Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku

Terpaksa Menikah Dengan Calon Suami Kakakku
bab 163


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul delapan.


Mahendra sedang mencangkul sawah yang hendak ia tanami padi sedangkan Marisa sedang menyemai padi untuk dijadikan bibit padinya.


"Iiih, Papa. Mama jijik sama lumpur ini," ucap Marisa dengan tangannya yang terus melempar padi ke sembarang arah.


"Yang benar, Ma nanti tumbuhnya gak sesuai yang kita inginkan," ucap Mahendra yang saat itu sudah bercucuran keringat.


"Mama jijik, Pa. Papa kan tahu kalau Mama gak pernah menanam padi," ucap Marisa.


"Mulai sekarang kita harus membiasakan hidup seperti ini, Ma," ucap Mahendra.


Marisa mendengus kesal karena sang suami tak pernah protes pada Mawar padahal kalau Mahendra protes mungkin saja Mawar tidak akan memberikan mereka kehidupan yang seperti sekarang ini.


"Papa! Mama!" seru Jingga.


Mahendra dan Marisa pun menoleh ke arah Jingga.


"Ada apa anak itu?" gumam Mahendra.


"Ada apa Jingga?" tanya Marisa.


"Lihat, aku bawakan kalian makanan," ucap Jingga sembari membawa bakwan goreng yang baru ia buat.


Mahendra tersenyum miring melihat perubahan Jingga. Biasanya anaknya itu tidak pernah masuk ke dapur tapi baru satu malam tinggal di tempat itu, Jingga sudah menunjukkan perubahan menuju lebih baik.


"Boleh Papa mencicipinya?" ucap Mahendra setelah Jingga mendekat padanya.


"Papa jangan berdiri di tengah sawah gitu dong. Sini mendekat," ucap Jingga.


"Gimana Mama mau makan tangan Mama kotor begini," ucap Marisa.


"Tangan Papa juga kotor," ucap Mahendra.


"Sini-sini, biar aku suapi," ucap Jingga.


Dengan perlahan Jingga menyuapi kedua orang tuanya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh. Mawar melihat mereka yang sedang asyik bersama. Tiba-tiba air matanya terjatuh dan membasahi pipinya.


Mawar sengaja datang ke tempat itu untuk melihat aktivitas mereka tapi tanpa ia sadari ia hanyalah akan merasa tersakiti melihat mereka yang begitu saling menyayangi.


"Mawar, jangan menangis. Kamu sudah sangat banyak mendapat kasih sayang dari orang tua angkat kamu dan juga keluarga suamimu," batin Mawar menguatkan dirinya sendiri.


Dari sana tanpa sengaja Jingga melihat Mawar sedang berdiri sambil memperhatikan mereka.


Jingga menghentikan pergerakan tangannya yang hendak menyuapi Mahendra, seketika senyumnya memudar. Tatapannya tertuju pada Mawar.


"Mawar! Sini!" seru Jingga pada Mawar.


Mawar tersadar dari lamunannya sesaat setelah mendengar teriakan Jingga. Ia segera menghapus air matanya yang membawahi pipinya.

__ADS_1


Karena Mawar tak menyahut akhirnya Jingga berjalan menghampiri Mawar!


"Mawar, aku baru membuat bakwan ini cicipi masakan aku," ucap Jingga sembari menyodorkan bakwan itu pada mulut Mawar.


Mawar hanya diam dengan tatapan matanya yang terus tertuju pada Jingga.


Dalam hatinya ada banyak pertanyaan yang tak mungkin ia tanyakan pada kakaknya yang kejam itu.


Dari jarak yang tak jauh Mahendra tersenyum melihat Jingga yang mulai bersikap baik terhadap Mawar.


"Ayo," ucap Jingga sembari memajukan tangannya hingga bakwan goreng itu menempel di bibir Mawar.


"Tenang aja, ini gak beracun kok. Lihat aku akan memakannya," sambung Jingga lalu mengigit ujung gorengan itu dan setelah itu dia menyodorkan sisi lain gorengan bekas gigitannya itu.


Mawar meraih tangan Jingga lalu melahap makanan itu dari tangan Jingga.


Jingga tersenyum ke arah Mawar namun, Mawar hanya menanggapi senyuman Jingga dengan tatapan datar.


Melihat Jingga yang mulai bersikap baik terhadap Mawar membuat Marisa marah karena ia tak suka pada Mawar dan tak ingin Jingga dekat-dekat dengan Mawar.


Marisa mengeratkan rahangnya hingga gemeltuk giginya yang beradu terdengar begitu jelas.


