sehingga tidak terlalu jelas terlihat karena terhalang oleh rambut.


"Oh iya, aku ingat. Waktu itu Mbak Mawar mencoba melarikan diri," ucap Salman.


"Itu 'kan karena Tuan Muda yang menantangnya," ucap Joe.


"Hey! Hey! Udah. Jangan bicarakan masa lalu yang itu," ucap Aby.


"Aku masih ingat, waktu itu kita mengejar Mawar ramai-ramai tapi gak ada yang berhasil," ucap Dirga.


"Yang paling parah, waktu itu kamu malah bertanya sedang main apa. Udah tahu lagi main kejar-kejaran," ucap Aby yang terlanjur malu.


"Masa lalu kalian indah ya. Pasti menjadi cerita sampai tujuh turunan gak bakal lupa," ucap Michelle.


"Indah apanya? Orang baru menikah pasti lagi mesra-mesranya sedangkan yang terjadi pada kami ... ah ya sudahlah jangan dibahas. Lagipula sekarang aku sudah mendapatkan, Mas Aby," ucap Mawar.


"Nanti cerita-cerita lagi, Kak. Ceritanya mau aku angkat menjadi sebuah novel," ucap Alena.


"Kamu penulis novel?" tanya Salman.


"Bukan. Baru mau nulis, itu pun karena aku mendengar cerita mereka yang menarik," sahut Alena.


"Jangan. Nanti orang pada bosan karena ceritanya terlalu datar dan membosankan," ucap Mawar.


"Kalau mau, kisah Joe sama Ussy, tuh. Pertemuan pertama mereka gara-gara mobil yang ditumpangi Ussy tiba-tiba mogok di jalan," ucap El.


"Gak seru soalnya yang nontonin bukan Joe tapi Mas, Salman," ucap Ussy.


"Tapi tetap saja kalian yang menjadi pemeran utamanya karena kalian yang pacaran," ucap Salman.


"Huh untung kamu kak jatuh cinta sama El kalau sampai jatuh cinta, pernikahan ini tidak akan terjadi dan aku, mungkin tidak akan menjadi pacar kamu sekarang," ucap Alena.


"Udah-udah. Berbincang-bincangnya udah dulu. Makan siang sudah siap, ayo kita makan," ucap Bu Athalia.


Mereka semua menoleh pada Bu Athalia lalu Dirga dan Michelle mulai berjalan menghampiri meja prasmanan itu. Michelle langsung mengambil piring dan langsung mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya, tak lupa dia juga mengambil kerupuk dan buah. Piring makan Michelle sudah terisi penuh bahkan saking penuhnya ada beberapa kerupuk yang terjatuh dari piringnya.


Dirga tersenyum melihat istrinya yang seperti sudah tak makan selama satu minggu. Dia pun mengambil piring lain lalu mengambil setengah makanan dari piring milik Michelle.

__ADS_1


"Kalau gak muat satu piring, kamu boleh makan dua piring," ucap Dirga sembari membagi dua makanan yang ada dalam piring makan Michelle.


Michelle hanya diam dan terus menatap Dirga. Tak ada sedikit pun rasa malu dalam dirinya karena perbuatannya, baginya yang dia lakukan itu adalah hal yang wajar dan lumrah dilakukan oleh siapa saja.


Di belakang Michelle dan Dirga. Orang-orang itu menatap porsi makan Michelle yang luar biasa itu. Mereka terheran-heran mengapa Michelle bisa serakus itu.


"Lagi hamil. Jangan heran, ini bawaan bayi," ucap Dirga sambil menatap mereka yang sedang kebingungan dengan Michelle yang makan banyak.


"Hamil? Kok, kamu gak bilang?" ucap Aby dan Mawar secara bersamaan.


Michelle hanya tersenyum mendengar perkataan Mawar dan Aby. Dia memang belum sempat memberi tahu mereka tentang kehamilannya, selama beberapa bulan belakangan ini mereka jarang bertemu hingga tidak ada waktu untuk mengobrol.


"Gayanya sok sibuk sampai kabar gembira gini gak ngasih tahu," ucap Aby.


"Ini dikasih tahu," ucap Dirga sementara Michelle asyik melahap makanan itu.


Mawar segera duduk di meja yang sama dengan Michelle, dia terus menatap Michelle yang sedang makan dengan begitu lahapnya. Ada rasa aneh dalam dirinya saat melihat Michelle yang makan dalam porsi banyak padahal biasanya Michelle jarang makan.


"Chell. Pelan-pelan makannya, masih banyak tuh kalau mau nambah lagi," ucap Mawar lalu menyendok nasinya dan langsung melahapnya.


"Bayiku udah kelaparan," sahut Michelle dengan mulut yang penuh terisi makanan.


"Semenjak hamil Michelle jadi banyak makan. Lihat saja tuh pipinya udah bengkak padahal yang harusnya gendut perutnya eh ini malah pipinya yang gendut," ucap Dirga yang juga duduk bergabung bersama mereka.


