
Setelah melewati bunga-bunga yang bertebaran di sana, tiba-tiba ada dua orang yang tak dikenal meminta Mawar untuk menutup matanya.
"Kamu pasti Mawar?" ucap seorang perempuan yang kira-kira seusia dengan Mawar.
Mawar tersenyum lalu berkata. "Ya, saya Mawar."
"Tutup matanya sebentar ya, kami akan mengantarkan kamu ke suatu tempat," ucap perempuan yang satu lagi.
"Maaf, saya tidak mau," ucap Mawar tanpa ragu.
"Tolong. Kami hanya menjalankan perintah, tolong jangan buat kami dipecat oleh bos kami."
Mawar menatap kedua perempuan itu lalu menatap teman-temannya yang berdiri di belakangnya.
"Mau aja, kita penasaran siapa yang membuat rencana ini," ucap Sherin.
"Iya, kita di sini bersama kamu, kamu jangan takut," tambah Yura.
"Serius?" ucap Mawar.
"Udah sana, kita juga penasaran kali sama sosok orang seromantis ini," ucap Ghina.
"Yakin ya, kalau aku diculik gimana?" ucap Mawar.
"Tenang saja Mawar, kami bukan penculik lagipula mana ada penjahat yang berani menculik kamu," ucap perempuan tak dikenal itu.
Setelah berbicara selama beberapa saat, akhirnya Mawar mengiyakan permintaan dua orang itu, ia bersedia menutup matanya.
Setelah dua orang itu menutup mata Mawar, mereka langsung menuntun Mawar ke tempat utama.
Empat teman Mawar mengikuti mereka dari belakang, selain untuk memastikan keselamatan Mawar, mereka juga penasaran dengan orang yang ada dibalik semua itu!
**********
Di panti asuhan.
"Saya ingin meminta izin untuk membawa Michelle pergi," ucap Roger pada Bu Jena.
Bu Jena terdiam dalam seribu bahasa. Ada rasa tak rela melepaskan Michelle pada orang yang belum tahu dan belum jelas siapa sebenarnya Roger.
"Hanya untuk hari ini saja Bu. Saya hanya ingin memastikan dan ingin meyakinkan Michelle dulu kalau saya ini memang kakaknya dia. Saya tidak ingin terburu-buru untuk membawa Michelle tinggal bersama saya, saya tahu Michelle butuh waktu untuk ini semua dan juga Ibu dan anak-anak di sini tentunya perlu waktu juga untuk bicara sebelum akhirnya saya membawa Michelle tinggal bersama saya," jelas Roger.
"Bu, aku masih belum tahu apakah ini nyata atau hanya mimpi saja. Aku ingin pergi bersama laki-laki ini untuk meyakinkan hatiku dulu. Roger ingin membawaku bertemu dengan Ibu kandungku, aku mohon izinkan aku," ucap Michelle dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Pergilah, Nak mungkin sekarang saatnya kamu bahagia. Ibu tidak bisa melarang kamu, ini tujuan kamu dari dulu, pergilah temui Ibumu," ucap Bu Jena.
"Terim kasih, Bu. Saya janji akan mengantarkan Michelle ke sini lagi," ucap Roger.
Roger dan Michelle beranjak dari duduknya lalu mulai pergi meninggalkan panti asuhan itu!
Bu Jena menatap kepergian mereka dengan tatapan sendu tak lama air matanya menetes dari sudut matanya. Ia merasa sedih karena sebentar lagi akan kehilangan satu anaknya yang sangat ia sayangi.
**********
Di kantor
"Pak, saya lihat ada luka rahang bawah anda. Anda kenapa?" tanya Dirga yang melihat ada luka bekas gurisan sesuatu pada rahang bawah Randy.
Randy menyentuh dan meraba leher hingga bagian rahangnya untuk mencari luka yang dimaksud oleh Dirga. Rupanya Roger meninggalkan luka di rahang bagian bawahnya hingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan Dirga yang melihatnya.
"Ada apa Pak, ada masalah?" tanya Dirga lagi.
