
"Kita makan si tempat ini? Apa gak salah?" tanya Mawar saat tiba didepan sebuah restoran.
"Ya nggak lah, masa salah sih."
"Aku gak suka makanan Jepang."
"Kenapa? Kamu gak suka karena kamu belum mencobanya."
"Ah aku gak mau makan di sini, aku mau makan bakso di pinggir jalan tadi." Saat sedang dalam perjalanan menuju restoran itu, Mawar melihat ada tukang bakso yang berjualan di pinggir jalan, sebenarnya ia ingin sekali makan di sana tapi dirinya tidak berani berbicara pada Aby dan akhirnya mereka tiba di tempat itu, restoran khusus makanan khas Jepang.
"Bakso pinggir jalan?" Aby menatap Mawar dengan penuh tanya.
"Iya tapi kalau kamu mau makan di sini makan aja dulu biar aku makan di tempat abang bakso yang tadi."
"Gak enak dong, pergi bareng masa makan gak bareng-bareng. Ya udah kali ini aku ikutin kamu tapi yakin gak bikin sakit perut?"
"Kok nyambung ke sakit perut sih Tuan Muda?"
"Iya makanan di pinggir jalan kan bisa aja terkena debu atau kotoran lainnya namanya juga di pinggir jalan kan."
"Nggak, dari dulu aku makan makanan yang dijual di pinggir jalan gak kenapa-kenapa tuh, aku masih sehat bahkan untuk berpura-pura bahagia aku masih bisa."
"Sekarang kamu lagi gak pura-pura bahagia kan?"
"Nggak, lagian aku gak sedang bahagia sekarang."
"Jadinya kita makan di mana?"
"Bakso tadi."
**********
"Kayaknya kita harus ngatur rencana buat ngerjain Mawar besok," ucap Yura pada kedua temannya.
"Rencana apa, enaknya diapain tuh anak?" sahut Mia.
"Tadi dia terluka apa gak keterlaluan kalau besok kita kerjain dia lagi?" ucap Ghina.
"Lo kenapa Na? Kasihan sama Mawar?"
"Nggak juga, kalau gue pikir-pikir dengan lo terus mengerjai Mawar, Galaxi akan semakin benci sama lo."
"Maksudnya gimana?"
"Selama ini Galaxi gak pernah ikut campur urusan kita. Mau kita apain kek orang yang gak lo sukai, Galaxi gak pernah membela orang itu apalagi sampai memperingatkan kita untuk berhenti mengerjai orang itu tapi sama Mawar, Galaxi berbeda, dia terlihat sangat perduli pada si anak baru itu."
"Emm, maksud lo Galaxi suka sama Mawar?" ucap Mia.
__ADS_1
"Bisa jadi makanya Galaxi gak suka banget sama kita apalagi sama lo Ra, karena kita udah dia hari ini terus mengusik Mawar."
"Karena Galaxi suka sama Mawar, gue jadi benci sama Mawar dan gue mau setiap hari Mawar menderita biar dia gak betah kuliah di kampus kita. Cuma gue yang boleh miliki Galaxi."
"Ya terus kita mau apain Mawar besok?"
"Kita kurung dia di gudang," ucap Yura.
"Gimana caranya biar Mawar masuk gudang?" tanya Ghina.
**********
"Kak Aby, kak Mawar," gumam Nasya yang melihat kakaknya sedang makan di pinggir jalan.
Gadis itu pun langsung menghentikan laju mobilnya dan segera turun dari mobilnya itu!
"Beneran kak Aby. Ini mobil dia," ucap Nasya saat melihat mobil Aby terparkir di sana.
Nasya pun segera berjalan menghampiri Aby dan Mawar yang sedang menyantap baksonya!
"Kak Mawar, kak Aby. Kalian makan di sini?"
Mawar dan Aby pun menoleh ke arah suara dan langsung mendapati Nasya yang sedang berdiri di samping meja mereka.
"Nasya? Ngapain kamu di sini?" tanya Aby pada sang adik.
"Kamu gak lihat kita lagi makan bakso?"