Baru Marisa hendak melangkah untuk menghampiri dua anaknya, Mahendra mencekal pergelangan tangan Marisa untuk menghentikan langkah istrinya itu.


"Lihat, kamu masih hidup kan? Aku bilang juga apa, makanan ini tidak beracun maaf kalau rasanya kurang enak. Aku baru pertama membuat makanan," ucap Jingga.


Mawar tersenyum yang dipaksakan. "Gorengannya gak enak. Bilang pada orang tua kamu, kerja yang benar kalau masih ingin tinggal di sini," ucap Mawar lalu kembali masuk ke dalam rumahnya!


Jingga terdiam sambil menatap kepergian Mawar.


"Kenapa Mawar? Kenapa saat aku berbuat baik padamu, kamu malah tidak menerimanya?" batin Jingga.


**********


Di kantor Abymana.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan Pak Randy," ucap Roger yang dengan tanpa takut mendatangi kantor itu.


"Pak Randy sedang tidak bisa diganggu. Beliau sedang rapat penting," ucap seseorang perempuan yang bekerja di sana.


"Oh ... baik, terima kasih," ucap Roger.


Terlihat jelas dari wajahnya ada kekecewaan dalam diri Roger saat tak bisa menemui orang yang dicarinya.


Roger berjalan ke arah luar dan memilih duduk di sebuah kursi yang tersedia di halaman perkantoran itu!


Ia rela menunggu di sana demi dapat bertemu dengan Randy.


Setelah hampir setengah jam ia menunggu, akhirnya Randy keluar dari kantornya.


"Pak Randy!" seru Roger menghentikan langkah Randy.

__ADS_1


Randy menghentikan langkahnya lalu menolak arah Roger.


"Roger, sedang apa kamu di sini?" tanya Randy.


"Saya mau bicara," ucap Roger dengan suara pelan.


"Ya, bicara apa?" tanya Randy.


"Tidak di sini. Kita bicara di tempat lain," ucap Roger.


"Ya, boleh. Mau bicara di mana?" ucap Randy yang memang tak pernah menganggap Roger sebagai musuh.


"Mari ikut saya," ucap Roger sembari berjalan ke arah mobilnya.


Sambil mengikuti Roger, Randy mengirim pesan pada Michelle agar Michelle mengikutinya dari belakang dan bersiaga kalau-kalau Roger tiba-tiba menyerangnya!


"Eh Papa mau kemana tuh? Kok gak pakai mobilnya?" ucap Aby yang melihat Randy berjalan mengikuti seseorang yang tidak begitu ia kenal.


"Ada apa?" tanya Dirga.


"Itu Papa mau kemana? Sama siapa?" ucap Aby sembari menatap Papanya yang sudah masuk ke dalam sebuah mobil.


Dirga menatap ke arah pandangan Aby, namun ia tak melihat orang yang bersama Randy tapi ia bisa melihat Randy masuk ke dalam sebuah mobil.


"Paling klien yang ngajak meeting di luar," ucap Dirga santai.


"Tapi kok gak bilang kalau ada jadwal meeting? Biasanya kan selalu bilang kalau ada jadwal meeting," ucap Aby.


"Udahlah mending kita lanjut kerja lagi. Kerjaan saya masih banyak," ucap Dirga sembari melangkah pergi.


Sementara itu Aby masih terdiam di tempat itu sembari menatap ke arah jalan didepan kantornya.


**********


Di rumah Dirga.


Seorang perempuan paruh baya dan seorang anak gadis baru tiba di rumah itu. Mereka berjalan memasuki area rumah itu lalu mengetuk pintu.


Sebelum mereka datang, mereka sudah menelpon Dirga dan Dirga mengatakan bahwa ada seorang asisten rumah tangga di rumahnya.


"Assalamualaikum!" seru wanita paruh baya itu.


Tak butuh waktu lama. Ussy langsung membukakan pintu utama rumah itu!


"Mamanya Pak Dirga?" ucap Ussy setelah meneliti perempuan itu dari atas sampai bawah.


Sebelumnya Ussy memang sudah diberitahu oleh Dirga kalau Mama dan adik perempuannya akan datang hari ini.


Perempuan paruh baya itu mengangguk dengan senyuman manisnya yang terus membingkai di wajahnya.


"Kamu pasti Ussy," ucapnya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Mari masuk," ucap Ussy sembari meraih tas yang dibawa oleh perempuan paruh baya itu lalu membawanya ke dalam rumah!


Bersambung


__ADS_2