"Oh ini. Ini tadi ... tadi ...." Randy menghentikan perkataannya karena kesulitan untuk mencari alasan yang tepat.
Dirinya tak ingin ada masalah lain dengan Roger sementara permasalahan kesalahpahaman diantara mereka saja belum selesai, ia tak ingin ada kesalahpahaman lain lagi diantara mereka. Apalagi dengan bertemunya Roger dan Michelle, dirinya tak ingin Michelle juga ikut salah paham padanya jika terbukti Michelle adalah adiknya Roger.
"Pak? Ada yang sedang Anda pikirkan. Katakan siapa yang sudah menyerang Anda? Saya akan turun tangan untuk membereskannya," ucap Dirga lagi.
Dirga mengerutkan dahinya dengan tatapan aneh tertuju pada Randy.
"Abang bakso? Untuk apa Anda mengejar tukang bakso keliling sedangkan bakso di restoran saja, Anda tidak pernah memakannya?" ucap Dirga.
"Mmm ... itu ... s_sebenarnya tadi ada anak kecil yang nangis pengen bakso itu tapi orang tuanya gak punya uang dan karena saya gak tega jadi saya mengejar abang bakso itu," ucap Randy dengan sedikit gugup.
"Oh seperti itu. Ya udah biar saya obati ya Pak."
"Tidak usah. Lagian ini cuma luka kecil oh ya Aby kemana?" tanya Randy mengalihkan pembicaraan.
"Tuan Muda sedang pergi menemui Mawar. Hari ini dia ulang tahun, jadi Tuan Muda ingin memberinya sebuah kejutan," jelas Dirga.
"Wah saya baru tahu kalau Mawar ulang tahun, saya harus kasih kado apa ya?" ucap Randy.
"Saya tidak tahu." Dirga tersenyum miring saat mengingat kadonya yang sudah ia siapkan untuk Mawar.
*******
Setibanya di tempat yang sudah dibias sedemikian rupa hingga berubah menjadi tempat yang indah dan terkesan romantis.
__ADS_1
Dua wanita itu membuka penutup mata Mawar dan ...
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Aby sembari memperlihatkan sebuah kalung berlian seharga ratusan juta.
"Mas Aby." Mawar menatap Aby dengan tatapan matanya yang berbinar, ia tak menyangka Abymana bisa se_sweet ini padanya.
Sontak Yura, Sherin, Ghina dan Mia terkejut melihat Abymana memperlihatkan kalung mahal pada Mawar.
"Oh my god, ternyata Abymana seromantis itu pada Mawar," ucap Sherin.
"Uuuh sosweet," ucap Mia.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur dan bahagia selalu," ucap Aby pada Mawar.
Mawar meneteskan air matanya lalu tersenyum tipis. "Terima kasih Mas," ucapnya lalu memeluk Aby.
"Eeh kok nangis? Dikasih kejutan nangis giliran suaminya dipeluk orang biasa aja," ucap Aby sembari mengelus punggung Mawar.
"Aaah, Mas Aby." ucap Mawar sembari mencubit lengan Aby dengan gaya manjanya.
"Etdah, ternyata cewek galak bisa manja juga ya," ucap Mia.
"Bukan galak tapi lebih ke ganas," ucap Yura.
"Gimana? Kamu suka dengan hadiah ini?" tanya Aby.
"Suka banget, harganya pasti mahal," ucap Mawar.
"Gak mahal, mahalan harga gadis ini," ucap Aby dengan tawa kecil.
"Iiih Mas Aby. Masa aku dibanding-bandingkan dengan barang."
"Nggaklah, kamu lebih berharga dari barang apapun yang ada di dunia ini," ucap Aby.
"Aaah pengen," ucap Ghina.
"Pengen apa?" tanya Aby yang mendengar perkataan Ghina.
"Pengen digombalin," ucap Ghina.
"Eh itu bukan gombal ya tapi serius," ucap Aby lagi.
"Lo ganggu aja sih. Mereka lagi bucin-bucinnya malah lo ganggu," ucap Sherin.
__ADS_1
Bersambung