"Kemarin pas periksa kandungan, kata dokter sudah dua belas minggu," sahut Michelle.


"Oh, dua belas minggu. Nanti perut kamu mulai buncit pas enam belas minggu. Tunggu saja perubahannya," ucap Mawar.


"Waktu kamu hamil, jadi doyan makan gak, sih? Perasaan semenjak hamil perut aku lapar terus," ucap Michelle.


"Nggak, tuh justru aku jarang makan karena aku merasa semua makanan bau dan tidak enak dimakan," sahut Mawar.


"Kamu gak banyak makan, hanya banyak ngerepotin aku," ucap Aby sembari menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di samping Mawar.


"Kok, gitu?" tanya Dirga.


"Iya. Orang tengah malam harusnya tidur, lah Mawar ... tengah malam minta es kelapa muda," jelas Aby.


"Bawaan bayi. Lagian sekarang aku gak pernah aneh-aneh lagi," ucap Mawar.


*******


Waktu berjalan begitu cepat, kini semua orang sudah pulang dari kediaman Bu Athalia dan hanya menyisakan keluarga saja. Karena merasa lelah, Dirga dan Michelle pun memilih tetap tinggal di sana dan mungkin akan menginap malam ini. Michelle yang sedang hamil muda sering kehabisan tenaga meski dirinya terus menerus mengunyah makanan.


Di kamar El.

__ADS_1


El duduk di kursi meja rias sambil berusaha melepaskan aksesoris yang menempel di rambutnya, sementara itu Fredy duduk di atas tempat tidur sambil terus memperhatikan gadis yang baru dinikahinya. Karena bosan hanya duduk sambil memperhatikan El, dia berjalan mendekati istrinya lalu membantunya melepas semua aksesoris itu.


"Kalau kesulitan, kenapa tidak minta tolong?" ucap Fredy sembari mencabut jepit lidi dari rambut El.


"Aku bisa hanya saja butuh waktu sedikit lama," jelas El.


"Biar aku bantu," ucap Fredy sambil terus menggerakkan tangannya mencabut jepit kecil itu dari rambut El.


Setelah selesai. Fredy tak langsung berpindah tempat dari sana, dia menatap mereka berdua dari pantulan cermin. Sebuah senyuman terukir di bibirnya, tangannya memegang kedua belah pundak El dan sesekali mengelusnya.


"Akhirnya aku bisa memiliki kamu. Awas kalau kamu nakal," ucap Fredy.


El tersenyum lalu bangkit dari duduknya, hingga kini dia menghadap sang suami. Dia tersenyum lalu mengalungkan tangannya di leher Fredy.


"Aku gak akan nakal, paling main-main sedikit dengan teman kampus aku yang namanya Allan," ucap El.


"Jangan menggodaku, atau aku akan memenjarakan kamu dalam istana cintaku," ucap Fredy sembari menempatkan kedua tangannya di pinggang El.


"Berani ya sekarang hinggap di sana. Nakal lagi pakai raba-raba segala," ucap El sembari menatap tangan Fredy yang mulai nakal di perutnya.


"Tentu saja berani. Bahkan aku berani membuka bajumu saat ini juga."


"Jangan. Waktunya masih lama, kita harus menunggu Nasya dan Reza menikah dulu."


"Apa hubungannya? Mereka ya mereka, kita, ya kita," ucap Fredy.


"Katanya mau lomba, siapa yang gol duluan akan dapat jadi liburan ke luar negeri," ucap El sembari tertawa kecil.


"Jangan mengulur waktu. Lihatlah, dibawah sana ada yang sudah tidak tahan ingin menembakkan pelurunya," ucap Fredy sembari menatap ke bawah ke arah rudal panjang miliknya.


Seketika El merasa malu dan tertunduk lesu. Ah apa yang sedang dibicarakan suaminya sungguh sangat membuatnya merasa takut. Dia melepaskan tangannya dari leher Fredy lalu membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi suaminya itu.


"Aku ... aku belum siap untuk itu. Nanti saja saja ya, beberapa hari lagi," ucap El dengan suara pelan.


Fredy memeluk El dari belakang lalu mencium daun telinganya. "Kalau aku maunya sekarang, gimana?" tanyanya.


"Sekarang aku mau mandi dulu. Ya, mau mandi. Setelah seharian berkumpul bersama keluarga, aku merasa kegerahan," ucap El sembari berusaha melepaskan tangan Fredy yang melingkar di perutnya.


"Se_takut ini kah? Kita udah pacaran masa kamu masih takut. Jangan takut, aku tidak akan melukai kamu."


"Bukan begitu. Aku tidak takut tadi aku bilang aku mau mandi dulu."


"Oh, ya udah kalau gitu mandi bareng." Tanpa basa-basi lagi, Fredy mengangkat tubuh El dan membawanya ke dalam kamar mandi! El yang terkejut tak terasa berteriak keras.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2