"Nasya, kamu mau makan bakso di sini juga?" tanya Mawar pada Nasya.
"Mau lah, emang kalian aja yang mau makan bakso di sini, aku juga mau." Nasya tersenyum lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Kamu tuh ganggu aja tahu gak," ketus Aby.
"Ya maaf, aku ganggu sebentar kan gak apa-apa lagian kan nanti juga kalian bisa semalaman berduaan di rumah."
"Kamu benar tapi masalahnya di sini dan di rumah itu beda."
"Udah-udah Tuan Muda, biarin aja Nasya ikut makan sama kita," ucap Mawar.
Nasya tersenyum lebar lalu menatap Aby dengan tatapan jahil.
**********
"Michelle," batin Dirga saat melihat seseorang dari belakangnya.
"Itu kayak Michelle, beneran Michelle bukan ya?" Dirga terus menatap seorang gadis yang sedang duduk di taman yang sedang dilewatinya itu.
__ADS_1
"Kalau dia beneran Michelle, berarti aku sama dia memang jodoh." Dirga langsung menghampiri gadis itu dan langsung menyapanya!
"Permisi," ucapnya.
Gadis itu menoleh dan benar saja dia adalah Michelle.
"Pak Dirga, sedang apa Anda di sini?" tanya Michelle.
"Jadi ini beneran kamu. Sedang apa kamu di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Michelle, Dirga malah bertanya balik dengan pertanyaan yang sama.
"Anda baru saja mencopas pertanyaan saya." Michelle tersenyum tipis ke arah Dirga.
"Oh ya, maaf saya kurang fokus. Boleh saya duduk di samping kamu?"
"Oh, boleh silahkan!" Michelle menggeser tubuhnya dan memberikan tempat untuk Dirga duduk.
"Saya baru selesai makan di restoran itu, sebenarnya saya udah mau pulang tapi karena saya melihat kamu di sini saya jadi nyamperin kamu deh," jelas Dirga.
"Pak Dirga, makan sendiri aja. Mana teman Anda?" Michelle nampak celingak-celinguk mencari seseorang di samping, depan dan belakang Dirga.
"Saya memang cuma sendiri tapi sekarang nggak sih, sekarang kan saya sama kamu."
"Kenapa gak ajak pacarnya atau mungkin istrinya."
"Pacar aja gak punya gimana mau punya istri." Dirga tersenyum dan terkesan santai dalam menjawab pertanyaan Michelle.
**********
"Pa, kayaknya Mawar gak cocok jadi istrinya Aby deh," ucap Marisa sembari memijat pundak Mahendra.
"Maksud Mama gimana?"
"Aby kan orang kaya dan berkelas sedangkan Mawar, meski dia anak kita tapi dia kan tinggal di kampung jadi tetap aja dia kampungan. Mama mau Jingga aja yang menjadi istrinya Aby."
"Gimana lagi Ma, biarkan aja lah lagipula mereka sudah menikah dan kamu tahu sendiri kan Jingga gak mau sama Aby."
"Tapi Mama rasa kita harus lebih tegas lagi sama Jingga. Kita paksa aja dia biar mau menikah dengan Aby." Sebisa mungkin, Marisa merayu suaminya agar mau memulangkan Mawar ke kampung dan menikahkan Jingga dengan Aby.
"Udah terlambat Ma, kalau memang pemikiran Mama seperti ini, kenapa gak dari awal Mama bersikap tegas pada Jingga? Sekarang kan Aby sudah menikah dengan Mawar, biarkan aja mereka menjalani pernikahannya."
"Pa, gak bisa dong. Keluarga Pak Randy bisa malu karena mempunyai menantu kampungan seperti Mawar."
"Udah lah Ma jangan menambah masalah lagi, kan Mama sendiri yang memaksa agar Mawar yang kita nikahkan pada Aby. Mama sengaja membiarkan Jingga pergi dengan Roger."
"Tapi sekrang Mama berubah pikiran Pa. Cuma Jingga yang cocok menjadi istrinya Aby."
Bersambung
__ADS_1